Melintasi Batas Negara 2: Seperti Teman Lama yang Berjumpa Kembali

Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami dijemput kawan-kawan FSPMI Batam

Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami dijemput kawan-kawan FSPMI Batam

Setelah terkantuk-kantuk selama satu jam di boarding room Bandara Soekarno Hatta, akhinrya pengumuman itu terdengar. Penumpang Lion Air tujuan Batam dengan nomor pesawat JT 376 diminta naik ke pesawat. Kami segera bergegas.

Didalam pesawat, saya duduk di kursi nomor 28D. Disebelah saya ada Herfin. Sementara diujung sana, dekat jendela, seseorang warga Negara asing. Sama seperti saya, Herfin adalah salah satu anggota Tim Media FSPMI yang ikut meliput jalannya Rakernas III SPEE FSPMI. Selesai mengikuti rangkaian Rakernas dari Batam hingga Singapura, kami berencana kembali ke Batam untuk mengisi pelatihan menulis.

Tak lama duduk di kursi, Pramugari meminta kami bertiga untuk pindah tempat duduk, dekat pintu darurat. Rupanya dikursi dekat pintu darurat itu diduduki oleh ibu-ibu. Kami berpindah tempat duduk. Ternyata untuk duduk disamping pintu darurat pesawat tidak bisa sembarang orang. Penumpang yang duduk disamping pintu tersebut haruslah memenuhi persyaratan tertentu.

Kami diberi penjelasan oleh Pramugari tentang prosedur membuka emergency exit apabila ada hal darurat terjadi. Keuntungan duduk didekat pintu darurat ini adalah, ada ruang yang cukup lega di depan kursi untuk berselonjor kaki. Ada lagi. Di dekat Emergency Exit itu ada kursi yang harus diduduki oleh pramugari ketika pesawat sedang take off, landing atau memasuki turbulensi. Tempat duduk pramugari itu menghadap kearah penumpang. Kami berhadap-hadapan. Seperti mendapat hiburan tersendiri.

Pesawat ini serasa milik sendiri. Maklumlah, rombongan kami berjumlah puluhan orang dengan kursi yang saling berdekatan. Kami bercanda. Saling ledek sesama teman. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan naik pesawat sendiri. Sepi.

Selama penerbangan, saya menghabiskan waktu dengan membaca majalah yang disediakan secara cuma-cuma. Tertulis dimajalah itu berbagai destinasi yang menarik hati. Semacam promosi agar mereka yang membaca mengunjunginya. Jenuh membaca, pemandangan diluar sana menjadi sasaran berikutnya. Ketika berada didalam pesawat, saya suka berlama-lama memandang keluar. Melihat laut yang membentang, sungai yang mengular, pulau-pulau kecil di pinggiran Sumatera. Ajaib sekali rasanya bisa terbang seperti ini untuk melintasi ruang dan waktu.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami mengantri di tempat pengambilan bagasi untuk mengambil barang bawaan kami. Ke Batam, kami memang sengaja membawa sekardus buku ‘Cerita dari Bekasi.’ Berharap sekali spirit yang ada dalam buku itu akan menular ke berbagai daerah, sehingga suara buruh akan terdengar lebih nyaring.

Bandar Udara Hang Nadim merupakan bandar udara internasional yang terletak dikelurahan Batu Besar, kecamatan Nongsa, kota Batam. Bandar udara ini mendapatkan nama dari Laksamana Hang Nadim yang termahsyur dari Kesultanan Malaka.

Hang Nadim lahir dari pasangan Hang Jebat dan Dang Wangi atau Dang Inangsih Sayyid Thanaudin. Hang Jebat adalah seorang Panglima Sultan Mansor Syah yang merupakan Datuk Bentara Kanan. Setelah Hang Jebat dibunuh , Ibu Hang Nadim melarikan diri ketempat datuknya di Pulau Besar.

Penasaran darimana asal usul nama Hang Nadim yang terkenal itu, saya browsing di internet. Keingin tahuan saya akhirnya terjawab ketika saya menemukan sebuah situs, batamsafari.com. Disana saya menemukan sebuah judul, Laksamana Hang Nadim. Ia  terlahir sebagai anak yatim. Oleh ibunya, Hang Nadim diserahkan kepada Hang Tuah. Hang Nadim pun di didik dan diperlakukan oleh Hang Tuah sama halnya dengan ke dua anaknya yakni Tun Biajid dan Tun Guna. Ketiganya di didik dengan ilmu Agama dan ilmu bela diri.

