Menulis, Bekerja Untuk Keabadian

Foto bersama dengan perserta pelatihan menulis di Purwakarta (Jum`at, 23 Januari 2015)
Foto bersama dengan perserta pelatihan menulis di Purwakarta (Jum`at, 23 Januari 2015)

Kamis hingga Sabtu, 22 – 24 Januari 2015, saya berada di Purwakarta. Salah satu agenda paling berkesan adalah saat “mengompori” kawan-kawan FSPMI untuk menulis buku.

Mengapa buku? Saya kira, buku menjadi media yang tepat untuk mendokumentasikan gerakan. Bisa lebih detail mengumpulkan setiap kepingan peristiwa. Dan lebih lama menyimpan rasa. Lintas generasi.

Meskipun dikemas dalam pelatihan menulis, tetap saja dalam durasi yang singkat itu tidak mampu mengupas hingga habis. Tetapi percayalah. Pelajaran terpenting dari menulis adalah menulis. Karena itu saya selalu berpesan agar mulai berkarya, nikmati prosesnya, dan rasakan keajaibannya.

Saat ini, saya mulai menuliskan tentang gerakan buruh Purwakarta. Pesanan KC FSPMI Purwakarta. Penulisannya saya kerjakan beselang-seling dengan penulisan biografi seorang tokoh buruh di Bekasi.

Meskipun begitu, jangan menyangka 24 jam dalam satu hari saya berada di depan komputer. Sehari, saya benar-benar serius menulis paling banter hanya 2 jam. Biasanya pagi-pagi sekali. Saat pikiran masih jernih. Selebihnya saya masih bisa mengisi pelatihan, menghadiri rapat-rapat organisasi, ikut aksi, pendampingan kasus, dan ‘tetek bengek’ kegiatan lain. Percayalah, menulis tidak akan mengganggu rutinitasmu.

Minggu depan, 1 Februari 2015, saya diundang kawan-kawan Forum Komunikasi Buruh Citeurep (FKBC), Bogor, untuk mengisi pelatihan menulis di sana. Kepada saya mereka menyampaikan ingin mengembangkan media alternatif untuk buruh. Menjadikan kata sebagai senjata.

Dalam hal ini, saya penganut ajaran Pram: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian…”

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Iklan

Menulis Rumah Buruh

Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.
Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

Dalam sebuah Pendidikan Menulis yang diselenggarakan Tim Media FSPMI Bekasi, saya meminta peserta untuk membuat tulisan tentang Rumah Buruh. Tulisan ini berisi tentang pengamatan dan pengalaman mereka tentang jembatan buntung yang menghubungkan Kawasan Industri EJIP dan MM 2100 yang disulap sebagai pusat konsolidasi bagi anggota FSPMI. Sebuah tempat yang menyimpan sejarah. Menjadi saksi atas berbagai macam peristiwa dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kunjungan saya ke Rumah Buruh memang tak melebihi jumlah jari tangan yang saya miliki. Tetapi kesan itu sungguh mendalam. Ia senantiasa hidup dalam hati. Wajah-wajah yang penuh semangat. Persahabatan yang erat. Romansa yang selalu indah ketika dijadikan cerita.

Ide tentang tulisan ini berawal ketika saya berkunjung ke Kepsonic Indonesia untuk mencatat tentang proses buruh go politic. Dari Tangerang naik bus Putra KJU, saya turun di depan pintu Tol Cibitung. Disini saya dijemput seorang kawan dari Wira Logistic. Saya diajak ke Sekretariat PUK. Setelah makan siang, barulah kami bersama-sama menuju Kepsonic, melalui Rumah Buruh.

Pembangunan sedang dilakukan diujung jembatan. Tak lama lagi, Rumah Buruh akan digusur. Tempat yang tadinya selalu ramai oleh buruh yang sedang melakukan konsolidasi itu tak lama lagi tinggal cerita. Saya merasa memiliki tanggungjawab untuk membuat catatan lengkap tentang rumah buruh dalam gambar dan kata. Rumah Buruh adalah bagian penting yang membuat organisasi ini bisa tumbuh seperti sekarang ini. Ada proses disitu. Dengan segala liku yang berlalu.

Dan diluar dugaan, ketika ide saya lemparkan kepada peserta, mereka terlihat antusias. Satu persatu mulai mengirimkan tulisannya. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada lima artikel tentang rumah buruh yang masuk. Ini bukan tentang baik dan buruk kualitas tulisan mereka. Ini tentang bagaimana kita akan memperpanjang napas sejarah.

Jika kawan-kawan memiliki foto, catatan pengalaman dan kesan mendalam tentang Rumah Buruh, saya akan senang hati menerimanya. Sila dikirim melalui e-mail saya dialamat berikut ini: kahar.mis@gmail.com

Masih ada sedikit dana yang tersisa dari pengerjaan buku ‘Cerita dari Bekasi’ untuk mengerjakan proyek ini. Termasuk melakukan riset kecil dengan mereka yang selama ini menjadi ‘penjaga’ Rumah Buruh.

Tetap semangat. Teruslah berkarya….

Bedah Buku dan Motivasi Menulis untuk Pekerja/Buruh

Ruko Sastra Plaza
Minggu, 01 April 2012 | Jam 10.00 s/d 12.00

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kalimat ini diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang sangat fenomenal itu. Pramoedya menulisnya saat berada di pembuangan tahanan politik di Pulau Buru.

Napoleon Bonaparte pernah berkomentar: “Aku lebih suka menghadapi seribu tentara daripada satu orang penulis”. Ya, seorang jenderal bisa mengerahkan kekuatan seribu tentara, tapi seorang penulis bisa saja menginspirasi ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang untuk melakukan perlawanan. Baca lebih lanjut