Melintasi Batas Negara 9: Meneladani Umar

Ketua Umum Pimpinan Pusat SPEE FSPMI Judy Winarno
Ketua Umum Pimpinan Pusat SPEE FSPMI Judy Winarno

Setelah mendengar sambutan dari beberapa tamu undangan, akhirnya Rapat Kerja Nasional III SPEE FSPMI dibuka oleh Ketua Umum SPEE FSPMI, Judy Winarno. Ini adalah rapat kerja yang istimewa. Selain diselenggarakan dalam suasana pemilu, peserta Rakernas juga akan melakukan kunjungan ke Singapura. Bertamu ke National Trades Union Congress (NTUC) untuk melajar tentang gerakan buruh di negara singa yang dikelola secara professional itu.

Tentu saja, semua kegiatan ini membutuhkan sumberdaya yang luar biasa. Tidak sembarang serikat pekerja bisa melakukan ini. Dan SPEE FSPMI adalah salah satu serikat yang bisa melakukannya. Dari sini saja kita bisa mengukur, betapa kuatnya organisasi yang berbasiskan para pekerja di industri elektronik elektrik ini.

Dalam sambutan pembukaan,  mewakili Pimpinan Pusat SPEE FSPMI, Judy Winarno mengucapkan terima kasih atas dana dan waktu yang diberikan oleh peserta Rakernas sehingga acara ini bisa terselenggara. Bukan hanya peserta. Panitia pun sangat berjasa. Mereka bahkan harus lembur untuk menyiapkan ini semua. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada tuan rumah. Mereka adalah kawan-kawan FSPMI Batam yang telah bertindak selaku relawan.

Judy juga mengucapkan terima kasih kepada Amzakar Ahmad, Sriyanto dan Ricky Solihin, yang telah memberikan masukan berharga kepada peserta Rakernas. Organisasi ini senantiasa membangun gerakan yang berorientasi pada kemajuan. Terbuka atas berbagai masukan. Masukan dari semua pihak akan sangat berarti untuk kemajuan kedepan.

Apalagi, saat ini perkembangan industri sudah berubah. Apalagi dengan adanya pengaruh yang kuat dari kebijakan industri dunia. Globalisasi membuat sekat-sekat negara menjadi tipis.  Diilhami dari masyarakat ekonomi Eropa yang sudah maju dan berhasil, hal serupa juga ingin ditiru oleh yang lainnya. Eropa, bahkan mampu mengalahkan Amerika.

“Indikator kemajuan itu, Euro yang menjadi mata uang Eropa nilainya lebih tinggi jika dibandingkan dengan dollar-nya Amerika,” kata Judy. Meskipun dengan sebuah catatan, Eropa pun dilandas krisis

Kini keberhasilan itu akan ditiru oleh pemimpin negara-negara Asean, dengan membentuk ASEAN Community 2015. Harapannya, perekomian di negara-negara Asean bisa maju dan mandiri. Kita tidak bisa menghindar dari semua ini. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri, agar liberalisasi dibidang ekonomi itu tidak berdampak buruk bagi kepentingan bangsa.

Judy mengingatkan, bahwa Indonesia adalah negara yang lemah.

“Belum merdeka secara ekonomi,” katanya.

Dengan dibukanya pasar bebas, orang dari negara lain bisa berbisnis dengan mudah di negara ini, selayaknya berbisnis di negaranya sendiri. Termasuk di sektor tenaga kerja. Bisa jadi, dalam beberapa tahun kedepan, banyak pekerja dari luar masuk ke Indonesia. Jika kita tidak siap, tenaga kerja Indonesia akan tersingkir dari negerinya.

Sekali lagi, zaman sudah berubah. Sejauh mana mempersiapkan diri menghadapi perubahan itu? Sejarahmencatat, siapa pun yang tidak bisa mengikuti perubahan zaman, ia akan tergilas.

Pimpinan Pusat SPEE FSPMI sudah mengagendakan sebuah diksusi untuk mengantisipasi perubahan ekonomi global. Diskusi ini untuk menjawab tantangan dan sekaligus membuat strategi untuk bisa bertahan dalam situasi yang penuh dengan persaingan.

Kualitas dari pribadi dan organisai harus terus ditingkatkan.

Rakernas III SPEE FSPMI ini juga akan menindaklanjuti keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam Rakernas KSPI dan Rapim FSPMI. Dalam keputusan-keputusan itu ada beberapa resolusi, baik yang bersifat internal maupaun eksternal. Kita percaya, jika keputusan-keputusan tersebut bisa dijalankan dengan baik, niscaya buruh Indonesia akan semakin bermartabattidak akan menjadi tamu rumahnya sendiri.

Kita juga mendebgar, buruh-buruh Filipina bakal menyerbu Indonesia. Mereka akan bermigrasi ke negara kita untuk mencari kerja. Apalagi, memang, hingga saat ini Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi dunia. Indonesia adalah surga. Banyak yang ingin datang kepadanya.

Perusahaan-perusahaan elektronik juga sudah berubah. Dulu Jepang yang mendominasi. Tetapi sekarang, Korea Selatan dan Cina semakin banyak yang bermunculan.  Sanyo Elektrik di Cikarang dan Sanyo di Cimanggis pun sudah dijual. Situasi industri elektronik menurun. Kita harus melakukan antisipasi sejak dini. Karena itu, kata Judy, dalam Rakernas ini kita juga akan mendengar pemaparan Rahmat Gobel. Ia adalag Presiden Direktur salah satu investor elektronik terbesar di Indonesia. Kita ingin tahu fenomena apa saja yang terjadi saat ini. Bagaimana prospek dan perkembangannya. Setelah itu, kita akan membuat jawabannya dalam sidang-sidang di Rakernas ini.