Setelah dewasa Hang Nadim dinikahkan dengan Tun Mas Jiwa bin Hang Tuah yang merupakan anak dari Laksamana Hang Tuah. Saat itu Laksamana Hang Tuah menjabat sebagai Laksamana Melaka. Sepeninggal Laksamana Hang Tuah, jabatannya diserahkan kepada Laksamana Khoja Hasan yang sebelumnya menjabat sebagai Temenggung. Laksamana Khoja Hasan mempunyai nama asli Maulana Sayyid Fadillah.

Pada tahun 1510 Laksamana Khoja Hasan dipecat dan di usir dari Malaka, beliau di “fitnah” dan harus mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan di perbuat olehnya. Sebagai gantinya Hang Nadim dimandatkan sebagai Laksamana menggantikan Khoja Hasan.

Pada 10 Agustus 1511 Admiral Portugis Alfonso de Albuquerque melakukan ekspansi kekuasaan dengan melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka. Laksamana Hang Nadim bersama Tun Biajid berjuang melawan Portugis untuk mempertahankan Malaka dari kehancuran. Akan tetapi, Malaka yang pada saat itu dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah jatuh “ke tangan” Portugis pada 24 Agustus 1511. Sultan Mahmud Syah bersama dengan Laksamana Hang Nadim kemudian melarikan diri ke Bintan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan baru.

Laksamana Hang Nadim terus melakukan perlawanan dengan menyerang kedudukan Portugis di Malaka Sejak tahun 1518 sampai 1524. Dibawah komando Laksamana Hang Nadim Armada Malaka menyerang Benteng A Famosa di Malaka sebanyak dua kali, untuk merebut kembali Malaka dan mengembalikan Tahta Sultan Mahmud Syah ke Ibukota Malaka. Namun Portugis berhasil mematahkan kepungan Laskar Malaka yang harus mundur kembali ke Bintan.

Portugis dibawah pimpinan de Albuquerque membalas menyerang Bintan untuk meredam perlawanan Sultan Mahmud Syah pada bulan Oktober 1521, serangan ini dapat dipatahkan oleh Laksamana Hang Nadim. Laksamana Hang Nadim juga berkali-kali berhasil mematahkan Invasi militer Portugis yang ingin melenyapkan Melayu dibawah Kesultanan Malaka dari Muka Bumi.

Serangan terhadap Bintan untuk yang kedua kalinya dilakukan oleh Portugis pada 23 Oktober 1526 dan berhasil. Sultan Mahmud Syah kemudian melarikan diri ke Kampar, dan dinobatkan menjadi Sultan di sana. Beliau memerintah di Kampar hanya 2 tahun, sampai wafatnya pada tahun 1528 dan dimakamkan di Kampar.

Sultan Mahmud Syah kemudian digantikan oleh putranya Sultan Alauddin Syah yang kemudian tinggal di Pahang beberapa saat sebelum menetap diJohor. Kemudian pada masa berikutnya para pewaris Sultan Malaka setelah Sultan Mahmud Syah lebih dikenal disebut dengan Sultan Johor.

Hang Nadim wafat di Pulau Bintan dan di makamkan di Desa Busung, Kecamatan Bintan Utara, Pulau Bintan, yang saat ini secara administratif masuk ke dalam Propinsi Kepulauan Riau. Meskipun Ia tidak berhasil merebut kembali Malaka dan mengusir Portugis, peran Hang Nadim amat signifikan dalam mempertahankan kesinambungan kekuasaan Raja-nya dan keturunannya. Ia telah menjaga Tuah Sumpah Hang Tuah akan keabadian eksistensi Melayu: ‘Takkan Melayu Hilang di Dunia’.

