Teman

IMG_20160315_142100-1024x576

Saya mengenal tim ini dengan baik. Akrab dan dekat. Sederhana saja indikator yang saya pakai untuk mengukur sebuah kedekatan. Ketika kita melakukan protes, kritik, bahkan bicara sedikit keras dan mereka tidak tersinggung, kita sudah berada di tingkat itu. Sudut yang dipakai nyaris sama: bercanda.

Meskipun saya tidak mendalami dunia foto dan video, tetapi jiwa saya ada disana. Ini semacam perasaan cinta. Jauh, tapi tetap terasa hangat.

Saya teringat kisah mereka ketika berada di Surabaya. Sejak bangun tidur,Kiki dan Slamet nyaris tak pernah akur. Sekedar mentransfer file video pun membuat mereka berselisih pendapat. Tetapi ketika tidur, konon mereka tak bisa memejamkan mata jika tidak berpelukan. Sudah sampai pada taraf itu rupanya.

Peran Kepala Suku Iwan Budi Santoso dan Herveen, saya rasa menjadi kunci penting yang membuat tim ini menjadi tetap stabil. Keduanya adalah anak muda yang memahami benar, hal apa yang harus mereka kerjakan. Saya merasa beruntung berada di tengah-tengah mereka. Seperti mendapat teman ngobrol di sebuah perjalanan yang membosankan.

Jika ada film berjudul “Kisah 3 Titik”, disini pun ada yang tak kalah seru: “Kisah 2 Agung”. Satu hal yang selalu menimbulkan pertanyaan lanjutan ketika nama ‘Agung’ disebut. Agung yang mana nih? Tangerang atau Jakarta? Begini rupanya derita memiliki nama pasaran, hehe…

Kemarin kami bertemu, setelah tujuh hari mereka digembleng ilmu kanuragan di Akmani, persis di belakang Sarinah yang beberapa waktu lalu dihebohkan serangan teroris itu. Sebagai anak muda yang baru turun gunung, biasalah, gayanya petakilan. Siapa saja mau dilawan. Beragam jurus ingin dipraktekkan.

“Biar tidak seperti pepatah. Daunnya lebat, tapi tidak berbuah,” kata mereka.

Saya memberikan senyum terbaik. Tidak lupa mengedipkan satu mata sebagai tanda cinta. Berharap akan ada banyak karya lahir dari tangan-tangan berbakat ini.

Dan atas semua itu, terima kasih kepada Tuan Putri Prihanani yang membantu semua ini bisa terjadi…

Sikap

Ketika melakukan perjalanan sejauh apapun, pada akhirnya kita akan kembali. Bahkan saat mengunjungi destinasi yang mengesankan, setelah itu akan dihadapkan pada realita yang sama. Tidak berlebihan jika kemudian Aristoteles mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang – ulang. Mengasahnya, hingga bukan lagi suatu tindakan, tapi kebiasaan.”

P1050103Barusan saya menemukan foto ini. Diambil ketika melakukan perjalanan ke Hongkong, sebagai hadiah karena saya memenangi lomba menulis.

Bicara dunia tulis-menulis, apa yang dikatakan Aristoteles menemukan relevansinya. Pada akhirnya saya merasa, ini hanyalah soal kebiasaan. Kita hanya perlu melakukannya berulang-ulang. Seperti halnya seorang penikmat kopi harus menyeruput minuman hitam pekat ini setiap bangun tidur di pagi hari.

“Tidak ingin menulis tema lain, selain tema tentang buruh?” Sebuah pertanyaan masuk ke inbox saya, pagi ini.

“Untuk saat ini, biarlah tema itu dikerjakan orang lain,” jawab saya.

Kemudian saya balik bertanya. “Lah, kamu sendiri mengapa tidak mau menulis tema tentang buruh? Setidaknya tentang perlawanan orang-orang tertindas?” Saya tahu, dia beberapa kali sudah menulis buku.

