Patungan: Menolak Lupa Kasus Kekerasan Terhadap Buruh

Tentu kita masih mengingat dengan baik peristiwa 31 Oktober 2013. Hari ketika buruh di Indonesia sedang melakukan mogok nasional. Bagaimana mungkin kita akan melupakannya: saat perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan di negeri ini (yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan), justru dihadang oleh ratusan orang bersenjata tajam.

Belasan orang buruh terluka. Beberapa diantaranya bahkan sangat serius dan harus dirawat secara intensif dirumah sakit.

Luka itu barangkali kini sudah berhenti mengalir. Namun semangat dan keyakinan kita untuk berjuang, tak akan berhenti. Dalam konteks itulah kita berjanji, untuk tidak akan pernah melupakan semua kejadian ini. Sesuatu harus dilakukan. Dan oleh karenanya dengan lantang kita tegaskan, disini: Menolak Lupa Kasus Kekerasan Terhadap Buruh.

Cita-cita saya sederhana saja: Ingin menulis buku yang didedikasikan untuk merekam jejak juang kaum buruh. Adapun proses pengerjaan buku yang saya maksudkan itu, saat ini sudah berjalan 70% dan dalam waktu dekat ini saya bermaksud mengadakan FGD (Focus Group Discussion). Diskusi terbatas ini penting untuk dilakukan, guna memperdalam materi tulisan. Selanjutnya memasuki tahap editing dan siap untuk diterbitkan.

Jika Anda memiliki kepedulian terhadap hal ini, saya mengajak Anda untuk mendukung proyek ini dengan cara melakukan patungan. Kita membutuhkan 100 orang yang memberikan dukungan sebesar Rp. 100 ribu untuk mendanai proyek ini (total Rp. 10 Juta). Dengan mendukung gagasan ini, Anda akan mendapatkan sebuah buku yang ditandatangani penulisnya dan nama Anda dimasukkan dalam credit title buku yang diterbitkan. Mekanisme patungan akan ditutup, setelah dana yang kami butuhkan terpenuhi. Tentu saja, sebagai bentuk pertanggungjawaban, secara berkala saya akan secara transparan melaporkan dana yang terkumpul melalui blog ini.

Dukungan bisa ditransfer ke Bank Mandiri KCP Serang – Cikande No Rekening 163-00-0094808-6 atas nama Kahar Setyo Cahyono.

Setelah melakukan transfer mohon memberikan konfirmasi melalui SMS di nomor HP: 0859-4573-1398, pin BB: 2ACE2A0B  atau di e-mail: kahar.mis@gmail.com.

Pelawanan itu akan terus kita suarakan!

 

Salam solidaritas: Kahar S. Cahyono

 

CATATAN:

Proses kreatif penulisan “buku putih kekerasan buruh” ini, beberapa diantaranya juga pernah saya posting di blog ini.

– “Kita tak akan pernah melupakannya…”

– Tentang Kekerasan Teradap Buruh di Bekasi: Menyusun Outline (Kerangka Tulisan)

 

 

sebuah citaHari itu, aksi buruh untuk memperjuangkan upah layak, jaminan sosial, penghapusan outsourcing, mendukung pengesahan RUU PRT, dan pencabutan UU Ormas dihadang dengan kekuatan bersenjata.

Iklan

Pernikahan

Adik saya, Hesta. Bersama tunangannya.
Adik saya, Hesta. Bersama tunangannya.

 

Siang ini, saya akan berangkat ke Blitar. Kota kecil di Jawa Timur, tempat dimana saya dilahirkan. Seperti biasa, ketika melakukan perjalanan ke Biltar, kami melakukannya seperti bacpacker. Ini perjalanan jauh. Tentu saja, sedapat mungkin saya harus bisa bisa menikmati setiap kota yang dilewati. Pilihan kami menggunakan kereta Matarmaja.

Di tahun 2013, ini untuk yang kedua kalinya saya ke Blitar. Pertama disaat lebaran idul fitri kemarin. Dan sekarang dalam rangka menghadiri pernikahan adik saya, Hesta, pada tanggal 5 Desember 2013 nanti.

Berempat kami akan kesana: Saya, Maimunah, Faddlan, dan Haya.

Sungguh ajaibnya hidup ini.

Sebelas tahun yang lalu saya hanya seorang diri ketika bolak-balik dari Serang ke Blitar. Sejak sepuluh tahun yang lalu saya tak sendiri lagi ketika pergi ke Blitar. Ada Maimunah, istri tercinta, ada disamping saya. Beberapa tahun kemudian, ada seorang lelaki kecil berada ditengah-tengah kami. Dia Faddlan, buah hati kami yang pertama. Dan kini, seorang ‘peri kecil’ ikut menemani. Namanya, Haya.

Jarang bertemu dengan adik saya, Hesta, hingga sekarang pun saya masih menganggapnya seperti anak kecil saja. Rasanya baru kemarin saya melihatnya menggunakan seragam sekolah dasar, merah-putih. Kini dalam hitungan hari, Hesta akan memiliki rumah tangga sendiri. Bersanding dengan bidadari yang dipilihnya.

Bagi saya, pernikahan selalu memberikan kesan mendalam. Apalagi jika pernikahan itu dilakukan di bulan Desember. Bukan karena Desember adalah bulan penutup tahun, tetapi lebih karena di bulan inilah saya dan Maimunah mengikat janji.

Ya, pada tanggal 14 Desember 2013 nanti, pernikahan kami akan genap berusia 10 tahun. Ada banyak kisah yang terajut indah. Ada banyak perselisihan pendapat. Pertengkaran-pertengkaran.

Namun selalu saja, ada banyak cara bagi kami untuk menyatukan kembali kepingan hati yang sedang berselisih. Karena sesungguhnya, dalam setiap pertengkaran itu, tak pernah benar-benar melakukannya dengan kesungguhan hati. Buktinya, tak sampai sehari setelah itu, kami segera melupakannya.

Malam harinya kami kembali tidur diranjang yang sama. Dalam selimut yang sama. Tertawa dan berbahagia bersama.

“Adakah dua hati yang tak pernah berselisih?”

Rasanya tak akan ada.

Dan pernikahan, adalah sebuah jalan yang akan mengantarkan kita menjadi dewasa. Bukan hanya usia yang merangkak tua. (*)