* * *

Diluar bandara, kawan-kawan FSPMI Batam sudah menunggu. Mereka sengaja menjemput kami untuk selanjutnya menuju tempat penyelenggaraan Rakernas dengan menggunakan travel. Senang sekali diperlakukan istimewa layaknya keluarga sendiri. Nama-nama seperti Yoni Mulyo Widodo, Frezi Anwar, Herlina, Juli Efiani, Diana Sari, Wita Sumarni, dan kawan-kawan lain dari Batam menyambut kami dengan hangat. Kami diperlakukan seperti teman lama yang datang kembali untuk bertamu. Meski sebenarnya, banyak diantara mereka baru sekali ini bertemu. Saya menjadi salah satu.

Disinilah saya sekarang. Batam. Menghirup udaranya. Menginjakkan kaki di tanahnya.

Ini adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau, yang terletak diantara Selat Malaka dan Singapura. Puluhan tahun yang lalu, sebelum  mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, Batam merupakan sebuah pulau kosong berupa hutan belantara yang nyaris tanpa denyut kehidupan. Meskipun demikian, di pulau ini terdapat beberapa kelompok penduduk yang lebih dahulu mendiami. Mereka berprofesi sebagai penangkap ikan dan bercocok tanam. Mereka sama sekali tidak banyak terlibat dalam mengubah bentuk fisik pulau ini yang merupakan hamparan hutan belantara.

Menurut situs Badan Pengusahaan Batam, pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Beberapa tahun belakangan ini telah digulirkan penerapan Free Trade Zone Batam (FTZ Batam), Bintan, dan Karimun yang mengacu pada UU No 36 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan kemudian dirubah beberapa kali melalui PERPU, sehingga di undangkan menjadi UU no 44 tahun 2007. Ada juga Undang-Undang 36 tahun 2000 Tentang ” Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2000 Tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang Undang serta masih banyak Undang-Undang lainnya yang berkaitan dengan FTZ Batam. Kemudian di saat masa akhir jabatan anggota DPR Pusat tahun 2009, bersama dengan pemerintah pusat dibahas mengenai UU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang akan memayungi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di daerah Batam dan daerah lainnya di Indonesia.

Berbagai kemajuan telah banyak dicapai selama ini, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Begitu juga dengan jumlah penerimaan daerah maupun pusat dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal ini tidak lain karena semakin maraknya kegiatan industri, perdagangan, alih kapal, dan pariwisata. Batam tumbuh sebagai daerah yang berkembang pesat.

Tidaklah berlebihan jika kemudian SPEE FSPMI menjadikan Batam sebagai tempat untuk menggelar Rakernas mereka. (Kascey)

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Antri di pengambilan barang bagasi.

Antri di pengambilan barang bagasi.

Melintasi Batas Negara 1: Menghadiri Rakernas III SPEE FSPMI

Check-in di Bandar Udara Soekarno Hatta

Check-in di Bandar Udara Soekarno Hatta

Menunggu.

Bagi saya, tidak ada yang lebih menjenuhkan selain daripada itu. Sabtu, 19 April 2014, pesawat yang akan menerbangkan saya dari Jakarta ke Batam mengalami delay selama kurang lebih 60 menit. Bagi sebagian orang, keterlambatan penerbangan bukanlah sebuah masalah. Tetapi bagi saya, itu menjadi pengalaman yang tidak terlampau menyenangkan. Waktu yang hilang percuma. Kejenuhan yang menyiksa.

Saya harus bangun jam empat pagi dan berangkat tepat setelah adzan subuh berkumandang untuk memastikan tidak terlambat hingga di Bandar Udara Soekarno Hatta. Tetapi dengan seenaknya petugas memberitahukan jika pesawat belum siap. Dengan terpaksa penerbangan harus tertunda. Hanya dengan kata, maaf.

Dalam hal terjadi keterlambatan penerbangan (flight delayed), maskapai penerbangan seharusnya bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpangnya.  Ganti rugi yang wajib diberikan oleh maskapai penerbangan kepada penumpang diatur dalam Pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara. Dimana keterlambatan lebih dari 30 (tiga puluh) menit sampai dengan 90 (sembilan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan.

Jika keterlambatan lebih dari 90 menit sampai dengan 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, apabila diminta oleh penumpang. Sedangkan untuk keterlambatan lebih dari 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan slang atau malam dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.

