Memaknai Bicaralah Perempuan

Ketika membaca pengumuman audisi menulis “Asma Nadia Inspirasiku’ di Leutika Publisher, saya merasakan betapa lagit di atas kepalaku membahana oleh suara: tulis – tulis – tulis…. Saya pernah kehilangan energi yang sedahsyat ini, namun hari ini, serasa menemukannya kembali. Hanya, memang, kali ini benar-benar berbeda. Saya seperti menjadi bensin yang tersulut api, kobaran semangat itu menyala dengan dahsyatnya. Jangan tanya kenapa, ini saya akan menjelaskan….

Pertama, belakangan ini saya mengetahui ada banyak sekali lomba menulis yang diselenggarakan oleh lembaga maupun perorangan. Meskipun banyak yang tidak saya ikuti, namun informasi ini sesungguhnya membuat semangat saya untuk terus menulis tetap terjaga. Saya paham, tanpa ada lomba pun, peluang menulis sangat terbuka. Mengingat ada sekian banyak media massa dan penerbit yang siap untuk menampung karya-karya kita. Akan tetapi lomba menulis jelas lebih menantang. Setidaknya, dengan memenangkan sebuah perlombaan, kita bisa mengklaim sebagai juara. Baca lebih lanjut

Iklan

Menulis Kejayaan FSPMI (4)

Dalam satu kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan yang pernah menjadi anggota serikat pekerja. Menurutnya, saat ini serikat pekerja sudah ‘dibajak’. Serikat Pekerja sudah tidak lagi menjadi alat untuk memperjuangkan kesejahteraan anggota dan keluarganya, tetapi serikat pekerja menjadi alat untuk kesejahteraan para pengurusnya.

Saya tidak segera menanggapi pernyataan itu. Sebagai pengurus serikat pekerja, tentu saja saya tersinggung. Saya diam, sebab saya merasa bahwa pernyataan itu bukan ditujukan kepada saya, jadi enjoy aja…. Baca lebih lanjut

Menulis Kejayaan FSPMI (3)

Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana saat pertamakali mendirikan FSPMI di tempat saya bekerja, PT. Sanex Qianjiang Motor Int`l, Tbk. Ketika itu, motor Cina sedang jaya-jayanya. Bung Mulyono (almarhum), yang dipercaya sebagai ketua PUK meminta saya menjadi Bendahara.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana awalnya, tiba-tiba diminta menjadi bendahara. Dalam rapat-rapat persiapan sebelumnya, bahkan saya sama sekali tidak dilibatkan. Diberitahu pun tidak. Belakangan saya mendapat jawaban, bahwa hal itu dilakukan teman-teman karena posisi saya yang saat itu sebagai staff PPIC dianggap lebih pro ke manajemen. Baca lebih lanjut

Menulis Kejayaan FSPMI (2)

Waktu terus bergerak. Kemarin sudah menjadi kenangan. Hari ini kenyataan, dan esok segera datang. Begitupun dengan FSPMI, selalu bergerak. Sudah tak terhitung berapa banyak jiwa-jiwa ikhlas yang dinamis terus merangsak mengibarkan panji-panji kebesaran organisasi. Dan memang harus begitu, sebab organisasi yang didirikan untuk membela, melindungi, serta mempejuangkan hak dan kepentingan anggota ini menjadikan gerakan sebagai roh dari perjuangan. Bukan dengan retorika, sebab permasalahan kaum buruh tidak akan pernah selesai dengan hanya melalui kata-kata.

“Bung, tolong agar saya tidak sampai di PHK. Saya masih memiliki banyak hutang dan tanggungan,” senja itu seorang anggota dengan suara bergetar berkata kepada saya. Tidak sendirian, anggota tadi datang ke rumah bersama istri dan ketiga anak balitanya. Baca lebih lanjut

Menulis Kejayaan FSPMI (1)

Menjelang pelaksanaan Kongres Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Munas SPA-FSPMI pada tanggal 7 – 9 Februari 2011 di Bandung, Jawa Barat, hati dan jiwa saya bergetar. Ya, bergetar. Karena ini adalah kegiatan yang besar. Disinilah seluruh program kerja dan konstitusi organisasi akan dievaluasi dan ditinjau ulang. Saat pesta demokrasi – dalam konteks organisasi serikat buruh – digelar untuk menentukan Presiden FSPMI, juga para Ketua Umum SPA-FSPMI.

Saya tidak hendak mengajarkan bagaimana kita musti bersikap dewasa dalam kongres dan munas nanti. FSPMI adalah organisasi serikat pekerja yang modern. Itu adalah prestasi kita bersama. Oleh karenanya, saya begitu percaya bahwa tidak ada satu pun diantara kita yang tega melihat organisasi ini akan tercabik dan luka. Apapun itu, semua akan bekerja untuk kejayaan FSPMI tercinta. Baca lebih lanjut