Melintasi Batas Negara (17): Keributan Kecil di Pagi Hari

Seorang pemuda yang tertidur pulas di halte. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Seorang pemuda yang tertidur pulas di halte. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Setelah menghindar dari sekelompok wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikmati, saya terus berjalan. Tanpa tujuan yang jelas. Saya buta dengan tempat ini. Bahkan sejauh ini masih belum menyadari, jika sesungguhnya Geylang adalah kawasan ‘zona merah’ di Singapore. Disamping sering terjadi tindak kriminal, tempat ini ternyata juga surga bagi prostitusi. (Baca: Satu Malam di Geylang)

Melihat ada warung yang buka, saya melangkahkan kaki kesana. Ingin membeli kopi. Sekalian sambil numpang duduk.

Alangkah kagetnya, ketika merogoh kantong celana, dompet saya tidak ada. Spontan saya merogoh semua kantong yang ada. Mulai dari celana, baju, bahkan jaket yang saya kenakan. Berharap ada keajaiban. Tetapi dompet saya tetap tidak ada. Sialnya, Passport, KTP, SIM, kartu ATM, dan semua uang yang saya punya tersimpan didalam dompet itu.

Dan inilah saya sekarang. Berdiri sendirian dalam kegelapan di sebuah tempat yang jauh dari kampung halaman. Sementara di sepanjang jalan yang hendak dilalui, ada banyak kejutan yang akan terjadi. Sungguh, rasanya sangat tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini.

Saya mulai panik.

Menyesal sekali keluar hotel di pagi buta seperti ini.

Sekuat tenaga saya mengingat kembali. Apakah saya kecopetan ketika melewati kumpulan wanita yang sedang menjajakan dirinya tadi? Ach, rasanya tidak satu pun dari mereka menggerayangi celana saya. Tidak mungkin dompet itu bisa berpindah tangan. Lalu terjatuh dimana? Dan lagipula, saya tidak mungkin kembali ke tempat tadi untuk mencari dompet itu.

Ditengah kegalauan itu, saya terus melangkah. Dan baru berhenti ketika sampai di sebuah halte.

Di halte, ada seorang pemuda yang sedang tertidur pulas. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran saya. Tak jauh dari halte, saya melihat ada sepeda yang ditaruh begitu saja tanpa khawatir akan hilang. Jalanan masih lengang. Hanya ada beberapa bus yang sesekali lewat.

Barangkali tempat ini memang aman. Buktinya, ia bisa tidur dengan begitu nyeyak tanpa ada yang perlu di khawatirkan. Juga sepeda yang ditaruh begitu saja, seolah tak perlu takut akan berpindah tangan. Menyadari hal ini, saya merasa sedikit tenang.

Sepeda di pinggir jalan yang lengang. Tak jauh dari halte tempat saya duduk. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Sepeda di pinggir jalan yang lengang. Tak jauh dari halte tempat saya duduk. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Polisi sedang mendengarkan keterangan laki-laki yang baru saja ribut dengan seorang wanita. Mereka berdiri tak jauh dari sepeda yang diparkir di pinggir jalan. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Polisi sedang mendengarkan keterangan laki-laki yang baru saja ribut dengan seorang wanita. Mereka berdiri tak jauh dari sepeda yang diparkir di pinggir jalan. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Tak lama saya duduk, tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada orang ribut. Seorang wanita, dengan berteriak, sedang mencaki-maki seorang laki-laki. Tak terima, dengan logat melayu, si laki-laki membalas. Perang mulut di pagi buta tak terhindarkan. Makin lama suaranya makin jelas. Laki-laki itu bermaksud menjauh dari si wanita, tetapi si wanita terus mengejar. Keduanya menuju kearah halte. Tempat saya sedang duduk.

Saya sudah deg-degan melihat pertengkaran itu. Pemuda yang tadi sedang tertidur di halte bangun. Setidaknya saya punya teman, sekarang.

Dengan marah, wanita itu menghamburkan segala macam isi kebon binatang kepada si laki-laki. Laki-laki itu berperawakan kecil. Mengenakan jeans dan kaos putih.

Melihat kami berdua sedang duduk di halte memperhatikan mereka berdua, wanita itu dengan intonasi tinggi berkata kepada kami.

“Lihat monyet itu.  Sudah impoten, miskin lagi!” Kalimat yang tak pernah bisa saya lupakan. Saya tahu, ini untuk mengejek laki-laki itu. Untuk meruntuhkan mental dan kepercayaan dirinya.

Mendengar ejekan itu, si laki-laki tambah berang. “Dasar kau! Pelacur tak tahu diri.”

Selanjutnya saya tahu, rupanya dua orang ini adalah PSK dan kliennya. Pada awalnya kedua orang ini telah sepakat dengan tarif 50 dollar. Tetapi karena “senjata” si laki-laki tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tidak bisa ereksi, maka laki-laki itu hanya mau membayar 10 dollar saja. Tetapi si Wanita tak terima. “Aku sudah dipegang-pegang,”  katanya. Keributan tak terhindarkan. Bahkan si Wanita sempat mencakar leher laki-laki itu. Gurat merah terlihat jelas di lehernya.