Kami tidak mendapatkan ganti rugi itu. Lagi pula, tidak ada satu pun diantara kami yang memintanya. Ini sekaligus mengigatkan saya kepada watak kapitalis, tidak memberikan apa yang seharusnya menjadi hak orang lain jika orang itu tidak meminta. Dalam situasi seperti ini, bisa jadi diam adalah pilihan yang tepat. Mengeluh dan mengumpat tidak akan mempercepat kedatangan pesawat.

Maka beginilah akhirnya. Kami menghabiskan waktu dengan berdiskusi, memainkan game dan media sosial melalui handphone, hingga tidur-tiduran disandaran kursi bandara. Saya sendiri bolak-balik dari satu sudut ke sudut yang lain untuk menghilangkan kejenuhan.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 376 tujuan Batam yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 376 tujuan Batam yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan.

Kepergian kami ke Batam dalam rangka mengikuti Rapat Kerja Nasional III SPEE FSPMI yang diselenggarakan di Hotel Golden View yang terletak di Bengkong, Batam. Rakernas akan berlangsung dari tanggal 19 ~ 21 April 2014 dan dilanjutkan kunjungan kerja ke National Trades Union Congress (NTUC) di Singapura, hingga 22 April 2014.

Rakernas selalu menarik perhatian saya. Ini adalah kekuasaan tertinggi organisasi ditingkat Pimpinan Pusat SPEE FSPMI yang dilaksanakan diantara dua Munas. Rakernas diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun dan merupakan forum konsultasi, koordinasi, konsolidasi dan evaluasi ditingkat pimpinan pusat dalam rangka keterpaduan dan koordinasi program dan pegembangan organisasi, yang berwenang untuk mengevaluasi program kerja Pimpinan Pusat SPEE FSPMI, merekomendasikan program kerja tahunan, menetapkan keputusan penting lainnya, menentukan pengertian “Kondisi Luar Biasa” dan menindaklanjuti hasil laporan Tim Internal Auditor (jika ada).

Oleh karena itu, Rakernas bukanlah rapat kerja biasa. Ia menjadi istimewa. Dihadiri oleh Pengurus Pimpinan Pusat SPEE FSPMI, Pengurus Pimpinan Cabang SPEE FSPMI yang diberi mandate, Utusan Dewan Pimpinan Pusat yang diberi mandate, Utusan Pimpinan Unit Kerja yang diberi mandate dan utusan Dewan Pimpinan Wilayah FSPMI yang diberi mandate, dimana Rakernas dilaksanakan.

Diantara orang-orang hebat itulah sekarang saya berada. Ini adalah pengalaman pertama saya menghadiri Rakernas SPEE FSPMI, mengingat saya selama ini aktif di sektor SPAI FSPMI. Pengalaman pertama ke Batam. Pengalaman pertama ke Singapura. Dan sebagaimana lazimnya pengalaman pertama, ia selalu menjadi catatan yang tak mudah untuk dilupakan.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014.

Menulis Rumah Buruh

Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

Dalam sebuah Pendidikan Menulis yang diselenggarakan Tim Media FSPMI Bekasi, saya meminta peserta untuk membuat tulisan tentang Rumah Buruh. Tulisan ini berisi tentang pengamatan dan pengalaman mereka tentang jembatan buntung yang menghubungkan Kawasan Industri EJIP dan MM 2100 yang disulap sebagai pusat konsolidasi bagi anggota FSPMI. Sebuah tempat yang menyimpan sejarah. Menjadi saksi atas berbagai macam peristiwa dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kunjungan saya ke Rumah Buruh memang tak melebihi jumlah jari tangan yang saya miliki. Tetapi kesan itu sungguh mendalam. Ia senantiasa hidup dalam hati. Wajah-wajah yang penuh semangat. Persahabatan yang erat. Romansa yang selalu indah ketika dijadikan cerita.

Ide tentang tulisan ini berawal ketika saya berkunjung ke Kepsonic Indonesia untuk mencatat tentang proses buruh go politic. Dari Tangerang naik bus Putra KJU, saya turun di depan pintu Tol Cibitung. Disini saya dijemput seorang kawan dari Wira Logistic. Saya diajak ke Sekretariat PUK. Setelah makan siang, barulah kami bersama-sama menuju Kepsonic, melalui Rumah Buruh.

