Jasa Penulisan Buku

Kita tidak akan pernah bisa untuk kembali hidup di masa lalu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan terhadap masa lalu adalah terus merawatnya, sehingga akan menjadi kenangan yang berharga.

Adapun salah satu cara untuk merawat kenangan adalah dengan menuliskannya kedalam sebuah buku. Dalam buku, tidak hanya kenangan yang bisa kita simpan. Disana kita juga bisa menyebarkan semangat, pemikiran, dan gagasan. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang memetik pelajaran dari apa yang pernah kita kerjakan.

Saya, Kahar S. Cahyono, memiliki pengalaman lebih dari 5 (lima) tahun dalam menulis dan menerbitkan buku biografi, memoar dan sejarah organisasi. Oleh karena itu, apabila Anda memiliki keinginan untuk membuat biografi, memoar, atau sejarah berdirinya organisasi/perusahaan, saya akan membantu Anda untuk mewujudkannya.

Bersama kawan-kawan Jawa Timur, saat saya memperkanalkan buku Sepultura, Sepuluh Tunturan Rakyat. Ini adalah buku memorial saat serikat buruh mendukung salah satu Capres dalam Pemilu 2014.
Kenangan bersama kawan-kawan Jawa Timur, saat saya memperkenalkan buku “Sepultura, Sepuluh Tuntutan Rakyat”. Ini adalah buku memorial, yang menceritakan jejak langkah serikat pekerja ketika mendukung salah satu Capres dalam Pemilu 2014.
Membantu penulisan dan penerbitan buku
Membantu penulisan dan penerbitan buku “Perempuan di Garis Depan”

Saya memiliki ketertarikan yang besar dalam dunia ketenagakerjaan, khususnya mengenai organisasi serikat pekerja. Ini sejalan dengan cita-cita saya untuk membuat dokumentasi tentang gerakan serikat pekerja. Sebuah upaya untuk memperpanjang kenangan, agar dari zaman ke zaman perjuangan serikat pekerja bisa selalu dikenang. Generasi muda, setelah kita, harus tahu apa yang kita kerjakan sekarang.

Maka jangan heran, mayoritas buku yang saya tulis berkaitan dengan sejarah organisasi serikat pekerja. Berikut beberapa jenis buku yang saya tulis:

“Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang”

Ini adalah buku pertama saya mengenai sejarah organisasi serikat pekerja. Saat itu, saya menulis pengalaman aliansi serikat pekerja di Serang, Banten. Buku yang diterbitkan oleh TURC, Tahun 2o10 ini sekaligus menjadi tonggak penting, dalam 5 (lima) tahun karir penulisan saya.

Kenangan saat menjadi pembicara dalam launcing buku yang saya tulis,
Kenangan saat menjadi pembicara dalam launcing buku yang saya tulis, “Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang” di Jakarta Conventian Center, tanggal 14 Oktober 2010.

“Memoar Gerakan Buruh Tangerang”

Saya menulis buku Memoar Gerakan Buruh Tangerang sebagai bentuk penghormatan atas apa yang dilakukan Garda Metal dalam memperjuangkan hak dan kepentingan pekerja di Tangerang. Meskipun saya menuliskam ini beberapa tahun yang lalu, namun sekarang kenangan itu masih tetap sama. Beberapa orang yang kisahnya saya tulis bahkan sudah pulang ke kampung halaman. Namun demikian, kisahnya tetap abadi.

Saya membayangkan, kelak sambil mendudukkan cucunya di pangkuan, ia akan membuka kembali buku sembari bercerita. Kakeknya tidak diam ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata. Dan itu hanya akan terjadi, jika kita menuliskannya…

Kenangan saat menghadiri sebuah diskusi mengenai penulisan buku, di Tangerang.
Kenangan saat menghadiri sebuah diskusi mengenai penulisan buku, di Tangerang.

