Sepasang Suami Istri Yang Sedang Berdiri di Depan Papan Informasi

foto 1

Laki-laki itu, ditemani istri dan anaknya datang ke kantor Disnaker. Yang pertamakali mereka tuju adalah papan informasi. Tempat pengumuman lowongan kerja ditempel. Didalam pengumuman itu, kita bisa membaca, ada beberapa perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Seperti tukang las, sopir mobil box, hingga untuk menempati posisi personalia.

Seingat saya, sejak beberapa minggu yang lalu, pengumuman yang ada di papan informasi itu-itu saja. Tak ada perubahan. Sepertinya informasi tentang adanya perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja sebagaimana yang tertulis di papan pengumuman hanyalah formalitas saja. Sementara kebutuhan akan tenaga kerja sudah terpenuhi dibawah tangan. Biasalah, jaman sekarang. Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah? (Ini sih hanya ada dalam pikiran nakal saya. Tetapi tentang suami istri yang mencari kerja itu kejadian yang sesungguhnya.)

Laki-laki itu membaca setiap informasi dengan seribu harapan. Seperti halnya puluhan pencari kerja yang lain, upayanya sia-sia. Ia berharap, informasi itu benar dan nasib baik datang menghampiri. Ia bisa menjadi salah satu yang direkrut oleh perusahaan itu. Tetapi siapa yang peduli?

Istrinya membantu mencari.

Barangkali diantara lowongan yang tersedia, ada yang sesuai dengan keahlian sang suami.

Tak berapa lama kemudian, suami istri itu seperti sedang mendiskusikan sebuah informasi yang tersaji dipapan pengumuman itu. Nampaknya informasi yang tertulis di pojok kiri bawah menarik perhatiannya. Kini, buah hatinya yang saya taksir baru berumur satu tahun dan sedari tadi berada dalam gendongan mamanya berganti dalam pelukan sang ayah.

Menyaksikan keluarga ini begitu takzim membaca pengumuman lowongan pekerjaan, ada getar yang terasa dalam dada saya.

Barangkali sang suami baru saja di PHK. Mungkin karena habis masa kontraknya. Mungkin karena perusahaannya tutup. Mungkin saja karena kesalahan yang diperbuatnya.

Sementara kehidupan harus tetap berlanjut. Susu buat si kecil harus tersedia dan untuk itu penghasilan tak boleh terputus. Belum lagi untuk bayar kontrakan dan biaya makan. Bisa jadi, semalam tadi ia berdiskusi dengan istrinya tentang rencana-rencana. Termasuk upayanya hari ini mencari peruntungan: berburu pekerjaan.

Karena itu, pagi ini, ia mencari informasi ke Disnaker. Barangkali ada rejeki yang ia dapat disini.

Dan memiliki istri yang bersedia menemani suaminya disaat sulit seperti ini, sungguh sangatlah membahagiakan.

Istrinya, meski sambil menggendong si kecil, setia menemani suaminya mencari peruntungan. Karena ia sadar, dari sinilah masa depan keluarga kecilnya dipertaruhkan. Kegagalan sang suami mendapatkan pekerjaan, sama artinya hari-hari yang akan datang dilaluinya dengan kelabu. Dunia memang tak akan berakhir dengan itu. Tetapi jelas, kehidupan yang akan dilaluinya tak semudah dulu. 

Dan meskipun tertatih. Pada akhirnya mereka akan bisa melaluinya.

Saya sangat dekat dengan kehidupan orang-orang seperti ini. Yang kehilangan pekerjaan. Yang tertatih menjalani kehidupan. Sementara keberadaan Negara yang ia harapkan turun tangan ketika rakyatnya berada dalam kesusahan justru menjadi seperti bidadari. Hanya indah dalam ilusi. Proses penyelesaian perselisihan tak semudah yang ia bayangkan.

Dalam situasi seperti ini, satu-satunya yang ia miliki adalah harapan.

Karena itulah hingga saat ini saya masih bertahan di serikat pekerja. Saya tak bisa jauh dengan kehidupan mereka. Meskipun banyak orang membenci keberadaan serikat, tetapi pada saat yang lain kehadirannya ditunggu. Dirindukan, bahkan.

Berapa banyak buruh yang memiliki kepastian kerja karena perjuangan serikat? Berapa banyak buruh yang mendapatkan upah layak setelah serikat bergerak? Berapa banyak buruh yang bisa diselamatkan dari pemutusan hubungan kerja karena serikat menuntut bela?

“Tetapi ada buruh yang di PHK karena ikut serikat pekerja?” Protes mereka.

Saya tak membantah itu.

Tetapi satu hal yang harus dimengerti, tujuan serikat bukan untuk membuat seorang buruh di PHK. Tujuan serikat adalah menciptakan kesejahteraan bagi buruh dan keluarganya. Perjuangan serikat adalah untuk kepastian kerja, kepastian pendapatan dan jaminan sosial. PHK pasti akan terjadi: dengan atau tanpa serikat pekerja.

Serikat yang benar, adalah serikat pekerja yang berjuang agar majikan tak segampang itu mem-PHK.

Ketika hari ini saya mengingat kembali keluarga kecil yang sedang mencari informasi lowongan kerja, saya menjadi semakin yakin akan pentingnya memiliki serikat yang kuat. Serikat yang mampu memberikan perlindungan, pembelaan, dan perjuangan terhadap anggotanya yang terancam PHK. Akan menjadi sia-sia, jika mereka yang sudah bekerja begitu gampang kehilangan pekerjaan, sementara untuk memasuki dunia kerja sulitnya bukan kepalang.

Dengan tulisan ini saya ingin mengingatkan, perjuangan serikat pekerja adalah perjuangan agar seorang buruh bisa tetap bekerja.

Catatan: Sebelumnya tulisan ini pernah dimuat di Website FSPMI

Iklan

Sebuah Sensasi yang Tak Ingin Dimiliki Sendiri

Sahabatku, Herman….

Barangkali masih banyak diantara mereka yang tak pernah mengerti, mengapa kau akhirnya mengambil pilihan sulit seperti ini. Dengan posisi itu, setidaknya kau sudah cukup nyaman sebagai seorang karyawan: memiliki jabatan, upah lebih tinggi dengan berbagai fasilitas yang diberikan perusahaan.

Tapi kau memiliki pilihan sendiri. Ketika kawan-kawanmu mengajak bergabung dengan serikat pekerja, tanpa pikir panjang engkau mengiyakan. Tak hanya tercatat menjadi anggota, bahkan, engkau juga menjadi salah satu pengurus dengan posisi strategis: Sekretaris.

Lantang kau sampaikan protes ketika hak kawan-kawanmu tak diberikan, meski engkau sudah mendapatkan lebih dari yang mereka dapatkan. “Ini bukan tentang saya. Ini tentang keadilan. Bahwa setiap manusia harus dihargai kemanusiaannya,” katamu sore itu. Saat kita ngopi bareng di pinggir danau Citra Raya.

Kau cerdas. Juga berani. Itulah barangkali yang kemudian membuat management memecatmu. Memandang dirimu sebagai ancaman yang harus disingkirkan.

Lalu orang-orang berkata, “Tuh, tahu sendiri akibatnya. Sudah enak-enak kerja kok banyak tingkah.” Sebagian dari mereka, adalah orang yang pernah kau bela ketika haknya dirampas oleh Pengusaha.

Barangkali kita perlu memberi tahu orang-orang seperti ini tentang bagaimana menjadi manusia. Kalian bisa saja menjadi penjilat dan cari muka, tetapi percayalah, cara-cara picik seperti itu hanya akan menyesakkan dada. Tak mungkin ada kebahagiaan pada ‘robot bernyawa’ yang tak memiliki kepribadian. Percayalah….

Dan kau, Herman, beri tahu mereka bahwa ada sensasi luar biasa ketika kita terjatuh dan mendapati lutut kita berdarah. Ketika itu terjadi, tak usah buru-buru bangun lagi dan kembali berlari. Mereka punya kesempatan untuk istirahat dan menyaksikan bagaimana luka-luka menjadi kering dengan sendirinya, seperti kata-kata buruk yang hilang dari kepala dan rasa sakit hati yang pelan-pelan tiada bukan karena kita telah memaafkannya tetapi karena kita makin pelupa. Begitu Fahd Djibran menulis.

Kemudian, setelah rasa sakit itu pergi, kita pasti akan kembali berlari. Lebih cepat lagi, karena setiap pengalaman yang kita miliki akan menempa jiwa kita menjadi lebih berarti.

Selamat pagi, Her. Mari kita rayakan akhir pekan ini.

Sahabatmu,
Kahar S. Cahyono

“Biar saja mereka tak bersedia disebut buruh…”

Diskusi bersama kawan-kawan Sentraco Garmindo
Diskusi bersama kawan-kawan Sentraco Garmindo

Pernyataan ini saya dengar dari seorang kawan. Ia, beberapa kali menegaskan kepada saya bahwa dirinya bukanlah buruh. Kawan saya ini lebih suka menyebut dirinya sebagai karyawan professional. Seseorang yang melakukan pekerjaan, lebih karena tuntutan profesi. “Tentu saja, karyawan dan buruh adalah dua hal yang berbeda,” katanya.

Memang, saat kata “buruh” disebut, seringkali yang tergambar dalam benak banyak orang adalah mereka yang bekerja dibalik dinding pabrik, tinggal di rumah petak/kontrakan, tereskploitasi, tukang demo, lembur hingga tengah malam akan tetapi tetap saja tidak mampu menutup kebutuhan hidup. Sementara, kawan saya, saat ini bergaji lima kali lipat dari UMK Jakarta. Tidak perlu berdesakan di metromini atau bus kota, karena perusahaan memberikan fasilitas mobil untuk memudahkan aktivitasnya.

Saya tidak akan berdebat soal istilah disini. Alasannya sederhana saja. Sebab setiap orang boleh menyebut apa saja tentang dirinya: pegawai swasta, karyawan, kuli, buruh, pekerja, bahkan profesional sekalipun.

Silahkan, kata mana yang nyaman digunakan untuk menyebut statusnya. Namun satu, selama ia masih bekerja dan mendapatkan upah dari orang lain, ia tidak bisa mengelak untuk dikategorikan sebagai buruh.

Jadi, bila ada yang berkata, “Saya bukan buruh,” hanya semata-mata dirinya telah mendapatkan gaji besar dan kedudukan tinggi di perusahaan, jangan terlalu risau. Apalagi iri hati. Bukankah cita-cita pendiri republik ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua warga negara?

Hanya, memang, seharusnya semua itu diimbangi dengan pengetahuan tentang siapa dirinya. Buruh itu apa dan harus bagaimana? Apa benar hanya dengan menuntut kenaikan gaji sudah cukup? Bagaimana dengan pemahaman ekonomi politik?

Foto-foto dibawah ini adalah saat saya, M. Rasukan dan Suhirman (keduanya pengurus PC SPAI FSPMI Tangerang) berdiskusi dengan buruh Sentraco Garmindo pada hari Kamis, 23 Januari 2014, kemarin. Saya senang bisa menjadi bagian dari buruh yang melawan. Mereka tidak mengiba sebagai korban. Dan semakin saya dekat dengan mereka, saya semakin menyadari bahwa begitu banyak harapan yang bertebaran.

2

3

4

5
Catatan Perburuhan: Kahar S. Cahyono

Belajar Setia Kawan dari Buruh GSI

Sedang berada di tenda juang kawan-kawan GSI (Good Service Indonesia)
Melakukan kunjungan ke tenda juang kawan-kawan Good Service Indonesia (GSI). Rabu, 22 Januari 2014.

Untuk kawan-kawan Good Service Indonesia.

Saya tahu, sebagai buruh, saat-saat seperti ini adalah saat-saat sulit dalam kehidupan kalian. Kalian harus tetap berjuang meski tak lagi mendapatkan gaji. Harus tetap datang ke pabrik yang sudah tutup itu, meski harus berhutang untuk sekedar biaya transportasi. Semua itu kalian lakukan karena sebuah keyakinan, bahwa perjuangan harus tetap dilanjutkan.

Berhenti disini, berarti kehilangan eksistensi.

Ketika saya berkunjung ke tenda juang kalian, di pagi yang gerimis itu, banyak kisah yang kalian ceritakan kepada saya. Bermula ketika pada bulan Desember, diakhir tahun 2013, management mengumumkan penutupan perusahaan. Informasi itu sangat mendadak. Mengejutkan. Dan karena hak kalian sebagai buruh belum diberikan hingga sekarang, sejak saat itu kalian menduduki perusahaan. Sebuah tenda perjuangan kalian dirikan disamping gerbang perusahaan: antara got dan tembok pabrik.

Disinilah kalian menguatkan simpul kebersamaan. Dua puluh empat jam secara bergantian.

“Di Undang-undang kan sudah diatur jika buruh yang di PHK harus mendapatkan pesangon. Seharusnya perusahaan sudah sejak dulu menyisihkan keuntungannya untuk cadangan dana pesangon. Bukan seenaknya saja main menutup pabrik dan begitu gampangnya bilang rugi tanpa bersedia membayar pesangon karyawan,” ujar seorang pria berusia 56 tahun yang siang itu ikut ngobrol bersama saya di tenda juang GSI. “Biar tua gini, sedikit banyak saya tahu tentang undang-undang,” ucapnya kemudian.

