Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.
Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

“Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai. Berdamailah dengan kenyataan. Hadapilah semuanya dengan senyuman, karena dibalik itu ada kemudahan.”  Ini adalah kalimat pertama dalam tulisan berjudul The Power of Single Parent dalam buku Perempuan di Garis Depan. Penulisnya, Nurhidayah.

Ajakan untuk berdamai dengan kenyataan, bagi saya sesuatu sekali. Dalam bahasa lain, Nur ingin mengatakan agar kita selalu mensyukuri apa yang ada.

Hal itu jangan dibaca sebagai sikap nrimo. Sama sekali bukan. Ini lebih mirip dengan sikap legowo. Sebuah sikap yang membuat kita senantiasa memiliki kekuatan untuk berusaha membuat capain-capaian baru: terlepas apapun kenyataan yang akan kita hadapi nanti. Tidak mudah patah hati.

Bicara tentang kenyataan, adalah sesuatu yang tak bisa dipungkiri bila saat ini kita sudah berada di akhir tahun 2014. Sebentar lagi, tahun 2015 segera tiba. Capaian kita di tahun 2014 tentu sebanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. “Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai,” demikian Nur mengatakan.

Bagaimana dengan 2015? Saya sendiri sedang menimbang-nimbang beberapa resolusi (halah, sok serius). Usia saya sudah lebih dari 30 tahun, dengan seorang istri dan dua anak yang terus bertumbuh besar. Setidaknya saya harus mulai mengurangi kenakalan-kenakalan saya dan fokus pada apa yang menjadi tujuan hidup.

Saya tidak tahu apakah itu akan berhasil. Tetapi saya tahu, sebagaimana Nurhidayah juga memberitahu, dibalik kesulitan ada kemudahan. Saya sih percaya itu. Kamu? (*)

Puri Teratai, 29 Desember 2014

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Menjadi Ayah Terbaik

10881726_10202924720713182_8033852618707097401_n

Ada saatnya kita tidak usah menjadi apa-apa, kecuali sekedar menjadi ayah untuk anak-anak kita. Menyerah pada apa yang mereka inginkan, lalu membiarkan mereka merayakan kemenangan atas apa yang telah mereka lakukan.

Dalam suasana seperti itu, kita tidak perlu jaim agar terlihat hebat. Tak perlu berpakaian rapi supaya disegani. Yang kita perlukan adalah larut dalam dunia kanak-kanak mereka.

Itulah yang saya rasakan, saat beberapa hari lalu mengantarkan Fadlan dan Haya berlibur ke rumah neneknya, di Blitar.

Barangkali saya bukanlah ayah terbaik di dunia, tetapi dengan itu, setidaknya saya telah menjadi ayah terbaik bagi mereka berdua. (*)

Tak Hilang Ditelan Zaman

???????????

Setelah menyelenggarakan launching buku ‘Perempuan di Garis Depan’ pada tanggal 6 Desember 2014 di Bekasi, kini satu lagi karya Kahar S. Cahyono siap diluncurkan. Rencananya, buku ini paling lambat akan dilaunching pada akhir Januari, tahun depan.

‘Tak Hilang Ditelan Zaman’ berkisah tentang anak-anak muda yang bekerja di MTU. Tentang keteguhan sikap, dedikasi, dan tanggungjawab mereka sebagai pekerja — sekaligus sebagai manusia. Sebuah kisah inspiratif yang pernah ada di dunia nyata, bukan sekedar kisah yang hanya ada di negeri dongeng.

Mendengarkan bagaimana mereka tumbuh, sejatinya kita tidak sedang mendengarkan kisah hebat. Ini kisah sederhana. Tidak ditulis dan diterbitkan kedalam sebuah buku pun, sebenarnya tidak apa-apa.

Jika kita takut dipecat, mereka juga takut di pecat. Jika kita masih mendapatkan upah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka juga masih harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan. Jika kita lebih suka bersantai dengan keluarga di akhir pekan, mereka juga memiliki kerinduan untuk bermanja-manja dengan buah hati dan pendamping hidupnya.

Bedanya, mereka tidak menjadikan semua itu sebagai dalih untuk menitipkan nasib. Dan itulah yang membuat mereka menjadi luar biasa.

Saya ingin buku ini dibaca oleh banyak orang. Memberikan inspirasi kepada banyak kawan, dan pada akhirnya kisah kawan-kawan MTU tak akan hilang ditelan zaman. Sesederhana itu.

Sekilas Tentang Isi Buku

Boleh jadi kita menganggap hidup ini terlalu senyap dan membosankan.Tetapi, sekali waktu, cobalah untuk membuka kembali lembaran hari-hari yang telah kita lalui. Akan selalu ada sisi terang yang membuat kita bersenandung riang. Tentang kebahagiaan, kenangan, atau bahkan kemenangan yang sayangnya tak pernah kita rayakan. Bahkan dengan cara yang paling sederhana sekali pun.

Terkadang kita begitu mudah melewatkan hal-hal yang sepintas terlihat sederhana. Seperti membalas pesan, menanyakan kabar, menjabat erat tangan sahabat, memberikan senyum termanis yang kita miliki, membuat perayaan sederhana, memberikan kecupan mesra untuk istri atau suami, serta hal-hal lain yang terkesan biasa saja. Tetapi jika kita lakukan, sesungguhnya itu membuat kita nyaman menjadi manusia. Menghargai dan dihargai. Mencintai dan dicintai.

