Sikap

Ketika melakukan perjalanan sejauh apapun, pada akhirnya kita akan kembali. Bahkan saat mengunjungi destinasi yang mengesankan, setelah itu akan dihadapkan pada realita yang sama. Tidak berlebihan jika kemudian Aristoteles mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang – ulang. Mengasahnya, hingga bukan lagi suatu tindakan, tapi kebiasaan.”

P1050103Barusan saya menemukan foto ini. Diambil ketika melakukan perjalanan ke Hongkong, sebagai hadiah karena saya memenangi lomba menulis.

Bicara dunia tulis-menulis, apa yang dikatakan Aristoteles menemukan relevansinya. Pada akhirnya saya merasa, ini hanyalah soal kebiasaan. Kita hanya perlu melakukannya berulang-ulang. Seperti halnya seorang penikmat kopi harus menyeruput minuman hitam pekat ini setiap bangun tidur di pagi hari.

“Tidak ingin menulis tema lain, selain tema tentang buruh?” Sebuah pertanyaan masuk ke inbox saya, pagi ini.

“Untuk saat ini, biarlah tema itu dikerjakan orang lain,” jawab saya.

Kemudian saya balik bertanya. “Lah, kamu sendiri mengapa tidak mau menulis tema tentang buruh? Setidaknya tentang perlawanan orang-orang tertindas?” Saya tahu, dia beberapa kali sudah menulis buku.

“Nggak ada duitnya.”

Mendengar jawaban itu, saya tidak begitu kaget. Mungkin itu juga ketidaknyamanan dia, mau-maunya ngurusi buruh. Tahu alasannya mengapa saya melakukan ini? Karena saya sudah tersihir dengan mantra filsuf Pytagoras, yang mengatakan, “Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.”

Meski melelahkan, tetapi saya gembira dengan ini semua.

Memoar Gerakan Buruh Tangerang

12321113_977856808927409_617775490518490149_nBuat saya, “Memoar Gerakan Buruh Tangerang” menjadi semacam energi yang menyemangati untuk terus melangkah. Saya menuliskannya tahun 2011, saat baru bertugas di Tangerang, setelah lebih dari 8 tahun bersama FSPMI SERANG BANTEN. Sesuatu yang kemudian membuat saya memahami lebih detail, orang-orang hebat yang bekerja sepenuh jiwa hingga FSPMI Tangerang bisa kita lihat seperti sekarang.

Ada sejarah panjang sehingga FSPMI bisa menjadi seperti ini. Ia tidak tercipta dengan merapal mantra: bim salabim.

Maka, dengan mengenal sejarahnya, tidak saja akan membuat kita semakin jatuh cinta, tetapi juga menghargai. Dan bagi saya, penghargaan adalah apresiasi paripurna atas apa yang didedikasikan oleh orang lain.

Saya menyaksikan, disini, ada yang datang dan pergi. Ada yang bertahan sekian lama di tengah badai. Ada pula yang sekelebatan muncul, kemudian menghilang. Justru hal-hal seperti itulah yang kemudian menjadikannya penuh warna.

Satu hal yang saya kagumi sejak dulu adalah cara mereka menyatakan cinta. Bisa jadi ia akan marah ketika apa yang diharapkannya bertepuk sebelah tangan. Tetapi begitu instruksi sudah diturunkan, semua akan tunduk dan patuh. Rasa seperti ini sulit dipahami, tetapi benar-benar terjadi.

Demikianlah kisah-kisah itu terjadi. Jika dicermati, apa yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Semua bermula dari hati yang bening. Keikhlasan untuk saling membantu dan kerelaan untuk berkorban. Jauh dari kesan hendak mencari keuntungan diri sendiri.

Beberapa kawan mengatakan, buku ini merupakan salah satu karya terbaik saya. Bisa jadi benar, karena ketika menuliskannya, separuh hati saya ada disana. Meskipun, saya sendiri tidak pernah membeda-bedakan setiap karya yang saya hasilkan, karena setiap karya adalah istimewa: lebih dan kurangnya.