“Cerita Dari Bekasi”

Dalam buku ini, saya menuliskan jejak berdarah perjuangan buruh terkait upah. Saat itu sedang terjadi mogok nasional, ketika belasan orang buruh bersimbah darah karena dibacok sekelompok orang.

Beberapa buku yang saya tulis berdasarkan kisah, antara lain Perbudakan Modern di BUMN (Kisah Outsourcing di perusahaan-perusahaan BUMN) dan EE Gak Ada MatinyEE (Kisah Rakernas SPEE FSPMI di Batam – Singapura)

Dengan menuliskannya kedalam buku, sejatinya kita sedang menolak lupa.
Dengan menuliskannya kedalam buku, sejatinya kita sedang menolak lupa.

Tak Hilang Ditelan Zaman”

Tidak hanya tema-tema berbasis wilayah (kota), saya juga menulis sejarah organisasi serikat pekerja di sebuah perusahaan. Beberapa buku yang saya tulis mengenai tema-tema ini, antara lain Tak Hilang Ditelan Zaman (PT. MTU) dan Diary Anggota FSPMI (PT. SGS).

Tak Hilang Ditelan Zaman, merupakan buku sejarah organisasi serikat pekerja di sebua perusahaan peleburan baja di Tangerang.
Tak Hilang Ditelan Zaman, merupakan buku sejarah organisasi serikat pekerja di sebuah perusahaan berbasis logam di Tangerang.

.

Hubungi Saya

Tidak hanya menuliskan sejarah organisasi serikat pekerja Anda, saya juga akan membantu dalam proses penerbitan buku tersebut. Membuat cover buku, layout, pengurusan ISBN, hingga percetakan.

Diluar kegiatan menulis, beberapa kali saya juga tampil sebagai pembicara dalam kegiatan pelatihan menulis. Bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, kita tahu itu. Dan sebagai keterampilan, menulis pun bisa dipelajari.

Anda tertarik?

Saya bisa dihubungi melalui beberapa cara berikut ini:

  • Facebook Kahar S. Cahyono
  • HP/WA: 0859 45731398
  • BB: 76BB3169
  • E-mail: kahar.mis@gmail.com

Tengah Malam di Puncak

Kami bersama kawan-kawan Tim Media FSPMI tengah menikmati malam di Puncak, Bogor.
Saya dan kawan-kawan Tim Media FSPMI tengah menikmati malam di Puncak, Bogor.

Menjelang tengah malam, kami yang terdiri dari belasan cowok keren digiring kepala suku, Iwan Budi Santoso menuju puncak. Awalnya saya bersemangat. Mengira di malam satu suro ini ia akan memperlihatkan kepada kami cara mencuci keris pusaka miliknya.

Tetapi perkiraan saya keliru. Ia mengatakan, “Ini bagian dari caraka malam.”

Oalah, jauh-jauh dari daerah datang ke Cisarua hanya diminta untuk ikut caraka. Mau gimana lagi, sebagai pengikut kami terpaksa manut. Apalagi Iwan dikelilingi para centeng, Sayed Masykur dan Gue Herveen.

Sementara kami kebanyakan dari kami berasal dari daerah. Ada kawanRumah Rakyat dan Ipang Kusumo Asmoro Diharjo dari Jawa Timur sertaBung Darmo Juwono dari Kepulauan Riau. Lainnya, berasal dari DKI Jakarta (Agung Andrasta Djangkaru), Tangerang ( Kiki Ayah Arief dan Ramadhani F. Chuky). Ikut bersama kami seorang kawan dari Aceh, Depok, dan Bekasi.

Berbincang hingga pagi
Berbincang hingga pagi

Puncak, tengah malam itu dingin. Anak-anak muda duduk bergerombol. Sebagian berdua-duaan. Duduk berdekatan. Jalanan basah. Beberapa saat yang lalu baru saja turun hujan. Setidaknya ada sedikit hiburan, terlebih ketika menyadari dengan berjalan kaki bisa menghangatkan badan. Ditambah dengan hati yang emosi, kami seperti mendapatkan api.

Melihat saya menggigil, Herveen yang membawa selimut tebal dari kamar tempat kami menginap terlihat nyaman. Dengan senyumnya yang manis, ia menawari saya berada dalam satu selimut. Saya mendelik. Emang saya cowok apaan?

Setelah puas berada di puncak, kami kembali ke penginapan. Tiba jelang pukul 3 dini hari dan langsung menuju tempat tidur. Tak biasanya, saya bermimpi. Kali ini tentang rencana pemerintah yang sudah memastikan akan segera mengesahkan RPP terkait upah yang isinya semakin menjauhkan buruh dari cita-cita sejahtera.

Ketika saya terbangun dan mengingkat kembali kejadian semalam, saya masih berharap itu hanya sekedar mimpi….

‪#‎SelamatkanUpahBuruhIndonesia‬
‪#‎TolakUpahMurah‬
‪#‎SUBITUM‬

IMG_9527

Tragedi Gelas Pecah (3)

Ketika saya datang, beberapa orang sedang tiduran di tenda perjuangan. Sebagian yang lain bermain remi. Tetapi tidak sedikit yang sedang ngobrol dengan kawan sendiri. Wajah-wajah lelah terlihat dari raut muka mereka. Saya bisa memahami. Pemogokan yang mereka lakukan sudah memasuki bulan ketiga, tetapi tanda-tanda penyelesaian belum juga terlihat nyata.

Mereka menggelar tikar. Kami duduk melingkar. Setelah itu ngobrol ngalor-ngidul, terutama yang terkait dengan kasus yang sedang mereka hadapi.

“Sebenarnya tidak ada keinginan dari kami untuk melakuan mogok kerja. Cukup pemogokan yang kami lakukan pada tahun 2012 lalu,” katanya.

Kemudian ia menuturkan, sebelum perundingan pembaharuan PKB sempat menyampaikan. “Kalau saja ada itikad baik dari kedua belah pihak, tidak sampai seminggu perundingan sudah bisa selesai.”

Ketika asyik ngobrol, seseorang menanyakan apakah saya bersedia dibuatkan kopi.

“Kopi hitam ya,” jawab saya.

Tak berapa lama, ia mengantarkan kopi panas dalam segelas plastik.

“Apa sih yang dituntut dalam pemogokan ini,” saya rasa, ini adalah pertanyaan paling penting untuk ditanyakan.

Ada empat tuntutan dalam mogok kerja yang mereka lakukan: Pengusaha wajib menaikkan upah tahun 2015 sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PKB, batalkan PHK dan pekerjakan kembali pekerja bagian Fit Mate serta bayarkan upah mereka, dan hentikan semua perselisihan pembaharuan PKB periode 2015 – 2106. Satu lagi yang menjadi tuntutan kami, hentikan dan cabut kasus pidana terhadap pengurus.

“Apakah kasus pidana yang dimaksud terkait dengan tragedi gelas pecah itu?” Tanya saya.

Dia membenarkan. Detak jantung saya berdetak lebih kencang. Seperti ada sesuatu yang membetot emosi. Kriminalisasi?

“Padahal di hari ketika kejadian tersebut, kedua belah pihak sudah saling memaafkan. Bahkan Ketua Tim Perunding dari pihak pengusaha sudah menyampaikan jika tidak akan ada pelaporan kepada pihak kepolisian,” keluhnya.

Kemudian dia bercerita tentang mogok kerja yang dilakukannya pada tahun 2012. Alasan pemogokannya hampir sama dengan sekarang. Terkait dengan perundingan PKB yang tidak berhasil mencapai kesepakatan. Hanya, memang, di tahun 2012 itu mogok kerja baru berjalan 2 hari, saat kedua belah pihak sudah tercapai titik temu.

“Ada pihak yang menyalahkan mogok kerja yang kami lakukan,” keluhnya. Alasannya macam-macam. Mulai dari PUK arogan, kurang sabar, hingga tidak tahu diri karena kondisi ekonomi sedang terpuruk. Bahkan ada anggota yang membelot. Tidak ikut dalam pemogokan.

Dia membantah semua tuduhan itu.

“Perundingan bipartit mengenai kenaikan upah kami lakukan sebanyak 17 kali. Sejak tanggal 5 Maret 2015 sampai dengan 2 Juli 2015. Selama kurang lebih 4 bulan kami berunding, tetapi tidak berhasil mencapai kesepakatan. Kurang sabar apa kami?”

Berdasarkan ketentuan pasal 3 ayat (3) UU No. 2 Tahun 2004, apabila selama jangka waktu 30 hari telah dilakukan perundingan tetapi tidak tercapai kesepakatan, maka perundingan bipartit dianggap gagal.

“Perundingan yang kami lakukan bukan hanya 30 hari. Tetapi berlangsung lebih dari 120 hari,” tegasnya.

Tidak hanya tentang upah. Perundingan PKB bahkan sudah dilakukan sebanyak 41 kali. Terhitung sejak pembahasan tata tertib, tanggal 27 Oktober 2014.

“Tuntutan kami tidak berlebihan. Kami hanya menghendaki kenaikan upah sesuai dengan isi PKB,” tuturnya. Mediator Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor bahkan sudah memerikan anjuran agar pengusaha melaksanakan/mentaati isi PKB. Tetapi anjuran itu tak diindahkan. (*)

Tragedi Gelas Pecah (2)

“Insya Allah siap jemput di Rambutan,” begitu pesan pendek yang saya terima, ketika dia mengetahui rencana perjalanan saya ke Bogor.

“Merepotkan tidak, Bung?”

“Aman. Tidak merepotkan,” jawabnya.

Begitulah, banyak sekali kemudahan yang saya dapatkan. Ketika saya membutuhkan data-data awal, dengan segera saya dikabari jika data tersebut sudah dikirim. Lalu tanpa diduga sebelumnya, seseorang menawarkan diri untuk menjemput saya.

Mendatangi sebuah destinasi yang sama sekali belum pernah dikunjungi sebelumnya, bagi saya sudah biasa. Dalam hal ini, saya tidak merasa canggung ketika harus melakukannya sendirian. Justru dengan begitu, saya bisa lebih mendalami apa yang sesungguhnya terjadi. Semacam melakukan espedisi, perjalanan ilmiah ke sebuah daerah untuk menangkap sebuah kisah.

“Kami mulai melakukan mogok kerja sejak tanggal 4 Agustus 2015,” katanya. Setelah beberapa saat terdiam, dia melanjutkan kata-katanya, “Dan recananya baru akan kami akhiri pada tanggal 4 Agustus 2016. Atau lebih cepat dari itu jika Pengusaha memenuhi tuntutan kami.”

Bersama kawan-kawannya, dia berada di tenda perjuangan yang didirikan di depan perusahaan. Disana, mereka berjaga 24 jam. Terbagi dalam 3 sift.

“Sudah lama ya,” kata saya. Tak jelas, apakah ini pernyataan atau sebuah bertanyaan.

“Tepatnya baru 69 hari,” dia meluruskan.

69, sesuatu terlintas dalam pikiran. Dan dalam waktu itu, baginya masih baru.

“Mengapa harus mogok?” Saya langsung menuju inti persoalan.

Dia tidak segera menjawab. Matanya menerawang jauh kedepan. Seperti sedang mengumpulkan segala ingatan yang ia punya untuk merangkai cerita. Saya diam. Sabar menunggu apa yang hendak ia katakan.

Dalam hening itu, lagi-lagi seperti ada yang sedang memanggil-manggil dengan suara yang ganjil: Upah – PKB – Gelas – Pecah – Polisi – Tersangka – Mogok – PHK – Cilengsi – Bogor.

