FORUM SOLIDARITAS BURUH SERANG dengan bangga mempersembahkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Solidaritas

Minat baca bangsa ini masih saja menjadi persoalan yang diperdebatkan berbagai kalangan dalam masyarakat. Padahal, untuk menumbuhkan minat baca, memang tidak sesederhana sekadar membudayakan kebiasaan membaca saja. Tetapi penyediaan tempat untuk memperoleh bacaan secara mudah dan murah menjadi persoalan berikut yang tak kalah penting.

Bagi pekerja/buruh dan keluarganya, persoalan rendahnya minat baca juga tidak luput dari sorotan. Agar kualitas kehidupan masyarakat meningkat, mereka haruslah berilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, beberapa aktivis serikat pekerja yang bergabung dalam Forum Solidaritas Buruh Serang mengusung sebuah agenda: Saatnya Pekerja Membaca. Baca lebih lanjut

Bacalah….

Pertemuan saya dengan beberapa kawan pada satu sore yang cerah, menyadarkan saya pada satu hal: tidak benar jika dikatakan buruh tidak suka membaca. Yang sesungguhnya terjadi adalah, mereka telah kehabisan waktu dan tenaga setelah seharian terkungkung di bawah cerobong pabrik. Pun demikian, begitu kaki mereka beranjak selangkah dari pintu gerbang pabrik, berbagai dinamika kehidupan akan segera menyapa.

“Sebenarnya saya suka membaca,” begitu yang saya dengar dari mereka. Kalimat yang jujur, saya rasa. Tergambar jelas di matanya, bahwa ia begitu ingin melewati hari dengan buku-buku.

Baca lebih lanjut

Analisis Politik

Rintik hujan, yang dari siang mengguyur Bumi Cikande Indah belum juga reda. Namun, itu tidak mengurangi antusiasme peserta diskusi bertajuk Analisis Politik yang diselenggarakan FSBS untuk hadir. Mereka bisa saja memilih untuk memanjakan diri di dalam rumah pada Sabtu sore itu, namun nyatanya semangat yang menyala dalam diri mereka mengalahkan rasa enggan dan malas. Apalagi, Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang sore itu bertindak sebagai nara sumber juga datang tepat waktu.

Kedatangan Nezar Patria di Sekretariat FSBS menjadi pertemuan saya yang kedua dengan pria kelahiran Aceh itu. Beberapa bulan yang lalu, saya bersama Nursyaifudin (pengurus FSBS) ikut menghadiri sebuah agenda diskusi di Sekretariat AJI, Jakarta, dimana Nezar, sebagai tuan rumah menjadi pembicara. Lagipula, AJI merupakan sebuah organisasi yang kerap menyerukan bahwa wartawan juga buruh. Faktor inilah, yang barangkali membuat kami merasa memiliki kedekatan emosional, dan hasilnya, diskusi berjalan lancar penuh keakraban. Baca lebih lanjut

FSBS dan Politik

Baru-baru ini, di Sekretariat Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS) diselenggarakan sebuah diskusi bertajuk ”Pengembangan Demokrasi Lokal” bersama Siti Zuhro, Peneliti Bidang Politik LIPI. Betapapun, dalam banyak literatur kita bisa menemukan, bahwa gerakan serikat buruh sangat lekat dengan demokrasi? Bagi FSBS, sebenarnya kesadaran untuk itu sudah mulai tumbuh. Terbukti, sejak dua tahun yang lalu, dalam struktur kepengurusannya, FSBS memiliki Koordinator Hukum, Politik, dan Hak Asasi Manusia.

Dalam redaksi lain saya hendak mengatakan, bahwa FSBS juga berpolitik. Bukankah upaya untuk mempejuangkan hak dan kepentingan buruh kepada negara adalah bagian dari kegiatan yang ”bermuatan politik”? Baca lebih lanjut

Negara Tanpa Jaminan Sosial

Siang itu, beberapa tahun yang lalu, di meja kerja Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS) tergeletak sebuah buku. Sampulnya unik, bergambar perempuan renta yang menadahkan tangan. Persis di hadapannya tertulis dengan warna merah: NEGARA TANPA JAMINAN SOSIAL (Tiga Pilar Jaminan Sosial di Australia dan Indonesia). Ya, itu adalah judul dari buku yang saat ini sedang kita bahas.

Seperti biasa, saya tidak ambil peduli bagaimana proses buku itu bisa sampai disini. Karena memang, bukan kali ini saja FSBS mendapat kiriman buku dari beberapa kawan. Selain menambah koleksi ‘perpustakaan mini’ yang kami miliki, tak jarang perjumpaan dengan pemikiran-pemikiran itu menginspirasi agenda perjuangan kami.

Buku yang diterbitkan pertamakali oleh TURC pada tahun 2008 ini berisi analisa dan penjelasan tentang perbandingan sistem jaminan sosial di Australia dan Indonesia, yang ditulis oleh Michael Raper. Dalam pengantarnya, Rita Olivia Tambunan, Sekretaris Eksekutif TURC saat itu, buku ini diharapkan dapat menggugah buruh dan serikat buruh untuk memulai berfikir dan bertindak untuk terlibat secara aktif dalam wacana kebijakan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Baca lebih lanjut

Bimbang

Pas kemarin membaca sebuah tulisan di konsultankarir.com yang berjudul Karirku, Rollercoasterku, saya terperangah. Tulisan itu tidak saja memberikan pencerahan kepada saya, tetapi juga menyindir. Seperti hendak meledek.

Sejak lama, obsesi saya adalah menjadi entrepreneur. Bukannya saya tidak bersyukur dengan pekerjaan yang saat ini saya jalani. Namun, saya merasa, menjadi karyawan justru membuat saya berjalan di tempat. Waktu berjalan sangat lambat. Saya memimpikan sesuatu yang lebih besar, dan itu membutuhkan kerja besar. Menjadi karyawan seperti menaiki rollercoaster, yang terkesan mudah karena ada seorang di ruang kendali yang mengatur dan menekan semua tombol. Pendak kata, saya memimpikan menjadi seseorang yang berada di dalam ruang kendali. Baca lebih lanjut