Ketika membaca kembali buku ini, saya semakin percaya, mimpi kita akan terjadi. Semacam keyakinan, bahwa setiap harapan bisa diwujudkan. Kita pernah mengalami masa-masa sulit dan berhasil melewatinya. Inilah pelajaran sejarah yang saya dapatkan dari buku ini.

“Jas merah,” kata Soekarno. Sebandel apapun dirimu, jangan lupakan sejarah.

KAHAR S. CAHYONO
Penulis buku ‘Memoar Gerakan Buruh Tangerang’

========================
Note: Buku ini bisa dipesan dengam mengirimkan sms ke HP/WA: 0859-4573-1398

========================

 

Peduli

Aksi di Kantor Gubernur Banten dihiasi hujan lebat. Daripada mengutuk alam, pilihannya adalah berkompromi dengan hujan. Basah-basahan sekalian.

Setelah tim loby menyampaikan aspirasi dan kembali lagi ke barisan massa aksi, saya melihat handphone. Ada 20 panggilan tak terjawab. Juga pesan dari beberapa kawan yang berada di PHI. Memang, di saat yang bersamaan, ada 2 persidangan yang tengah berlangsung: satu perkara dari kawan-kawan Serang, satu lagi dari Tangerang.

Sebelumnya, kami sudah berkoordinasi untuk berbagi tugas. Saya yang ditunjuk mewakili FSPMI sebagai tim loby ikut aksi, dan kawan-kawan tim advokasi FSPMI Tangerang berada di PHI, yang hari itu agendanya adalah pembuktian.

Kehabisan pulsa untuk menelpon balik, saya mengirimkan sms ke Bendahara PC, Bung Narya. Minta agar pulsa saya diisi. Meski saya tahu, di hujan lebat seperti ini, Sunarya yang juga ikut aksi akan menyimpan handphone-nya. Jadi pesan saya tak mungkin di baca.

Beberapa menit kemudian, di handphone saya ada panggilan masuk. Kawan-kawan di PHI, mengabarkan jika saya ditunggu. Teman yang saya minta untuk mewakili ditolak oleh majelis.

Dengan pakaian basah kuyup, saya datang ke PHI. Memakan waktu 5 menit (jika ngebut) dari tempat aksi. Hujan masih deras.

Sesampainya di PHI, saya disambut Kristian Lelono, Tungga Sofi Sadewa, dan Must Akhmad Isroil. Ada juga kawan Ramadhani F. Chuky dari GM Free Graph dan beberapa kawan dari FSPMI Serang. Tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita melihat saya basah kuyup, Bung Kris meminjamkan baju bersih. Juga jas kebesarannya. Akhirnya, saya bisa masuk ke ruang sidang dengan hati yang lapang.

Sejujurnya, hal-hal kecil seperti ini kerap kali menyentuh hati saya. Kerelaan untuk saling membantu. Kepedulian dan kesediaan untuk berbagi peran. Diatas semua itu, apa yang kita kerjakan sesungguhnya saling terkait dan menguatkan. Memijam kalimat beberapa kawan, kita ini bersaudara walau tak sedarah.

Kawan-kawan yang hari itu bertugas ke PHI, saya yakin dalam hati kecilnya lebih memilih ikut aksi. Berada di tengah-tengah gegap gempita 12 mokom yang berjejer di KP3B dan dilihat oleh banyak anggota. Bandingkan ketika mereka berada di ruang “sunyi” benama PHI. Tetapi ia menyingkirkan egoisme dan kegembiraannya, demi membela kawan-kawannya yang di PHK. Jika disuruh memilih, mungkin Chuky si wartawan KP itu akan lebih banyak mendapatkan berita bagus ketika meliput aksi, ketimbang meliput jalannya persidangan. Bahkan, sosok seperti bung Ade Taufiq yang selalu standby di Sastra Plaza adalah orang sosok yang berjasa untuk memastikan kelancaran administrasi organisasi.

