Tak Perlu Marah Hanya Karena Berbeda

Kahar S. Cahyono

Kawan-kawan yang baik, saya rasa kita tidak perlu marah hanya karena melihat sahabat atau teman dekat kita memiliki pilihan yang berbeda. Karena, memang, perbedaan adalah keniscayaan yang tak terbantahkan. Apalagi jika itu menyangkut pilihan politik. Selain soal Capres, saya rasa kita masih bisa bersepakat dalam banyak hal.

Perbedaan tidak harus menjadikan terbelah: ‘kita’ dan ‘mereka’.

Cukuplah kita menegaskan, ini sikap kami. Sambil terus mengorganisir dukungan. Memastikan bahwa cita-cita perjuangan itu bisa diwujudkan.

Pilihan kita memang tidak sempurna. Sebab jika engkau mencari yang sempurna, percayalah, itu tidak akan pernah ada.

Tetapi satu hal yang pasti, pilihan kita adalah yang paling ideal. Ideal sebagaimana kriteria yang telah kita sepakati. Ideal karena kita percaya, ia akan menjadi seperti yang kita minta. Ideal karena kita sendirilah yang menentukan standardnya. Bukan orang lain.

Dan jika kita percaya pilihan kita adalah yang terbaik, mengapa risau dengan yang orang lain pilih?

Dia yang sedang mencemoohmu, sesungguhnya sedang ragu dan galau dengan pilihannya itu. Bagaimana mungkin orang yang yakin dengan pilihannya sendiri melakukan cara-cara tidak terhormat untuk mempengaruhi? Cara-cara seperti itu hanya membuang-buang energi. Pun tidak akan mendapatkan simpati. 

Saya percaya pada gerakan massa. Percaya bahwa perubahan akan terjadi jika ada organisasi yang mengupayakan perubahan itu, bukan individu yang bergerak. Disini, di FSPMI, saya merasakan bahwa gerakan itu adalah gerakan kita semua. Karena itulah, kita dikenal dengan satu komando.

Ini menjadi bukti, bahwa gerakan kita bukan gerakan orang per orang. Ketika kemudian organisasi memutuskan untuk mendukung Prabowo – Hatta, saya pun mengambil tanggung jawab. Ikut mendukung apa yang sudah diputuskan oleh organisasi.

Jadi, organisasi adalah kata kunci. (*)

Mari Bicara Idiologi

Deklarasi Rumah Indonesia (Jum`at, 9 Mei 2014)
Deklarasi Rumah Indonesia (Jum`at, 9 Mei 2014)

Idiologi KSPI adalah Pancasila. Titik!

KSPI bukan penganut paham sosialis. Bukan organisasi kiri. Tidak belebihan jika kemudian setiap langkah dan keputusan yang diambil terinspirasi dari sila-sila yang yang ada didalam Pancasila. Didalam beberapa kesempatan, Presiden KSPI Said Iqbal pun menegaskan jika KSPI memperjuangkan ]kemanusiaan yang adil dan beradab serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita ingin keadilan itu menjadi milik semua orang. Bukan hanya segelintir orang. Dan ketika berbicara tentang keadilan sosial, saya kira itu adalah intisari dari Pancasila.

Untuk memperjuangkan apa yang dicita-citakan, KSPI menggunakan strategi KLAP: Konsep – Loby – Aksi, yang kemudian ditambahkan dengan strategi Politik. Ketika ada yang mengajarkan agar KSPI menggunakan cara-cara konfrontasi dan pertentangan kelas, tentu saja organisasi ini tidak menerima.

Strategi KLAP dipergunakan KSPI dengan penuh kesungguhan. Sebagai contoh, bersama-sama dengan element yang lain, KSPI mengkonsolidasikan kekuatan untuk memperjuangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Kita tahu, sikap inilah yang kelak melahirkan Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS). Sebuah aliansi strategis yang membawa kelas buruh menjadi lebih terhormat dan disegani.

Awalnya, tidak sedikit yang mencibir. Bahkan terang-terangan meragukan kemampuan KSPI dalam melakukan konsolidasi gerakan. Dan kemudian sejarah mencatat, KAJS berhasil.

Keputusan untuk melakukan mogok nasional dua kali diambil oleh KSPI. Dengan segala resiko yang dihadapi. Mengabaikan tekanan dari banyak pihak yang menginginkan agar pemogokan dibatalkan.

Ketika memperjuangkan upah sektoral, ada juga yang menuding itu akan memecah belah buruh. Sebab bagi buruh, dimanapun mereka bekerja, kebutuhan hidupnya tetaplah sama. Tidak adil jika upahnya dibeda-beda. Tapi mereka lupa, realitasnya kemampuan perusahaan tidaklah sama. Tetapi KSPI tidak berkecil hati, ia tetap konsisten memperjuangkan upah layak.

