Optimis, Apa Susahnya?

Beberapa minggu belakangan ini, saya bertemu dam berdiskusi dengan banyak teman. Tentang beragam hal. Dari isu perburuhan, jaminan sosial, organisasi, hingga politik. Diskusi memang tidak serta merta merubah kondisi di negeri ini menjadi lebih baik. Namun setidaknya, dari sini kita bisa menemukan cahaya, yang akan menuntun langkah kita agar tidak tersesat di tengah jalan.

Ada, memang, jiwa-jiwa yang sudah terlalu pesimis. Melihat dunia hanya dari sisi negatif, bahwa segala kebobrokan ini adalah realita yang semestinya diterima begitu saja. Tidak perlu memikirkan orang lain. Apalagi melakukan sesuatu untuk mereka. Diri sendiri saja masih banyak cela. Begitu sebagian dari mereka berpendapat.

Sikap seperti ini, dalam taraf tertentu bisa dimaklumi. Bahkan, bisa jadi baik. Ini bentuk kewaspadaan, juga kesadaran. Pemetaan yang cermat terhadap sebuah masalah, bahwa memang ada sisi kelam dalam kehidupan ini. Masalahnya adalah, jika kemudian sikap seperti ini justru mendominasi pikiran, yang teraplikasi dalam tindakan. Baca lebih lanjut

Iklan

“Kematian Ruyati, Juga Kematian Rakyat Karena Tidak Adanya Jaminan Sosial di Negeri Ini”

Ruyati masih saja menjadi pemberitaan di berbagai media. Perempuan ini dihukum qisas, dipancung setelah divonis bersalah karena membunuh majikan dan tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Mati memang takdir. Tetapi bagi Ruyati, banyak sisi lain yang menjadi sorotan. Bukan saja soal bagaimana nyawa terpisah dari raga, tetapi juga fakta tak terbantahkan dari buruknya diplomasi dan kinerja pemerintahan di negeri ini.

Dalam tulisannya, pemerhati sosial budaya yang tinggal di Jakarta, Djoko Suud Sukahar mengatakan, kini masih ada 23 WNI lagi yang akan menghadapi ancaman serupa. Dan itu baru di Saudi Arabia. Belum yang tersebar di negara-negara lain. Memang kita malu disebut sebagai ‘negara babu’. Tapi karena pemerintah tak kunjung berbenah, memanfaatkan kekayaan negeri ini digunakan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini, maka rasa malu itu menjadi tragic-komedi. Malu tapi mau apalagi karena terpaksa.

Ya, sebuah keterpaksaan. Ungkapan ini, saya kira tepat untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi. Mengingat keterbatasan lapangan pekerjaan di negeri yang pernah disebut-sebut sebagai zamrud di khatulistiwa ini. Jika saja ada, niscaya mereka tidak berminat menjadi babu di negeri orang. Baca lebih lanjut

Kabar dari Rakernas I SPAI-FSPMI (3): Tiga Tahap Pengembangan SPAI

Sebuah maha karya dibangun dari hal-hal yang kecil. Setahap demi setahap. Melalui proses dan dinamika panjang. Ia tidak ada dengan sendirinya, tidak pula dengan tiba-tiba.

Itu pula yang terjadi, ketika kita hendak membangun gerakan buruh yang kuat dan disegani. Tidak mudah, memang, tetapi bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk diwujudkan.

Satu hal yang pasti, teruslah melangkah. Sebab itulah satu-satunya cara agar kita bisa sampai pada tujuan dan cita-cita.

Keberanian untuk terus melangkah inilah yang saat ini sedang dilakukan oleh kawan-kawan di SPAI. Kendati banyak keterbatasan, tetapi mereka terus melangkah kedepan. Bediam diri dan hanya mengeluh, adalah sikap bodoh yang sempurna. Tidak memberikan perubahan apapun. Baca lebih lanjut

Kabar dari Rakernas I SPAI-FSPMI (2): ”Jadikan FSPMI Sebagai Lokomotif Gerakan Buruh Indonesia”

”Diskusi kita adalah bagaimana membangun gerakan buruh Indonesia. Bukan hanya membangun FSPMI. Sebab jika hanya FSPMI yang kuat, maka hanya akan menjadi seperti debu di padang pasir. Tetapi kalau gerakan buruh Indonesia kuat, maka kaum buruh akan memiliki posisi tawar yang menentukan. Jika perjuangan ini bisa mengantarkan buruh Indonesia menjadi sejahtera, sudah tentu buruh-buruh FSPMI juga akan sejahtera.”

Kalimat panjang di atas, saya kutip dari kata-kata Presiden FSPMI, Said Ikbal, saat memberikan sambutan dalam Rakernas I SPAI di Training Center FSPMI. Sebuah tempat istimewa di Cisarua, yang menjadi kawah candradimuka (pusat pendidikan dan kaderisasi) kader-kader FSPMI. Sebuah tempat yang bersejarah, mengingat tidak banyak serikat buruh di Indonesia yang memiliki Training Center, yang dibeli oleh anggotanya sendiri.

Kehadiran SPAI, adalah salah satu bagian dari upaya untuk membangun basis gerakan. Basis gerakan yang kuat adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi, jika ingin menjadikan FSPMI sebagai lokomotif gerakan buruh Indonesia. Tanpa anggota yang militan dan loyal terhadap organisasi, semua itu hanya akan menjadi retorika semata. Ini bukan sekedar pepesan kosong, sebab sejatinya, kerja-kerja inilah yang saat ini sedang kami lakukan. Baca lebih lanjut

Menuju Gerakan Sosial dan Politik (5): Membangun Kemandirian Gerakan

“Saya dulu takut melihat orang pakai dasi. Tetapi setelah ikut Omah Tani, sekarang saya tidak takut lagi. Disini saya diajari untuk tidak takut kepada orang. Toh mereka sama-sama makan nasi.” Rangkaian kalimat ini keluar dari bibir wanita tengah baya, anggota Omah Tani, ketika memperkenalkan dirinya dalam Lokakarya Gerakan Serikat Buruh Nasional di Batang.