Ada istilah total football. Tidak selayaknya penyerang yang baik berada di barisan belakang menunggu gawang. Pun begitu sebaliknya. Apapun peran kita, sepanjang itu untuk kepentingan kaum buruh adalah mulia.

Di sela-sela kepala berat karena efek masuk angin, entah mengapa, pagi ini saya merasa perlu mengutip kalimat Puthut Ea, seperti di bawah ini:

“Kita mungkin sering hanya karena memikirkan eksistensi, egoisme, kepentingan diri, lupa bahwa kadang semua itu punya implikasi kepada orang lain. Seakan, hanya demi kehebatan kita, tak perlu peduli pada beban yang mesti ditanggung oleh orang lain. Tak peduli pada beban orang-orang terdekat kita, bahkan yang punya niat dan perbuatan baik kepada kita.

Egoisme sering melukai orang-orang yang kita cintai, menciderai orang-orang yang punya kebaikan hati. Diam-diam kita telah begitu kejam kepada mereka. Seakan boleh melakukan apa saja, boleh tidak bertanggungjawab, boleh tak acuh.

Diam-diam kita lupa menjadi manusia…”

Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

12370684_10204826706261632_4495342253744850780_o

Tadi pagi, istri saya mengingatkan. Hari ini genap 12 tahun kami mengarungi bahtera bersama. Ach, untuk urusan tanggal, saya memang pelupa. Sementara perempuan yang saya cintai ini memorinya kuat sekali.

Ketika menyadari hari ini adalah hari bersejarah bagi kebersamaan kami, saya memeluk dan mengecup keningnya dengan sepenuh cinta.

Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat itu. Saat ketika dengan gagah berani membuat keputusan terpenting dalam hidup: menikah.

Dua tahun setelah menikah, Fadllan lahir. Dia kini berusia sepuluh tahun, kelas lima SD. Tiga tahun setelah itu, Haya lahir dan ikut meramaikan rumah mungil kami. Saat saya menulis catatan ini, bidadari kecil kelas dua SD itu duduk di pangkuan saya sambil memberitahu jika ada kata yang salah ketik.

May, istri saya, perempuan yang hebat. Aktivitas saya yang padat, nyaris tidak sempat untuk membantunya membereskan pekerjaan rumah. Hampir semua hal ia tangani sendiri. Padahal, sebagai pendidik, aktivitasnya tak kalah padat dengan saya. Dia terkadang mewakili sekolahnya mengikuti kegiatan di luar kota. Malam pun masih mengajari anak-anak kompleks mengaji.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa mandiri. Bapak (ayah mertua saya) meninggal ketika ia masih kecil. Sejak SD, ia sudah berjualan keliling kampung untuk meringankan beban orang tua membayar biaya sekolahnya. Saya sadar, perempuan itu tangguh, militan, dan cukup bisa diandalkan.

Tadi pagi, saya mengantar ke sekolah, tempatnya mengajar. Saya sampaikan, jika agenda saya hari ini adalah menghadiri rapat di Jakarta. Tidak bisa menemaninya di hari yang bersejarah ini.

“Mau kado pernikahan apa?” Tanya saya.

“Dirimu pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat, itu sudah cukup buat saya,” katanya. Sungguh, saya terharu… (*)

:: 14 Desember 2003 – 14 Desember 2015: Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

Aksi Lagi

12322462_10204796593508832_1232379574384670632_oSabtu sore, kemarin, di sela-sela rapat konsolidasi, saya berdiskusi dengan beberapa kawan. Kami melakukan sedikit refleksi terhadap dinamika yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. Ada evaluasi, kemudian lebih banyak membahas tentang langkah-langkah yang sebaiknya diambil, kedepan.

Konsolidasi seperti ini sering dilakukan. Terbuka. Siapa saja boleh datang. Tak peduli, meskipun kamu adalah anggota. Hampir pasti, setiap yang hadir diberi kesempatan untuk berbicara. Setiap orang akan di dengar pendapatnya.