“Nggak ada duitnya.”

Mendengar jawaban itu, saya tidak begitu kaget. Mungkin itu juga ketidaknyamanan dia, mau-maunya ngurusi buruh. Tahu alasannya mengapa saya melakukan ini? Karena saya sudah tersihir dengan mantra filsuf Pytagoras, yang mengatakan, “Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.”

Meski melelahkan, tetapi saya gembira dengan ini semua.

Peduli

Aksi di Kantor Gubernur Banten dihiasi hujan lebat. Daripada mengutuk alam, pilihannya adalah berkompromi dengan hujan. Basah-basahan sekalian.

Setelah tim loby menyampaikan aspirasi dan kembali lagi ke barisan massa aksi, saya melihat handphone. Ada 20 panggilan tak terjawab. Juga pesan dari beberapa kawan yang berada di PHI. Memang, di saat yang bersamaan, ada 2 persidangan yang tengah berlangsung: satu perkara dari kawan-kawan Serang, satu lagi dari Tangerang.

Sebelumnya, kami sudah berkoordinasi untuk berbagi tugas. Saya yang ditunjuk mewakili FSPMI sebagai tim loby ikut aksi, dan kawan-kawan tim advokasi FSPMI Tangerang berada di PHI, yang hari itu agendanya adalah pembuktian.

Kehabisan pulsa untuk menelpon balik, saya mengirimkan sms ke Bendahara PC, Bung Narya. Minta agar pulsa saya diisi. Meski saya tahu, di hujan lebat seperti ini, Sunarya yang juga ikut aksi akan menyimpan handphone-nya. Jadi pesan saya tak mungkin di baca.

Beberapa menit kemudian, di handphone saya ada panggilan masuk. Kawan-kawan di PHI, mengabarkan jika saya ditunggu. Teman yang saya minta untuk mewakili ditolak oleh majelis.

Dengan pakaian basah kuyup, saya datang ke PHI. Memakan waktu 5 menit (jika ngebut) dari tempat aksi. Hujan masih deras.

Sesampainya di PHI, saya disambut Kristian Lelono, Tungga Sofi Sadewa, dan Must Akhmad Isroil. Ada juga kawan Ramadhani F. Chuky dari GM Free Graph dan beberapa kawan dari FSPMI Serang. Tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita melihat saya basah kuyup, Bung Kris meminjamkan baju bersih. Juga jas kebesarannya. Akhirnya, saya bisa masuk ke ruang sidang dengan hati yang lapang.

Sejujurnya, hal-hal kecil seperti ini kerap kali menyentuh hati saya. Kerelaan untuk saling membantu. Kepedulian dan kesediaan untuk berbagi peran. Diatas semua itu, apa yang kita kerjakan sesungguhnya saling terkait dan menguatkan. Memijam kalimat beberapa kawan, kita ini bersaudara walau tak sedarah.

Kawan-kawan yang hari itu bertugas ke PHI, saya yakin dalam hati kecilnya lebih memilih ikut aksi. Berada di tengah-tengah gegap gempita 12 mokom yang berjejer di KP3B dan dilihat oleh banyak anggota. Bandingkan ketika mereka berada di ruang “sunyi” benama PHI. Tetapi ia menyingkirkan egoisme dan kegembiraannya, demi membela kawan-kawannya yang di PHK. Jika disuruh memilih, mungkin Chuky si wartawan KP itu akan lebih banyak mendapatkan berita bagus ketika meliput aksi, ketimbang meliput jalannya persidangan. Bahkan, sosok seperti bung Ade Taufiq yang selalu standby di Sastra Plaza adalah orang sosok yang berjasa untuk memastikan kelancaran administrasi organisasi.

Ada istilah total football. Tidak selayaknya penyerang yang baik berada di barisan belakang menunggu gawang. Pun begitu sebaliknya. Apapun peran kita, sepanjang itu untuk kepentingan kaum buruh adalah mulia.