Pembangunan sedang dilakukan diujung jembatan. Tak lama lagi, Rumah Buruh akan digusur. Tempat yang tadinya selalu ramai oleh buruh yang sedang melakukan konsolidasi itu tak lama lagi tinggal cerita. Saya merasa memiliki tanggungjawab untuk membuat catatan lengkap tentang rumah buruh dalam gambar dan kata. Rumah Buruh adalah bagian penting yang membuat organisasi ini bisa tumbuh seperti sekarang ini. Ada proses disitu. Dengan segala liku yang berlalu.

Dan diluar dugaan, ketika ide saya lemparkan kepada peserta, mereka terlihat antusias. Satu persatu mulai mengirimkan tulisannya. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada lima artikel tentang rumah buruh yang masuk. Ini bukan tentang baik dan buruk kualitas tulisan mereka. Ini tentang bagaimana kita akan memperpanjang napas sejarah.

Jika kawan-kawan memiliki foto, catatan pengalaman dan kesan mendalam tentang Rumah Buruh, saya akan senang hati menerimanya. Sila dikirim melalui e-mail saya dialamat berikut ini: kahar.mis@gmail.com

Masih ada sedikit dana yang tersisa dari pengerjaan buku ‘Cerita dari Bekasi’ untuk mengerjakan proyek ini. Termasuk melakukan riset kecil dengan mereka yang selama ini menjadi ‘penjaga’ Rumah Buruh.

Tetap semangat. Teruslah berkarya….

Meretas Asa di Kepsonic Indonesia

Relawan Go Politic sedang berdiskusi dengan Pengurs DPD PAN Bekasi dan Panwaslu Bekasi di Kepsonic Indonesia.

Relawan Go Politic sedang berdiskusi dengan Pengurs DPD PAN Bekasi dan Panwaslu Bekasi di Kepsonic Indonesia.

Spanduk bertuliskan ‘Selamat Datang di Family Gathering FSPMI’ itu terpasang diatas pintu masuk PT. Kepsonic Indonesia. Dipojok bawah sebelah kiri dari spanduk itu bertuliskan ‘BURUH GO POLITICS’. Hanya dengan membaca spanduk itu, orang akan segera tahu jika ini bukanlah pertemuan yang biasa. Ini adalah sebuah pertemuan yang khusus diselenggarakan untuk mengkonsolidasikan seluruh kekuatan organisasi guna mensukseskan agenda go politics. Buruh yang hadir di pabrik tutup dan sedang dalam proses lelang ini datang bersama keluarga. Istri/suami dan anak-anak ikut serta.

Di pagar perusahaan, bendera FSPMI berjajar. Berkibar. Seperti hendak menegaskan jika didalam pabrik ini FSPMI sedang menggelar hajat.

Buruh-buruh Kepsonic memang menjadi anggota FSPMI. Ketika pengusahanya kabur, kemudian mereka menguasai pabrik untuk memastikan hak-haknya dibayar. Saat ini pabrik itu sedang dalam proses lelang. Sambil menunggu, FSPMI menjadikan tempat ini sebagai pusat konsolidasi untuk ‘go politics’. Seperti yang mereka lakukan hari ini, Sabtu 8 Maret 2014.

Begitu memasuki ruangan, kita akan disapa dengan gambar Nurdin Muhidin, Iswan Abdullah dan Rustan yang tertempel di dinding, tepat menghadap pintu masuk. Sehingga siapapun yang masuk ke ruangan, mau tak mau akan melihat gambar itu. Ketiganya adalah kader FSPMI. Nurdin Muhidin adalah salah satu pengurus Pimpinan Cabang  FSPMI Bekasi. Ia maju sebagai Caleg DPRD Kabupaten Bekasi melalui Partai Amanat Nasional. Iswan Abdullah adalah Vice Presiden FSPMI, maju sebagai Caleg DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera. Sedangkan Rustan adalah Ketua Umum SPAMK FSPMI. Ia maju sebagai Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat dari PDI Perjuangan.

Masuk lebih dalam, kita bisa melihat foto Suparno dan Susanto. Aktivis FSPMI ini maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Bekasi melalui PKP Indonesia. Wajah caleg-caleg lain yang juga direkomendasikan oleh FSPMI bertebaran diruangan ini. Seperti Aji (PAN), Nyumarni (PDI Perjuangan), Hendi Suhendi (Partai Persatuan Pembangunan) dan Mazrul Zambak (PKP Indonesia).