Setelah tidak ada lagi yang memberikan pandangan, barulah kemudian keputusan ditetapkan. Berdasarkan catatan saya, mereka yang merasa memiliki gagasan hebat justru diam ketika kesempatan untuk itu diberikan. Malah, sebagian besar tidak hadir dalam forum-forum pengambilan keputusan seperti ini.

Berkhotbah tentang kebenaran dan sikap militan sambil ongkang-ongkang kaki sungguh nikmat sekali. Apalagi jika suara-suara itu hanya muncul di ruang sunyi tetapi tak bernyali ketika harus berhadap-hadapan. Sikap seperti ini, menurut seorang kawan dalam diskusi kemarin: “Cermin dari seorang pengecut yang sempurna!”

“Ora urus,” kata seorang teman, menanggapi.

Hal yang menarik, ketika kemudian forum memutuskan aksi ke DPR RI, besok, menggunakan sepeda motor. Bagi yang punya ninja bisa dibawa. Termasuk, yang memiliki mobil pribadi bisa ikut serta. Dampak buruk PP 78 bukan sekedar pengaturan tentang upah. Tetapi juga tentang demokrasi yang dikebiri, hak asasi, dan rezim yang semakin represif. Jika sudah bicara demokrasi dan hak asasi, siapa saja harus marah. Biar kelas menengah atas yang ngehek itu tahu, buruh yang katanya sudah bergaji tinggi masih berani. Lah, mereka punya apa? Melakukan apa?

Ini ide yang menarik. Meski beresiko tinggi. Biasanya, aksi naik bus. Tinggal duduk, tidur, dan sampai.

“Kami sudah nggak punya biaya untuk sewa bus,” keluh beberapa kawan. Apalagi mereka juga harus mempersiapkan anggaran untuk Kongres di Surabaya, yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Dalam hal ini, menggunakan motor untuk datang ke Jakarta menjadi solusi. Sekaligus untuk meningkatkan partisipasi peserta aksi.

Hal lain yang menggembirakan adalah adanya kesepakatan dari seluruh serikat pekerja se-Provinsi Banten untuk melakukan Aksi Bersama ke Kantor Gubernur Banten. Jika pemimpinnya sudah bersatu, atau setidaknya-tidaknya memiliki komitment yang sama terhadap perjuangan ini, rasanya langkah kita menjadi lebih indah.

Aksi bersama pasca mogok nasional ini sekaligus memberikan sinyal kuat, bahwa mogok nasional kemarin bukan klimaks. Ia hanyalah satu rangkaian, dan masih ada rangkaian panjang berikutnya. (*)

 

Besok, Buruh Mogok Nasional

1_1

Teman-teman…

Saya sangat percaya, besok akan tercatat sebagai hari paling bersejarah bagi buruh Indonesia. Saya bahkan tidak lagi peduli, apakah besok itu akan disebut sebagai mogok nasional, unjuk rasa nasional, atau ulangan (eh, maksud saya perlawan) umum sekalipun. Saya tidak peduli. Satu hal yang saya benar-benar peduli, setelah ini, segala warna yang berbeda harus menjelma pelangi.

Bahwa sejarah gerakan selalu diwarnai pasang surut, saya paham. Seringkali perpecahan dan persatuan hanya dibatasi tabir tipis. Apalagi, terlalu banyak pihak yang tidak menghendaki persatuan seperti ini terjadi.

Maka ketika besok kita membuktikan bisa bersama-sama berjuang dalam satu barisan, bagi saya, itu adalah capaian yang penting. Dengan demikian, kita sedang berinvestasi, untuk memastikan usia perlawanan ini akan panjang.

Inilah hari, ketika semua teori diuji. Saat segala persiapan dan konsolidasi yang kita pernah lakukan mendapatkan tempat untuk dipraktekkan.

Dengan persiapan seperti itu, terbayang dalam benak saya, besok, tidak akan sempat bertanya, “Dimana posisi para pemimpin serikat berada?”.

