Sikap

Ketika melakukan perjalanan sejauh apapun, pada akhirnya kita akan kembali. Bahkan saat mengunjungi destinasi yang mengesankan, setelah itu akan dihadapkan pada realita yang sama. Tidak berlebihan jika kemudian Aristoteles mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang – ulang. Mengasahnya, hingga bukan lagi suatu tindakan, tapi kebiasaan.”

P1050103Barusan saya menemukan foto ini. Diambil ketika melakukan perjalanan ke Hongkong, sebagai hadiah karena saya memenangi lomba menulis.

Bicara dunia tulis-menulis, apa yang dikatakan Aristoteles menemukan relevansinya. Pada akhirnya saya merasa, ini hanyalah soal kebiasaan. Kita hanya perlu melakukannya berulang-ulang. Seperti halnya seorang penikmat kopi harus menyeruput minuman hitam pekat ini setiap bangun tidur di pagi hari.

“Tidak ingin menulis tema lain, selain tema tentang buruh?” Sebuah pertanyaan masuk ke inbox saya, pagi ini.

“Untuk saat ini, biarlah tema itu dikerjakan orang lain,” jawab saya.

Kemudian saya balik bertanya. “Lah, kamu sendiri mengapa tidak mau menulis tema tentang buruh? Setidaknya tentang perlawanan orang-orang tertindas?” Saya tahu, dia beberapa kali sudah menulis buku.

“Nggak ada duitnya.”

Mendengar jawaban itu, saya tidak begitu kaget. Mungkin itu juga ketidaknyamanan dia, mau-maunya ngurusi buruh. Tahu alasannya mengapa saya melakukan ini? Karena saya sudah tersihir dengan mantra filsuf Pytagoras, yang mengatakan, “Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.”

Meski melelahkan, tetapi saya gembira dengan ini semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s