Dilihat dari postur tubuhnya, laki-laki ini memang kalah jauh. Meski tak bisa dibilang gemuk, si perempuan bertubuh tinggi besar. Sementara laki-laki ini perperawakan kecil. Kurus dan pendek. Bekas cakaran di lehernya, membuktikan jika fisik si perempuan jauh lebih kuat.

Saya hanya terdiam. Begitu juga dengan pemuda yang ada di samping saya.

Setelah lelah beradu mulut, laki-laki itu berjalan menjauh. Ia terlihat sedang menelpon seseorang. Sambil bicara tak jelas, perempuan itu juga menjauh.

Hening.

Satu dua mobil lewat di depan kami dengan cepat.

Pemuda itu kembali tidur.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian, laki-laki itu kembali datang ke halte. Dan setelah itu, tak berapa lama, mobil polisi datang. Laki-laki itu mendatangi mobil polisi dan bercakap-cakap. Rupanya ia melapor ke polisi. Ia menunjukkan bekas cakaran. Polisi memeriksa sebentar.

Dua Polisi Singapore, yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sepertinya tidak berminat mendengarkan laporan itu. Polisi terlihat mencatat identitas dan kemudian pergi meninggalkan si laki-laki. (Kascey)

Melintasi Batas Negara (16): Satu Malam di Geylang

Salah satu sudut Gylang yang sepi, menjelang pukul 5 pagi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Salah satu sudut Gylang yang sepi, menjelang pukul 5 pagi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Jantung saya berdetak lebih kencang. Meskipun di pinggir jalan besar, tempat ini sepi sekali. Tetapi bukan kesepian ini yang membuat detak jantung saya terpacu lebih cepat. Bukan juga ketakutan kalau-kalau ada setan yang lewat. Pengalaman melewati sebuah lorong di Geylang, barusan, membuat saya nyaris kehilangan nyali.

Beberapa cafe masih buka. Bahkan toko baju yang ada di sudut jalan juga belum tutup. Saya berkesimpulan, kehidupan disini berjalan selama 24 jam.

Sebenarnya saya sangat awam dengan wilayah ini. Dan justru karena itulah, saya berniat untuk melakukan eksplorasi. Sayang kan jauh-jauh dari Indonesia ke Singapura hanya untuk numpang tidur? Karena itu, pagi-pagi sekali saya terbangun. Mengambil notes kecil yang selalu saya bawa, dan kemudian berjalan meninggalkan hotel.

Sejak keluar dari hotel, ada banyak wanita yang bergerombol dengan pakaian yang mencolok. Kekurangan bahan. Mereka antusias menyapa saya. Saya hanya tersenyum, sambil tetap berjalan. Dari bahasa yang digunakan, saya tahu, mereka berasal dari Indonesia. Apalagi sayup-sayup terdengar, mereka menyanyikan sebuah syair,” Abang tukang sate, mari-mari sini. Saya mau beli…”

Hal yang biasa, pikir saya. Ketika bersama dengan kawan-kawan, saya pun terkadang melakukan hal yang sama terhadap minoritas. Menggoda cewek yang lewat. Apalagi jika ia sendirian.

Tak berapa lama berjalan, kembali wanita bergerombol. Sial, tidak ada jalan lain untuk menghindar. Saya harus melewati wanita-wanita bermata sipit dan berkulit bersih itu. Kali ini bahkan dengan pakaian yang lebih seksi. Beberapa hanya menggenakan tank top dan celana jeans pendek yang tak menutupi paha.

Melihatnya, nyali saya ciut juga. Saya sudah hampir balik kanan. Tetapi wanita-wanita itu terlanjur melambaikan tangan kearah saya. Lambaian tangan itu seolah menjadi magnet bagi saya untuk terus melangkah kedepan. Ia menawari saya untuk “begituan”.

Sebuah gang, tempat saya merasa dipecundangi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Sebuah gang, tempat saya merasa dipecundangi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Murah, cukup hanya dengan 30 dollar, katanya.

Saya mengangkat kedua tangan sambil terus berjalan. Menolak secara halus dengan mengatakan, “sudah-sudah”.

Seseorang memegang tangan saya dari belakang. Itu membuat langkah saya terhenti.  Ketika menoleh, ternyata yang melakukannya adalah seorang wanita dengan baju berlengan pendek warna putih. Rambutnya yang hitam tergerai, menutupi dadanya yang sedikit terbuka. Pagi itu ia mengenakan rok sedikit di atas lutut, dengan sandal berhak tinggi. Sebuah tas kecil terselempang di pundaknya. Serasi sekali.

“Ayolah,” katanya pelan dan manja.

“Sekali ini saja.”

Entahlah, bagaimana wajah saya ketika mendapatkan tawaran itu. Yang jelas, jantung saya berdegup puluhan kali lebih cepat. Saya harus menghindar dari mereka. Itu saja yang saya pikirkan. Akhirnya, pilihan saya adalah dengan menyeberang ke sisi kanan jalan. Mereka berdiri berjejer di sebelah kiri.

