14 Tahun

Di penghujung bulan Juni 2019 ini, usianya genap 14 tahun. Dia yang dulu kemana-mana selalu ikut, kini memiliki dunianya sendiri. Bahkan beberapa kali menolak ketika diajak.

Saat pulang ke Blitar atau Palembang naik bus, bergantian dengan uminya, saya memangkunya sepanjang perjalanan. Saat itu dia masih kecil. Dan rasanya seperti baru kemarin.

Meski tidak terlalu sering, dia suka menulis. Saya kira, gejolak jiwa mudanya akan lebih baik jika ditumpahkan dalam kata-kata.

Namun demikian, saya tidak menutupi kekhawatiran terhadap. Terlebih di tengah pergaulan zaman now.

Tentu saja, sebagai orang tua, saya punya harapan besar terhadapnya. Namun demikian, ia memiliki harapannya sendiri. Merdeka terhadap cita dan asanya sendiri.

Selamat berulang tahun, Fadllan. Panjang umur dengan segala kebaikan.

Iklan

Dalam Pelukan Alam Raya

Tempat paling nyaman berada di pelukan alam raya. Dalam dekapan pepohonan, hembusan angin, kicau burung, rintik hujan, hingga embun pagi yang menghadirkan warna-warni puisi.

Karena itulah, ketika senggang kami suka melakukan perjalanan. Seringkali tidak ada rencana hendak kemana. Kadang bahkan spontan. Mengisi bensin dengan penuh, lalu berjalan begitu saja.

Sekali dua kali, perjalanan itu berujung di pantai. Menyusuri hutan bakau atau menyapa laut. Dan tentu saja, tak ketinggalan melakukan ritual zaman kiwari: selfie.

Bagi saya, perjalanan adalah sebuah percintaan. Satu ruang yang memungkinkan kita untuk terus bergandengan tangan, saling mendekat, dan sama-sama memastikan sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Siman

fb_img_1465467682767

SIMAN. Panggil saja begitu. Usianya tidak lagi muda. Tahun ini, genap 60 tahun.

Seusia itu, dia tidak mau pensiun dari tempatnya bekerja.

“Saya masih kuat bekerja. Buat apa minta pensiun?” Ujar buruh dari sebuah pabrik yang berlokasi di Semarang ini, ketika saya menanyakan mengapa di usianya yang sudah senja dia tidak istirahat saja.

Siman juga anggota Garda Metal. Dia bahkan tecatat sebagai angkatan pertama dalam Latsar Jawa Tengah. Melihatnya mengenakan kaos berkerah yang dimasukkan kedalam celana jeans, dengan rambut panjang dan kalung perak khas Garda Metal, tidak sulit menyimpulkan bahwa dia memang berjiwa muda.

“Saya ingin memberi contoh kepada yang muda-muda.” Mendengar itu, saya menepuk pundaknya. Dia pria yang bersahaja.

Tidak sekedar memberi contoh. Siman memang layak dicontoh. Orang tua yang memahami arti tanggung jawab. Dia tidak menjadi egois dengan mengatakan kini giliran anak muda, kemudian hanya duduk di belakang meja. Siman hadir untuk memberikan spirit, bahwa perjuangan tak kenal usia. (*)