Saya juga tidak akan nyinyir dengan menanyakan, mengapa serikat di PT. A atau B belum juga melakukan pemogokan. Mengapa yang disana hanya mengirimkan perwakilan. Dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak akan sempat. Sungguh!

Besok, semua orang akan memberikan kontribusi semaksimal yang mereka bisa. Dan jika perlu, mengambil tanggungjawab lebih. Mereka lupa bagaimana caranya mencari kelemahan/kekurangan kawan seperjuangan. (*)

Kahar S. Cahyono

 

Menyampaikan Pesan Pemogokan

Suasana Konsolidasi Nasional Jelang Mogok Nasional di LBH Jakarta, 12 Nopember 2015 | Foto: Kascey

Ada banyak serikat buruh yang hadir, ketika Komite Aksi Upah- Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI) melakukan Konsolidasi Jelang Mogok Nasional di LBH Jakarta. Selama konsolidasi berlangsung,  saya melihat wajah-wajah penuh semangat. Bergairah. Apalagi, pada hari itu, KAU-GBI secara resmi berencana mengumumkan secara terbuka, tanggal mogok nasional.

Konsolidasi ini diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya. Semua peserta berdiri. Sebagian besar mengepalkan tangan kiri. Menyanyikan lagu kebangsaan dengan sepenuh hati.

Saya merasa, dengan lagu itu, buruh hendak menegaskan bahwa mereka berkumpul disini bukan untuk kepentingan pribadi. Dan meskipun sebagian besar yang hadir adalah buruh, tetapi perjuangan ini juga bukan untuk didedikasikan terhadap kelompok mereka: buruh.

Ini adalah perjuangan untuk seluruh rakyat! Apapun latar belakangnya.

Lahirnya PP Pengupahan, pada saat bersamaan juga mengebiri demokrasi karena menghilangkan peran serikat buruh dalam perundingan penetapan upah minimum. Dan ketika demokrasi dikebiri, itu artinya, pemerintah menerapkan laku otoriter. Pemerintahan yang seperti ini tidak hanya merugikan buruh. Tetapi semua pilar demokrasi terancam.

Setelah Indonesia Raya, peserta disuguhkan film pendek, saat KNGB melakukan konsolidasi jelang mogok nasional tahun 2013. Ketika itu, acara diselenggarakan di Gedoeng Djoeang.

Saat melihat kembali film ini, ingatan saya tertaut pada beberapa tahun yang lalu.

Apa yang kita sebut mogok nasional bukan hal yang pertamakali kita lakukan. Meski belum sempurna, kita pernah melakukannya. Berhasil. Itulah sebabnya, konsolidasi semacam ini merupakan cara bagi Gerakan Buruh Indonesia untuk memastikan pemogokan berlangsung dengan lebih dahsyat dari yang pernah dilakukan sebelumnya.

Setelah film usai, masing-masing perwakilan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangannya.

 Budi Wardoyo

12240211_498454443654616_4899224767173031607_oDalam pandangan Budi Wardoyo, pemerintahan Jokowi – JK tidak hanya mengeluarkan paket kebijakan ekonomi. Lebih dari itu, paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah Paket Ekonomi + Paket Represif.

“Salah satu indikatornya, polisi melakukan kekerasan ketika membubarkan aksi buruh tanggal 30 Oktober 2015 di depan Istana Negara,” kata pria berambut panjang ini. Kekerasan terhadap aparat juga kerap dilakukan terhadap petani dan elemen masyarakat yang lain.

Keluarnya PP Pengupahan, mencerminkan bahwa pemerintahan yang sekarang – juga pemerintahan yang sebelumnya — berwatak kapitalis. Pemerintahan yang hanya mengabdi pada kepentingan modal dengan menekan buruh. PP Pengupahan akan semakin memiskinkan kaum buruh secara struktural.

Atas hal itu, pilihan kita sangat sederhana: Terima atau tolak!