Sial. Si baju putih berlengan pendek itu mengikuti saya.  Melihat itu, saya terpikir untuk lari. Tetapi akal sehat saya mengatakan, ini negeri orang. Kalau saya lari dan mereka berteriak maling, bisa jadi riwayat saya akan habis di tempat ini. Bagaimana kalau saya terima tawaran itu?

Saya sedikit lega, ketika melihat di depan ada dua orang laki-laki yang sedang berjalan kearah saya. Bisa jadi mereka adalah teman si PSK yang akan menangkap saya. Tetapi yang saat itu melintas didalam pikiran saya, saya tidak lagi sendirian ditengah-tengah ‘penyamun’. Wanita itu terus mengikuti dibelakang saya, meskipun sandal berhak tingginya tidak bisa membuat langkahnya menjadi cepat. Saya berharap, ia akan mengalihkan perhatiannya kepada dua orang pendatang baru ini.

Dan akhirnya saya berpapasan dengan dua laki-laki itu. Tubuhnya kekar. Sedikit bau alkohol. Sebentar lagi, mereka pasti akan berpapasan dengannya. Benar saja, sesaat setelah ngobrol, si wanita itu dibopong oleh dua orang. Karena wajahnya menghadap ke belakang, ia sempat melihat kearah saya. Pandangan kami bertemu. Sambil tersenyum genit ia menjulurkan lidahnya kearah saya.

Ini benar-benar pengalaman gila. Di pagi buta. Saat jarum jam hampir menunjukkan pukul lima. (Kascey)

Selanjutnya: Keributan Kecil di Pagi Hari

Melintasi Batas Negara (15): Bersama Sang Merlion

Seru-seruan di depan Patung Merlion. | Foto: Herveen

Seru-seruan di depan Patung Merlion. | Foto: Herveen

Sebelum ini, saya hanya bisa melihat patung Merlion dari layar kaca. Tak pernah terbayangkan, jika kemudian akhirnya saya berada disini. Disebuah tempat yang dikelilingi gedung-gedung tinggi. Sore itu, sang Merlion terlihat eksotis.

Sebagai sebuah landmark Singapura, kita dikatakan belum ke Singapura kalau belum berfoto dengan patung Merlion di Merlion Park. Ini adalah sebuah patung singa besar berbadan ikan setinggi 8,6 meter dengan berat sekitar 70 ton.

Secara etimologi, Mer berarti laut dalam bahasa Perancis dan lion berarti singa dalam bahasa Inggris. Ada juga yang bilang bahwa Merlion berasal dari kata mermaid (ikan duyung) dan lion (singa) yang berarti mahkluk berkepala singa dengan badan menyerupai ikan duyung.

Hari sudah sore ketika kami tiba di Merlion Park. Hujan baru saja turun. Tempat ini terlihat segar.

Saya penasaran. Apa sesungguhnya yang melatarbelalangi keberadan Merlion yang melegenda itu. Penelusuran saya di Google, mempertemukan saya dengan ranselkecil.com, yang mengulas sejarah sang Merlion.

Konon, satu ketika datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.

Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.

Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.

Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa.

Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.

Memunggungi. | Foto: Herveen

Memunggungi. | Foto: Herveen

Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa itu kini menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Saya bahkan membeli cinderamata dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”.

Hanya, sayang, ketika kami mengambil foto di depan Merlion, ia tidak sedang menyemburkan air.

Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”.

Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.

Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.

Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay. (Kascey)

Dermaga tempat melihat Patung Merlion. | Foto: Kascey

Dermaga tempat melihat Patung Merlion. | Foto: Kascey

Selalu ada senyum didalam kebersamaan itu. | Foto: Herveen

Selalu ada senyum didalam kebersamaan itu. | Foto: Herveen

Dua orang kru tim media

Dua orang kru tim media

Melintasi Batas Negara (14): Kunjungan ke NTUC

Suasana pertemuan dengan NTUC, di Singapura. | Foto: Herveen

Suasana pertemuan dengan NTUC, di Singapura. | Foto: Herveen

Suasana berbeda, saat kami mengunjungi kantor National Trade Union Centre (NTUC). Sebuah gedung yang megah. Setidaknya jika membandingkannya dengan kantor serikat pekerja yang ada di Indonesia.

Aisyah, memandu kami, sebelumnya menceritakan jika dirinya menjadi anggota NTUC. Ia mengaku memiliki banyak manfaat. Bisa mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan NTUC, untuk meningkatkan keahliannya. Bahkan bisa berbelanja di minimarket milik NTUC dengan mendapatkan potongan harga.

Saya penasaran. Ingin mengetahui NTUC dengan lebih dalam.

Organisasi ini didirikan pada tahun 1961, ketika Singapura Trades Union Congress (STUC) yang didukung Partai Aksi Rakyat (PAP) sukses memegang kendali pemerintahan. Tidaklah mengherankan jika akhirnya hubungan antara PAP dan NTUC sangat dekat. Bahkan sering terjadi, beberapa orang memegang jabatan di kedua organisasi pada saat yang sama. Sebut saja, pendiri NTUC ini, Devan Nair, adalah pendukung PAP dan kemudian menjabat sebagai Presiden Singapura. Ong Teng Cheong, Presiden Singapura pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat adalah Sekretaris Jenderal NTUC. Lim Boon Heng, sekjen sebelumnya, juga anggota parlemen, dan Ketua Partai Aksi Rakyat.

Apa yang dilakukan NTUC, di FSPMI dikenal sebagai go politics. Dimana organisasi mendorong kader-kader terbaiknya untuk duduk didalam keanggotaan DPR, Bupati, Menteri, bahkan satu ketika menjadi Presiden RI. Meskipun demikian, FSPMI tetap ingin menjaga jarak dengan partai politik. Tetap menjadi independent, tetapi tidak netral didalam Pemilu.

Seperti umumnya serikat pekerja, tujuan dibentuknya NTUC adalah untuk meningkatkan status sosial dan kesejahteraan pekerja. Mereka juga menginginkan agar Singapura tetap menjadi negara yang kompetitif dan bisa menekan angka pengangguran.

Saya tidak akan membahas terlebih dahulu apa yang kami dapatkan dari hasil kunjungan ke NTUC. Itu akan saya sampaikan secara terpisah, agar bisa lebih fokus. Kali ini, saya akan menampilkan gambar-gambar serunya kunjungan kami ke NTUC.

Serius mendengarkan. | Foto: Herveen

Serius mendengarkan. | Foto: Herveen

Ketua Umum SPEE FSPMI menyerahkan cidera mata. | Foto: Herveen

Ketua Umum SPEE FSPMI menyerahkan cidera mata. | Foto: Herveen

Sekretaris Jenderal SPEE FSPMI menyerahkan cindera mata. | Foto: Herveen

Sekretaris Jenderal SPEE FSPMI menyerahkan cindera mata. | Foto: Herveen

Kebersamaan yang indah. | Foto: Herveen

Kebersamaan yang indah. | Foto: Herveen

Mengibarkan bendera FSPMI di depan kantor NTUC. | Foto: Kascey

Mengibarkan bendera FSPMI di depan kantor NTUC. | Foto: Kascey

Megahnya kantor NTUC. | Foto: Kascey

Megahnya kantor NTUC. | Foto: Kascey

P1000489

 

Melintasi Batas Negara (13): Norak

Marina Bay Sands, terlihat dari kawasan Patung Melion, Singapura. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Marina Bay Sands, terlihat dari kawasan Patung Melion, Singapura. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Ketika berada ditempat yang baru dikunjungi, mengambil foto adalah momen penting yang tak boleh terlewatkan. Itu juga terjadi pada kami. Ketika Aisyah memberi tahu sebuah sebuah gedung yang diatasnya ada bangunan seperti perahu. Marina Bay Sands.

“Disana ada hotel, kasino, tempat pameran, hingga pusat perbelanjaan,” Aisyah menjelaskan.

Dari dalam bus, kami berebut mengambil gambar. Melihat tingkah norak kami, Aisyah tersenyum. Beberapa saat kemudian ia melarang.

“Jangan ambil foto sekarang. Nanti saja kalau kita sudah sampai di patung Singa, semuanya akan terlihat dengan jelas,” katanya.

Kami tertawa. Hehe…, kenapa nggak bilang dari tadi?

Penduduk Singapura

Saat itu jam istirahat. Banyak orang sedang makan siang. Menurut Aisyah, penduduk Singapura  jumlahnya kurang lebih 5 juta orang. Mayoritas merupakan etnis Tionghoa, mencapai 77,3%. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli besarnya 14,1%, dan etnis India 7,3%, serta etnis lainnya sebesar 1,3% . Mayoritas rakyat Singapura menganut agama Buddha (31,9%) dan Tao (21,9%). Sementara itu, 14,9% menganut agama Islam, 12,9% menganut agama Kristen, 3,3% Hindu, dan lainnya 0,6%. Sedangkan sisanya, (14,5%) tidak beragama.

Singapura mempunyai empat bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Bahasa Melayu adalah bahasa nasional Singapura. Hanya, memang, lebih bersifat simbolis. Ia digunakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan (Majulah Singapura) dan perbarisan pasukan tentera dan polisi. Pemerintah PAP lebih cenderung dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (lingua franca). Penggunaan bahasa Melayu hanya terbatas kepada kaum Melayu saja. Mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa Melayu juga memudahkan berkomunikasi dengan negara tetangga yang paling dekat. Indonesia dan Malaysia. Aisyah sendiri adalah keturunan asli Melayu. Suaminya juga orang Melayu.

“Jadi harus tahu bahasa Melayu. Seperti, Bapak, Ibu, atas Mas. Kalau disini dipanggilnya Makcik, Pakcik, Kakak, atau Abang. Kalau lebih muda, bolehlah kita sebut nama saja,” jelas Aisyah.

“Tetapi jangan panggil saya Makcik. Nanti saya sedih, karena kelihatan tua,” lanjutnya. Panggilan Makcik adalah ‘mak kecil’, atau bibi.

