Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

12370684_10204826706261632_4495342253744850780_o

Tadi pagi, istri saya mengingatkan. Hari ini genap 12 tahun kami mengarungi bahtera bersama. Ach, untuk urusan tanggal, saya memang pelupa. Sementara perempuan yang saya cintai ini memorinya kuat sekali.

Ketika menyadari hari ini adalah hari bersejarah bagi kebersamaan kami, saya memeluk dan mengecup keningnya dengan sepenuh cinta.

Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat itu. Saat ketika dengan gagah berani membuat keputusan terpenting dalam hidup: menikah.

Dua tahun setelah menikah, Fadllan lahir. Dia kini berusia sepuluh tahun, kelas lima SD. Tiga tahun setelah itu, Haya lahir dan ikut meramaikan rumah mungil kami. Saat saya menulis catatan ini, bidadari kecil kelas dua SD itu duduk di pangkuan saya sambil memberitahu jika ada kata yang salah ketik.

May, istri saya, perempuan yang hebat. Aktivitas saya yang padat, nyaris tidak sempat untuk membantunya membereskan pekerjaan rumah. Hampir semua hal ia tangani sendiri. Padahal, sebagai pendidik, aktivitasnya tak kalah padat dengan saya. Dia terkadang mewakili sekolahnya mengikuti kegiatan di luar kota. Malam pun masih mengajari anak-anak kompleks mengaji.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa mandiri. Bapak (ayah mertua saya) meninggal ketika ia masih kecil. Sejak SD, ia sudah berjualan keliling kampung untuk meringankan beban orang tua membayar biaya sekolahnya. Saya sadar, perempuan itu tangguh, militan, dan cukup bisa diandalkan.

Tadi pagi, saya mengantar ke sekolah, tempatnya mengajar. Saya sampaikan, jika agenda saya hari ini adalah menghadiri rapat di Jakarta. Tidak bisa menemaninya di hari yang bersejarah ini.

“Mau kado pernikahan apa?” Tanya saya.

“Dirimu pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat, itu sudah cukup buat saya,” katanya. Sungguh, saya terharu… (*)

:: 14 Desember 2003 – 14 Desember 2015: Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

Hari Ke-2: Kisah Yang Ditulis Enam Orang Buruh Jaba

Dari semalam, instruksi untuk kembali merapat ke Jaba kembali dikeluarkan. Bank MNC dan SBI berencana mengeluarkan asset yang sudah terjual, setelah hari Jum`at yang lalu gagal.

Di tengah-tengan situasi yang tidak menentu inilah penulisan kisah tentang Jaba dilakukan. Ada debar. Juga getar. Apalagi ketika semakin jauh meresapi pengalaman mereka.

Saya mengawali pekerjaan ini dengan memeriksa tulisan tangan dari 6 orang buruh Jaba yang diserahkan kepada Tim Media FSPMI Tangerang.

Dalam kenangan buruh-buruhnya, di awal bekerja, Jaba menjadi kebanggaan. Bisa jadi, ini masa-masa paling indah dalam hidup mereka. Bukan saja tentang banyaknya lemburan yang mereka dapatkan. Tetapi, juga, ribuan karyawan yang sebagian besar perempuan itu sedang ranum-ranumnya. Dengan berseragam biru muda dan rok sebatas lutut, konon mereka menjadi primadona. Masa muda yang berapi-api. Yang kata Sheila, “Kau raja aku pun raja….”

Dulu, karena tidak diperbolehkan menggunakan jilbab, begitu sampai di perusahaan, ada yang ketika berangkat dari rumah mengenakan jilbab. Kemudian ketika sampai, dengan terpaksa melepaskan jilbabnya di kantin perusahaan. Setelah pulang, di pojok kantin itu, dengan hati yang teriris ia menggunakan jilbabnya kembali.

Menariknya, mereka memiliki tradisi melawan. Dan perlawanan itu semakin menjadi, ketika mereka bergabung dengan FSPMI. Yang kemudian membuat mereka mampu bertahan lebih dari 6 bulan di tenda perjuangan, meski sudah tidak lagi digaji.

Diijak, dipukuli, diseret, bahkan dihujani gas air mata pernah mereka alami. Bukan sekali dua kali, di tengah malam ketika mereka berada di dalam tenda, hujan disertai angin dan petir. Dalam kondisi seperti itu, tak banyak pilihan sebagai tempat untuk berteduh. Tak ada kasur dan selimut untuk berlindung dari hawa dingin.