“Dan karena kita memiliki akal sehat, maka kita memilih untuk menolak. Ini adalah tentang keadilan sosial. Maka kita tidak akan pernah main-main dengan apa yang kita perjuangkan.”

Ini adalah perjuangan jangka panjang. Kuatkan persatuan. Pastikan perlawanan ini tidak berhenti di tengah jalan.

Yoyok, demikian dia biasa dipanggil, mengaku bangga dengan sikap yang ditunjukkan gerakan buruh Indonesia. Buruh tidak takut dengan kekerasan yang dilakukan aparat. Ini bisa dilihat dari aksi-aksi yang semakin marak di semua daerah.

“Saya banyak bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai daerah. Mereka menyatakan siap tempur,” katanya. Penuh kepercayaan.

Dia juga sadar. Perjuangan ini penuh dengan resiko.

“Tetapi kita akan ambil resiko itu,” tegasnya.

Kemudian ia melanjutkan, “Semakin kita kuat, resiko itu akan semakin kecil. Tetapi apabila kita tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan persiapan, maka resikonya akan besar.”

Untuk itu, Yoyok meminta agar setiap orang yang hadir dalam konsolidasi ini mengambil inisiatif dengan memperluas dan membesarkan gerakan.

“Waktu kita semakin sedikit. Segera lakukan konsolidasi di setiap pabrik dan kawasan. Masuklah dalam komite pemogokan di tiap-tiap daerah. Lakukan konsolidasi dan sebarkan melalui semua media yang kita punya,” tandasnya.

Rezim yang bengis harus kita hadapi dengan persiapan yang baik. Berkaca pada pengalaman mogok nasional tahun 2012 dan 2013, jika ada preman yang menyerang kita, kita harus serang balik mereka. Apa yang kita lakukan adalah untuk melindungi diri sendiri. Kalau kita mundur, justru kita akan semakin hancur.

Herry Hermawan (FSPASI)

905697_10205380666499366_2760804561950566578_o“Pertemuan hari ini untuk merapatkan barisan, menjelang dilakukan mogok nasional,” demikian kata Presiden FSPASI Herry Hermawan, ketika mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan politiknya.

Dan mogok nasional, kata Herry, merupakan salah cara yang akan dilakukan buruh untuk melawan kebijakan yang bersifat eksploitatif terhadap dirinya.

Menurut pria yang mengenakan baju batik ini, investasi tidak bisa menjadi solusi atas permasalahan negeri ini. Apalagi jika untuk meningkatkan investasi, yang dilakukan pemerintah adalah dengan menekan upah.

“Ini tercermin dari adanya paket kebijakan ekonomi, yang seluruhnya dipersembahkan kepada pengusaha dengan menekan buruh.”

Tidak hanya tentang upah. Berbagai kebijakan terus dibuat untuk melemahkan gerakan. Sebagai contoh, Gubernur Ahok sempat membuat Pergub yang melarang demonstrasi selain di 3 tempat yang sudah ditentukan. Bahkan Kapolri ikut-ikutan membuat Surat Edaran untuk menanganihate speech. Baginya, semua ini adalah langkah awal yang dilakukan pemerintah untuk perlahan-lahan menjadi diktator.

Melihat fakta-fakta itu, sikap buruh sudah jelas: “Lawan kebijakan yang tidak berpihak terhadap rakyat!”

Roni (BEM Se-Indonesia)

12240448_10205380661339237_3023776370395609090_oTidak hanya buruh. Konsolidasi jelang Mogok Nasional juga dihadiri oleh Koordinator BEM se-Indonesia Regional Jabodetabek dan Banten, Roni.

“Kami, mahasiswa dan buruh, sama-sama berjuang untuk melawan pemerintahan yang cenderung otoriter,” katanya.

Menurut Roni, kebijakan pemerintah nyaris tidak ada yang pro terhadap rakyat. Bahkan, pihaknya pernah mengadakan survey, yang hasilnya, 60% mahasiswa tidak puas terhadap kinerja Jokowi – JK.