Untuk sebagian orang, bisa jadi kalimat itu biasa saja. Namun tidak bagi saya, yang mendengar secara langsung bagaimana wanita ini saat mengucapkannya. Di telinga saya, kalimat itu tidak hanya sekedar kata-kata. Ia memiliki ruh. Mungkin karena diucapkan dengan hati, dan didasari atas sebuah refleksi atas apa yang mereka alami selama ini. Ada kejujuran disana. Getaran suaranya, seolah memberi pesan ini muncul karena sebuah kesadaran.

Berbicara tentang kesadaran, seringkali kita terjebak kedalam perdebatan panjang. Apalagi jika itu disampaikan dengan perspektif negatif, sehingga yang mengemuka hanyalah keluhan. Ini biasanya, terkait dengan rendahnya kesadaran buruh untuk berorganisasi. Terkait dengan minimnya kesadaran kaum buruh untuk memperjuangkan nasibnya. Lantas, kita hanya sibuk disitu, dan tidak melakukan apa-apa. “Percuma memberikan penyadaran kepada orang yang tidak pernah mau sadar,” kalimat pasrah, sebagai pembenaran untuk menyerah. Baca lebih lanjut

Kabar dari Rakernas I SPAI-FSPMI (1): FSPMI Milik Pekerja/Buruh di Semua Sektor Industri

Rapat Kerja Nasional Pertama (Rakernas I) Serikat Pekerja Aneka Industri – Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAI – FSPMI) yang diselenggarakan di Training Center FSPMI tanggal 2 – 3 Juni 2011 memang sudah usai. Dan meskipun para peserta sudah kembali ke daerah masing-masing, bukan berarti semua agenda selesai sampai disini. Sebaliknya, ini adalah awal bagi serikat pekerja yang masih belia ini untuk bekerja lebih keras untuk mewujudkan cita-cita perjuangannya.

Sejatinya saya ingin menulis tentang Rakernas ini sejak jauh-jauh hari. Apalah daya, ada banyak pekerjaan yang membentang. Dan baru hari ini, semua keinginan itu bisa diwujudkan.

Semangat ini penting untuk dijaga, dan terus dihidupkan. Sebab Rakernas sejatinya adalah forum konsultasi, koordinasi, konsolidasi dan evaluasi tingkat pimpinan pusat dalam rangka keterpaduan dan koordinasi program dan pengembangan organisasi. Dengan kata lain, Rakernas bukan untuk Rakernas itu sendiri. Tetapi adalah kerja nyata, untuk mewujudkan semua berbagai program kerja, agar tidak hanya tertulis di atas kertas.

SPAI memang fenomenal. Dia lahir dari rahim FSPMI yang sudah bisa dikatakan mapan secara gerakan dan organisasi. Menjadi bagian dari lokomotif gerakan buruh Indonesia, sekaligus memposisikan diri sebagai ‘pembebas buruh yang tertindas’. Inilah yang kemudian membuat kita semua sadar akan pentingnya kerja keras dan kerja cerdas untuk bisa menyusul ketertinggalan. Setidaknya untuk menyamai serikat pekerja anggota FSPMI yang sudah lama eksis, seperti Serikat Pekerja Logam (SPL), Serikat Pekerja Elektronik-Elektrik (SPEE), maupun Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK), hingga Serikat Pekerja Perkapalan dan Jasa Maritim (SPPJM). Baca lebih lanjut

Menuju Gerakan Sosial dan Politik (4): Mengedepankan Prasangka Baik

Tulisan saya tentang Menuju Gerakan Sosial dan Politik 1 sampai 3 menuai beragam tanggapan. Beberapa mengatakan, ini adalah tulisan yang penting. Menjadi semacam laporan atas study banding ke Batang, melihat langsung bagaimana petani disana mengelola sebuah gerakan sosial dan politik. Informasi ini penting, agar pelajaran berharga ini tidak saja dimiliki segelintir orang. (Setidaknya mencoba lebih baik dari anggota DPR yang tidak pernah transparan melaporkan hasil studi bandingnya, hehe…)

Ada, memang, yang menyebut tulisan ini sebagai pesanan. Hanya untuk mempopulerkan kelompok tertentu. Untuk itu perlu saya tegaskan disini, saya memang memiliki maksud tertentu setiap kali menulis. Saya kira tidak perlu lagi diperdebatkan, tulisan merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pikiran. Dan sebagai orang yang terlibat secara langsung dalam dinamika gerakan, tidak berlebihan jika kemudian saya menggunakan media ini untuk bersuara.

Jika kemudian ada kelompok tertentu yang diuntungkan karena tulisan ini, semestinya tidak perlu iri. Saya kira, kita harus belajar sportif. Memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan organisasi/lembaga lain, jika memang itu positif. Bukannya malah menutup mata, hanya karena yang melakukan kebaikan itu bukan dari kelompok kita. Merasa benar sendiri, dan senantiasa mengerdilkan orang lain, justru akan menjadi kan diri kita kerdil. Atau dalam bahasa sebagian peserta lokakarya, kita mesti membangun saling percaya. Baca lebih lanjut