Menulis Rumah Buruh

Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

Dalam sebuah Pendidikan Menulis yang diselenggarakan Tim Media FSPMI Bekasi, saya meminta peserta untuk membuat tulisan tentang Rumah Buruh. Tulisan ini berisi tentang pengamatan dan pengalaman mereka tentang jembatan buntung yang menghubungkan Kawasan Industri EJIP dan MM 2100 yang disulap sebagai pusat konsolidasi bagi anggota FSPMI. Sebuah tempat yang menyimpan sejarah. Menjadi saksi atas berbagai macam peristiwa dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kunjungan saya ke Rumah Buruh memang tak melebihi jumlah jari tangan yang saya miliki. Tetapi kesan itu sungguh mendalam. Ia senantiasa hidup dalam hati. Wajah-wajah yang penuh semangat. Persahabatan yang erat. Romansa yang selalu indah ketika dijadikan cerita.

Ide tentang tulisan ini berawal ketika saya berkunjung ke Kepsonic Indonesia untuk mencatat tentang proses buruh go politic. Dari Tangerang naik bus Putra KJU, saya turun di depan pintu Tol Cibitung. Disini saya dijemput seorang kawan dari Wira Logistic. Saya diajak ke Sekretariat PUK. Setelah makan siang, barulah kami bersama-sama menuju Kepsonic, melalui Rumah Buruh.

Pembangunan sedang dilakukan diujung jembatan. Tak lama lagi, Rumah Buruh akan digusur. Tempat yang tadinya selalu ramai oleh buruh yang sedang melakukan konsolidasi itu tak lama lagi tinggal cerita. Saya merasa memiliki tanggungjawab untuk membuat catatan lengkap tentang rumah buruh dalam gambar dan kata. Rumah Buruh adalah bagian penting yang membuat organisasi ini bisa tumbuh seperti sekarang ini. Ada proses disitu. Dengan segala liku yang berlalu.

Dan diluar dugaan, ketika ide saya lemparkan kepada peserta, mereka terlihat antusias. Satu persatu mulai mengirimkan tulisannya. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada lima artikel tentang rumah buruh yang masuk. Ini bukan tentang baik dan buruk kualitas tulisan mereka. Ini tentang bagaimana kita akan memperpanjang napas sejarah.

Jika kawan-kawan memiliki foto, catatan pengalaman dan kesan mendalam tentang Rumah Buruh, saya akan senang hati menerimanya. Sila dikirim melalui e-mail saya dialamat berikut ini: kahar.mis@gmail.com

Masih ada sedikit dana yang tersisa dari pengerjaan buku ‘Cerita dari Bekasi’ untuk mengerjakan proyek ini. Termasuk melakukan riset kecil dengan mereka yang selama ini menjadi ‘penjaga’ Rumah Buruh.

Tetap semangat. Teruslah berkarya….

Meretas Asa di Kepsonic Indonesia

Relawan Go Politic sedang berdiskusi dengan Pengurs DPD PAN Bekasi dan Panwaslu Bekasi di Kepsonic Indonesia.

Relawan Go Politic sedang berdiskusi dengan Pengurs DPD PAN Bekasi dan Panwaslu Bekasi di Kepsonic Indonesia.

Spanduk bertuliskan ‘Selamat Datang di Family Gathering FSPMI’ itu terpasang diatas pintu masuk PT. Kepsonic Indonesia. Dipojok bawah sebelah kiri dari spanduk itu bertuliskan ‘BURUH GO POLITICS’. Hanya dengan membaca spanduk itu, orang akan segera tahu jika ini bukanlah pertemuan yang biasa. Ini adalah sebuah pertemuan yang khusus diselenggarakan untuk mengkonsolidasikan seluruh kekuatan organisasi guna mensukseskan agenda go politics. Buruh yang hadir di pabrik tutup dan sedang dalam proses lelang ini datang bersama keluarga. Istri/suami dan anak-anak ikut serta.

Di pagar perusahaan, bendera FSPMI berjajar. Berkibar. Seperti hendak menegaskan jika didalam pabrik ini FSPMI sedang menggelar hajat.

Buruh-buruh Kepsonic memang menjadi anggota FSPMI. Ketika pengusahanya kabur, kemudian mereka menguasai pabrik untuk memastikan hak-haknya dibayar. Saat ini pabrik itu sedang dalam proses lelang. Sambil menunggu, FSPMI menjadikan tempat ini sebagai pusat konsolidasi untuk ‘go politics’. Seperti yang mereka lakukan hari ini, Sabtu 8 Maret 2014.

Begitu memasuki ruangan, kita akan disapa dengan gambar Nurdin Muhidin, Iswan Abdullah dan Rustan yang tertempel di dinding, tepat menghadap pintu masuk. Sehingga siapapun yang masuk ke ruangan, mau tak mau akan melihat gambar itu. Ketiganya adalah kader FSPMI. Nurdin Muhidin adalah salah satu pengurus Pimpinan Cabang  FSPMI Bekasi. Ia maju sebagai Caleg DPRD Kabupaten Bekasi melalui Partai Amanat Nasional. Iswan Abdullah adalah Vice Presiden FSPMI, maju sebagai Caleg DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera. Sedangkan Rustan adalah Ketua Umum SPAMK FSPMI. Ia maju sebagai Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat dari PDI Perjuangan.

Masuk lebih dalam, kita bisa melihat foto Suparno dan Susanto. Aktivis FSPMI ini maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Bekasi melalui PKP Indonesia. Wajah caleg-caleg lain yang juga direkomendasikan oleh FSPMI bertebaran diruangan ini. Seperti Aji (PAN), Nyumarni (PDI Perjuangan), Hendi Suhendi (Partai Persatuan Pembangunan) dan Mazrul Zambak (PKP Indonesia).

Tepat dibawah gambar para aktivis FSPMI yang direkomendasikan untuk maju dalam pemilihan legislatif tahun 2014, tanggal 9 April nanti, terlihat beberapa orang nampak sedang duduk dikursi panjang sambil berdiskusi. Tak ada masalah meskipun mereka menjadi pendukung calon legislatif dengan partai yang berbeda-beda. Mulai dari PKS, PDI Perjuangan, PAN, PPP hingga PKP Indonesia.

Mereka tak peduli dengan semua perbedaan itu. Tepatnya tak ingin menjadikan perbedaan partai sebagai jalan menuju perpercahan. Bagi mereka, kepentingan buruh adalah nomor satu. Bisa jadi, mereka tidak memilih partai. Tetapi mereka akan memilih caleg kader buruh yang maju melalui partai itu. Sementara ini memang harus begitu, mengingat buruh belum memiliki partai politiknya sendiri.

Masuk lebih dalam, diskusi serius sedang terjadi. Beberapa orang sedang membahas agenda kedepan terkait dengan buruh go politics. Vice Presiden DPP FSPMI Obon Tabroni, yang mendapatkan kepercayaan dari organisasi untuk mensukseskan buruh go politics ini juga hadir. Beban berat ada dipundaknya. Kepada saya ia bercerita jika baru saja pulang dari Bandung, juga untuk kepentingan go politic. “Belum sempat pulang ke rumah. Baju ini saya beli disini,” ujarnya. Sambil menunjuk baju yang ia kenakan. Sejak kemarin belum berganti pakaian.

Tak hanya Obon Tabroni. Iswan Abdullah, Nurdin Muhidin, Aji, Ozzy, belakangan Rustan dan beberapa orang yang menjadi pengurus PC FSPMI Bekasi juga ikut nimbrung. Tak hanya dari internal organisasi. Tokoh yang selama ini mendukung gerakan serikat buruh seperti Surya Tjandra (TURC) dan Handoko Wibowo (Omah Tani) juga hadir. Ia memberikan sumbangsih pemikiran. Memotivasi dan memberikan perspektif lain dalam gerakan politik kaum buruh.

Didalam ruangan itu juga, para relawan terlihat sibuk mempersiapkan alat-alat kampanye. Ada yang sedang melipat contoh kertas suara. Membuat data relawan. Melakukan sosialisasi. Dan banyak aktivitas lain yang dilakukan untuk mendukung gerakan buruh go politics ini.

Masuk lebih dalam lagi ada ruangan besar. Lagu-lagu sedang diperdengarkan. Orang-orang duduk di lantai. Mendengarkan orasi politik yang disampaikan oleh para pemimpin organisasi. Ratusan orang hadir. Dalam momen lain, pertemuan seperti ini diikuti ribuan orang.

Dan tahukan Anda, seluruh kerja-kerja itu dilakukan oleh buruh.

Orang datang dengan kesadarannya sendiri. Tanpa diming-imingi imbalan dan sejumlah uang. Bahkan mereka menyumbang. Uang. Tenaga. Pikiran. Waktu. Semuanya dihibahkan dengan sukarela untuk  gerakan.

Ini hebat. Saya bahkan menyebutnya sebuah kemenangan. Mengingat bertahun-tahun yang lalu mereka sama sekali belum terlatih untuk itu. Kerja-kerja ini adalah investasi yang tak ternilai. Pada saatnya nanti, mereka inilah yang akan menjadi generasi sadar politik. Barangkali menjadi generasi yang akan melahirkan karya besar. Lebih besar ketimbang hanya sekedar memasukkan caleg kader buruh kedalam parlemen. Gambaran itu sudah mulai terlihat, meski masih samar-samar.

Dulu, oleh sebagian besar orang, gerakan buruh dikritik hanya melulu ngomongin masalah ekonomi. Hanya berjuang diranah pabrik. Untuk dirinya sendiri. Tetapi sekarang situasinya sudah berbalik. Buruh semakin sadar, bahwa masa depan bangsa ini ditentukan melalui kebijakan politik.

Mereka adalah relawan. Sebenar-benarnya relawan. Mereka bukan orang-orang bayaran. Dengan kesadarannya tak rela harga dirinya – sebagai manusia yang memiliki hak pilih – ditukar dengan lembaran uang.

Dari dalam pabrik tutup ini, buruh hendak meretas harapan. Ikut bertarung dalam sistem. Terlibat dalam pembuatan kebijakan. Bukan sekedar menjadi penonton sambil berpangku tangan.

Tulisan ini pernah dimuat di http://fspmi.or.id

Seharusnya Sistem yang Bekerja, Bukan Kendali Satu Dua Orang Saja!

Kahar S. Cahyono

Pagi ini saya berada ditengah kesibukan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Saya harus segera kembali ke Jakarta, karena jam 13.00 siang sudah harus menghadiri rapat dengan Tim Media. Sementara istri dan anak-anak masih tertinggal di Palembang.

Sambil menunggu jadwal penerbangan, saya menyalakan laptop. Dan selalu menyenangkan bisa tersambung dengan internet. Selain bisa berselancar di dunia maya, saya bisa mengirimkan Pengantar Bukti Surat untuk persidangan di PHI siang nanti. Sejak kemarin Sofi dan Ralih sudah menanyakan kapan ia bisa menerima pengantar itu.

Dalam situasi seperti ini, saya merasa bersalah sekali. Seharusnya bukan hanya saya yang bisa membuat surat-surat menyurat untuk PHI: gugatan – replik – duplik – pengantar bukti surat – kesimpulan dan lain sebagainya.

Alasannya selalu saja klasik. Meskipun advokasi dianggap penting, namun jarang sekali ada orang yang bersedia menekuni bidang ini. Banyak kawan lebih suka melakukan aksi beramai-ramai dan mundur teratur ketika kasus sudah masuk jalur litigasi. Beruntung, ada orang-orang seperti Sofi, Ralih, Isroil, Kristian Lelono, Omo dan Mundiah yang mulai berani masuk ke ruang sidang.

Itulah sebabnya, dalam waktu dekat ini saya berencana menyelenggarakan diklat tentang beracara di PHI untuk kawan-kawan FSPMI Tangerang. Bukan hanya sekedar transfer pengetahuan, karena tujuan terpenting dari diklat ini adalah agar semakin banyak diantara kita yang bisa membantu buruh yang mengalami perselisihan. Saya mengundang kawan-kawan yang membutuhkannya untuk memberikan konfirmasi.

Diklat seperti ini bisa kita lakukan secara sederhana. Kuncinya adalah kemauan. Selebihnya karena memang kita membutuhkan ilmu itu.

Saat ini, misalnya, setiap Senin malam Selasa terjadwal Pendidikan Spesialis Pengupahan. Sedangkan setiap Rabu malam Kamis terjadwal Pendidikan Dasar Serikat Pekerja. Dimulai pukul 18.30 – 20.00 dan sudah berjalan sejak sebulan yang lalu.

Kini saatnya sistem yang bekerja. Bukan kendali satu atau dua orang saja…

Berani Jujur Hebat!

Kahar S. Cahyono

Berani Jujur Hebat!

Saya membaca kalimat ini dari ketinggian sebuah gedung di Jakarta, setahun yang lalu. Saya tak ingat lagi kapan persisnya. Tetapi kalimat itu, masih terasa hingga sekarang bekasnya.

Jujur, barangkali menjadi kata kunci. Dan jika dipraktekkan, sesungguhnya kejujuran akan menciptakan pribadi yang luar biasa.

Bisakah kita jujur dengan kekurangan diri? Mampukah jujur dengan kata hati? Beranikah membuka topeng dari segala maksud yang tersembunyi?

Adakah orang yang bisa bersikap seperti itu? Ada! Datanglah dalam diskusi yang diselenggarakan kawan-kawan buruh. Disana, kalian bisa menangkap kejujuran itu. Mereka dengan polos menyampaikan apa adanya. Terbuka menyuarakan kata hati. Resah dan gelisahnya. Jujur mengungkapkan berbagai pelanggaran ketentuan perundang-undangan di perusahaan tempatnya bekerja. Membahas harapan-harapan, cita dan juga asa.

Anehnya, seringkali kejujuran mereka tak disukai. Dianggap sebagai ancaman dan justru kemudian disingkirkan. Meskipun begitu, kita tak pernah kekurangan stock orang-orang yang pemberani itu. Orang-orang yang mampu dengan lantang mengatakan jika benar itu adalah benar, meski kepahitan yang mereka dapatkan.

Jika sudah demikian, rasanya harapan itu masih ada. Sering kita mengutuk tingkah polah satu dua orang yang memilih tetap berada di zona nyaman dan enggan bergerak melakukan perubahan. Padahal pada saat yang sama, ada ribuan orang yang siap menjadi agen perubahan. “Daripada mengutuk kegelapan, mari segera menyalakan lilin,” begitu nasehat lama yang sering disampaikan kepada kita.

Hanya pemberani yang bisa bersikap jujur. Karena untuk melakukan itu bukannya tanpa resiko.

Perbedaan Itu Mendewasakan

Kahar S. Cahyono

Salah seorang sahabat baik saya pernah menyampaikan keinginannya agar saya menjadi anggota dewan. Menanggapi keinginan itu, saya hanya tersenyum. Menganggap perkataannya tak lebih sebagai canda ria sahabat dekat. Meskipun ia bercanda, saya menikmatinya. Setidaknya ada juga yang menganggap saya layak berada diposisi itu, meskipun diungkapkan oleh teman sendiri.

Jika sahabat saya menginginkan agar saya mencalonkan diri sebagai anggota dewan, lain halnya dengan apa yang saya rasakan. Menjadi anggota dewan bukan semata-mata karena keinginan. Untuk menjadi anggota dewan, seseorang harus mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Inilah masalahnya.  Saya tidak memiliki dua-duanya.  Keinginan tidak ada. Kepercayaan? Apalagi!

Tidak memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan, jangan diartikan anti politik.

Bagi saya, orang yang memilih sama pentingnya dengan orang yang dipilih. Memilih berarti mempercayai. Dengan memilih, setidaknya kita sudahmenyatakan sikap terkait dengan warna politik kita. Dan itu adalah peristiwa sejarah yang penting. Pilihan kita bisa jadi akan merubah wajah dunia.

Sulit untuk membantah, bahwa mereka yang mendapat gelar ‘wakil rakyat’ itu adalah orang-orang yang terpilih. Terlepas dari cara yang mereka lakukan untuk memenangkan pemilihan, toh posisi mereka sama-sama menjadi anggota dewan. Disini, seorang bandit dan pejuang sejati sama-sama memiliki  sebuah kursi. Itulah sebabnya, saya tidak sependapat dengan orang yang bersikap apolitis karena beralasan gedung dewan diisi para bajingan. Jika permasalahannya memang demikian, mengapa kita tidak memasukkan sebanyak-banyaknya orang baik agar para ‘bandit’ itu tidak memiliki kesempatan?

Tetapi inilah yang terjadi sekarang. Definisi baik menurut setiap orang tidaklah sama. Rambut boleh sama hitam, namun isi kepala seringkali berbeda.

Saat ini, misalnya, menjelang Pemilu 2014. Ada banyak pilihan yang disodorkan kepada kita. Tentu tak akan ada yang bisa memaksa. Karena didalam bilik suara, kewenangan mutlak ada ditangan kita. Satu hal yang harus kita pahami, pemilu adalah kesempatan untuk memenangkan kepentingan kita.

Sebagai buruh, tentu saja, saya akan memenangkan kepentingan buruh dengan memilih caleg kader buruh. Saya tidak malu untuk mengajak kawan-kawan memenangkan caleg kader buruh. Jika kemudian kita menang, maka sesungguhnya kemenangan itu bukanlah orang yang kita pilih. Bukan pula kemenangan partai tempat ia bernaung. Yang menang adalah kepentingan kita. Kepentingan kaum pekerja.

Bisa jadi pilihan kita berbeda. Meskipun begitu, tidak seharusnya perbedaan menjadi alasan buat kita saling bermusuhan. Perbedaan itu mendewasakan.

Jika karena perbedaan itu kemudian kita saling bermusuhan, sesungguhnya kita sudah mengalami kekalahan sebelum pemilihan diselenggarakan. Tentu kita tidak ingin kalah, bukan? Karena itu, mari tetap bergandengan tangan.

Menyalakan Harapan

Kahar S. Cahyono

Tugas kita adalah menyalakan harapan. Menunjukkan jalan keluar dari setiap permasalahan. Menjadi penyambung aspirasi dan mengajak semua bergandeng tangan untuk berpartisipasi didalam gerakan ini.

Saya setuju dengan, Dee, “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.”

Atau dalam bagian lain, Dee juga pernah bilang, “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?”

Persatuan tidak harus merubah semuanya kedalam satu warna yang sama. Persatuan selalu memberi ruang bagi setiap perbedaan: sebab jika ruang itu tak tersedia, niscaya yang terjadi adalah perpecahan. 

Di FSPMI, misalnya, antara kita berasal dari unit yang berbeda: SPEE, SPAMK, SPL, SPD, SPPJM, dan SPAI. Ada unit kerja yang memiliki anggota belasan ribu, ada juga yang jumlah anggotanya tak lebih dari jumlah jari kaki yang kita miliki. Ada yang iuran anggota mencapai ratusan juta, ada yang sekedar untuk menutup biaya operasional di PUK-nya tak mencukupi. Tetapi diatas semua keragaman itu, kita adalah satu.

Kali ini kita mengusung ‘go politics’. Barangkali ada diantara kita yang tak setuju. Saya menghargai itu. Tetapi janganlah perbedaan itu membuat kita membangun tembok pemisah: kita dan mereka.

Biarkan ruang perbedaan itu tetap ada. Berikan kesempatan kepada kami, kepada organisasi ini, untuk menunaikan janji: bergerak dari pabrik ke publik. Memberikan sumbang sih yang lebih berarti bagi rakyat dan negeri ini.

“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat…,”

 

Jabat erat dan salam hangat: Kahar S. Cahyono

Sepasang Suami Istri Yang Sedang Berdiri di Depan Papan Informasi

foto 1

Laki-laki itu, ditemani istri dan anaknya datang ke kantor Disnaker. Yang pertamakali mereka tuju adalah papan informasi. Tempat pengumuman lowongan kerja ditempel. Didalam pengumuman itu, kita bisa membaca, ada beberapa perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Seperti tukang las, sopir mobil box, hingga untuk menempati posisi personalia.

Seingat saya, sejak beberapa minggu yang lalu, pengumuman yang ada di papan informasi itu-itu saja. Tak ada perubahan. Sepertinya informasi tentang adanya perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja sebagaimana yang tertulis di papan pengumuman hanyalah formalitas saja. Sementara kebutuhan akan tenaga kerja sudah terpenuhi dibawah tangan. Biasalah, jaman sekarang. Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah? (Ini sih hanya ada dalam pikiran nakal saya. Tetapi tentang suami istri yang mencari kerja itu kejadian yang sesungguhnya.)

Laki-laki itu membaca setiap informasi dengan seribu harapan. Seperti halnya puluhan pencari kerja yang lain, upayanya sia-sia. Ia berharap, informasi itu benar dan nasib baik datang menghampiri. Ia bisa menjadi salah satu yang direkrut oleh perusahaan itu. Tetapi siapa yang peduli?

Istrinya membantu mencari.

Barangkali diantara lowongan yang tersedia, ada yang sesuai dengan keahlian sang suami.