Di bidang hukum, misalnya, pemerintah justru melemahkan institusi KPK. Sumber daya alam Indonesia tidak lagi kita kuasasi, karena pemerintah justru memberikannya kepada asing untuk dikelola. Dan sudah barang tentu, sebagian besar keuntungannya untuk mereka.

“Pemerintah mengatakan, kerja, kerja, dan kerja. Tetapi itu hanya jargon. Tidak ada yang kerja mereka tidak terlihat hasilnya.” Melihat fakta-fakta itu, kata Roni, mahasiswa mendukung mogok nasional yang akan dilakukan kaum buruh.

Ilhamsyah (KP-KPBI)

1_26Menurut Boing, begitu panggilan akrab Ilhamsyah, kita harus terus menerus menggelorakan semangat juang. Terlebih dalam situasi yang sulit seperti saat ini. Perjuangan akan panjang. Karena itu, kita harus melakukan persiapan dengan penuh kesungguhan.

Jokowi – JK, dalam hal kebijakan hanya melanjutkan kebijakan yang lama. Ini adalah kebijakan yang berkelanjutan dan tidak pernah terputus sejak Orde Baru. Pemerintahan yang sekarang hanya bekerja untuk mengeksekusi kebijakan pemerintahan sebelumnya.

“Dia hanya rezim eksekutor untuk memuluskan kaum pemodal masuk kedalam negeri,” katanya.

Keberadaan Indonesia memiliki peran penting dalam perekonomian global yang sedang sulit. Semuanya tersedia di negeri ini. Sumber daya alam dan penduduk yang banyak, sangat potensial menjadi pasar.

Mengutip apa yang pernah dikatakan Revrisond Basir, dalam kegiatan yang diselenggarakan KNGB tahun lalu, juga di tempat ini: “Apabila kita meminta kesejahteraan kepada mereka, sama saja dengan meminta kepada perampok.”

Untuk itu, buruh tidak boleh lagi menitipkan nasib. Saatnya kaum buruh memberikan konsep alternatif sebagai solusi terhadap segenap permasalahan bangsa.

Kita tidak bisa lagi berharap pada mereka. Sebab, setiap kebijakan yang mereka buat hanyalah topeng untuk melanggengkan kekuasaan. Mereka pura-pura berbuat baik untuk rakyat. Tetapi pada saat yang bersamaan, mengambil keuntungan yang lebih besar.

Kerena itu, makna pemogokan yang akan kita lakukan adalah untuk menghentikan eksploitasi manusia atas manusia dan perampokan sumber daya alam yang mereka lakukan. Pemogokan ini akan kita lakukan di seluruh kawasan industri. Kemudian buruh akan bergerak ke pusat-pusat kekuasaan. Bertahan. Sampai menang!

Boing mengingatkan, pelaksana dalam mogok nasional ini adalah buruh. Kita. Maka kita lah yang akan menentukan, kapan mogok nasional akan kita lakukan. Dia menilai, banyak orang yang berusaha menggembosi pemogokan ini. Meskipun demikian, semakin diragukan, persiapan di daerah-daerah justru semakin matang.

“Hari ini kita nyatakan, kita siap melakukan mogok nasional. Bahkan kita telah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun!”

Sulaiman Ibrahim (DPW FSPMI Lampung)

1_27Sulaiman Ibrahim adalah tokoh paling senior yang jauh-jauh dari Lampung, hadir dalam konsolidasi ini.

“Saya sudah berusia 66 tahun. Tetapi ketika hari ini mendengar semangat saudara-saudara dalam perjuangan, saya merasa kembali menjadi muda,” ungkapnya.

Dulu, kenang Sulaiman, apabila kita ngomong keras untuk mengkritik pemerintah, pasti ditangkap. Buruh demo, ditangkap. Tetapi dalam situasi seperti itu, ada orang-orang pemberani yang berjuang untuk melawan tirani. Mereka terus mengkritisi pemerintah. Tetapi menggelar demonstrasi, meskipun resikonya ditangkapi.

