Komunitas Penulis dari Kalangan Pekerja, Mungkinkah?

Ada sesuatu yang baru dalam rapat redaksi majalah Garis, kemarin. Bukan saja karena majalah yang mendedikasikan diri sebagai ’inspirasi perjuangan pekerja/buruh’ sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Tetapi juga, karena di dalam diri setiap tim redaksi menyimpan semangat yang membara.

Tentu saja, usia 6 tahun masih tergolong sangat belia. Masih harus banyak belajar dan terus berbenah. Tetapi justru yang singkat itu, seringkali memberikan kesan mendalam. Kesan tentang sebuah media yang senantiasa menunjukkan gairah besarnya untuk terus maju dan memberikan pencerahan.

Sebagai majalah yang dikelola dan dedikasikan untuk buruh, Garis memiliki tantangannya sendiri. Selain berkutat pada permasalahan SDM di jajaran redaksi yang rata-rata awam dalam dunia jurnalistik, perjuangan untuk bisa menghadirkan majalah ini ke tangan pembaca tercinta masih harus berkejaran dengan kesibukan tim redaksi yang rata-rata bekerja. Praktis kegiatan peliputan dan penulisan dikerjakan disela-sela kesibukan itu. Namun ternyata, semangat untuk berbagi mengalahkan segalanya. Terbukti, Garis bisa eksis hingga hari ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Medan Jihad Seorang Facebooker

Hari masih pagi ketika saya menyalakan komputer. Bukan untuk melanjutkan menulis skripsi yang sudah tujuh bulan belum juga selesai. Beberapa hari ini, ada dorongan yang sangat besar dalam diri saya untuk selalu melihat status di Facebook. Saya sedang terlibat dalam sebuah perdebatan panjang di jaring sosial dalam dunia maya ini. Sungguh!

Nurul Auriza: Camp David tidak lain adalah sebuah tipuan, sebuah permainan politik untuk mengekalkan agresi Israel atas kaum Muslim. Israel adalah perampas dan harus meninggalkan Palestina, lebih cepat lebih baik. Satu-satunya solusi adalah hendaknya saudara-saudra bangsa Palestina menghancurkan entitas jahat ini (Israel) secepat mungkin dan mencabut akar imperialisme dari wilayah tersebut, sehingga kedamaian akan kembali lagi ke wilayah itu. (Imam Khomeini). Baca lebih lanjut

Ukhuwah ala Anazkia

Saat berkunjung ke http://anazkia.blogspot.com, saya tergelitik untuk mereview blog ini. Dengan tampilan warna yang cerah, blog milik anazkia ini terkesan ceria. Apalagi ditopang dengan title-nya yang gagah: Belajar dan Berukhuwah – Bacalah Dengan Nama Tuhan mu Yang Menciptakan.

Saya mengenal blog ini dari informasi kontes blog dengan tema ‘Berbagi Kisah Sejati’. Tema kontes itu menarik, setidaknya menurut saya. Dan itu yang membawa saya kesana. Oh ya, ini sekaligus menjadi informasi bagi teman-teman yang berminat untuk mengikuti kontes blog. Silahkan segera meluncur kesana, dan lihat sendiri syarat dan ketentuannya. Baca lebih lanjut

Kota yang Dipenuhi Misteri

Judul Buku : City of Bones
Pengarang : Cassandra Clare
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Ufuk Publishing House
Waktu Terbit : Februari 2010

Apa yang ada dalam benak anda saat membayangkan berada di kota yang dipenuhi tulang belulang? Meyeramkan, penuh misteri, dan yang pasti, akan ada banyak kejutan. Persis, berbagai sensasi itulah yang ditawarkan Cassandra Clare dalam novelnya yang berjudul City of Bones.

Sepintas, City of Bones mengingatkan kita pada novel Hush Hush karya Becca Fitzpatrick. Sama-sama bercerita tentang manusia setengah malaikat, maksud saya. Hanya, memang, City of Bones lebih menantang. Berbagai petualangan dihadirkan, sehingga alur kisahnya sulit ditebak, hingga di halaman terakhir. Baca lebih lanjut

Mahmoud Ahmadinejad: Kekurangan Bukan Hambatan

Masihkah ada negara yang berani menantang Amerika? Jawabnya, ada. Satu dari sekian negara itu adalah Iran dengan Mahmoud Ahmadinejad sebagai presidennya. Berbagai pernyataan seputar nuklir dan Israel menyulut kemarahan sang Adikuasa. Akan tetapi, Ahmadinejad tetap bersikukup pada pendiriannya.

Bila dibandingkan dengan Amerika, bisa jadi Iran bukanlah apa-apa. Sekali gempur, dalam hitungan waktu Iran akan porak-poranda. Tetapi, mengapa Iran bersikukuh melawan Amerika? Mungkinkah karena presidennya? Kalau iya, siapa sesungguhnya Ahmadinejad? (Dikutip dari buku Ahmadinejad! David di Tengah Angkara Goliath Dunia) Baca lebih lanjut

Tulisanku adalah Ibadahku

Namanya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Kelahiran Damaskus, Suriah, pada 4 Februari 1292. Pada usia 58 tahun, Ibnu Qayyim meninggal dunia. Tepatnya pada tanggal 23 September 1350. Ia adalah seorang Imam Sunni, cendekiawan, dan ahli fiqh bermazhab Hambali.

Saya memang tidak pernah bertemu secara lagsung dengan Ibnu Qayyim Al Jauziyah secara langsung. Hanya saja, namanya lekat di hati saya. Apalagi saat membaca bukunya yang berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, membuat ulama yang pernah dipenjara, dihina dan diarak serta dilempari batu diatas onta bersama Ibnu Taimiyah ini serasa masih hidup hingga saat ini. Dekat sekali. Disini, di dalam hati saya. Baca lebih lanjut

Lentera

tempat tinggal kami sempit
tanpa sofa cuma tikar tua dan segenggam cinta
tapi makin terang bagi kami
buku-buku Helvy menjadi lentera dan terang menyinari

“Abi, umi berangkat dulu ya,” pamit istri saya pagi itu. Seperti biasa, saya terima uluran tangannya yang halus. Menggenggamnya erat, dan mencium keningnya dengan lembut. Rutinitas ini, kami lakukan ketika istri saya hendak berangkat mengajar di sebuah Raudhatul Athfal (setara Taman Kanak-kanak), di dekat tempat kami tinggal. Sebuah rumah petak kontrakan sempit, dimana ruang tamu, tempat tidur dan makan menjadi satu. Sementara, saya hanyalah seorang buruh pabrik dengan upah minimum. Untuk masalah harta, kami bahkan nyaris tidak memiliki apa-apa. Baca lebih lanjut