Tak berapa lama kemudian, suami istri itu seperti sedang mendiskusikan sebuah informasi yang tersaji dipapan pengumuman itu. Nampaknya informasi yang tertulis di pojok kiri bawah menarik perhatiannya. Kini, buah hatinya yang saya taksir baru berumur satu tahun dan sedari tadi berada dalam gendongan mamanya berganti dalam pelukan sang ayah.

Menyaksikan keluarga ini begitu takzim membaca pengumuman lowongan pekerjaan, ada getar yang terasa dalam dada saya.

Barangkali sang suami baru saja di PHK. Mungkin karena habis masa kontraknya. Mungkin karena perusahaannya tutup. Mungkin saja karena kesalahan yang diperbuatnya.

Sementara kehidupan harus tetap berlanjut. Susu buat si kecil harus tersedia dan untuk itu penghasilan tak boleh terputus. Belum lagi untuk bayar kontrakan dan biaya makan. Bisa jadi, semalam tadi ia berdiskusi dengan istrinya tentang rencana-rencana. Termasuk upayanya hari ini mencari peruntungan: berburu pekerjaan.

Karena itu, pagi ini, ia mencari informasi ke Disnaker. Barangkali ada rejeki yang ia dapat disini.

Dan memiliki istri yang bersedia menemani suaminya disaat sulit seperti ini, sungguh sangatlah membahagiakan.

Istrinya, meski sambil menggendong si kecil, setia menemani suaminya mencari peruntungan. Karena ia sadar, dari sinilah masa depan keluarga kecilnya dipertaruhkan. Kegagalan sang suami mendapatkan pekerjaan, sama artinya hari-hari yang akan datang dilaluinya dengan kelabu. Dunia memang tak akan berakhir dengan itu. Tetapi jelas, kehidupan yang akan dilaluinya tak semudah dulu. 

Dan meskipun tertatih. Pada akhirnya mereka akan bisa melaluinya.

Saya sangat dekat dengan kehidupan orang-orang seperti ini. Yang kehilangan pekerjaan. Yang tertatih menjalani kehidupan. Sementara keberadaan Negara yang ia harapkan turun tangan ketika rakyatnya berada dalam kesusahan justru menjadi seperti bidadari. Hanya indah dalam ilusi. Proses penyelesaian perselisihan tak semudah yang ia bayangkan.

Dalam situasi seperti ini, satu-satunya yang ia miliki adalah harapan.

Karena itulah hingga saat ini saya masih bertahan di serikat pekerja. Saya tak bisa jauh dengan kehidupan mereka. Meskipun banyak orang membenci keberadaan serikat, tetapi pada saat yang lain kehadirannya ditunggu. Dirindukan, bahkan.

Berapa banyak buruh yang memiliki kepastian kerja karena perjuangan serikat? Berapa banyak buruh yang mendapatkan upah layak setelah serikat bergerak? Berapa banyak buruh yang bisa diselamatkan dari pemutusan hubungan kerja karena serikat menuntut bela?

“Tetapi ada buruh yang di PHK karena ikut serikat pekerja?” Protes mereka.

Saya tak membantah itu.

Tetapi satu hal yang harus dimengerti, tujuan serikat bukan untuk membuat seorang buruh di PHK. Tujuan serikat adalah menciptakan kesejahteraan bagi buruh dan keluarganya. Perjuangan serikat adalah untuk kepastian kerja, kepastian pendapatan dan jaminan sosial. PHK pasti akan terjadi: dengan atau tanpa serikat pekerja.

Serikat yang benar, adalah serikat pekerja yang berjuang agar majikan tak segampang itu mem-PHK.

Ketika hari ini saya mengingat kembali keluarga kecil yang sedang mencari informasi lowongan kerja, saya menjadi semakin yakin akan pentingnya memiliki serikat yang kuat. Serikat yang mampu memberikan perlindungan, pembelaan, dan perjuangan terhadap anggotanya yang terancam PHK. Akan menjadi sia-sia, jika mereka yang sudah bekerja begitu gampang kehilangan pekerjaan, sementara untuk memasuki dunia kerja sulitnya bukan kepalang.

Dengan tulisan ini saya ingin mengingatkan, perjuangan serikat pekerja adalah perjuangan agar seorang buruh bisa tetap bekerja.

Catatan: Sebelumnya tulisan ini pernah dimuat di Website FSPMI