Saya memejamkan mata dan menutup telinga. Apa yang salah dari sebuah perundingan tentang upah? Adakah yang susah dari usaha untuk melakukan pembaharuan PKB, toh perundingan seperti ini bukan terjadi untuk pertamakali. Berapa rupiah harga gelas yang pecah itu, sehingga menutupi hati untuk mencari menang-kalah?

Ketika suara-suara itu semakin kecang, tiba-tiba saya terhuyung. Seperti ada yang menendang dari belakang. Terhuyung dan jatuh.

Saya bangun dan melihat sekeliling. Istri saya sedang tidur pulas, tepat di samping saya. Rupanya, tadi, tanpa sengaja gerakan kakinya menimpa badan saya. Tak berlama lama kemudian terdengar adzan Shubuh berkumandang…. (*)

Tragedi Gelas Pecah (1)

Berawal dari cerita seorang teman di Tangerang yang akan dilaporkan ke Polisi, karena ada hasil produksi yang rusak. Apa yang disebut beberapa kawan sebagai bentuk kriminalisasi itu bukan yang pertamakali terjadi. Saya mencoba mengingat-ingat, tetapi benar-benar lupa. Kapan dan dimana peristiwa yang persis sama pernah ada.

Lelah mengingat sesuatu yang sudah terhapus dalam memori, tiba-tiba saya seperti mendapat bisikan gaib: ‘tragedi gelas pecah’.

Pasca mendengar bisikan itu, saya gemetar. Kata-kata itu terus berkelebat dalam benak saya. Seperti sedang memanggil-manggil dengan suara yang ganjil.

Gelas – Pecah – Polisi – Tersangka – Lintec – Cilengsi – Bogor.

Saya membulatkan tekad untuk kesana. Masalahnya adalah, Cilengsi – Bogor adalah daerah yang asing bagi saya. Maka saya kontak Iwan, Ketua Tim Media FSPMI untuk menanyakan apakah di Bogor ada tim yang bisa dihubungi. Bagaimanapun, saya membutuhkan seseorang yang bisa menjadi penunjuk jalan.

Iwan merekomendasikan Selamet. Tetapi setelah coba saya hubungi beberapa kali, saya tidak berhasil tersambung dengannya.

Lalu saya ingat Willa. Seorang tokoh, yang untuk sementara ini bolehlah disebut sebagai penguasa Bogor. Kepadanya saya minta nomor kontak orang lapangan yang bisa dihubungi.

Dari Willa, saya mendapatkan nomor Supri. Setelah saya simpan, dari foto profil di WA, saya tahu beberapa kali pernah bertemu dengan Supri. Hanya, memang, tidak pernah berbincang mesra dengannya.

Dari sini komunikasi antara kami terjalin.

Melalui surat elektronik, Supri memberikan data yang cukup banyak kepada saya. Lebih dari cukup untuk bisa memahami bagaimana tragedi itu bisa terjadi. Bagi sebagian orang, bisa jadi data-data itu hanya berupa lembaran kertas. Tetapi bagi saya, tidak. Disana tersimpan kisah yang luar biasa indah. Tentang keberanian, keteguhan, dan sikap pantang menyerah.

Baru kemarin, saya terhubung dengan Saipul Anwar. Saipul inilah, bersama rekannya, Prasetya Sulaiman Ali dituduh melakukan pengrusakan. Kini ia menjadi tersangka. Sejak 30 Juli 2015, keduanya dikenakan tahanan kota.

Dari ujung telpon, Saipul Anwar terdengar bersahaja. Ach, saya selalu berasa bahagia mengetahui seorang kawan di seberang sana sedang baik-baik saja. Padahal, disini saya sedang mengkhawatirkannya. Nampaknya ia sudah tahu jika saya akan menghubungi dirinya.

“Bung Supri yang memberitahu,” katanya.

Dan saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk melakuan perjalanan ke Bogor. Mungkin tidak hari ini, tetapi dalam waktu yang tidak lama lagi. (*)