Percaya Pada Kekuatan Massa

Posted: 2 Januari 2012 in Ketenagakerjaan

Akhirnya, ribuan buruh pun melakukan unjuk rasa ke kantor Gubernur Banten. Kamis, 29 Desember 2011.

Ini aksi yang heroik. Dari Tangerang mereka membongkar blokade polisi di pintu tol Bitung, dan bergerak ke Gubernuran melalui jalan bebas hamabatan Jakarta – Merak. Puluhan bus, truck, ribuan sepeda motor, tumpah ke jalan bebas hambatan. Sebelumnya sulit untuk dibayangkan, demonstrasi ke Ibu Kota Provinsi Banten dengan mengenakan truck dan motor melalui jalan tol Jakarta – Merak bisa dilakukan.

Polisi sendiri nampaknya tidak bisa mengantisipasi hal ini. Meski disebut pengamanan di lokasi aksi sudah cukup – mencapai 200 personil – namun tetap saja keberhasilan buruh melumpuhkan Bitung selama beberapa jam itu membuat aksi kali ini cukup mendapat perhatian publik.

Dan hari itu, setelah sekian lama bertahan di Kantor Gubernur, sekitar pukul 23.30 Gubernur menyatakan bersedia merevisi UMK Tangerang tahun 2012 yang sebelumnya Rp. 1.381.000,- menjadi 1.529.150, sama dengan UMP DKI Jakarta. Baca entri selengkapnya »

100 Persen Perempuan

Posted: 29 Desember 2011 in Ketenagakerjaan

Saat saya mulai menulis catatan ini, penunjuk waktu di pojok kanan bawah notebook saya menunjukkan angka 21:50. Malam sudah larut, tetapi mata saya sulit terpejam. Konsolidasi hari ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri saya.

Ya, malam ini (28/12/11) saya baru saja pulang dari menghadiri undangan konsolidasi sebuah unit kerja yang baru bergabung dengan FSPMI. Unit kerja yang istimewa. Selain menjadi PUK termuda di Tangerang, di sektor SPAI Tangerang, untuk sementara PUK ini memiliki jumlah anggota terbesar.

Dan ini yang menarik, seluruhnya adalah perempuan.

”Kawan-kawan sangat antusias ingin bergabung dengan FSPMI…,” satu kalimat yang terdengar indah di telinga saya. Seorang pengurus menginformasikan perkembangan jumlah anggota.

Sebelum memutuskan untuk bergabung dengan FSPMI, mereka sesungguhnya sudah menjadi anggota serikat pekerja yang lain. Di tengah upaya sangat keras dari serikat lama untuk mempertahankan dominasinya itulah, kawan-kawan ini dengan ’heroik’ menyeberang ke organisasi FSPMI. Semua membawa harapan, dan juga mimpi untuk mendapatkan perubahan. Baca entri selengkapnya »

Mencintai dengan Apa Adanya

Posted: 28 Desember 2011 in Catatan kehidupan

Saya baru dua kali bertemu dengannya. Kedua pertemuan itu pun terjadi saat kami menghadiri sidang di Pengadilan Hubungan Industrial Serang. Kemarin, adalah pertemuan yang kedua kami.

Perempuan yang ramah. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan, dalam dua pertemuan itu. Supel, dan sekilas memiliki kepribadian yang cukup menarik. Setidaknya inilah kesan pertama yang saya dapatkan.

Eits…, jangan dulu berprasangka macam-macam. Tidak ada maksud apapun, jika kemudian saya menjadikannya sebagai tokoh utama dalam catatan ini. Bukan juga karena terpesona oleh pandangan pertama. Itu saya lakukan, hanya semata-mata karena saya mendapatkan pelajaran baru yang berharga, dalam kaitan relasi antar manusia. Dalam satu komunitas bernama rumah tangga, suami – istri.

Ya, perempuan yang saya maksudkan ini adalah istri dari seseorang yang mempercayakan kepada saya untuk memberikan pendampingan terkait dengan kasus yang sedang menimpanya.

Saya paham, manusia seringkali terkesan pada sesuatu yang baru. Pada kawan baru. Pertemuan baru. Juga senyum hangat dan tatapan mata teduh di pertemuan pertama. Dan itulah kesan yang terbentuk setelah dua pertemuan itu. Baca entri selengkapnya »

Jarum jam bergerak pasti mendekati angka sembilan, tadi malam. Hujan dari sore masih menyisakan gerimis. Tapi kita tetap saja memutuskan untuk membeli makanan. Bukan makanan istimewa di restoran ternama. Hanya Pecel Ampela di warung kaki lima, tak jauh dari rumah kita. Satu bungkus untuk berdua.

”Dari tadi pagi belum kemasukan nasi,” katamu.

Aku memandangmu, tepat di dua bola mata yang selalu kukagumi keindahannya itu. Engkau selalu berbicara apa adanya. Aku tahu engkau tidak sedang berdusta. Sebab situasi seperti ini – saat di rumah tidak ada lagi yang bisa dimakan – bukan sekali dua kali terjadi. Baca entri selengkapnya »

Besok kita memasuki lembaran ke-28 di bulan Oktober. Hari bersejarah. Hari dimana ketika puluhan tahun yang silam, pemuda Indonesia mengucapkan sumpahnya yang paling fenomenal. Sumpah Pemuda.

Besok, di tanggal dan bulan yang sama ketika sumpah pemuda itu diikrarkan, bangsa ini akan kembali mencatatkan sejarahnya. Kali ini tentang jaminan sosial, atau bahkan, tidak sama sekali.

Besok adalah pembuktian, apakah para pemimpin negeri ini masih memiliki nurani dan rasa cinta kepada rakyatnya.

Apakah dinamakan cinta, jika kita membiarkan orang-orang yang (katanya) kita cintai saat sakit terkapar tanpa pengobatan yang memadai karena tidak memiliki jaminan kesehatan?

Apakah dinamakan cinta, jika kita membiarkan orang-orang yang (katanya) kita cintai hidup menderita di usia senja karena sudah tidak mampu lagi bekerja dan tak memiliki jaminan pensiun? Baca entri selengkapnya »

Tiba-tiba saja, banyak orang yang memperbincangkan jaminan sosial. Lebih spesifik lagi, tentang jaminan kesehatan. Kelak ketika jaminan sosial ini dijalankan, tidak akan ada lagi rakyat Indonesia, yang ketika sakit tidak mampu berobat ke rumah sakit. Aku kira, ini adalah kalimat yang terdengar indah. Sebuah sensasi, yang mampu membuat siapapun juga menjadi bergairah. Jaminan kesehatan seumur hidup bagi seluruh rakyat Indonesia? Siapa yang akan menolaknya?

Tetapi, buatku, keraguan bahwa negara sanggup memberikan jaminan kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia masih saja terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin itu bisa dilaksanakan untuk mereka yang bekerja dan yang tidak lagi bekerja? Tak peduli apakah ia kaya atau miskin? Tua atau muda? Buktinya hari ini saja, meski masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan, bisa berobat ketika sakit menjadi sesuatu yang istimewa.

Ya, istimewa.

Dengan upah minimum, jangankan untuk berobat dan membayar rumah sakit. Untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, meski sudah menerapkan jurus penghematan tingkat tinggi, masih saja tidak tercukupi. Dan ketika ada yang mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan jaminan kesehatan, seumur hidup, tanpa limitasi dan diskriminasi, tetap saja rasa tidak percaya itu begitu mendominasi. Bermimpi pun tidak untuk mendapatkan keistimewaan itu. Baca entri selengkapnya »

Tidak ada manusia di dunia ini yang kepingin sakit. Aku yakin sekali dengan kalimat itu. Sebab, kesehatan adalah kekayaan yang paling bermakna. Ketika sakit, makanan kesukaan pun akan terasa hambar. Banyaknya harta tidak lagi menjadi jaminan untuk bisa merasakan bahagia.

”Gunakan masa sehatmu sebelum datang sakitmu,” kalimat indah, yang sekaligus menegaskan bahwa sakit adalah sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi mereka yang mengalaminya.

Itulah sebabnya, saat sakit datang mendera, seorang buruh harus dibebaskan dari kewajiban bekerja. Dan pengusaha harus membayar penuh upah mereka. Jangankan satu hari. Jika pun sakit itu mereka alami selama satu tahun lamanya, kewajiban pengusaha untuk tetap membayar upah tidak menjadi hilang.

Tetapi, terkadang realita dan hukum bisa berbeda di negeri ini. Baca entri selengkapnya »

Sebagai orang yang sehari-hari berkecimpung dalam aktivitas organisasi serikat pekerja, dinamika kehidupan pekerja/buruh bukan lagi hal yang asing bagi kita. Kita hidup di dalamnya, berbaur menjadi satu, bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya.

Kesadaran bahwa kita sebagai buruh, memang harus ditumbuhkan. Sebab ketika kita menganggap semua ini sebagai sebuah rutinitas, maka aktivitas yang kita lakukan akan menjadi hambar. Hanya sekedar dimaknai sekedar penggugur kewajiban. Atau mengutip kalimat bung Jamsari, bahwa selama ini kita menjalankan organisasi secara alamiah dan dengan mengandalkan intuisi. Hal seperti itu tidak boleh lagi terjadi. Memang harus ada greget. Ada niat dan kesungguhan, dengan sebuah kesadaran untuk sampai pada tujuan.

Tentu saja, ini adalah kerja kolektif. Dan bukankah karena itu juga yang menjadi alasan kita untuk membangun organisasi?

Lantas, apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan organisasi serikat pekerja kuat? Ada banyak jawaban yang bisa kita berikan. Namun, dari sekian jawaban yang ada, saya tertarik untuk mengutip pendapat Arunasalam P, Regional Representative IMF Southeast Asia – Pacific Office. Menurut Aruna, serikat pekerja yang kuat ditandai dengan 5 hal berikut: Anggota yang banyak, pemimpin yang jujur, dana yang cukup, administrasi yang baik, dan ada aktivitas/gerakan. Baca entri selengkapnya »

Saat ini saya tengah menyelesaikan penulisan buku berjudul: “Jejak Langkah Sang Aktivis; Sebuah Memorial Perjuangan Garda Metal Tangerang.” Sulit untuk dipungkiri, bahwa Garda Metal adalah sebuah fenomena dalam gerakan organisasi FSPMI pada khususnya, dan buruh Indonesia pada umunya. Didalamnya terangkai beragam kisah perjalanan anak manusia, yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Jika saya menyebut Garda Metal, bukan berarti hendak mengesampingkan kebesaran FSPMI. GM lahir dari rahim gerakan buruh. Menjadi salah satu pilar organisasi. Berada di garda depan, dalam setiap perlawanan yang kita gelorakan.

Kedepan, saya berharap buku ini akan menjadi semacam serial. Sebagaimana yang disampaikan oleh Panglima Koordinator Nasional Garda Metal, Baris Silitonga, melalui sebuah pesan di inbox Fb saya; penulisan sejarah Garda Metal tidak hanya berhenti di Tangerang. Tangerang adalah sebuah awal, dan berikutnya adalah kisah-kisah inspiratif dan heroik dari Garda Metal Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bandung, dll. Saat ini, rekam jejak Garda Metal Nasional juga tengah disiapkan. Pendek kata, Tangerang adalah awal, tetapi ia bukan akhir. Baca entri selengkapnya »

Jika pengorganisasian kita artikan sebagai rangkaian kegiatan yang dimaksudkan untuk semakin memperbesar jumlah keanggotaan serikat pekerja, menumbuhkan kesadaran berserikat, meningkatkan efektivitas kerja serikat pekerja dengan team work yang solid, maka dibutuhkan SDM dan media untuk mendukung kerja-kerja tersebut.

Kita sadar, semua ini adalah kerja yang berkelanjutan. Kita tidak bisa mengharap hasilnya secara instant. Kampanye ‘Ayo Berserikat’ yang berkelanjutan, misalnya, menjadi penting untuk dikembangkan. Usulan Nurhidayah, agar kampanye pentingnya berserikat perlu dilakukan disetiap kawasan/lokasi industri, saya kira juga menarik untuk dicoba. Baca entri selengkapnya »