Konsolidasi Menjelang Aksi

Konsolidasi, menjadi rutinitas yang erat dengan kegiatan organisasi serikat buruh. Bahkan menjadi kata kunci. Disinilah penguatan dilakukan. Setiap anggota dipacu dan didorong untuk memiliki partisipasi konkret untuk memajuan organisasi.

Dokumentasi ini memang sudah agak lama. Tahun 2011 lalu. Namun, saya merasa ini baru dilakukan kemarin. Sesuatu yang senantiasa terkenang. Baca lebih lanjut

Iklan

Bedah Buku dan Motivasi Menulis untuk Pekerja/Buruh

Ruko Sastra Plaza
Minggu, 01 April 2012 | Jam 10.00 s/d 12.00

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kalimat ini diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang sangat fenomenal itu. Pramoedya menulisnya saat berada di pembuangan tahanan politik di Pulau Buru.

Napoleon Bonaparte pernah berkomentar: “Aku lebih suka menghadapi seribu tentara daripada satu orang penulis”. Ya, seorang jenderal bisa mengerahkan kekuatan seribu tentara, tapi seorang penulis bisa saja menginspirasi ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang untuk melakukan perlawanan. Baca lebih lanjut

5 Kecenderungan Alamiah Seorang Pekerja/Buruh

Sampai hari ini saya masih belum bisa mengerti, jika ada pekerja lebih memilih untuk bergabung dengan serikat pekerja yang direkomendasikan oleh pengusaha ketimbang serikat pekerja yang dibentuk murni dari kalangan pekerja. Alasan klasik, untuk menghindar dari resiko yang mungkin terjadi, buat saya terlalu mengada-ada. Apakah mereka hendak menggadaikan martabat dan masa depannya dengan ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan itu: takut di PHK, takut diintimidasi, dikurangi upahnya, takut tidak naik pangkat, takut melarat?

Saya sadar, di negeri ini, membentuk serikat pekerja itu gampang. Keluar dari serikat pekerja lama, dan bergabung dengan serikat pekerja yang lainnya, juga semudah membalikkan telapak tangan. Sama sekali tidak ada masalah dengan hal ini. Jika memang semuanya diniatkan dan didedikasikan untuk kejayaan kaum pekerja. Baca lebih lanjut

Untuk Apa Bersolidaritas?

Mengapa harus ikut-ikutan bersolidaritas jika di pabrik sendiri saja belum sejahtera. Jika pelanggaran normatif masih tetap saja ada. Bukankah akan lebih baik jika kita fokus pada permasalahan di pabrik sendiri? Jangan terlalu banyak memikirkan pabrik orang, sehingga disini tak kunjung terselesaikan. Terbengkalai.

Mengapa harus ikut-ikutan bersolidaritas jika perundingan kenaikan gaji di pabrik sendiri belum terselesaikan. Ikut-ikutan aksi dan berlagak sok pahlawan, tapi diri sendiri menjadi bulan-bulanan majikan. Bukankah akan lebih baik jika kita fokus pada keberhasilan sendiri. Jangan terlalu banyak aksi diluar, di dalam pun masih berantakan. Baca lebih lanjut

Seperti Memakan Buah Simalakama

Kemarin saya mendapat kabar, ada seorang kawan yang dipaksa mundur dari pengurus serikat pekerja oleh pimpinan perusahaan, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Lebih dari itu, dia juga adalah seseorang yang dulu membantunya sehingga bisa bekerja di perusahaan ini. Dan atas nama balas budi itulah, permintaan untuk mundur dari kepengurusan serikat pekerja itu disampaikan. Tentu saja diselingi kalimat tendensius: jika masih ingin menganggap sebagai saudara.

Menggunakan orang-orang terdekat kita, untuk menghalang-halangi kita aktif dalam organisasi serikat pekerja sudah sering terjadi. Bahkan sangat biasa. Oleh karena itu, semestinya kita juga sudah menyadari jauh-jauh hari akan kemungkinan ini, sehingga bisa mengantisipasi. Baca lebih lanjut

Kegembiraan di Akhir Pekan

Apa yang dilakukan buruh ketika liburan Sabtu dan Minggu? Pertanyaan ini begitu menggelitik perhatian saya, ketika membaca sebuah status di Facebook tentang kegembiraan menyambut malam minggu. Hari, yang oleh anak muda, disebut sebagai jadwal ”wakuncar”. Waktu kunjung pacar.

Akhir pekan memang selalu menyenangkan.

Disinilah, barangkali, kita bisa melakukan jeda dari rutinitas yang menyergap hari-hari kita. Inilah hari, dimana kita bisa leluasa bercengkrama dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang tercinta. Menikmati debur ombak di pinggir pantai, menyusuri punggung gunung, atau menghabiskan wakti di mall-mall. Ini memang menjadi hari, dimana kita bisa menjadi diri sendiri. Tidak lagi disibukkan oleh rutinitas kerja. Baca lebih lanjut

Semalam di Pulau Untung Jawa

Sabtu hingga Minggu (3 – 4 Maret 2012), saya menghadiri Konsolidasi Garda Metal Tangerang Raya di Pulau Untung Jawa. Kegiatan yang menarik, apalagi diselenggarakan di sebuah pulau yang eksotis, dalam gugusan kepulauan seribu.

Memang hanya dua hari. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rentang waktu yang sedemikian panjang, dimana perjuangan kaum buruh senantiasa menghiasi lembaran sejarah di sepanjang zaman. Tetapi setidaknya, dua hari ini mampu menghidupkan kembali semangat dan keyakinan pada sebuah cita-cita. Mampu mempertemukan dengan kawan-kawan lama, yang nyaris tidak bisa terwujud dalam hari-hari biasa.

Ini bukan tentang kenangan pada keindahan pantainya yang asri. Bukan juga tentang malam-malam yang terlewati tanpa mimpi. Tetapi tentang sebuah harapan dan cita-cita besar yang tak pernah pudar. Seperti ombak, yang setia merengkuh sang pantai. Baca lebih lanjut