Inilah juga yang mendasari SPEE FSPMI dalam Rakernasnya membuat tema: ‘EE Gak Ada MatinyEE’.

Tak dipungkiri, itu berawal dari kegalauan. Tetapi apapun kondisi yang kita hadapi, tidak boleh memperburuk situasi. Tema ini, saya kira, memberikan semangat kepada kita semua.

Disaat kita sedang galau, memang harus ada penyemangat agar langkah tidak menjadi goyah.

Menurut Judi, yang mengusulkan tema ini adalah Baris Silitonga. Selain Pangkornas Garda Metal, Baris adalah salah satu pengurus Pimpinan Pusat SPEE FSPMI. Ide itu disetujui, untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi. Bahwa EE tidak boleh mati. Apalagi, SPEE adalah salah satu sektor yang membesarkan FSPMI, yang membesarkan KSPI dan membesarkan gerakan buruh di Indonesia.

Tentang upah, FSPMI sudah mencanangkan kenaikan upah tahun 2015 adalah sebesar 30%. Kenaikan upah sebesar ini adalah untuk menjawab apa yang dirisaukan oleh pemerintah. Selalu disampaikan dimana-mana, bahwa kita tidak akan bisa bersaing jika tidak ada hubungan yang kondusif antara buruh dan pengusaha.

Judy mengkritik pernyataan itu. Menurutnya, hubungan kondusif tidak semata-mata dipengaruhi soal upah. Upah yang tinggi justru akan menjadi solusi agar buruh Indonesia bisa berkompetisi dengan pekerja yang berasal dari luar negeri. Kalau kita ingin meningkatkan kualiats kerja dan produktivitas, seperti di Singapura, misalnya, maka daya beli kita harus sama dengan mereka. Upahnya, minimal harus sama.

Tidak mungkin berharap produktivitas yang sama, sementara upah yang diberikan hanyalah setengahnya. Ibarat kita akan membuat donat, jika bahan dasarnya berbeda, hasilnya juga akan berbeda. Donut yang dijual di Dunkin Donuts dengan yang dijual di emperan kaki lima jelas berbeda. Cita rasanya pun tidak akan pernah sama. Mengapa? Karena materialnya tidak sama! Oleh karena itu, agar kualitas tenaga kerja Indonesia sama dengan kualitas tenaga kerja Singapura, upahnya juga harus sama. Daya beli kita harus sama.

Sekali lagi, kenaikan sebesar 30% justru untuk menjawab soal produktivitas. Ukuran kita adalah daya beli. Jika upah naik kemudian harga-harga naik, itu pun bermasalah. Kalau pun kenaikan upah kecil, tetapi harga-harga turun setengahnya, itu akan menyenangkan semua orang.

Diakhir sambutannya, Judy meminta kepada aparat pemerintah untuk meneladani Khalifah Umar bin Khatab.

Satu ketika, kata Judy, Umar jalan-jalan ke pasar. Ia melihat ada penjual yang menjual barang dengan kelewat mahal. Maka pedagang itu dimarahin dan diancam akan dikeluarkan dari pasar jika harganya tidak diturunkan. Kemudian ia menyuruh orang untuk mengawasi pasar. Ketika ada pedagang yang mencampur susu dengan air, pengawas itu menegur. Susu yang bercampur air itu disuruh meminumnya sendiri, jangan dijual. Tidak ada lagi pedagang yang hanya mencari untung besar. Pembeli pun diuntungkan, karena yang diperjual-belikan di pasar hanyalah barang-barang berkualitas.

“Saya membayangkan ada pegawai pengawas yang mengawasi sepeti itu,” ujar Judy, yang disambut dengan aplaus meriah dari semua peserta. Kemudian Judy melanjutkan, “Sehari-hari pengawas jangan hanya berada di kantor. Turun ke pabrik-pabrik untuk mengawasi agar aturan bisa berjalan.” Sekali lagi, kami bertepuk tangan.

Dan tentu, ini bisa dimulai dari ketegasan dari pemimpinnya. Paling tidak, dimulai dari Kepala Dinasnya.

Contoh yang lain adalah cerita yang sudah terkenal ini. Dimana setiap malam Umar berkeliling untuk membagikan beras kepada orang miskin. Tidak ada yang tahu, siapa yang membagikan beras itu. Orang baru tahu, ketika Umar sudah meninggal dan dimandikan mereka melihat pundaknya hitam. Oh, ternyata yang setiap malam memikul beras dan membagikannya kepada orang-orang miskin itu adalah Umar.

Pemimpin membutuhkan keteladanan. Ketegasan. Bukan hanya duduk manis dibelakang meja.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Iklan

Melintasi Batas Negara 8: Ladang Amal Buat Kita

Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Yoni Mulyo Widodo
Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Yoni Mulyo Widodo

“Selamat datang di Batam,” inilah kalimat pertama yang disampaikan Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Yoni Mulyo Widodo kepada peserta Rakernas III SPEE FSPMI. Inilah Batam. Sebuah pulau yang kini disulap menjadi daerah industri. Yang sebagian besar orang datang kesini meniatkan untuk kerja.

Orang bilang, Batam itu singkatan dari ‘Bila Anda Tabah Anda Menang’. Tentu singkatan itu bukanlah yang sebenarnya. Yang jelas, Batam merupakan salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Ini merupakan pulau terbesar dari 329 pulau yang ada di wilayah Kota Batam. Tidak ada literatur yang dapat menjadi rujukan darimana nama Batam itu diambil. Satu-satunya sumber yang dengan jelas menyebutkan nama Batam dan masih dapat dijumpai sampai saat ini adalah Traktat London (1824).

