Catatan Cinta di Hari yang Fitri

Dear kawan-kawan,

Mungkin hanya kalimat ini yang bisa kurangkai, tuk mewakili betapa dalamnya kata maaf yang hendak kuhaturkan pada dirimu. Harusnya aku berlari menghampirimu. Menjabat erat tanganmu dalam hangatnya genggaman. Tapi nyatanya, hanya melalui media ini kita dipertemukan di malam yang fitri ini.

Tetapi kita sama-sama sadar, yang terpenting adalah substansi. Terlalu sering kita mendengar pidato yang berbusa-busa, janji yang setinggi langit, tetapi jika itu hanya ‘omdong’, maka tidak akan menghadirkan makna apa-apa. Kita sudah sama-sama sering belajar, untuk mempercayai seseorang dari apa yang dikerjakan, bukan pada apa yang dikatakan. Itulah sebabnya, aku berharap, ini tidak mengurangi rasa hormatku pada kalian.

Dari detik ini kukatakan, aku sangat menyayangi kalian. Mengutip kalimat Hilal Ahmad, denganmu aku seperti senja yang tak akan pernah meninggalkan langit, seperti putik yang tak akan membiarkan kelopak bunga menjadi sunyi. Aku bangga bisa mengenal kalian, sosok hebat yang telah banyak memberikan inspirasi. Biar kuceritakan padamu tentang satu kisah…. Baca lebih lanjut

Iklan

“Biarkanlah Begitu, Tetaplah Berbuat Baik”

Aku paham dan juga merasakan kalian semua dengan keihkhlasan perjuangkan upah orang lain setinggi mungkin tapi kalian tidak merasakan. perjuangkan martabat orang setinggi mungkin tapi martabat kalian direndahkan. perjuangkan jaminan kesehatan dalam kesakitan. perjuangkan agar tak ada yang terPHK tapi kalian korban. perjuangkan THR tapi kalian hanya dapat terima kasih. lalu semua berjalan seperti semestinya.Kalimat di atas ditulis dalam status Facebook Obon Tabroni, Ketua Umum SPAI FSPMI, tepat pada tanggal 24 Agustus 2011, pukul 13:22. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari tulisan itu. Tetapi karena ditulis dalam situasi dan kondisi yang tepat, ia menjadi terasa lebih bermakna. Meresap kedalam jiwa.

Tulisan ini mengingatkan akan realitas kawan-kawan FSPMI yang terserak dari cabang dan pusat, tulis Obon, dalam satu komentarnya. Ya, saya juga merasakan hal yang sama. Membaca tulisan itu, refleks ingatan kita akan bertaut pada wajah-wajah yang telah menghibahkan sebagian besar tenaga dan waktunya, meski mereka tahu, ini bukan semata-mata untuk kepentingan diri pribadinya. Baca lebih lanjut

Menulis Sejarah: Di Bawah Pohon Bambu

Hingga hari ke-26 Ramadhan, ketika banyak kawan mulai melakukan perjalanan mudik, saya mulai merasakan sepi. Kota ini nyaris mati. Jauh-jauh hari saya sudah merencanakan untuk menghabiskan liburan disini, tidak ikut mudik. Ach, saya merasa, ada momentum yang hilang untuk kali ini. Meskipun, situasi ini justru membuat saya memiliki banyak waktu untuk berefleksi dan melakukan instropeksi diri.

Sepanjang Ramadhan ini, saya mengikuti beragam kegiatan. Mulai dari FGD Needs Analysis FSPMI di Jakarta, Mimbar Rakyat di Tangerang, lokakarya gerakan serikat buruh di Batang, mendampingi salah satu PUK dalam mediasi di Tangerang Selatan, terkait gugatan kawan-kawan PLMB di PHI Serang, hingga menghadiri berbagai kegiatan konsolidasi yang dirangkai dengan buka puasa bersama, yang hampir saban hari ada.

Dari beragam aktivitas tersebut, yang masih terus membekas dalam ingatan saya adalah saat mengikuti kunjungan solidaritas yang dilakukan kawan-kawan FSPMI – Garda Metal Tangerang – ke salah satu PUK yang sedang bermasalah. Ini dilakukan semalam. Dimulai menjelang berbuka, hingga masuk waktu sahur. Baca lebih lanjut

Mencatat Kemenangan (kecil)

Serikat buruh, semestinya memposisikan diri sebagai pemimpin dalam gerakan sosial. Pernyataan ini tidak berlebihan, karena memang, buruh dengan serikat-nya adalah komunitas yang lebih terorganisir. Serikat buruh memiliki basis yang jelas, dan juga, dari mereka bisa ditumbuhkan adanya kesadaran kelas.

Banyak, memang, yang meragukan buruh-buruh di Indonesia mampu melakukan peran itu. Setidaknya untuk saat ini. Mereka justru senang memaparkan dalam berbagai seminar dan diskusi, bahwa serikat buruh di Indonesia menuju pada jurang perpecahan. Semakin terfragmentasi. ”Buktinya, saat ini saja ada ratusan serikat buruh yang terdaftar di tingkat nasional,” begitu mereka sering memberikan argumen.

Saya, sebagai orang yang setiap hari hidup dan berkecimpug dalam gerakan serikat buruh, tidak hendak berpolemik lebih jauh terhadap hal ini. Ketimbang mempebesar sikap pesimisme dan apatis terhadap masa depan gerakan buruh Indonesia, yang terpenting sekarang adalah melakukan langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Baca lebih lanjut

Virtual Meeting: Langkah Cerdas Membangun Gerakan


Sabtu malam, 6 Agustus 2011 kemarin, saya kira menjadi hari yang istimewa. Ini adalah untuk pertamakalinya, Serikat Pekerja Aneka Industri – Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAI-FSPMI) melakukan – apa yang disebut Ketua Umum SPAI Obon Tabroni sebagai – Virtual Meeting berbasis facebook. Ini bukan hal yang baru, sebenarnya. Tetapi kali ini, dilakukan secara lebih terorganisir. Jika dikembangkan secara serius, ada peluang bisa menjadi media alternatif dalam melakukan konsolidasi.

Saya tidak hendak mengatakan Virtual Meeting ‘edisi percobaan’ ini berjalan sempurna tanpa kendala. Tetapi sebagai sebuah awalan, ini adalah capaian yang layak untuk diapresiasi. Disana ada cita-cita besar. Inilah yang harus dijaga. Agar kedepan, kita bisa mengambangkan ini menjadi sebuah alternatif dalam melakukan komunikasi dan koordinasi dengan anggota FSPMI yang tersebar di berbagai provinsi.

Lebih dari itu, ini adalah langkah cemerlang, yang efisien dalam segala hal. Bayangkan, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di facebook, kita bisa tetap berkomunikasi dengan banyak kawan dari berbagai daerah yang saling berjauhan. Baca lebih lanjut