Tepat dibawah gambar para aktivis FSPMI yang direkomendasikan untuk maju dalam pemilihan legislatif tahun 2014, tanggal 9 April nanti, terlihat beberapa orang nampak sedang duduk dikursi panjang sambil berdiskusi. Tak ada masalah meskipun mereka menjadi pendukung calon legislatif dengan partai yang berbeda-beda. Mulai dari PKS, PDI Perjuangan, PAN, PPP hingga PKP Indonesia.

Mereka tak peduli dengan semua perbedaan itu. Tepatnya tak ingin menjadikan perbedaan partai sebagai jalan menuju perpercahan. Bagi mereka, kepentingan buruh adalah nomor satu. Bisa jadi, mereka tidak memilih partai. Tetapi mereka akan memilih caleg kader buruh yang maju melalui partai itu. Sementara ini memang harus begitu, mengingat buruh belum memiliki partai politiknya sendiri.

Masuk lebih dalam, diskusi serius sedang terjadi. Beberapa orang sedang membahas agenda kedepan terkait dengan buruh go politics. Vice Presiden DPP FSPMI Obon Tabroni, yang mendapatkan kepercayaan dari organisasi untuk mensukseskan buruh go politics ini juga hadir. Beban berat ada dipundaknya. Kepada saya ia bercerita jika baru saja pulang dari Bandung, juga untuk kepentingan go politic. “Belum sempat pulang ke rumah. Baju ini saya beli disini,” ujarnya. Sambil menunjuk baju yang ia kenakan. Sejak kemarin belum berganti pakaian.

Tak hanya Obon Tabroni. Iswan Abdullah, Nurdin Muhidin, Aji, Ozzy, belakangan Rustan dan beberapa orang yang menjadi pengurus PC FSPMI Bekasi juga ikut nimbrung. Tak hanya dari internal organisasi. Tokoh yang selama ini mendukung gerakan serikat buruh seperti Surya Tjandra (TURC) dan Handoko Wibowo (Omah Tani) juga hadir. Ia memberikan sumbangsih pemikiran. Memotivasi dan memberikan perspektif lain dalam gerakan politik kaum buruh.

Didalam ruangan itu juga, para relawan terlihat sibuk mempersiapkan alat-alat kampanye. Ada yang sedang melipat contoh kertas suara. Membuat data relawan. Melakukan sosialisasi. Dan banyak aktivitas lain yang dilakukan untuk mendukung gerakan buruh go politics ini.

Masuk lebih dalam lagi ada ruangan besar. Lagu-lagu sedang diperdengarkan. Orang-orang duduk di lantai. Mendengarkan orasi politik yang disampaikan oleh para pemimpin organisasi. Ratusan orang hadir. Dalam momen lain, pertemuan seperti ini diikuti ribuan orang.

Dan tahukan Anda, seluruh kerja-kerja itu dilakukan oleh buruh.

Orang datang dengan kesadarannya sendiri. Tanpa diming-imingi imbalan dan sejumlah uang. Bahkan mereka menyumbang. Uang. Tenaga. Pikiran. Waktu. Semuanya dihibahkan dengan sukarela untuk  gerakan.

Ini hebat. Saya bahkan menyebutnya sebuah kemenangan. Mengingat bertahun-tahun yang lalu mereka sama sekali belum terlatih untuk itu. Kerja-kerja ini adalah investasi yang tak ternilai. Pada saatnya nanti, mereka inilah yang akan menjadi generasi sadar politik. Barangkali menjadi generasi yang akan melahirkan karya besar. Lebih besar ketimbang hanya sekedar memasukkan caleg kader buruh kedalam parlemen. Gambaran itu sudah mulai terlihat, meski masih samar-samar.

Dulu, oleh sebagian besar orang, gerakan buruh dikritik hanya melulu ngomongin masalah ekonomi. Hanya berjuang diranah pabrik. Untuk dirinya sendiri. Tetapi sekarang situasinya sudah berbalik. Buruh semakin sadar, bahwa masa depan bangsa ini ditentukan melalui kebijakan politik.