Di sela-sela kepala berat karena efek masuk angin, entah mengapa, pagi ini saya merasa perlu mengutip kalimat Puthut Ea, seperti di bawah ini:

“Kita mungkin sering hanya karena memikirkan eksistensi, egoisme, kepentingan diri, lupa bahwa kadang semua itu punya implikasi kepada orang lain. Seakan, hanya demi kehebatan kita, tak perlu peduli pada beban yang mesti ditanggung oleh orang lain. Tak peduli pada beban orang-orang terdekat kita, bahkan yang punya niat dan perbuatan baik kepada kita.

Egoisme sering melukai orang-orang yang kita cintai, menciderai orang-orang yang punya kebaikan hati. Diam-diam kita telah begitu kejam kepada mereka. Seakan boleh melakukan apa saja, boleh tidak bertanggungjawab, boleh tak acuh.

Diam-diam kita lupa menjadi manusia…”

Besok, Buruh Mogok Nasional

1_1

Teman-teman…

Saya sangat percaya, besok akan tercatat sebagai hari paling bersejarah bagi buruh Indonesia. Saya bahkan tidak lagi peduli, apakah besok itu akan disebut sebagai mogok nasional, unjuk rasa nasional, atau ulangan (eh, maksud saya perlawan) umum sekalipun. Saya tidak peduli. Satu hal yang saya benar-benar peduli, setelah ini, segala warna yang berbeda harus menjelma pelangi.

Bahwa sejarah gerakan selalu diwarnai pasang surut, saya paham. Seringkali perpecahan dan persatuan hanya dibatasi tabir tipis. Apalagi, terlalu banyak pihak yang tidak menghendaki persatuan seperti ini terjadi.

Maka ketika besok kita membuktikan bisa bersama-sama berjuang dalam satu barisan, bagi saya, itu adalah capaian yang penting. Dengan demikian, kita sedang berinvestasi, untuk memastikan usia perlawanan ini akan panjang.

Inilah hari, ketika semua teori diuji. Saat segala persiapan dan konsolidasi yang kita pernah lakukan mendapatkan tempat untuk dipraktekkan.

Dengan persiapan seperti itu, terbayang dalam benak saya, besok, tidak akan sempat bertanya, “Dimana posisi para pemimpin serikat berada?”.

Saya juga tidak akan nyinyir dengan menanyakan, mengapa serikat di PT. A atau B belum juga melakukan pemogokan. Mengapa yang disana hanya mengirimkan perwakilan. Dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak akan sempat. Sungguh!

Besok, semua orang akan memberikan kontribusi semaksimal yang mereka bisa. Dan jika perlu, mengambil tanggungjawab lebih. Mereka lupa bagaimana caranya mencari kelemahan/kekurangan kawan seperjuangan. (*)

Kahar S. Cahyono

 

Jasa Penulisan Buku

Kita tidak akan pernah bisa untuk kembali hidup di masa lalu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan terhadap masa lalu adalah terus merawatnya, sehingga akan menjadi kenangan yang berharga.

Adapun salah satu cara untuk merawat kenangan adalah dengan menuliskannya kedalam sebuah buku. Dalam buku, tidak hanya kenangan yang bisa kita simpan. Disana kita juga bisa menyebarkan semangat, pemikiran, dan gagasan. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang memetik pelajaran dari apa yang pernah kita kerjakan.

Saya, Kahar S. Cahyono, memiliki pengalaman lebih dari 5 (lima) tahun dalam menulis dan menerbitkan buku biografi, memoar dan sejarah organisasi. Oleh karena itu, apabila Anda memiliki keinginan untuk membuat biografi, memoar, atau sejarah berdirinya organisasi/perusahaan, saya akan membantu Anda untuk mewujudkannya.

