Kaum Perempuan: Minat Besar Minim Keterwakilan

Bisa jadi, Kabupaten Serang Provinsi Banten menjadi surga bagi kaum merempuan. Betapa tidak, Wakil Bupati Serang saat ini adalah seorang perempuan. Begitu juga dengan Gubernur Banten, yang juga seorang perempuan.

Pertanyaan kritis yang layak untuk kita ajukan adalah, apakah dengan keberadaan perempuan dalam posisi sentral eksekutif membuat hak-hak perempuan terpenuhi? Apakah kekerasan terhadap perempuan bisa dihilangkan sama sekali? Apakah perda-perda yang tidak bias gender lahir tanpa halangan?

Nyatanya tidak. Setidaknya, menurut data yang pernah dikeluarkan dari Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Serang, jumlah wanita yang menjadi buruh di sejumlah pabrik di Kabupaten Serang memang lebih banyak daripada laki-laki. Tahun 2010, jumlah pekerja perempuan mencapai 60.038 orang (69,04 persen) sedangkan laki-laki hanya 26.928 orang (30,96 persen). Dan ironisnya, di tempat kerja, kaum perempuan rentan sekali mengalami diskriminasi, pelecehan seksual, dan ketidakadilan gender. Baca lebih lanjut

Masyarakat Terjebak di Tengah Elitisme Tokoh

Secara umum, demokrasi didefinisikan sebagai sebuah kondisi dimana kontrol publik, khususnya kontrol terhadap kebijakan dan urusan publik, berfungsi sepenuhnya didalam sistem kekuasaan. Kontrol itu didasarkan atas prinsip kesetaraan politik.

Dengan demikian, demokrasi mensyarakat adanya hak dan kemampuan setiap orang untuk berpartisipasi dalam memberikan otoritas kepada para wakil dan pejabat berdasarkan ide atau opini utama yang berkembang di tengah masyarakat. Para wakil rakyat dan pejabat juga harus terus-menerus bersikap responsif terhadap opini dan kepentingan masyarakat, serta akuntabel terhadap setiap warga negara atas apa yang telah mereka perbuat. Karena itu demokrasi juga memerlukan adanya transparansi dan solidaritas diantara sesama anggota masyarakat.

Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap politik dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebab dengan mengetahui pemahaman masyarakat terhadap politik, kita bisa memahami konstruksi sosial-politik masyarakat di Kabupaten Serang. Dengan memahami konstruksi sosial-politik masyarakat, maka akan semakin mudah bagi kita untuk menyusun strategi, guna memperjuangkan terwujudnya demokrasi yang bermakna di Kabupaten Serang. Baca lebih lanjut

Pemetaan Demokrasi Lokal di Serang – Banten

Hari Sabtu, tepatnya tanggal 9 April 2011 kemarin, menjadi Sabtu yang istimewa. Sebab pada hari itu, ada kegiatan launching hasil Pemetaan Demokrasi Lokal di Serang – Banten, yang dilaksanakan di Wisma Abdi Negara Serang. Hadir sebagai nara sumber dalam kegiatan ini adalah Kahar S. Cahyono (Koordinator Eksekutif FSBS) yang juga Koordinator Tim Peneliti, Ipah Ema Jumiati, S.Ip.,M.Si, dan Antonio Pradjasto (Direktur Eksekutif DEMOS).

Kegiatan Launching Pemetaan Demokrasi yang dihadiri tidak kurang dalam 70 orang peserta ini memang sudah usai. Namun bukan berarti berhenti sampai disini. Sebab sejatinya, kerja yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bagaimana hasil pemetaan demokrasi ini memberikan nilai. Bermanfaat bagi semua, sebagai sumbang sih pemikiran untuk mewujudkan demokrasi yang bermakna.

Terkait dengan hal itu, dalam beberapa hari kedepan, saya berencana membuat catatan kritis dari hasil pemetaan demokrasi tersebut. Tentu saja, sebagai sebuah pemahaman yang berorientasi untuk ‘perbaikan’ di masa yang akan datang, kita bisa berdiskusi. Saling mengisi. Baca lebih lanjut

Dari Rumah Komunitas hingga Blok Politik Masyarakat Serang

Anda tentu pernah mendengar sejarah De Grote Postweg, atau yang dikenal dengan Jalan Raya Pos. Ya, itu adalah jalan yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan, dengan panjang kurang lebih 1000 km. Adalah Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels (1762-1818), yang dengan tangan besinya jalan itu bisa selesai hanya dalam waktu setahun saja (1808). Sebuah sumber melaporkan, korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat. Sebab banyaka kalangan menyakini, jumlah korban lebih dari itu.

Daendels, marsekal yang diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda oleh Napoleon (saat itu sedang menguasai Belanda), bertujuan untuk mengantisipasi serangan angkatan laut Inggris, yang saat itu telah memblokade Pulau Jawa. Tahun 1808, Daendels tiba di Anyer, setelah melalui perjalanan panjang melalui Cadiz di Spanyol Selatan, Kepulauan Kanari, menggunakan kapal berbendera Amerika dari New York. Baca lebih lanjut

Cinta Sang Aktivis

Judul : Cinta Sang Aktivis

Penulis : Kahar S. Cahyono

ISBN : 978-602-9079-41-8

Terbit : Maret 2011

Tebal : 174 halaman

Harga : Rp. 39.000,00

Deskripsi:

Mendengar nama aktivis, yang terlintas dalam benak kita adalah sosok inspiratif yang selalu aktif. Ketegarannya bagaikan karang, tak sedikit pun mengeluh, meski setiap waktu dihempas ombak diterjang badai. Baginya, setiap problema kehidupan adalah bara api yang membuat besi mudah ditempa menjadi belati.

Akan tetapi, cinta soal lain. Cinta bukan saja sumber dari berjuta rasa, tetapi juga yang melatari berbagai tindakan dan keputusan. Dia datang secara perlahan, tak terduga, dan tiba-tiba saja kita sudah berada dalam pelukan asmara. Manis-pahitnya. Suka-dukanya. Tawa dan tangisnya. Baca lebih lanjut