Mereka adalah relawan. Sebenar-benarnya relawan. Mereka bukan orang-orang bayaran. Dengan kesadarannya tak rela harga dirinya – sebagai manusia yang memiliki hak pilih – ditukar dengan lembaran uang.

Dari dalam pabrik tutup ini, buruh hendak meretas harapan. Ikut bertarung dalam sistem. Terlibat dalam pembuatan kebijakan. Bukan sekedar menjadi penonton sambil berpangku tangan.

Tulisan ini pernah dimuat di http://fspmi.or.id

Seharusnya Sistem yang Bekerja, Bukan Kendali Satu Dua Orang Saja!

Kahar S. Cahyono

Pagi ini saya berada ditengah kesibukan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Saya harus segera kembali ke Jakarta, karena jam 13.00 siang sudah harus menghadiri rapat dengan Tim Media. Sementara istri dan anak-anak masih tertinggal di Palembang.

Sambil menunggu jadwal penerbangan, saya menyalakan laptop. Dan selalu menyenangkan bisa tersambung dengan internet. Selain bisa berselancar di dunia maya, saya bisa mengirimkan Pengantar Bukti Surat untuk persidangan di PHI siang nanti. Sejak kemarin Sofi dan Ralih sudah menanyakan kapan ia bisa menerima pengantar itu.

Dalam situasi seperti ini, saya merasa bersalah sekali. Seharusnya bukan hanya saya yang bisa membuat surat-surat menyurat untuk PHI: gugatan – replik – duplik – pengantar bukti surat – kesimpulan dan lain sebagainya.

Alasannya selalu saja klasik. Meskipun advokasi dianggap penting, namun jarang sekali ada orang yang bersedia menekuni bidang ini. Banyak kawan lebih suka melakukan aksi beramai-ramai dan mundur teratur ketika kasus sudah masuk jalur litigasi. Beruntung, ada orang-orang seperti Sofi, Ralih, Isroil, Kristian Lelono, Omo dan Mundiah yang mulai berani masuk ke ruang sidang.

Itulah sebabnya, dalam waktu dekat ini saya berencana menyelenggarakan diklat tentang beracara di PHI untuk kawan-kawan FSPMI Tangerang. Bukan hanya sekedar transfer pengetahuan, karena tujuan terpenting dari diklat ini adalah agar semakin banyak diantara kita yang bisa membantu buruh yang mengalami perselisihan. Saya mengundang kawan-kawan yang membutuhkannya untuk memberikan konfirmasi.

Diklat seperti ini bisa kita lakukan secara sederhana. Kuncinya adalah kemauan. Selebihnya karena memang kita membutuhkan ilmu itu.

Saat ini, misalnya, setiap Senin malam Selasa terjadwal Pendidikan Spesialis Pengupahan. Sedangkan setiap Rabu malam Kamis terjadwal Pendidikan Dasar Serikat Pekerja. Dimulai pukul 18.30 – 20.00 dan sudah berjalan sejak sebulan yang lalu.

Kini saatnya sistem yang bekerja. Bukan kendali satu atau dua orang saja…

Berani Jujur Hebat!

Kahar S. Cahyono

Berani Jujur Hebat!

Saya membaca kalimat ini dari ketinggian sebuah gedung di Jakarta, setahun yang lalu. Saya tak ingat lagi kapan persisnya. Tetapi kalimat itu, masih terasa hingga sekarang bekasnya.

Jujur, barangkali menjadi kata kunci. Dan jika dipraktekkan, sesungguhnya kejujuran akan menciptakan pribadi yang luar biasa.

Bisakah kita jujur dengan kekurangan diri? Mampukah jujur dengan kata hati? Beranikah membuka topeng dari segala maksud yang tersembunyi?

Adakah orang yang bisa bersikap seperti itu? Ada! Datanglah dalam diskusi yang diselenggarakan kawan-kawan buruh. Disana, kalian bisa menangkap kejujuran itu. Mereka dengan polos menyampaikan apa adanya. Terbuka menyuarakan kata hati. Resah dan gelisahnya. Jujur mengungkapkan berbagai pelanggaran ketentuan perundang-undangan di perusahaan tempatnya bekerja. Membahas harapan-harapan, cita dan juga asa.