Esplanade

“Yang itu namanya Esplanade. Gedung ini juga dijuluki gedung durian. Orang Singapura memanggil duren. Misal kalau ada janji, kita ketemu dimana? Di duren saja. Maksudnya adalah gedung ini,” kata Aisyah.

Menurut saya, arsitektur gedung ini sangat unik. Banyak orang membicarakan gedung yang dari kejauhan terlihat seperti durian ini. Bentuknya yang lancip-lancip ada yang mengatakan mirip buah durian. Untuk mempertahakan keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, gedung ini dinamakan Esplanade – Thetres on The Bay.

Esplanade menjadi pusat seni pertunjukkan bagi semua kalangan dan programnya menjangkau ke ragam audiens secara luas. Susunan programnya mencakup semua genre termasuk, musik, tari, teater dan seni visual dengan fokusnya pada budaya khas Asia. Esplanade sendiri juga telah menjadi ikon kebanggan Singapura, selain patung Merlion.

Menurut Aisyah, penyanyi dari Indonesia, seperti Rosa dan Ruht Sahanaya pernah manggung di gedung ini.

Cara Singapura Atasi Macet

Santai di pinggir jalan. | Foto: Herveen.

Santai di pinggir jalan. | Foto: Herveen.

Inilah salah satu yang membedakan Indonesia dengan Singapura. Selama berada di Singapura, bahkan berjalan hingga ke pusat kota, tidak kami temui kemacetan. Aisyah menjelaskan kepada kami, bagaimana cara negara ini menerapkan peraturan yang sangat ketat bagi warganya yang ingin memiliki kendaraan.

Semua mobil di Singapura harus terdaftar di LTA (Land Transport Authority) yang merupakan departemen Transportasi darat Singapura. Biaya pendaftaran tersebut sebesar Sin$ 140. Mereka juga menerapkan Preferential Additional Registration Fee. Ini adalah aturan untuk menyudahi pemakaian atau membuang kendaraan dengan masa waktu maksimal 10 tahun pemakaian. Pajak pendaftaran mobil ini memiliki tarif berjenjang dari 100 persen hingga 180 persen dari harga mobil bergantung pada harga mobil. Untuk harga mobil sampai Sin$ 20 ribu hanya dikenakan pajak pendaftaran 100 persen dari nilai pasar mobil. Namun, untuk harga mobil lebih mahal dari itu, akan dikenakan tarif lebih tinggi

Sejak tahun 1990, mereka menerapkan Vehicle Quota System. Kebijakan ini mengatur jumlah kendaraan baru yang akan meminta izin registrasi berdasarkan pada jumlah kendaraan yang sudah ‘kadaluwarsa’ dan data pertumbuhan kendaraan. Ada juga yang disebut Certificate of Entitlement. Berupa  surat keterangan yang didasarkan pada kuota pertumbuhan jumlah kendaraan baru yang diperbolehkan di Singapura hanya selama 10 tahun. 10 tahun berikutnya. Karena jumlah sertifikat dibatasi hanya 30 ribu unit per tahun, maka proses untuk mendapatkan sertifikat tersebut dilelang dan berlaku hanya untuk 10 tahun. Rata-rata, biaya untuk mendapatkan COE sebesar Sin$ 87 ribu atau hampir Rp 800 juta

Tarif pajak jalan didasarkan pada kapasitas mesin dan usia mobil. Semakin besar kapasitas mesin, maka tarif pajak jalan akan semakin mahal. Misalnya, untuk mobil berkapasitas 1.600 cc dikenakan pajak jalan sekitar Sin$ 744 untuk jangka waktu setahun. Semakin tua usia mobil akan dikenakan pajak jalan lebih tinggi. Misalnya, untuk mobil berusia 11 tahun, tambahan pajak jalan sebesar 10 persen dan mobil berusia 14 tahun tambahan sebesar 50 persen

Plat Warna Merah (Weekend Car) digunakan jam 19.00 sampai 07.00 pada hari Senin sampai Jumat.Pada hari Sabtu dan Minggu Bebas 24 Jam. Pajak Plat Merah lebih murah dibanding plat hitam. Plat Hitam adalah bebas jam terbangnya dan bebas harinya namun pajak kendaraan tersebut sangatlah tinggi.

Mereka juga menerapkan kebijakan Electronic Road Pricing (ERP). Mewajibkan pemilik mobil membayar saat melewati jalan-jalan utama dan kawasan pusat bisnis di Singapura. Di sana, tarif berubah-ubah tergantung pada tingkat kepadatan lalu lintas. Misalnya, di Victoria Street dikenakan tarif sebesar Sin$ 2,5 pada pukul 8.30-9.00, namun diturunkan menjadi Sin$ 0,5 pada pukul 9.55-10.00.

Belum lagi ketika parkir. Pengendara mobil juga harus siap membayar mahal saat memarkir mobilnya. Misalnya untuk parkir di Shaw Tower, satu kawasan bisnis di Singapura, tarif parkir satu jam pertama sebesar Sin$ 1, untuk setiap jam berikutnya sebesar Sin$ 2,15. Jadi, bila ingin parkir sekitar 10 jam, maka akan membayar Sin$ 20,35 atau sekitar Rp 186 ribu. Selain biaya parkir yang tinggi, jumlah lahan parkir di Singapura sangat terbatas.

Saat mengisi bensin, pemilik mobil juga harus siap-siap untuk menguras kantong. Harga bensin disini sekitar 20 ribu untuk satu liter BBM. Sekali isi tanki mobil sebanyak 20 liter BBM, harus menyiapkan setidaknya 400 ribu.

Selain mempersulit kepemilikan mobil, pemerintah Singapura juga mempersulit warganya ketika sudah memiliki mobil. Hal ini dilakukan untuk mengarahkan warganya memilih angkutan umum yang murah, cepat, dan terjangkau kemana dan dimanapun. Kita tahu, transportasi publik di Singapura adalah salah satu yang terbaik. (Kascey)

Masjid Sultan

Berwudlu sambil duduk. Sesuatu yang tak biasa bagi saya. Foto: Dokumentasi Pribadi

Berwudlu sambil duduk. Sesuatu yang tak biasa bagi saya. Foto: Dokumentasi Pribadi

Bagian dalam Masjid Sultan. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Bagian dalam Masjid Sultan. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Kami mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Sayang sekali, saya lupa nama restoran yang menyediakan makanan khas melayu itu.

Selesai makan siang, kami sholat dhuhur di Masjid Sultan. Ini sebuah masjid yang indah. Dibangun pertama kali pad atahun 1824 oleh Sultan Hussain Shah, sultan pertama Singapura dengan dana hibah dari East India Company. Terletak di jalan Muscat, Kampung Glam.

Yang menarik, di tempat wudhu tersedia tempat duduk. Kami mengambil air wudlu dengan duduk. Tentu saja, ini berbeda dengan kebiasaan, yang berwudlu dengan berdiri.

Semula bangunan masjid dibangun berbentuk masjid tradisional nusantara dengan atap limasan bersusun tiga. Bentuk tersebut hampir mirip dengan Masjid Agung Demak yang masih bisa kita jumpai hingga sekarang. Maklum, struktur awal masjid memang digarap oleh masyarakat Jawa, Melayu dan Bugis yang menetap di Singapura untuk berdagang. Kawasan Kampong Glam ini semula memang kawasan permukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia.

Dalam perkembangannya, Masjid Sultan kemudian direnovasi pada tahun 1924, bertepatan dengan 100 tahun berdirinya masjid tersebut. Selain dilakukan perluasan area untuk menambah daya tampung, bentuk dan arsitektur masjid juga mengalami perubahan. Setelah empat tahun pembangunan, berdirilah masjid seperti yang ada sekarang. Bergaya Gothik Mughal lengkap dengan menaranya dan mampu menampung 5.000 jemaah.

Saya sempat membaca susunan pengurus Masjid Sultan yang ditempel di papan pengumuman. Berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia yang hampir semua pengurusnya laki-laki, di Masjid Sultan ada beberapa pengurus perempuan. (Kascey)

Sultan Mosque Staff | Foto: Dokumentasi Pribadi

Sultan Mosque Staff | Foto: Dokumentasi Pribadi

Terlihat dari samping | Foto: Dokumentasi Pribadi

Terlihat dari samping | Foto: Dokumentasi Pribadi

Melintasi Batas Negara (12): Yang Bertambah, Yang Berkurang

Salah satu traffic light di jalanan Singapura. | Foto: Kascey

Salah satu traffic light di jalanan Singapura. | Foto: Kascey

Bus yang kami tumpangi terus melaju. Sementara itu pemandu kami, Aisyah, tak henti-hentinya menjelaskan apa saja yang terlihat di sekeliling kami. Sementara saya yang memang baru pertamakali menginjakkan kaki di negeri ini, hanya mendegarkan saja. Sesekali membuat catatan jika itu saya anggap penting.

“Kita akan memasuki jalan tol dibawah laut. Ini adalah jalan tol yang terbaru. Dibuka pada bulan Desember 2013,” kata Aisyah.

Jalan tol dibawah laut?

Di Jakarta, boro-boro kami bisa menemukan jalan tol dibawah laut. Yang ada, kami malah mendepati jalan tol yang berubah menjadi laut ketika musim hujan tiba.

Nama jalan tol di bawah laut ini adalah Marina Coastal Expressway (MCE). Panjangnya mencapai 5 Km. Melalui jalan tol ini, pengendara bisa langsung ke jantung kota di Marina Selatan melalui koneksi baru dengan Central Boulevard, Marina Boulevard dan Maxwell Road.

“Singapura ini kecil.” Aisah melanjutkan. Karena itu, gedung-gedung dibuat tinggi. Mereka juga membuat jalan kereta dibawah tanah yang mengelilingi Singapura. Ada jalan tol dibawah tanah. Mall di bawah tanah. Bahkan ada hotel yang kamarnya terletak di bawah tanah.

“Kita mungkin tidak bersedia tinggal disitu, karena seperti di kuburan,” ujarnya. Kami tertawa.

Tetapi bagi orang Barat yang ingin mencari pengalaman lain, mereka banyak yang suka.

Pernah satu ketika, Aisyah membawa rombongan anak sekolah dari Jogjakarta. Ketika ada salah satu dari mereka yang sakit, ia mengantarkannya ke rumah sakit. Dan lagi-lagi, kamar untuk pasien berada dibawah tanah. Tetapi tetap bersih dan rapi.

Yang Bertambah

“Yang kita lewati sekarang, 40 tahun yang lalu tidak pernah ada,” katanya.

Daerah ini awalnya adalah pantai, yang sudah direklamasi. Selanjutnya Aisyah menjelaskan bagaimana cara Singapura memperluas daratannya. Mula-mula ditanamakan besi, lalu diurug dengan pasir yang didatangkan dari Indonesia. Setelah diurug, agar stabil didiamkan selama kurang lebih 15 tahun. Setelah itu baru dibuat jalan, ditanami pohon, kemudian dikembangkan untuk hotel, mall, gedung perkantoran, dan sebagainya.

Sebuah penjelasan, yang sejujurnya membuat saya merasa sakit hati.

Cerita Aisyah mengingatkan saya pada kenyataan, bahwa Indonesia merupakan ”penyumbang” terbesar pasir urukan untuk Singapura. Pasir yang diimpor berasal dari perairan Riau, baik secara legal maupun illegal. Reklamasi pantai Singapura ini diperkirakan akan terjadi hingga tahun 2030. Membutuhkan pasir urukan tidak kurang dari 8 miliyar meter kubik.

Pasir-pasir diangkut ke Singapura sebagai bahan penguruk pantai Singapura dan bahan bangunan. Pasir-pasir ini terutama didapatkan dari daerah Riau. Perusahaan-perusahaan Singapura melakukan impor pasir untuk reklamasi tersebut dari Indonesia karena alasan ekonomis, yaitu efisiensi dan  efektifitas biaya yang dikeluarkan (Tempo, 26  Februari – 4 Maret 2007).

Pengusaha dan pemerintah daerah bermain dalam penyelundupan tersebut. Keuntungan dari ekspor tersebut hanya dinikmati oleh mereka. Sementara rakyat yang turut mempunyai bagian dari kepemilikan tanah Riau dan Batam, tidak mendapat keuntungan.

Hasilnya, jika sebelum tahun 1960 luas wilayah Singapura hanya sekitar 581,5 km persegi, maka menurut catatan terbaru (2011), luas wilayah Singapura adalah 710,2 km persegi.

Yang Berkurang

Pengerukan pasir laut ini menjadi permasalahan tersendiri bagi Indonesia. Sedikitnya empat pulau di Kecamatan Karimun di Riau, ”menghilang” karena dikeruk terus pasirnya.

Pulau Nipah, misalnya, adalah salah satu pulau yang dikhawatirkan tenggelam dan lenyap dari peta Indonesia. Sebuah pulau yang nyaris tenggelam, disebabkan penambangan pasir laut yang berlebihan. Apabila Pulau Nipah tenggelam, dikhawatirkan batas antara Indonesia dengan Singapura akan mengalami perubahan, yang tentu saja hal ini merugikan Indonesia. Saya mendapatkan informasi, jarak antara batas terluar Pulau Nipah ke Singapura hanya 5 mil laut; sedangkan jarak Pulau Nipah ke Batam sekitar 8 mil laut.

Ketika sedang air laut pasang, pulau ini terlihat kecil. Hanya sekitar 1 hektar. Padahal, jika air laut sedang surut, luas pulau itu sekitar 62,83 hektar. Sangat mengerikan akibat pengerukan pasir yang berlebihan itu. (Kascey)

Melintasi Batas Negara (11): Kota Laut

Dari atas ferry, berlatar belakang gedung-gedung di Singapura | Foto: Kascey

Dari atas ferry, berlatar belakang gedung-gedung di Singapura | Foto: Kascey

Dari laut, Singapura terlihat seperti kota terapung. Gedung-gedungnya tinggi menjulang ke angkasa. Berdiri angkuh seperti hendak mempertontonkan kemegahannya. Semakin mendekat ke daratan, semakin kami dikepung oleh gedung-gedung. Kontras sekali dengan Batam Center, tempat kami berangkat tadi.

Itulah yang saya rasakan ketika ferry yang saya tumpangi beberap saat lagi merapat di Pelabuhan Harbourfront, Singapura. Saya dan beberapa kawan yang saat itu berada di bagian atas ferry, memanfaatkan momentum ini dengan mengambil banyak foto. Kesan pertama memang selalu menggoda.

Perjalanan ke Singapura, dari Batam Center, memakan waktu sekitar satu jam. Hanya saja, waktu Singapura lebih cepat 1 jam dari waktu Batam. Ketika kami berangkat dari Batam jam 10, kami sampai di Singapura jam 12 siang. Tentu saja, waktu Singapura.

Setelah melewati imigrasi, masih satu gedung dengan pelabuhan, ada pusat perbelanjaan yang besar. Namanya Harbourfront Center.