Bersama kawan-kawan Jawa Timur, saat saya memperkanalkan buku Sepultura, Sepuluh Tunturan Rakyat. Ini adalah buku memorial saat serikat buruh mendukung salah satu Capres dalam Pemilu 2014.
Kenangan bersama kawan-kawan Jawa Timur, saat saya memperkenalkan buku “Sepultura, Sepuluh Tuntutan Rakyat”. Ini adalah buku memorial, yang menceritakan jejak langkah serikat pekerja ketika mendukung salah satu Capres dalam Pemilu 2014.
Membantu penulisan dan penerbitan buku
Membantu penulisan dan penerbitan buku “Perempuan di Garis Depan”

Saya memiliki ketertarikan yang besar dalam dunia ketenagakerjaan, khususnya mengenai organisasi serikat pekerja. Ini sejalan dengan cita-cita saya untuk membuat dokumentasi tentang gerakan serikat pekerja. Sebuah upaya untuk memperpanjang kenangan, agar dari zaman ke zaman perjuangan serikat pekerja bisa selalu dikenang. Generasi muda, setelah kita, harus tahu apa yang kita kerjakan sekarang.

Maka jangan heran, mayoritas buku yang saya tulis berkaitan dengan sejarah organisasi serikat pekerja. Berikut beberapa jenis buku yang saya tulis:

“Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang”

Ini adalah buku pertama saya mengenai sejarah organisasi serikat pekerja. Saat itu, saya menulis pengalaman aliansi serikat pekerja di Serang, Banten. Buku yang diterbitkan oleh TURC, Tahun 2o10 ini sekaligus menjadi tonggak penting, dalam 5 (lima) tahun karir penulisan saya.

Kenangan saat menjadi pembicara dalam launcing buku yang saya tulis,
Kenangan saat menjadi pembicara dalam launcing buku yang saya tulis, “Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang” di Jakarta Conventian Center, tanggal 14 Oktober 2010.

“Memoar Gerakan Buruh Tangerang”

Saya menulis buku Memoar Gerakan Buruh Tangerang sebagai bentuk penghormatan atas apa yang dilakukan Garda Metal dalam memperjuangkan hak dan kepentingan pekerja di Tangerang. Meskipun saya menuliskam ini beberapa tahun yang lalu, namun sekarang kenangan itu masih tetap sama. Beberapa orang yang kisahnya saya tulis bahkan sudah pulang ke kampung halaman. Namun demikian, kisahnya tetap abadi.

Saya membayangkan, kelak sambil mendudukkan cucunya di pangkuan, ia akan membuka kembali buku sembari bercerita. Kakeknya tidak diam ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata. Dan itu hanya akan terjadi, jika kita menuliskannya…

Kenangan saat menghadiri sebuah diskusi mengenai penulisan buku, di Tangerang.
Kenangan saat menghadiri sebuah diskusi mengenai penulisan buku, di Tangerang.

“Cerita Dari Bekasi”

Dalam buku ini, saya menuliskan jejak berdarah perjuangan buruh terkait upah. Saat itu sedang terjadi mogok nasional, ketika belasan orang buruh bersimbah darah karena dibacok sekelompok orang.

Beberapa buku yang saya tulis berdasarkan kisah, antara lain Perbudakan Modern di BUMN (Kisah Outsourcing di perusahaan-perusahaan BUMN) dan EE Gak Ada MatinyEE (Kisah Rakernas SPEE FSPMI di Batam – Singapura)

Dengan menuliskannya kedalam buku, sejatinya kita sedang menolak lupa.
Dengan menuliskannya kedalam buku, sejatinya kita sedang menolak lupa.

Tak Hilang Ditelan Zaman”

Tidak hanya tema-tema berbasis wilayah (kota), saya juga menulis sejarah organisasi serikat pekerja di sebuah perusahaan. Beberapa buku yang saya tulis mengenai tema-tema ini, antara lain Tak Hilang Ditelan Zaman (PT. MTU) dan Diary Anggota FSPMI (PT. SGS).