Diluar itu semua, KSPI adalah organisasi yang independent. Setiap keputusan yang diambil oleh organisasi ini tidak ada yang dipengaruhi oleh pihak luar. Selalu didasarkan pada mekanisme yang telah ditetapkan dalam AD/ART. Keputusan untuk go politics – yang kemudian mendukung Prabowo Subianto sebagai Presiden RI – juga dilakukan melalui mekanisme Rapat Kerja Nasional. Ini bukan pribadinya Said Iqbal. Ini adalah strategi KSPI untuk memperjuangkan cita-citanya: membangun negara kesejahteraan (welfare state).

“Kita tidak bisa lepas dari penilain orang lain ketika berkiprah di ranah publik,” kata Said Iqbal, ketika siang itu kami ngobrol santai di Sekretariat DPP FSPMI.

Dengan kata lain, jika tidak ingin dinilai oleh orang, jangan bergerak ke ranah publik. Jangan melakukan apa-apa – tidurlah di rumah. Tentu saja, itu adalah sikap yang keliru. Karena jika serikat buruh hanya melulu bekerja ditingkat pabrik, maka ia tidak bisa berkonstribusi lebih besar untuk mengubah kebijakan negara. Kebijakan tentang jaminan sosial, upah, pendidikan, perumahan, semua itu adalah kebijakan publik. Pada titik ini, menjadi penting bagi kaum buruh untuk go politics.

Iqbal membantah jika keputusan untuk mendukung Prabowo disebut sebagai ambisi pribadi.

“Saya ingin mengatakan, kepentingan kita diatas segala-galanya,” ujarnya. Kemudian ia melanjutkan, “Ketika nanti Prabowo menang dalam Pilres, kemenangan itu juga sekaligus untuk memperjuangman kepentingan kaum buruh.”

Pendek kata, kalau 10 tuntutan tidak menjadi ukuran bagi kinerja Presiden, KSPI memastikan akan berada digaris depan oposisi. Dan itu sudah biasa dilakukan oleh organisasi ini.

KSPI memiliki gagasan dan cita-cita. Dan inilah cara organisasi ini memperjuangkannya:independent but not netral. (Kascey)

Tulisan ini pernah diterbitkan di koranperdjoeangan.com: http://www.koranperdjoeangan.com/mari-bicara-idiologi.html

Mengambil Tanggung Jawab

 

Kahar S. Cahyono

Saya anggota FSPMI-KSPI. Dalam pemahaman saya, serikat adalah tempat untuk mengikat individu-individu. Itulah sebabnya, saya meletakkan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadi. Dan ketika pada tanggal 1 Mei 2014 organisasi memutuskan untuk memberikan dukungan politik kepada Capres Prabowo Subianto, saya pun tunduk dan patuh kepada keputusan organisasi. Ikut mengambil tanggung jawab untuk mendukung kebijakan itu.

Sikap saya jelas. Tidak abu-abu. Atau sekedar menghindari kritik-tekanan-pertanyaan dengan mengatakan tidak terlibat dalam polarisasi itu. Bermain di dua kaki. Politik adalah pilihan. Dan pilihan itu sudah dijatuhkan.

Saya tidak mengatakan bahwa apa yang saya lakukan ini adalah tindakan professional. Tidak. Saya ingin bilang, bahwa sebagai seorang kader, saya ikut mengambil tanggung jawab. Saya bukan pecundang yang meninggalkan gelanggang ketika organisasi ini membutuhkan penjelasan atas sikap politik yang telah diambilnya.

Sebagai penulis, bisa saja saya membuat tulisan yang indah-indah hanya untuk menyenangkan semua orang. Mendapat pujian dan diminta membubuhkan tanda tangan pada buku yang diterbitkan. Dan ketika sikap politik ini saya ambil, beberapa kawan mengirimkan pesan. Seorang diantarannya memaki dengan kasar. Saya mengambil resiko itu. Termasuk resiko ketika nantinya pilihan politik ini justru bertolak belakang dengan cita-cita perjuangan.

Kita baru bisa melihat benar tidaknya sebuah strategi, nanti, setelah jadi. Bukan sekarang. Seperti halnya kita baru akan menuai, setelah menanam. Bukan ketika masih dalam tahap mempersiapkan lahan.

Mereka bilang KSPI ditunggangi. Respon pertama ketika mendengar itu, hanya ‘nyengir kuda’. Bagaimana mungkin ditunggangi jika ratusan ribu anggotanya mampu bergerak dan memenuhi GBK dengan biaya sendiri?

Tak banyak yang bisa melakukan ini. Bahkan partai politik yang memiliki anggaran milyaran rupiah sekalipun!

Tidak ada yang sia-sia, selama kita percaya pada gerakan massa. Selama kontrol sosial tetap bekerja.

Kahar S. Cahyono
Serang, 2 Mei 2014