Rapi. Hanya ini yang bisa saya katakan. Tidak berbelanja, memang. Karena tujuan saya ke Singapura adalah dalam rangka untuk melakukan liputan kawan-kawan SPEE FSPMI yang sedang mengadakan kunjungan ke NTUC. (Halah…., padahal yang bener karena tidak punya uang).

Saya bersyukur bisa menginjakkan kaki di negara ini. Meskipun demikian, sebenarnya, dalam hati kecil saya lebih tertarik mengeksplorasi tempat-tempat yang ada di Indonesia. Sejak tiba di Batam, selain di hotel tempat penyelenggaraan Rakernas, saya belum kemana-mana. Dan ini adalah keinginan saya yang belum terwujud. Karena itu, sepulang dari Singapura, saya berencana kembali ke Batam dan mengunjungi beberapa tempat disana.

Sejak awal, ada satu pertanyaan yang akan saya cari jawab disini. Mengapa negara yang baru merdeka pada tahun 1965 ini selalu didengung-dengungkan lebih maju? Dan lagi pula upahnya lebih tinggi dibandingkan dengan upah buruh di Indonesia?

Selayang Pandang Tentang Singapura

Dan hari ini, penjelajahan di Singapura kami mulai. Bus yang kami tumpangi dipandu oleh seorang wanita asli Singapura. Aisyah, namanya.

“Singapura adalah sebuah negara yang kecil. Jika kita membawa mobil, dari Barat ke Timur hanya 1 jam. Sedangkan dari Utara ke Selatan berjarak 45 menit,” Aisyah menerangkan.

Luas negara Singapura sekitar 700 meter persegi. “Di peta dunia, Singapura hanya satu titik saja,” kami tertawa mendengar penjelasannya. Sama seperti Batam.

Panjang lebar Aisyah menceritakan sejarah Singapura.

Singapura pertama kali disebut dalam catatan bangsa China di abad ke 3, yang menyebut Singapura sebagai “Pu-luo-chung” (“pulau di ujung semenanjung”). Kemudian pada abad ke 14, Singapura menjadi bagian dari kerajaan besar Sriwijaya, dan dikenal sebagai Temasek (“Kota Laut”). Terletak di titik pertemuan jalur perjalanan laut di ujung Semenanjung Malaya, Singapura telah lama dikunjungi berbagai kapal, mulai dari junk China, kapal dagang India, dhow Arab, kapal-kapal perang Portugis sampai kapal layar Bugis.

Selama abad ke 14, pulau kecil namun berlokasi strategis ini mendapat nama baru – “Singa Pura” (“Kota Singa”). Menurut legenda, seorang pangeran Sriwijaya yang datang melihat seekor hewan yang ia kira singa, dan lahirlah nama modern Singapura ini (“Singapore” dalam bahasa Inggris).

Inggris mengisi bagian penting berikutnya dalam kisah Singapura ini. Selama abad ke 18, mereka melihat perlunya sebuah “rumah singgah” strategis untuk memperbaiki, mengisi bahan makanan, dan melindungi armada kerajaan mereka yang semakin besar, serta untuk menahan kemajuan bangsa Belanda di wilayah ini. Dengan latar belakang politik seperti inilah Sir Stamford Raffles mendirikan Singapura atau Singapore, sebagai tempat perdagangan. Kebijakan perdagangan bebas berhasil menarik para pedagang dari seluruh penjuru Asia, bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Di tahun 1824 , hanya lima tahun setelah pendirian Singapura modern, populasi bertumbuh pesat dari hanya 150 menjadi 10.000. Di tahun 1832 , Singapura menjadi pusat pemerintahan Straits Settlements (Wilayah Pemukiman Teluk) untuk daerah Penang, Malaka dan Singapura. Pembukaan Terusan Suez di tahun 1869 dan penemuan telegraf dan kapal uap memperbesar peran penting Singapura sebagai pusat perdagangan yang semakin meningkat antara Timur dan Barat.

Singapura juga menjadi lokasi militer di abad ke 14, ketika terlibat dalam perebutan Semenanjung Malaya antara kerajaan Siam (kini Thailand) dan Majapahit dari Jawa. Lima abad kemudian, kembali Singapura menjadi lokasi peperangan besar selama Perang Dunia II. Singapura sempat dianggap sebagai benteng yang tak tertembus, tapi Jepang berhasil menguasai pulau ini di tahun 1942 .

Setelah perang, Singapura menjadi Crown Colony (koloni Tahta Inggris). Tumbuhnya nasionalisme menjadikan terbentuknya pemerintahan mandiri di tahun 1959 dan akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1965 Singapura menjadi republik merdeka. (*)

Bersama Sobar Gunandar, dari Bekasi | Foto: Kascey

Bersama Sobar Gunandar, dari Bekasi | Foto: Kascey

Berkumpul di anjungan kapal ferry. | Foto: Kascey

Berkumpul di anjungan kapal ferry. | Foto: Kascey

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

P1000473

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

Dari atas ferry. | Foto: Kascey

Dari atas ferry. | Foto: Kascey