Saya kira, itulah benang merah dari apa yang ditulis oleh 6 orang yang saya sampaikan tadi. Setelah saya tuliskan kembali, menjadi tulisan sepanjang 1.464 kata. Dalam bayangan saya, Setelah dikembangkan dan ditambahkan dengan hasil wawancara untuk memperkaya informasi, jumlah itu akan menjadi 3-5 kali lipatnya.

Awal yang baik….

Hari Ke-1: Menulis Jaba

foto (8)Kemarin, Rapat Akbar FSPMI se-Provinsi Banten diselenggarakan di Jaba Garmindo. Presiden FSPMI Said Iqbal hadir dalam rapat sore itu. Melalui orasinya yang selalu berapi-api, dia memberikan penjelasan tentang isu perjuangan FSPMI tahun 2015-2016: JAMPETUM + K3. Sebuah pertemuan yang dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan seluruh kekuatan organisasi, jelang aksi nasional 1 September 2015.

Saya tak akan menulis tentang apa makna JAMPETUM + K3. Kali ini, saya lebih tertarik untuk menulis tentang Jaba. Sebuah kata yang akhir-akhir ini sering kita sebut ketika hendak mencari tempat untuk melakukan konsolidasi.

Saya memaknai Jaba sebagai tempat yang didalamnya tersimpan beribu kenangan. Kenangan selama lebih kurang 30 tahun buruh-buruh disini mengabdikan dirinya. Dan meskipun waktu 30 tahun bukanlah durasi yang lama dibandingkan dengan sejarah peradapan umat manusia, tetapi dalam rentang waktu itu penuh dengan cerita. Tawa dan air mata.

Dan pada pada saat yang bersamaan, dari tempat ini memancarkan sejuta harapan. Harapan tentang terkabulnya semua do`a yang dipanjatkan dari tenda-tenda perjuangan. Harapan tentang terpenuhinya sebuah janji: “Bahwa kita akan memenangkan pertarungan ini.”

Berbicara tentang Jaba, saya kembali teringat dengan tulisan beberapa kawan yang melukiskan kisahnya selama bekerja disini. Tim Media, beberapa waktu lalu meminta agar kawan-kawan Jaba menceritakan pengalamannya selama berada di tenda perjuangan. Selain untuk mengisi waktu, ini dimaksudkan agar uneg-uneg mereka keluar.

Kawan saya, Kiki, sudah beberapa kali menyampaikan jika ia sudah mengumpulkan foto tentang perjuangan kawan-kawan Jaba. Kami sepakat pada satu hal, “Suka duka selama 6 bulan lebih berada di tenda perjuangan harus terdokumentasikan.” Namun karena kami memiliki kesibukan masing-masing, selalu bingung darimana hendak memulai proyek ini.

Maka pagi ini saya putuskan, terhitung hari ini saya akan mulai menuliskan kisah tentang Jaba. Targetnya, buku ini akan selesai dalam 60 hari kedepan. Saya tak tahu, apakah hingga 24 Oktober 2015 nanti akan ada cukup waktu untuk menyelesaikannya. Tetapi saya tahu, jika tak memulai, maka tak akan pernah sampai.

Meniru apa yang pernah dilakukan Dee ketika menulis Perahu Kertas, saya akan melaporkan hari demi hari perkembangan proyek penulisan ini.

Dan akhirnya, saya hanya bisa berharap pada diri sendiri, semoga konsistensi saya terjaga…

Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.
Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

“Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai. Berdamailah dengan kenyataan. Hadapilah semuanya dengan senyuman, karena dibalik itu ada kemudahan.”  Ini adalah kalimat pertama dalam tulisan berjudul The Power of Single Parent dalam buku Perempuan di Garis Depan. Penulisnya, Nurhidayah.

Ajakan untuk berdamai dengan kenyataan, bagi saya sesuatu sekali. Dalam bahasa lain, Nur ingin mengatakan agar kita selalu mensyukuri apa yang ada.

Hal itu jangan dibaca sebagai sikap nrimo. Sama sekali bukan. Ini lebih mirip dengan sikap legowo. Sebuah sikap yang membuat kita senantiasa memiliki kekuatan untuk berusaha membuat capain-capaian baru: terlepas apapun kenyataan yang akan kita hadapi nanti. Tidak mudah patah hati.

Bicara tentang kenyataan, adalah sesuatu yang tak bisa dipungkiri bila saat ini kita sudah berada di akhir tahun 2014. Sebentar lagi, tahun 2015 segera tiba. Capaian kita di tahun 2014 tentu sebanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. “Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai,” demikian Nur mengatakan.