Saat ini, pekerja formal di Batam mencapai kurang lebih 400 ribu orang dengan lebih dari 5 ribu perusahaan. Sebagian besar dari perusahaan itu adalah modal asing. Yang disayangkan, menurut Yoni, modal-modal itu sudah berada ditangan kedua atau ketiga. Limpahan dari Singapura.

“Kami banyak merepotkan pak Sriyanto,” kata Yoni.

Bahkan Pak Kadis bernah bercanda, “Kayaknya kami ini jadi pegawainya FSPMI.”

Itu tak lain karena begitu aktifnya FSPMI dalam memberikan tekanan kepada pemerintah agar tegas dalam melakukan penegakan hukum. Yoni menuturkan, buruh sebenarnya tidak ingin melakukan mogok. Tetapi kalau kemudian pemogokan itu dilakukan, hal itu mereka karena sebuah keterpaksaan. Tidak ada pilihan lain.

Di Batam, ada beberapa kali kejadian, pengusaha menelantarkan pekerjanya. Kasus PT. SCI sebagi contoh. Pengusaha kabur sehingga banyak pihak patungan untuk meringanakan beban buruh yang ditinggalkan. Apalagi ketika itu, peristiwanya terjadi pada saat lebaran.

BP Kawasan sudah membuka SMS center untuk laporan. Yoni sudah beberapa kali menyampaikan keluhan, akan tetapi hingga sekarang belum ada tanggapan.

Terkait dengan upah minimum, sebenarnya sudah dibentuk tim untuk menyetabilkan harga. Tetapi sayang, kerja tim terputus karena disibukkan urusan pencalegan. Yoni berharap, setelah pemilu selesai, tim ini bisa kembali efektif bekerja.

Memang banyak masalah yang dihadapi. Tetapi jangan mengeluh atas permasalahan itu.

“Mari kita jadikan masalah yang ada sebagai ladang untuk berbuat kebaikan. Jadikan masalah sebagai ladang ibadah,” kata Yoni.

Menyinggung masalah politik Yoni menyampaikan, bahwa didepan Kawasan  Muka Kuning ada pemilik outsourcing yang menang. Ironis, memang. Apalagi Batam terkenal sebagai kawasan industri. Mayoritas penduduknya adalah buruh. Diatas kertas, kader serikat buruh di Batam seharusnya mampu memenangi pemilihan legislatif. Nyatanya itu sulit sekali.

Meskipun demikian, kata Yoni, janganlah kita berkecil hati. Perjuangan harus tetap dilanjutkan. Api semangat untuk melakukan perubahan harus dikobarkan (*)

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Melintasi Batas Negara 7: Pekerjaan Rumah Kita

Ketua DPW FSPMI Provinsi Kepulauan Riau Otong Sutisna.
Ketua DPW FSPMI Provinsi Kepulauan Riau Otong Sutisna.

Penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional SPEE FSPMI di Batam adalah untuk kedua kalinya. Sebelumnya, pada tahun 2009 yang lalu, SPEE FSPMI juga menyelenggarakan Rakernas di kota ini. Dan memang, pemilihan kota Batam sebagai tempat penyelenggaraan Rakernas bukan tanpa alasan. Selain sebagai daerah industri – lebih dari lima ribu perusahaan berada disini – Batam merupakan salah satu basis anggota SPEE FSPMI. Memiliki jumlah anggota terbesar nomor 2 di Indonesia.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah FSPMI Provinsi Kepulauan Riau Otong Sutisna saat memberikan sambutan mengaku bangga dengan penyelenggaraan Rakernas di wilayahnya. Ia berharap, rapat kerja nasional akan menghasilkan sesuatu yang istimewa untuk gerakan buruh kedepan. Rakernas diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan.

Menurut Otong, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh FSPMI, khususnya di Kepulauan Riau. Sebagai sektor yang terbesar di Batam, SPEE FSPMI harus mengambil tanggung jawab itu. Menyelesaikan perselisihan hubungan industrial yang masih kerap terjadi.

Beberapa perselisihan itu, salah satunya adalah mengenai outsourcing. Untuk anggota SPEE FSPMI, bisa dikatakan 80% persoalan sudah selesai. Masih tersisa sekitar 20 % yang membutuhkan penyelesaian. Akan tetapi untuk sektor SPAI, galangan kapal dan logam, masih banyak permasalahan. Mereka sudah bekerja selama 5 hingga 10 tahun, akan tetapi belum juga mendapatkan kepastian kerja. Masih outsourcing, kontrak berkepanjangan, upah yang murah.

Penggunaan buruh kontrak dan outsourcing yang tidak sesuai dengan perundang-undangan ketenagakerjaan jelas merupakan bentuk pelanggaran. Tetapi meskipun pelanggaran itu sudah mendapatkan teguran, keluar nota dinas dan anjuran dari Disnaker, eksekusinya tidak ada. Akhirnya banyak perusahaan yang mengabaikan hukum.

Menyikapi hal ini, yang bisa dilakukan serikat pekerja adalah menggeruduk perusahaan itu. Proses hukum tak menyelesaikan apa-apa. Sudahlah menghabiskan waktu yang relatif lama, penyelesaiannya tak sesuai dengan yang kita harapkan.

Menurut Otong Sutisna, saat ini ada 40 kasus yang masuk ke Dinasnaker Kota Batam. Semuanya berasal dari FSPMI.