Anehnya, seringkali kejujuran mereka tak disukai. Dianggap sebagai ancaman dan justru kemudian disingkirkan. Meskipun begitu, kita tak pernah kekurangan stock orang-orang yang pemberani itu. Orang-orang yang mampu dengan lantang mengatakan jika benar itu adalah benar, meski kepahitan yang mereka dapatkan.

Jika sudah demikian, rasanya harapan itu masih ada. Sering kita mengutuk tingkah polah satu dua orang yang memilih tetap berada di zona nyaman dan enggan bergerak melakukan perubahan. Padahal pada saat yang sama, ada ribuan orang yang siap menjadi agen perubahan. “Daripada mengutuk kegelapan, mari segera menyalakan lilin,” begitu nasehat lama yang sering disampaikan kepada kita.

Hanya pemberani yang bisa bersikap jujur. Karena untuk melakukan itu bukannya tanpa resiko.

Perbedaan Itu Mendewasakan

Kahar S. Cahyono

Salah seorang sahabat baik saya pernah menyampaikan keinginannya agar saya menjadi anggota dewan. Menanggapi keinginan itu, saya hanya tersenyum. Menganggap perkataannya tak lebih sebagai canda ria sahabat dekat. Meskipun ia bercanda, saya menikmatinya. Setidaknya ada juga yang menganggap saya layak berada diposisi itu, meskipun diungkapkan oleh teman sendiri.

Jika sahabat saya menginginkan agar saya mencalonkan diri sebagai anggota dewan, lain halnya dengan apa yang saya rasakan. Menjadi anggota dewan bukan semata-mata karena keinginan. Untuk menjadi anggota dewan, seseorang harus mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Inilah masalahnya.  Saya tidak memiliki dua-duanya.  Keinginan tidak ada. Kepercayaan? Apalagi!

Tidak memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan, jangan diartikan anti politik.

Bagi saya, orang yang memilih sama pentingnya dengan orang yang dipilih. Memilih berarti mempercayai. Dengan memilih, setidaknya kita sudahmenyatakan sikap terkait dengan warna politik kita. Dan itu adalah peristiwa sejarah yang penting. Pilihan kita bisa jadi akan merubah wajah dunia.

Sulit untuk membantah, bahwa mereka yang mendapat gelar ‘wakil rakyat’ itu adalah orang-orang yang terpilih. Terlepas dari cara yang mereka lakukan untuk memenangkan pemilihan, toh posisi mereka sama-sama menjadi anggota dewan. Disini, seorang bandit dan pejuang sejati sama-sama memiliki  sebuah kursi. Itulah sebabnya, saya tidak sependapat dengan orang yang bersikap apolitis karena beralasan gedung dewan diisi para bajingan. Jika permasalahannya memang demikian, mengapa kita tidak memasukkan sebanyak-banyaknya orang baik agar para ‘bandit’ itu tidak memiliki kesempatan?

Tetapi inilah yang terjadi sekarang. Definisi baik menurut setiap orang tidaklah sama. Rambut boleh sama hitam, namun isi kepala seringkali berbeda.

Saat ini, misalnya, menjelang Pemilu 2014. Ada banyak pilihan yang disodorkan kepada kita. Tentu tak akan ada yang bisa memaksa. Karena didalam bilik suara, kewenangan mutlak ada ditangan kita. Satu hal yang harus kita pahami, pemilu adalah kesempatan untuk memenangkan kepentingan kita.

Sebagai buruh, tentu saja, saya akan memenangkan kepentingan buruh dengan memilih caleg kader buruh. Saya tidak malu untuk mengajak kawan-kawan memenangkan caleg kader buruh. Jika kemudian kita menang, maka sesungguhnya kemenangan itu bukanlah orang yang kita pilih. Bukan pula kemenangan partai tempat ia bernaung. Yang menang adalah kepentingan kita. Kepentingan kaum pekerja.

Bisa jadi pilihan kita berbeda. Meskipun begitu, tidak seharusnya perbedaan menjadi alasan buat kita saling bermusuhan. Perbedaan itu mendewasakan.

Jika karena perbedaan itu kemudian kita saling bermusuhan, sesungguhnya kita sudah mengalami kekalahan sebelum pemilihan diselenggarakan. Tentu kita tidak ingin kalah, bukan? Karena itu, mari tetap bergandengan tangan.