Bagaimana dengan 2015? Saya sendiri sedang menimbang-nimbang beberapa resolusi (halah, sok serius). Usia saya sudah lebih dari 30 tahun, dengan seorang istri dan dua anak yang terus bertumbuh besar. Setidaknya saya harus mulai mengurangi kenakalan-kenakalan saya dan fokus pada apa yang menjadi tujuan hidup.

Saya tidak tahu apakah itu akan berhasil. Tetapi saya tahu, sebagaimana Nurhidayah juga memberitahu, dibalik kesulitan ada kemudahan. Saya sih percaya itu. Kamu? (*)

Puri Teratai, 29 Desember 2014

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Menjadi Ayah Terbaik

10881726_10202924720713182_8033852618707097401_n

Ada saatnya kita tidak usah menjadi apa-apa, kecuali sekedar menjadi ayah untuk anak-anak kita. Menyerah pada apa yang mereka inginkan, lalu membiarkan mereka merayakan kemenangan atas apa yang telah mereka lakukan.

Dalam suasana seperti itu, kita tidak perlu jaim agar terlihat hebat. Tak perlu berpakaian rapi supaya disegani. Yang kita perlukan adalah larut dalam dunia kanak-kanak mereka.

Itulah yang saya rasakan, saat beberapa hari lalu mengantarkan Fadlan dan Haya berlibur ke rumah neneknya, di Blitar.

Barangkali saya bukanlah ayah terbaik di dunia, tetapi dengan itu, setidaknya saya telah menjadi ayah terbaik bagi mereka berdua. (*)

Melintasi Batas Negara (16): Satu Malam di Geylang

Salah satu sudut Gylang yang sepi, menjelang pukul 5 pagi. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Salah satu sudut Gylang yang sepi, menjelang pukul 5 pagi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Jantung saya berdetak lebih kencang. Meskipun di pinggir jalan besar, tempat ini sepi sekali. Tetapi bukan kesepian ini yang membuat detak jantung saya terpacu lebih cepat. Bukan juga ketakutan kalau-kalau ada setan yang lewat. Pengalaman melewati sebuah lorong di Geylang, barusan, membuat saya nyaris kehilangan nyali.

Beberapa cafe masih buka. Bahkan toko baju yang ada di sudut jalan juga belum tutup. Saya berkesimpulan, kehidupan disini berjalan selama 24 jam.

Sebenarnya saya sangat awam dengan wilayah ini. Dan justru karena itulah, saya berniat untuk melakukan eksplorasi. Sayang kan jauh-jauh dari Indonesia ke Singapura hanya untuk numpang tidur? Karena itu, pagi-pagi sekali saya terbangun. Mengambil notes kecil yang selalu saya bawa, dan kemudian berjalan meninggalkan hotel.

Sejak keluar dari hotel, ada banyak wanita yang bergerombol dengan pakaian yang mencolok. Kekurangan bahan. Mereka antusias menyapa saya. Saya hanya tersenyum, sambil tetap berjalan. Dari bahasa yang digunakan, saya tahu, mereka berasal dari Indonesia. Apalagi sayup-sayup terdengar, mereka menyanyikan sebuah syair,” Abang tukang sate, mari-mari sini. Saya mau beli…”

Hal yang biasa, pikir saya. Ketika bersama dengan kawan-kawan, saya pun terkadang melakukan hal yang sama terhadap minoritas. Menggoda cewek yang lewat. Apalagi jika ia sendirian.

Tak berapa lama berjalan, kembali wanita bergerombol. Sial, tidak ada jalan lain untuk menghindar. Saya harus melewati wanita-wanita bermata sipit dan berkulit bersih itu. Kali ini bahkan dengan pakaian yang lebih seksi. Beberapa hanya menggenakan tank top dan celana jeans pendek yang tak menutupi paha.

Melihatnya, nyali saya ciut juga. Saya sudah hampir balik kanan. Tetapi wanita-wanita itu terlanjur melambaikan tangan kearah saya. Lambaian tangan itu seolah menjadi magnet bagi saya untuk terus melangkah kedepan. Ia menawari saya untuk “begituan”.

Sebuah gang, tempat saya merasa dipecundangi. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Sebuah gang, tempat saya merasa dipecundangi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Murah, cukup hanya dengan 30 dollar, katanya.

Saya mengangkat kedua tangan sambil terus berjalan. Menolak secara halus dengan mengatakan, “sudah-sudah”.