Seperti halnya kawan-kawan MTU yang harus menerima realita pabriknya tutup, seperti itulah kita pada akhirnya. Kebersamaan yang pernah terjalin begitu singkat, sedangkan hari-hari kedepan sedemikian panjang. Apakah hanya karena itu kita akan berhenti di tengah jalan? Tidak, kan.

Oleh karena itu mari kita rayakan kebersamaan ini….

Buku-buku Yang Sedang Saya Tulis 

Secara simultan, saat ini saya juga sedang menyelesaikan 3 buku. Buku pertama berjudul ‘Gagasan Besar Serikat Pekerja’, kumpulan artikel dan pidato politik Presiden FSPMI/KSPI Said Iqbal. Buku kedua adalah biografi tokoh buruh Bekasi Obon Tabroni. Terakhir jejak juang KAJS dan seputar lahirnya UU BPJS.

‘Gagasan Besar Serikat Pekerja’ sudah dalam tahap finalisasi. Saat ini sedang dimintakan kata pengantar (ulasan) dari tokoh nasional. Sementara libur natal dan tahun baru akan saya gunakan untuk menyelesaikan dua buku yang lain: Biografi Obon Tabroni dan Jejak Juang KAJS.

Jika boleh menyampaikan resolusi akhir tahun, salah satu keinginan terbesar saya adalah mendokumentasikan gerakan buruh Indonesia, termasuk profil dan pemikiran tokoh-tokohnya. 100 tahun yang akan datang, saya ingin generasi yang hidup pada massa itu tahu apa yang kawan-kawan kerjakan pada hari ini.

Mohon dukungan dan do`a kawan-kawan untuk mewujudkannya… (*)

Tergoda

“Setan mana yang menggoda hatimu, tega-teganya kau berbuat begitu…,” begitu bunyi lirik lagu berjudul Terlalu, yang dipopulerkan Majoret Band. Saya mendengarkannya secara tak sengaja dari penjual kaset di pinggir jalan, dekat Pasar Cikupa, semalam.

Entah mengapa, hingga pagi ini lirik itu masih saja terngiang-ngiang di telinga saya. Sesuatu yang kemudian mengingatkan saya pada sebuah kisah dari masa lalu. Eits, jangan salah paham. Ini bukan tentang asmara.

Ceritanya, saat masih SMK, saya pernah mendapatkan nilai 4 dalam raport. Itu mata pelajaran Matematika. Sesuatu yang kemudian tertulis abadi dalam transkrip nilai saya. Pasalnya, saya nyaris tidak pernah masuk ketika mata pelajaran paling sulit sedunia itu berlangsung. Hati saya selalu tergoda untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ketimbang duduk manis di dalam kelas.

Mengetahui nilai yang jeblok itu, saya tetap merasa baik-baik saja. Yang saya lakukan justru menulis artikel yang kemudian dimuat di majalah sekolah. Dalam tulisan itu saya menyampaikan kritik terhadap guru yang “kurang bersahabat” dengan siswa yang lebih memilih aktif di luar. Seharusnya siswa bisa merayakan kebebasan untuk fokus pada bidang yang paling ia minati. Kebetulan, saat itu saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi majalah sekolah, jadi tidak terlalu sulit untuk meloloskan tulisan yang semacam itu.

Diluar itu, nilai akademis saya tidaklah begitu mengesankan.

Tetapi, tentu saja, saya tidak membenci guru. Buktinya ketika kuliah saya masuk ke Fakultas Tarbiyah pada sebuah institusi perguruan tingggi di Serang, hingga wisuda. Hanya, memang, saya tidak pernah benar-benar menjadi guru. (Generasi macam apa yang akan dihasilkan kalau guru-nya macam saya, he he…)

“Setan mana yang menggoda hatimu….”

Godaan itu terus berlanjut. Setelah bekerja, bukannya karir di perusahaan yang saya kejar. Saya justru bergabung dengan orang-orang yang dianggap ‘pemberontak’ dengan mendirikan serikat pekerja. Unjuk rasa, terlibat dalam pemogokan, membuat propaganda, advokasi kasus, adalah keseharian saya selanjutnya.

Satu ketika, Direktur Utama tempat saya bekerja pernah memergoki saya sedang bermain facebook saat jam kerja. Tentu saja, apa yang saya lakukan ini tidak baik untuk ditiru. Saya lebih banyak menggunakan komputer kantor untuk berselancar di dunia maya. Menulis artikel dan lain sebagainya. Tulisan saya yang mendapatkan penghargaan dari Walikota Bekasi dan hadiah sebesar 10 juta saya tulis saat jam kerja.

Konon, sang Direktur menyampaikan tindakan tidak terpuji saya itu kedalam rapat pimpinan perusahaan. Bak artis terkenal, semua orang membicarakan saya. Secara gitu lo, Direktur Utama yang membahasnya dalam sebuah rapat resmi perusahaan. Sejak saat itu internet ke komputer saya di putus. Sesuatu yang kemudian memotivasi saya untuk memiliki komputer dengan jaringan internet sendiri.

Kata Rene Suhadono, “Your job is not your carrer.”

Fokuslah pada apa yang menjadi passion-mu. Pada cita-cita dan keinginanmu. Pada semua apa yang selalu menggoda hatimu, yang membuatmu bersemangat bangun lebih pagi untuk memulai hari-harimu.

Dan percayalah, semuanya akan baik-baik saja…

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono