Menuju Gerakan Sosial dan Politik (2): Buruh dan Petani, Bersatulah!

Jum`at pagi, jam 07.30 kami tiba di Omah Tani. Tidak banyak yang berubah dari Omah Tani, disbanding ketika saya datang ketempat ini pada 2010 lalu. Bedanya, kini sudah ada musholla. Mungil memang, namun nampak eksotis di tengah kebun cengkeh itu.

Sekretariat Omah Tani sendiri menempati rumah Handoko Wibowo, tokoh dibalik keberadaan Omah Tani. Ya, rumah yang dibangun sejak zaman Belanda itu terbuka bagi siapa saja. Selayaknya sebuah sekretariat, rumah ini nyaris tidak memiliki privasi. Dan yang lebih penting, pria yang masih melajang ini tidak merasa terganggu karena semua itu.

Inilah yang kemudian disebut beberapa kawan, jika kita ingin menjadi pemimpin yang baik, maka kita harus memposisikan sebagai pelayan. Dan bukan sebaliknya, ingin dilayani. Sebab dalam sebuah organisasi gerakan, seperti serikat buruh dan tani, hubungan itu menjadi tidak tepat jika diistilahkan atasan dan bawahan. Inilah barangkali, spirit yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Baca lebih lanjut

Iklan

Menuju Gerakan Sosial dan Politik (1): Belajar Gerakan Politik dari Petani Batang

Kamis sore, tepatnya tanggal 26 Mei 2011, hujan deras mengguyur Cikande. Sore dimana saya dan Sekretaris Eksekutif FSBS, Argo Priyo Sujatmiko, berencana menghadiri Lokakarya Nasional Gerakan Serikat Buruh di Batang, Jawa Tengah. Sempat terbesit dalam pikiran, bahwa saya akan berangkat dengan menerobos hujan yang deras itu.

Sore itu, peserta lokakarya yang sebagian besar berasal dari teman-teman aliansi daerah direncanakan berangkat bersama dari Kantor TURC dengan sebuah bus carteran. Dengan demikian, setidaknya waktu keberangkatan menjadi fleksibel. Apalagi dalam Kerangka Acuan (Term of Reference) yang disampaikan panitia, keberangkatan dari TURC adalah pukul delapan malam. Terlambat sedikit tidak apa, pikir saya.

Sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan Bung Argo, akan berangkat dari rumah pukul 17.00. Mungkin mengerti apa yang sedang saya risaukan, satu setengah jam sebelum kami berangkat hujan sudah reda. Saya merasa, hujan barusan seperti hendak memberikan sambutan atas keberangkatan kami ke Omah Tani. Baca lebih lanjut

Transformasi Gerakan Buruh Menuju Gerakan Sosial dan Politik: Belum Tibakah Saatnya?

Tanggal 27 – 28 Mei 2011, Trade Union Right Centre (TURC) menyelenggarakan Lokakarya Gerakan Serikat Buruh Nasional: “Transformasi Gerakan Buruh Menuju Gerakan Sosial dan Politik” bertempat di Omah Tani, Batang, Jawa Tengah. Jika tidak ada aral melintang, saya akan hadir dalam lokakarya ini. Ini sekaligus menjadi kehadiran yang kedua bagi saya, setelah sekitar bulan Nopember 2010 lalu menghadiri Pendidikan Blok Politik, yang juga diselenggarakan di tempat ini.

Pertemuan saya dengan ‘Guru Demokrasi’ Petani Batang Handoko Wibowo yang pertamakali, dalam sebuah kegiatan di Swiss-Belhotel Jakarta, misalnya, cukup memberikan inspirasi tentang bagaimana kita mesti mengelola sebuah gerakan berbasis komunitas. Realitas petani di Batang dan buruh-buruh di Banten, jelas tidak bisa disamakan. Namun dalam mengakselerasi agenda-agenda politik, jelas sesuatu yang senantiasa bersentuhan. Baca lebih lanjut

FSPMI Jaya: Sepenggal Kisah dari Kawasan Industri Pancatama

“Bung tadi pak lurah ama carik minta ketemu ama pengurus puk, trus kami datangi bersama 30 orang pengurus dan perwakilan anggota”

Kalimat di atas adalah bunyi SMS yang saya terima, Jum`at malam tadi. Sebelumnya, saya mendapatkan informasi jika hari Jum`at pukul 4 sore, ketua PUK FSPMI – sebut saja begitu – yang berlokasi di Kawasan Industi Pancatama, Serang, diberitahu ‘preman’ untuk menghadap ke rumah Pak Lurah.