Seseorang memegang tangan saya dari belakang. Itu membuat langkah saya terhenti.  Ketika menoleh, ternyata yang melakukannya adalah seorang wanita dengan baju berlengan pendek warna putih. Rambutnya yang hitam tergerai, menutupi dadanya yang sedikit terbuka. Pagi itu ia mengenakan rok sedikit di atas lutut, dengan sandal berhak tinggi. Sebuah tas kecil terselempang di pundaknya. Serasi sekali.

“Ayolah,” katanya pelan dan manja.

“Sekali ini saja.”

Entahlah, bagaimana wajah saya ketika mendapatkan tawaran itu. Yang jelas, jantung saya berdegup puluhan kali lebih cepat. Saya harus menghindar dari mereka. Itu saja yang saya pikirkan. Akhirnya, pilihan saya adalah dengan menyeberang ke sisi kanan jalan. Mereka berdiri berjejer di sebelah kiri.

Sial. Si baju putih berlengan pendek itu mengikuti saya.  Melihat itu, saya terpikir untuk lari. Tetapi akal sehat saya mengatakan, ini negeri orang. Kalau saya lari dan mereka berteriak maling, bisa jadi riwayat saya akan habis di tempat ini. Bagaimana kalau saya terima tawaran itu?

Saya sedikit lega, ketika melihat di depan ada dua orang laki-laki yang sedang berjalan kearah saya. Bisa jadi mereka adalah teman si PSK yang akan menangkap saya. Tetapi yang saat itu melintas didalam pikiran saya, saya tidak lagi sendirian ditengah-tengah ‘penyamun’. Wanita itu terus mengikuti dibelakang saya, meskipun sandal berhak tingginya tidak bisa membuat langkahnya menjadi cepat. Saya berharap, ia akan mengalihkan perhatiannya kepada dua orang pendatang baru ini.

Dan akhirnya saya berpapasan dengan dua laki-laki itu. Tubuhnya kekar. Sedikit bau alkohol. Sebentar lagi, mereka pasti akan berpapasan dengannya. Benar saja, sesaat setelah ngobrol, si wanita itu dibopong oleh dua orang. Karena wajahnya menghadap ke belakang, ia sempat melihat kearah saya. Pandangan kami bertemu. Sambil tersenyum genit ia menjulurkan lidahnya kearah saya.

Ini benar-benar pengalaman gila. Di pagi buta. Saat jarum jam hampir menunjukkan pukul lima. (Kascey)

Selanjutnya: Keributan Kecil di Pagi Hari

Berani Jujur Hebat!

Kahar S. Cahyono

Berani Jujur Hebat!

Saya membaca kalimat ini dari ketinggian sebuah gedung di Jakarta, setahun yang lalu. Saya tak ingat lagi kapan persisnya. Tetapi kalimat itu, masih terasa hingga sekarang bekasnya.

Jujur, barangkali menjadi kata kunci. Dan jika dipraktekkan, sesungguhnya kejujuran akan menciptakan pribadi yang luar biasa.

Bisakah kita jujur dengan kekurangan diri? Mampukah jujur dengan kata hati? Beranikah membuka topeng dari segala maksud yang tersembunyi?

Adakah orang yang bisa bersikap seperti itu? Ada! Datanglah dalam diskusi yang diselenggarakan kawan-kawan buruh. Disana, kalian bisa menangkap kejujuran itu. Mereka dengan polos menyampaikan apa adanya. Terbuka menyuarakan kata hati. Resah dan gelisahnya. Jujur mengungkapkan berbagai pelanggaran ketentuan perundang-undangan di perusahaan tempatnya bekerja. Membahas harapan-harapan, cita dan juga asa.

Anehnya, seringkali kejujuran mereka tak disukai. Dianggap sebagai ancaman dan justru kemudian disingkirkan. Meskipun begitu, kita tak pernah kekurangan stock orang-orang yang pemberani itu. Orang-orang yang mampu dengan lantang mengatakan jika benar itu adalah benar, meski kepahitan yang mereka dapatkan.

Jika sudah demikian, rasanya harapan itu masih ada. Sering kita mengutuk tingkah polah satu dua orang yang memilih tetap berada di zona nyaman dan enggan bergerak melakukan perubahan. Padahal pada saat yang sama, ada ribuan orang yang siap menjadi agen perubahan. “Daripada mengutuk kegelapan, mari segera menyalakan lilin,” begitu nasehat lama yang sering disampaikan kepada kita.

Hanya pemberani yang bisa bersikap jujur. Karena untuk melakukan itu bukannya tanpa resiko.