“Ini satu prestasi,” kata Otong. Disambut tepuk tangan kami semua.

Banyaknya kasus perburuhan yang dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja, membuktikan bahwa FSPMI tidak tinggal diam ketika melihat perselisihan yang terjadi ditempat kerja. Organisasi ini aktif dalam melakukan tugas-tugas pembelaan, perlindungan dan memperjuangkan kepentingan anggota.

Tetapi juga, masih banyaknya kasus outsourcing di Batam, menandakan bahwa perjuangan Hostum (hapus outsourcing dan tolak upah murah) yang dilakukan sejak tahun 2012 belum selesai.

Selain outsourcing, permasalahan upah pun masih terjadi. Menurut Otong, saat ini ada pihak-pihak yang mengusik upah di Batam. Bahkan, ada yang melayangkan surat keberatan ke Mahkamah Agung terkait dengan adanya upah sektoral. Mereka tidak menginginkan ada upah minimum sektoral di Batam. Bahkan di Indonesia.

Selain upah dan outsourcing, persamalahan yang selanjutnya adalah terkait dengan banyaknya aktivis FSPMI yang banyak dijadikan target pemutusan hubungan kerja dan kriminalisasi. Banyak pihak yang merasa gerah dengan adanya FSPMI.  Oleh karena itu, kita perlu memikirkan agar aktivis FSPMI tetap bisa diwadahi dalam organisasi, setelah mereka kehilangan pekerjaan, misalnya.

Sayang sekali, Otong tidak merinci lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan sebuah wadah dalam organisasi bagi aktivis FSPMI yang sudah kehilangan pekerjaan. Tapi menurut saya, ini usulan yang menarik. Dalam beberapa diskusi informal, usulan seperti ini sebenarnya sudah sering muncul. Bagaimana organisasi mengambil peran yang lebih besar, tidak hanya ketika masih bekerja, tetapi juga pasca kerja.

Tentang may day.

Mulai tahun ini, peringatan hari buruh internasional diliburkan. Kita senang, karena artinya negara mengakui keberadaan kaum buruh sebagai sebuah element yang penting didalam negara. Tetapi hal itu sekaligus menjadi tantangan. Jika tahun-tahun sebelumnya may day selalu diperingati dengan aksi turun ke jalan, apakah ketika diliburkan buruh masih melakukan hal yang sama?

“Tantangan kita adalah bagaiamana mengkonsolidasikan kaum buruh, agar meskipun hari libur akan tetapi aksi tetap berjalan,” kata Otong.

Menurutnya, ini akan menjadi ukuran. Apakah serikat pekerja mampu menggerakkan kekuatan kaum buruh untuk menyampaikan tuntutan? Atau justru ini menjadi lonceng melemahnya gerakan. Ketika di hari yang diliburkan ini buruh lebih senang berdiam diri di rumah. Jika ini yang terjadi, niscaya gerakan buruh akan cenderung melemah.

Pilihan kita hanya satu. Tetap menggelorakan semangat juang kaum buruh agar mereka militan dalam melawan.

Diluar semua ikhtiar buruh untuk memperjuangkan kesejahteraan, ada satu hal yang selalu kita sesalkan. Mengapa pisau kebijakan itu selalu tumpul keatas? Faktanya, tidak ada Pengusaha yang mendapatkan sanksi ketika mereka melakukan pelanggaran terhadap undang-undang perburuhan. Jika pun ada, prosentasenya sangatlah kecil. Yang banyak mendapatkan sanksi justru buruh. Padahal jika kita meletakkan hubungan buruh dan pengusaha sebagai mitra, seharusnya mereka diletakkan pada posisi yang setara. Tidak boleh ada yang lebih diistimewakan dibandingkan dengan yang lainnya.

“Apakah Pemerintah berani mencabut ijin usaha pengusaha-pengusaha nakal?” Tanya Otong Sutisna dengan intonasi tinggi.

Suasana hening. Tak ada jawaban. Kemudian laki-laki itu melanjutkan, bahwa sesungguhnya buruh telah memberikan konstribusi yang besar kepada Negara. Karena itu sudah seharusnya pemerintah menegakkan peraturan. Kaum buruh bukanlah kelas terbawah. Bahwa buruh adalah kelas yang terhormat.

Didalam sambutannya, Otong juga menyinggung soal buruh go politics.

“Kita sudah ikut go politik,” kata Otong. Pada awalnya, kita berharap dengan adanya anggota legislatif dari buruh, kita bisa ikut memaksimalkan peran pengawasan. Tapi kenyataannya, ketika berada didalam bilik suara, suara buruh hilang.

Tetapi kita tidak perlu berkecil hati. Ini menandakan bahwa kita harus lebih banyak lagi belajar. Kita perlu melakukan pedidikan politik yang lebih dimengerti oleh kaum buruh. Meningkatkan kesadaran mereka untuk berpartisipasi dalam merubah kebijakan. Kita juga perlu membahasa didalam politik.

Berbicara tentang politik, sebenarnya Batam menarik untuk dijadikan referensi. Beberapa tahun yang lalu, mereka membentuk Jasmetal. Jaringan Simpul Pekerja Metal.

Jasmetal adalah dideklarasikan pada tanggal 13 November 2008. Mempunyai Visi sebagai wadah untuk mengekpresikan hak politik pekerja dan Misi memperjuangkan peningkatan kesejahtraan pekerja melalui peran aktif mengupayakan keterwakilan pekerja dengan slogan, “Berpolitik Cerdas & Bertanggung Jawab“.  Pada awalnya, sayap politik ini diselenggarakan untuk mendukung kader buruh dalam Pemilu 2009 adalah semacam sayap politik bagi FSPMI di Batam. Terkait dengan buruh go politics, boleh dikata, FSPMI Batam adalah pelopornya.