Saya senang mendengar penuturan pak tua ini. Meski tak sempat menanyakan nama, tetapi saya melihat ada semangat menyala didalam binar matanya.

Buruh Good Service Indonesia (GSI) bergabung dengan Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPL FSPMI) sekitar bulan April 2013. Sebelum bergabung dengan FSPMI, sebenarnya di GSI sudah berdiri serikat pekerja yang lain. Akan tetapi sejak dua tahun yang lalu, serikat pekerja yang pertama ditinggalkan anggota. Pasalnya serikat pekerja ini dianggap gagal memperjuangkan hak-hak buruh.

“Saat itu perusahaan melakukan pemutihan. Buruh ditawari satu kali ketentuan dan dipekerjakan kembali sebagai buruh outsourcing. Sejak saat itulah hak-hak kami mulai dikurangi,” kenang mereka.

Pak tua tadi, salah satu orang yang menerima pemutihan. Pertimbangannya, seperti yang ia ceritakan kepada saya, saat itu usianya sudah 54 tahun.

Ketika ada yayasan dan sebagian besar karyawannya adalah outsourcing, perusahaan outsourcing itu memiliki peran yang besar. Sejak saat itulah, perusahaan yang sebelumnya tidak pernah membayar upah buruh lebih rendah dari UMK, kini mulai berani membayar upah buruh dibawah ketentuan yang ditetapkan Undang-undang. Banyak hak-hak lain yang tak diberikan. Pemecatan menjadi sangat mudah dilakukan. Maklum, mereka hanya berstatus sebagai buruh outsourcing.

Merasa kondisi kerja mereka dari tahun ke tahun semakin memburuk, muncullah gagasan untuk kembali menghidupkan serikat pekerja. Ide untuk menghidupkan kembali serikat pekerja yang pernah ada bukannya tanpa kendala. Banyak buruh GSI sudah trauma dengan serikat pekerja. Apalagi jika harus bergabung kembali dengan serikat yang lama.

Setelah melalui serangkaian diskusi, akhirnya disepakati bergabung dengan FSPMI. Proses bergabungnya relatif lama. Berminggu-minggu, bahkan. Tak mudah mengembalikan kepercayaan kepada buruh-buruh yang sudah terlanjur kecewa untuk kembali berserikat. Apalagi mayoritas dari mereka berstatus sebagai karyawan outsourcing.

Kekhawatiran di PHK jauh lebih besar ketimbang harapan akan lahirnya sebuah perubahan.

Benar saja. Setelah bergabung dengan FSPMI dan memberitahukan ke perusahaan, beberapa orang di PHK. Pembelaan segera dilakukan. Meskipun pengusaha bersikeras itu bukan karyawan mereka, tetapi ada penyimpangan dalam penggunaan tenaga kerja dari perusahaan jasa tenaga kerja.

Belum selesai pembelaan terhadap buruh yang di PHK, kabar mengejutkan itu datang, di akhir tahun 2013. Pengusaha menyatakan perusahaan tutup, karena sudah dijual ke orang lain. Mereka hanya bersedia membayar pesangon untuk karyawan tetap, itu pun dibawah ketentuan. Sedangkan untuk buruh kontrak dan outsourcing, hanya diberikan konpensasi ala kadarnya.

Tentu saja, buruh tak terima. Dalam situasi seperti ini, mereka bersatu padu. Bahkan buruh yang sebelumnya menolak diajak bergabung dengan serikat pun kini bersedia ikut serta. Barangkali mereka sadar, bahwa hak harus didapatkan. Tak mungkin perjuangan untuk mendapatkan hak yang tak diberikan itu hanyak dilakukan sendirian.

Dari 70-an karyawan, yang menyadang gelar sebagai karyawan tetap dan memiliki hubungan kerja secara langsung dengan GSI hanya 6 orang.

Beberapa hari yang lalu, sebenarnya sudah ada perundingan antara serikat dengan pihak management. Pengusaha sebenarnya bersedia membayar pesangon yang 6 orang. Akan tetapi, 6 orang ini menolak. “Kami meminta seluruh hak karyawan dibereskan. Bukan hanya yang 6 orang, tetapi untuk seluruh karyawan,” kata ketua PUK.

Saya bergetar mendengarnya: 6 orang untuk 60-an orang. Mereka tak egois. Mereka mengajarkan kepada kita arti setia kawan.

Hingga sekarang, buruh GSI masih tetap melawan. (Kascey)

Catatan: Tulisan ini pernah diterbitkan di website FSPMI