Memang, kondisi hubungan industrial di perusahaan ini sedang memanas. Dua hari sebelumnya, bersama Isbandi, saya masih sempat mendampingi teman-teman PUK di perusahaan itu bertemu dengan pihak Disnaker. Bahkan, dalam pertemuan yang juga dihadiri perwakilan perusahaan, Carik (yang sesungguhnya mantan sekretaris desa) juga melarang teman-teman PUK untuk hadir dalam pertemuan dengan Disnaker. Baca lebih lanjut

Serikat Buruh Bukan untuk Diberangus

Pukul 09.00 lewat beberapa menit, ketika saya sampai di PT. S. Perusahaan pengolah kayu yang berlokasi di Balaraja, Tangerang. Puluhan orang bergerombol di depan pintu gerbang perusahaan. Mereka adalah pekerja PT. S, yang dimutasi ke Lampung dan Jawa Tengah, hanya karena membentuk Serikat Pekerja.

Melihat kehadiran saya, mereka menyambut dengan senyum sumringah. Dan sedetik kemudian, kami sudah larut dalam jabat tangan erat nan hangat. Ya, buat saya, selalu ada sisi personal yang meninggalkan kesan mendalam saat bertemu dengan teman-teman yang tergabung dalam serikat pekerja. Bisa jadi, suasana seperti ini, tidak pernah akan bisa saya jumpai jika saya tidak menjadi anggota serikat pekerja.

Tanpa serikat pekerja, saya merasa hanya sebagai individu, dan semata-mata sebagai buruh. Tak banyak jejak yang bisa ditorehkan: Rumah, tempat kerja, gajian, dan kantong kering ketika tanggung bulan. Jauh perasaan empati kepada sesama pekerja, juga perasaan bahwa saya tidak sendiri. Baca lebih lanjut

Marsinah: Korban Orde Baru, Pahlawan Orde Baru

KOMPAS, edisi khusus ulang tahun, Rabu, 28 Juni 2000.*

Jasad Marsinah diketahui publik tergeletak di sebuah gubuk berdinding terbuka di pinggir sawah dekat hutan jati, di dusun Jegong, desa Wilangan, kabupaten Nganjuk, lebih seratus kilometer dari pondokannya di pemukiman buruh desa Siring, Porong. Tak pernah diketahui dengan pasti siapa yang meletakkan mayatnya, siapa yang kebetulan menemukkannya pertama kali, dan kapan? Sabtu 8 Mei 1993 atau keesokan hari Minggunya? Seperti juga tak pernah terungkap melalui cara apapun: liputan pers, pencaraian fakta, penyidikan polisi, bahkan para dukun maupun pengadilan, oleh siapa ia dianaya dan di(ter)bunuh? Di mana dan kapan ia meregang nyawa, Rabu malam 5 Mei 1993 atau beberapa hari sesudahnya? Kita cuma bisa berspekulasi dan menduga-duga. Kita memang bisa mereka-reka motif pembunuhan dan menafsirkan kesimpulannya senidri. Tapi kita tak mampu mengungkap fakta-faktanya. Kunci kematiannya tetap gelap penuh misteri hingga kini, walau tujuh tahun berselang. Baca lebih lanjut

Refleksi May Day: Jaminan Sosial Sebagai Isu Utama Tahun Ini

Hari ini, kita berada di hari ke-tujuh di bulan Mei. 7 hari berlalu sejak tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, atau yang dikenal dengan sebutan May Day. Seperti halnya kemarin, 1 Mei di tahun 2011 ini hanya akan menjadi masa lalu. Dan memang, ia sudah berlalu.

Sebagai masa lalu, peringatan may day tahun ini bukannya tak memiliki arti apa-apa. Apalagi jika kita bisa menjadikannya sebagai titik tumpu untuk lompatan menuju masa depan. Sebagai tonggak perlawanan, peneguh perjuangan. Ini hanya akan terwujud, jika may day tidak hanya dimaknai sebagai sebuah seremonial.

Buat saya, May Day kali ini terasa bedanya. Bukan sekedar rute aksi yang lain dari biasanya: HI – Istana – HI. Tetapi sekaligus menjadi pembeda, mana-mana aktivis buruh yang konsisten atas perjuangannya, dan mana aktivis buruh – yang sebagian kawan menyebut – masuk angin. Baca lebih lanjut