Tak Hilang Ditelan Zaman, merupakan buku sejarah organisasi serikat pekerja di sebua perusahaan peleburan baja di Tangerang.
Tak Hilang Ditelan Zaman, merupakan buku sejarah organisasi serikat pekerja di sebuah perusahaan berbasis logam di Tangerang.

.

Hubungi Saya

Tidak hanya menuliskan sejarah organisasi serikat pekerja Anda, saya juga akan membantu dalam proses penerbitan buku tersebut. Membuat cover buku, layout, pengurusan ISBN, hingga percetakan.

Diluar kegiatan menulis, beberapa kali saya juga tampil sebagai pembicara dalam kegiatan pelatihan menulis. Bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, kita tahu itu. Dan sebagai keterampilan, menulis pun bisa dipelajari.

Anda tertarik?

Saya bisa dihubungi melalui beberapa cara berikut ini:

  • Facebook Kahar S. Cahyono
  • HP/WA: 0859 45731398
  • BB: 76BB3169
  • E-mail: kahar.mis@gmail.com

Tengah Malam di Puncak

Kami bersama kawan-kawan Tim Media FSPMI tengah menikmati malam di Puncak, Bogor.
Saya dan kawan-kawan Tim Media FSPMI tengah menikmati malam di Puncak, Bogor.

Menjelang tengah malam, kami yang terdiri dari belasan cowok keren digiring kepala suku, Iwan Budi Santoso menuju puncak. Awalnya saya bersemangat. Mengira di malam satu suro ini ia akan memperlihatkan kepada kami cara mencuci keris pusaka miliknya.

Tetapi perkiraan saya keliru. Ia mengatakan, “Ini bagian dari caraka malam.”

Oalah, jauh-jauh dari daerah datang ke Cisarua hanya diminta untuk ikut caraka. Mau gimana lagi, sebagai pengikut kami terpaksa manut. Apalagi Iwan dikelilingi para centeng, Sayed Masykur dan Gue Herveen.

Sementara kami kebanyakan dari kami berasal dari daerah. Ada kawanRumah Rakyat dan Ipang Kusumo Asmoro Diharjo dari Jawa Timur sertaBung Darmo Juwono dari Kepulauan Riau. Lainnya, berasal dari DKI Jakarta (Agung Andrasta Djangkaru), Tangerang ( Kiki Ayah Arief dan Ramadhani F. Chuky). Ikut bersama kami seorang kawan dari Aceh, Depok, dan Bekasi.

Berbincang hingga pagi
Berbincang hingga pagi

Puncak, tengah malam itu dingin. Anak-anak muda duduk bergerombol. Sebagian berdua-duaan. Duduk berdekatan. Jalanan basah. Beberapa saat yang lalu baru saja turun hujan. Setidaknya ada sedikit hiburan, terlebih ketika menyadari dengan berjalan kaki bisa menghangatkan badan. Ditambah dengan hati yang emosi, kami seperti mendapatkan api.

Melihat saya menggigil, Herveen yang membawa selimut tebal dari kamar tempat kami menginap terlihat nyaman. Dengan senyumnya yang manis, ia menawari saya berada dalam satu selimut. Saya mendelik. Emang saya cowok apaan?

Setelah puas berada di puncak, kami kembali ke penginapan. Tiba jelang pukul 3 dini hari dan langsung menuju tempat tidur. Tak biasanya, saya bermimpi. Kali ini tentang rencana pemerintah yang sudah memastikan akan segera mengesahkan RPP terkait upah yang isinya semakin menjauhkan buruh dari cita-cita sejahtera.

Ketika saya terbangun dan mengingkat kembali kejadian semalam, saya masih berharap itu hanya sekedar mimpi….

‪#‎SelamatkanUpahBuruhIndonesia‬
‪#‎TolakUpahMurah‬
‪#‎SUBITUM‬

IMG_9527