Pada akhirnya kita berharap, Rakernas III SPEE FSPMI akan memajukan organisasi ini kedepan.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Ketua Umum Pimpinan Pusat SPEE FSPMI duduk di kursi depan bersama tamu undangan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat SPEE FSPMI duduk di kursi depan bersama tamu undangan.

Serius menyimak pemaparan pembicara
Serius menyimak pemaparan pembicara

Melintasi Batas Negara 6: Retribusi Untuk Pribumi

Sriyanto, mewakili Dinas Tenaga Kerja Kota Batam
Sriyanto, mewakili Dinas Tenaga Kerja Kota Batam

Mari kita simak sambutan Sriyanto, mewakili Dinas Tenaga Kerja Kota Batam. Sebagai institusi yang berkaitan langsung dengan masalah ketenagakerjaan, sambutan Sriyanto menarik untuk diperhatikan.

Sriyanto mengaku mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh pembicara sebelumnya. Termasuk yang disampaikan oleh Otong Sutisna. Ia memberikan apresiasi atas apa yang disampaikan orang nomor satu di organisasi FSPMI Kepulauan Riau ini. Semangat bung Otong, kata Sriyanto, pada intinya ingin agar buruh tidak ditindas.

Semangat yang sama, sesungguhnya juga dimiliki oleh Dinas Tenaga Kerja.

Ketika FSPMI menyampaikan usulan tentang hapus outsourcing dan upah murah, Disnaker pun sudah melakukan pembenahan. Baik untuk industri elektronik maupun galangan kapal.

Sriyanto tidak menampik jika banyak kendala dalam penyelesaian kasus. Oleh karena itu, ia menganggap Serikat pekerja adalah kepanjang tangan dari Dinas Tenaga Kerja. Kalau tidak ada serikat pekerja yang ikut membantu tugas pemerintah, Disnaker pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berharap FSPMI bisa membangun kerja sama yang lebih erat, agar permasalahan keternagakerjaan bisa cepat diselesaikan.

Perda Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing, sebagaimana yang disampaikan oleh Rizky Solihin sudah berjalan. Bahkan, menurut Solohin, Batam menjadi barometer. Banyak dari daerah lain yang berkunjung ke Batam hanya untuk meminta petunjuk terkait dengan Perda tersebut. Dimana pada intinya, didalam perda ini mengatur perihak retribusi yang harus dibayarkan oleh tenaga kerja asing. Kemudian dana tersebut dipergunakan untuk melakukan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kualitas pekerja.

Mendengar penjelasan itu, saya penasaran untuk mengetahui lebih jauh seperti apa sebenarnya Perda IMTA yang dibangga-banggakan itu. Kepada mbah google akhirnya saya bertanya, apa yang menjadi kelebihan dari Perda tentang Izin Mempekerjakan tenaga kerja Asing yang ada di Batam. Dari sini, saya bertemu dengan tulisan YJ Naim berjudul ‘Batam Tarik Dollar Tenaga Kerja Asing.’

Tentu kita masih ingat. Saat itu bulan April tahun 2010. Ribuan pekerja galangan kapal di Batam mengamuk dengan membakar mobil, kantor, gudang dan bahkan pabrik karena tersinggung perkataan seorang tenaga kerja asing.

Kericuhan bermula di ruang kerja sebuah kantor galangan kapal di Tanjung Uncang. Beberapa orang tenaga kerja lokal, pada waktu itu, dimarahi seorang tenaga kerja asing. Parahnya, tenaga kerja asing itu menyebut seluruh orang Indonesia bodoh.

Perkataan orang asing itu menyulut emosi ribuan pekerja. Hanya berselang beberapa jam, pabrik dipenuhi buruh yang hatinya terluka karena disebut “bodoh”. Rasa nasionalisme juga membakar hati banyak pekerja lainnya yang kemudian berkumpul di halaman dalam dan luar pabrik.

Sebenarnya, beberapa orang percaya, aksi buruh pada Kamis 22 April 2010 itu adalah akumulasi dari kemarahan pekerja atas “tingkah” tenaga kerja asing dan kecemburuan atas fasilitas yang diberikan kepada pekerja asing.

Di beberapa sisi, hubungan antara tenaga kerja asing dengan tenaga kerja lokal memang kurang harmonis. Jabatan tenaga kerja asing sebagai “bos” membuat pekerja lokal harus menerima perintah. Apalagi, kebanyakan tenaga kerja asing diberikan fasilitas super wah dibanding buruh lokal oleh perusahaan tempat mereka bekerja yang harus terengah-engah menyusun pengeluaran uang karena gaji yang relatif kecil.

Sebagai salah satu kota industri terbesar di Asia Pasifik, sebenarnya tidak heran jika Batam dipadati tenaga kerja asing. Mereka berasal dari berbagai negara. Mulai dari Eropa, Australia, Amerika, India hingga negara jiran Singapura.

Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, pada 2011 sempat merilis terdapat 5.181 pekerja asing mencari nafkah. Diperkirakan, jumlahnya lebih banyak dari data yang dimiliki Disnaker.

Para pekerja asing menguasai hampir setengah lapangan pekerjaan, mulai dari inspektur pekerja di lapangan hingga bagian administrasi di kantor. Hal ini yang membuat pekerja lokal tergeser. Sebenarnya, pemerintah pusat sudah menyusun strategi alih tenaga kerja dengan memberlakukan iuran Dana Pengembangan Keahlian dan Ketrampilan (DPKK) kepada tenaga kerja asing.

Tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia harus membayar DPKK sebesar 100 dolar AS per bulan. Uang yang dikumpulkan itu kemudian disalurkan untuk pengembangan keahlian dan ketrampilan pekerja lokal.

Tujuannya, diharapkan keterampilan dan keahlian pekerja lokal bertambah, sehingga kemudian industri tidak lagi membutuhkan tenaga kerja asing. Dan seluruh posisi strategis perusahaan bisa dikuasai pribumi. Sayangnya, DPKK yang disetor sekitar 5.000 pekerja asing ke kas negara belum menyentuh pekerja lokal. Balai Pelatihan Kerja yang ada di Batam terkesan sepi dari kegiatan.

Pada akhir 2012, pemerintah menerbitkan PP Nomor 97 Tahun 2012 tentang Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Dengan PP itu, pemerintah daerah bisa menarik langsung retribusi tenaga kerja asing dan mengelola uangnya.

Pemerintah Kota Batam menyambut PP itu dengan optimistis dan langsung menyusun Perda IMTA yang disahkan awal Februari 2013.
Sesuai dengan Perda, mulai Maret 2013, tenaga kerja asing yang hendak memperpanjang IMTA diwajibkan membayar retribusi. Besarannya sama dengan DPKK yang dulu dibayarkan ke pemerintah pusat, yaitu 100 dolar AS per bulan.

Pemerintah Kota menargetkan penerimaan kas daerah sebesar Rp 24 miliar per tahun dari retribusi perpanjangan IMTA itu dengan asumsi sebanyak 2.000 orang tenaga kerja asing. Dari penerimaan itu, kata dia, sebanyak 70 persen harus dialokasikan untuk kegiatan pengembangan keahlian dan keterampilan tenaga kerja lokal. Sayangnya ketentuan 70 persen itu baru berlaku setelah lima tahun Perda diterapkan.

Dananya itu bisa digunakan untuk membangun dan mengoperasikan Balai Latihan Kerja untuk meningkatkan kemampuan pekerja lokal. Diharapkan, dengan peningkatan kemampuan maka pekerja lokal dapat menggantikan posisi tenaga kerja asing di perusahaan-perusahaan. Selain itu, dana ini juga dapat digunakan untuk sertifikasi profesi berstandar internasional.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Melintasi Batas Negara 5: Atas Nama Cinta

Anggota DPRD Batam Rizky Solihin
Anggota DPRD Batam Rizky Solihin

Namanya Ricky Solihin. Laki-laki ini adalah anggota DPRD Batam. Meskipun berstatus sebagai anggota dewan, namun ia tidak lagi mencalonkan kembali dalam pemilihan legislatif pada 9 April 2014 ini. Didalam Rakernas III SPEE FSPMI, politisi PKB ini hadir untuk memberikan sambutan.

Solihin memulai sambutannya dengan mengucapkan selamat kepada calon legislatif dari buruh yang terpilih sebagai anggota dewan. Buru-buru ia menambahkan, “Kalau pun itu ada.”

Kami tertawa. Bertepuk tangan sambil serentak mengucapkan satu kata, “Ammin….”

Disaat rekapitulasi suara tengah berlangsung seperti sekarang ini, dimana banyak kader FSPMI yang direkomendasikan menjadi caleg, segala hal tentang pemilu memang menarik untuk dibicarakan. Disinilah kami bisa mentertawakan kegagalan. Bahkan, merayakan kemenangan.

“Tetapi saya dengar banyak yang resah,” Solihin melanjutkan kalimatnya. Caleg buruh belum mendapatkan suara yang maksimal.

“Dicurangi,” teriak seseorang. Kami tersenyum. Bukan rahasia lagi, jika pemilu sarat dengan kecurangan. Apalagi untuk aktivis serikat buruh seperti kami, yang notabene bukan kader partai.

Pemilu juga menjadi pertanda akan hadirnya pemimpin baru. Suasana baru. Semangat baru. Itulah juga yang kita harapkan akan lahir dari gerakan buruh. Apalagi Rakernas kali ini diselenggarakan dalam suasana itu.

Di DPRD Batam, Solihin duduk di komisi empat, yang salah satunya membidangi masalah perburuhan.

“Ini adalah komisi yang paling sering didemo oleh buruh,” katanya. Tetapi ia mengambil hikmah. Seringnya menemui perwakilan buruh yang hendak menyampaikan aspirasi, membuatnya  akrab dengan para pemimpin buruh.

Solihin menuturkan, ia banyak bekerjasama dengan buruh. Terutama dalam melakukan advokasi anggaran untuk melakukan pemberdayaan dan peningkatan keahlian terhadap kaum buruh di Kota Batam. Salah satu capaian yang menonjol adalah, terkait dengan adanya Peraturan Daerah tentang Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing. Dana itu sekarang menjadi kewenangan daerah. Semula, asumsinya Kota Batam akan mendapatkan  pemasukan sebesar 21 milliar. Tetapi pendapatan itu melampaui target. Terkumpul dana sebesar 29 milliar. Dimana seluruh dana ini dipergunakan hanya untuk memberdayakan pekerja di Batam. Bukan untuk yang lainnya.

Sebagai anggota legislatif, Solihin mengaku sering mendapatkan keluh kesah dari berbagai pihak. Seperti, misalnya, dari Ikatan Praktisi Sumber Daya Manusia, Apindo, maupun Kadin. Tak hanya kalangan pengusaha. Hampir semua pihak berkeluh kesah. Buruh berkeluh kesah tentang lambatnya penegakan hukum. Pengusaha berkeluh kesah tentang demo buruh. Pemerintah curhat mengenai aksi-aksi buruh yang cenderung meningkat.

Mengapa setiap orang curhat?

Menurut Solihin, hal itu terjadi karena adanya krisis kepercayaan. Antar pihak tidak lagi saling percaya. Mereka saling curiga. Karena kecurigaan itu, akibatnya, semakin susah untuk menyelesaikan perselisihan. Ketika ada masalah yang muncul, bukan semangat penyelesaian yang dikedepankan. Tetapi kecurigaan dibesar-besarkan.

“Hilangkan kecurigaan itu,” kata Solihin.

Landasan penyelesaian terhadap setiap permasalahan bukanlah kecurigaan. Bukan juga atas dasar kemarahan. Geram. Dendam. Bisa jadi masalahnya sepele. Bisa diselesaikan dengan mudah. Tetapi karena kemarahan yang dikedepankan, justru hal yang mudah itu menjadi semakin rumit.

Seharusnya penyelesaian masalah didasarkan atas cinta. Dengan cinta, hal sesulit apapun akan terasa mudah diselesaikan. Solihin mengajak peserta Rakernas untuk melandasi tindakan dengan kecintaan itu. Termasuk ketika menyusun rekomendasi dalam rapat kerja, agar rekomendasi itu memiliki makna.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Melintasi Batas Negara 4: Sambutan Hangat Teman Seperjuangan

Masing-masing perwakilan SPA FSPMI memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI.
Masing-masing perwakilan SPA FSPMI memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI. Dari kanan: Sulaiman Ibrahim (SPPJM), Hanifah (SPAI), Evi (SPL), dan Suparno GP (SPAMK).

Sebagai sebuah federasi, FSPMI terdiri dari beberapa serikat pekerja anggota. Serikat pekerja yang menjadi anggota FSPMI adalah Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE), Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK), Serikat Pekerja Logam (SPL), Serikat Pekerja Perkapalan dan Jasa Maritim (SPPJM), Serikat Pekerja Dirgantara (SPD), dan Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI). Serikat-serikat itu, meskipun berbeda, sesungguhnya adalah satu. Satu keluarga besar FSPMI.

Sebagai sebuah keluarga, dalam Rakernas III SPEE FSPMI ini juga dihadiri oleh perwakilan SPA FSPMI. Selain sebagai bentuk penghormatan, kehadiran perwakilan masing-masing SPA FSPMI sekaligus juga untuk meneguhkan semangat persatuan.

Pelaksanaan Rakernas masing-masing SPA FSPMI dilakukan dalam waktu yang berdekatan. SPL FSPMI dan SPPJM FSPMI menyelanggarakan Rakernas di Jogjakarta. Rakernas SPAMK FSPMI diselenggarakan di Lombok. Sementara pelaksanaan Rakernas SPAI FSPMI dipusatkan di Surabaya.

Masing-masing SPA FSPMI akan mengirimkan perwakilannya dalam masing-masing Rakernas tersebut. Mewakili SPPJM FSPMI, Sulaiman Ibrahim mengucapkan selamat atas terselenggaranya Rakernas III SPEE FSPMI. Aktivis senior ini berharap, Rakernas dapat melahirkan keputusan-keputusan yang bermanfaat serta strategis bagi organisasi.

“Saya mengingatkan, bahwa generasi yang sekarang ini ada dan Anda sebagai pemimpinnya, karena ada generasi yang lalu. Karena itu saudara mempunyai kewajiban untuk melahirkan generasi yang akan datang. Generasi yang lebih maju dan lebih berkualitas,” kata Sulaiman Ibrahim. Selanjutnya pria yang juga menjadi Ketua DPW FSPMI Provinsi Lampung ini mengingatkan agar peserta Rakernas berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Senada dengan Sulaiman Ibrahim, Supano GP yang hadir mewakili SPAMK FSPMI juga mengucapkan selamat atas terselenggaranya Rakernas III SPEE FSPMI. Evi dan Hanifah, mewakili SPL FSPMI dan SPAI FSPMI berharap agar Rakernas ini mampu menyalakan spirit perjuangan ditubuh FSPMI. SPEE tidak akan pernah mati, sebagaimana tema yang digunakan dalam Rakernas kali ini.

Bagi serikat pekerja anggota di FSPMI, Rakernas memiliki fungsi yang sangat strategis. Dan meskipun diselengarakan di hotel, tetapi didanai sendiri oleh organisasi. Pelaksanaan Rakernas menghabiskan dana ratusan juta. Ini bukan untuk berlebih-lebihan. Tetapi untuk menunjukkan, bahwa SPEE FSPMI adalah organisasi besar dan modern.

Memang disinilah kelas kita, sebagai organisasi serikat pekerja yang disebut-sebuat sebagai lokomotif gerakan kaum buruh di Indonesia. Untuk mengikuti Rakernas ini, peserta dari PC dan PUK dari luar Batam yang ikut dalam Rakernas dikenakan biaya sebesar 3 juta. Sementara peserta dari Batam dikenakan biaya sebesar 1,5 juta. Kita mampu melakukan ini. Mengapa? Karena organisasi dihidupi dari iuran anggota, bukan dari uluran tangan pengusaha maupun penguasa.

Dan karena pelaksanaan Rakernas ini dibiayai dari iuran anggota, catatan pelaksanaan Rakernas ini sekaligus menjadi pertanggungjawaban. Agar mereka tahu seperti apa proses pelaksanaan Rakernas diselenggarakan. Keputusan dan gagasan apa yang dihasilkan.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Melintasi Batas Negara 3: Pantun Penyemangat dari Amzakar Ahmad

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Amzakar Ahmad memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI mewakili Walikota Batam.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Amzakar Ahmad memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI mewakili Walikota Batam.

Spanduk didepan cukup menarik perhatian. Kalimatnya sederhana. Tapi mengena: ‘EE Gak Ada MatinyEE’. Kalimat inilah yang menjadi tema Rakernas III SPEE FSPMI.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tema Rakernas selalu menggambarkan semangat perjuangan. Semacam pesan, bahwa organisasi ini boleh saja diterjang badai. Tetapi disetiap permasalahan yang dihadapi justru akan menempa mereka menjadi semakin dewasa. Bertambah kuat. SPEE FSPMI tak akan pernah mati.

Rakernas III SPEE FSPMI juga dihadiri oleh Walikota Batam yang diwakili oleh Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kota Batam Amzakar Ahmad. Dinas Tenaga Kerja Kota Batam yang diwakili oleh Sriyanto. Anggota DPRD Batam Ricky Solihin dan perwakilan dari SPA FSPMI.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar dan Dialog Motivasi tentang Perspektif dan Tantangan Dunia Usaha yang disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rahmat Gobel.

Dalam sambutannya, mewakili Walikota Batam, Amzakar Ahmad mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Pusat SPEE FSPMI yang telah menunjuk Batam sebagai tempat penyelenggaraan Rakernas. Menurutnya, pilihan untuk menjadikan Batam sebagai tuan rumah Rakernas sangat tepat. Mengingat Batam adalah kota industri yang strategis. Khususnya untuk sektor industri elektronik elektrik.

“Saat ini di Batam terdapat 5.608 perusahaan. Sebagian besar bergerak disektor elektronik elektrik,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kota Batam itu.

Ia berharap, rapat kerja nasional ini akan melahirkan kebijakan organisasi yang berpihak kepada kepentingan pekerja pada satu sisi, dan dunia usaha pada sisi yang lainnya. Menurut Ahmad, sinergisitas antara pekerja dan pengusaha diperlukan oleh bangsa Indonesia untuk memasuki era ASEAN Community 2015.

“Kalau tidak ada harmonisasi antara pelaku dunia usaha, maka ASEAN Community hanya akan memberikan ruang bagi masuknya arus modal, jasa dan tenaga kerja,” katanya.

Terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 ini diharapkan dapat menjawab semua tantangan dan permasalahan yang terjadi pada Negara-Negara yang tergabung dalam keanggotaan ASEAN. ASEAN Community memiliki tiga pilar penting, yaitu ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. Komunitas ASEAN ini semula akan dilaksanakan pada tahun 2020. Tetapi dalam KTT ASEAN di Bali tahun 2013, negara peserta ASEAN sepakat menyelenggarakan “Bali Concord II” atau “Kesepakatan Bali II” lebih awal yaitu tahun 2015.

Dengan begitu tidak ada lagi sekat yang menghalangi arus perdagangan, arus budaya, arus ideologi, dan penegakan hukum di antara negara anggota. Ide ini diharapkan mampu mewujudkan keseimbangan baru di antara negara-negara ASEAN. Dan tentu saja, dikarenakan komunitas ini akan diimplementasikan pada dua tahun mendatang, ASEAN Community 2015 memunculkan persaingan ketat antara negara.

Apalagi, Komunitas Ekonomi ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan juga kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global. Sebagai konsep integrasi ekonomi ASEAN, ASEAN Economic Comunity akan menjadi babak baru dimulainya hubungan antar negara ASEAN sebagai single market dan single production base meliputi free trade area, penghilangan tarif perdagangan antar negara ASEAN, pasar tenaga kerja dan modal yang bebas, serta kemudahan arus keluar-masuk prosedur antarnegara ASEAN.

Jika Indonesia tidak mempersiapan secara matang, ASEAN Community hanya akan menyebabkan daya saing bangsa ketinggalan. Jika kita tidak siap menghadapi ini, tidak menutup kemungkinan nantinya yang mengisi rumah sakit kita adalah dokter-dokter dari Malaysia atau Singapura. Dunia industri kita  akan dipenuhi orang-orang mereka. Begitu juga dengan dosen-dosen kita. Oleh karena itu, menurut Ahmad, Rakernas III SPEE FSPMI ini perlu juga untuk mendiskusikan perihal peningkatan kompetensi dan kompetisi para pekerja.

Terkait dengan upah minimum, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kota Batam juga menjadi salah satu dinas yang iktu serta melakukan survey. Menurut Ahmad, sejauh ini pihaknya selalu melakukan intervensi terhadap harga. Hal ini dilakukan agar inflansi tetap terkendali. Tidak terlalu tinggi.

Bagi saya, ketika Amzakar Ahmad menyinggung tentang upah — meskipun hanya secara singkat — hal itu menjadi indikator bahwa isu perjuangan yang diusung FSPMI sudah menjadi perhatian. Upah sudah menjadi isu penting yang menjadi perhatian khusus bagi para penyelenggara kebijakan.

Amzakar Ahmad mengakhiri sambutannya dengan sebuah pantun: Memancaing ikan diwaktu pagi, dapat seekor ikan kerapu. Harapan saya melalui Rakernas III ini, Serikat Pekerja Metal Indonesia semakin maju.

Sesaat setelah Ahmad membacakan pantun itu, kami memberikan tepuk tangan meriah. Seperti mendapatkan kehormatan, ketika seorang kepala dinas sengaja membacakan sebuah pantun yang khusus ditujukan untuk acara ini.  (Kascey)

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014