Atas perjuangan mereka itulah, hari ini kita bisa berkumpul disini. Kalau saja saat itu tidak ada orang-orang pemberani, Indonesia tidak akan menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Maka, kaum muda, bergeraklah. Sejarah sedang memanggilmu untuk melakukan perubahan.

Thomas (SBSI 92)

SBSI 92 menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam mogok nasional.

Menurut Thomas, buruh harus bersatu. Jika perlu, kelak satu ketika, Indonesia memiliki presiden dari kalangan buruh. Sebab dari zaman ke zaman, buruh selalu ditindas. Maka buruh harus memiliki kekuatan secara politik.

Thomas meminta agar kita semua serius dengan gerakan ini.

“Istana tidak lagi ramah terhadap kita. Setiap kita datang kesana, selalu dijaga dengan tentara dan polisi bersenjata. Untuk itu, kita tidak lagi berharap pada istana. Kita akan menentukan nasib kita sendiri, di jalanan ini!”

IMG_0007

Herman (SP JICT)

Herman, mewakili serikat buruh pelabuhan, menegaskan akan bergabung dalam mogok nasional. Jika itu terjadi, bisa dipastikan, Tanjung Priuk akan lumpuh.

Hal ini terpaksa ia lakukan, karena pemerintah sudah tidak lagi pro terhadap rakyat.

“Dia hanya pro kepada modal asing,” katanya.  Buktinya, SP JICT sudah melakukan aksi selama 3 bulan, tetapi tuntutan mereka diabaikan..

Ocul KP-FMK

“Aku Ocul, dari Komite Persiapan – Federasi Mahasiswa Kerakyatan,” katanya, mengawali pandangan politinya.

Ocul menjelaskan, bahwa mahasiswa sudah melakukan persiapan untuk mendukung mogok nasional. Mahasiswa percaya dengan pemogokan. Saat ini, posko solidaritas mogok nasional didirikan di Palu, Yogjakarta, Samarinda, dan berbagai daerah yang lain.

“Kami akan berusaha menyatukan diri. Membantu untuk meluaskan dukungan agar mogok nasional ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Tanggal 17 November 2015, hari pelajar dan mahasiswa seluruh dunia, KP-FMK juga akan turun ke jalan. Selain memprotes mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, mereka juga menggalang dukungan dari mahasiswa Indonesia terhadap rencana pemogokan nasional buruh Indonesia. Menurutnya, Jokowi – JK telah dengan sengaja memiskinkan rakyat Indonesia dengan mengeluarkan paket ekonomi jilid I-VI.

Dia mengatakan, KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan juga memprotes tindakan represif yang dilakukan aparat terhadap gerakan-gerakan rakyat yang berlawan. Misalnya, dalam demonstrasi buruh pada tanggal 30 Oktober 2015 yang menuntut dicabutnya PP No. 78 dibubarkan paksa oleh aparat. Dia juga memberitahu, jika pihaknya sudah membangun posko perlawanan untuk mendukung rencana Mogok Nasional.

1_26

Perwakilan KSPSI AGN

Dalam kesempatan ini, perwakilan dari KSPSI pimpinan Andi Gani, juga menyampaikan pandangannya. Menurutnya, organisasinya secara tegas menolak PP Pengupahan yang menyengsarakan kaum buruh.

“Apabila kita diam, itu artinya kita sedang mendzalimi diri sendiri,” katanya. Oleh karena itu, kalau kita tidak terzalimi, maka pilihannya adalah bersatu. Merapatkan barisan untuk kemudian bersamap-sama melakukan perlawanan.

Dia mengatakan, Jokowi dipilih oleh rakyat. Sudah seharusnya Jokowi mendengarkan aspirasi rakyat. Jika tidak, jangan salahkan jika kemudian rakyat akan menuntut itu.

“KSPSI pernah menjadi sahabat Jokowi,” katanya. Sebagai sahabat, seharusnya Jokowi mendukung kita. Tetapi, kenyataannya, dia justru membuat kita kecewa. (*)

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono