Hidup Buruh

Dokumentasi ketika aku memberikan motivasi kepada buruh-buruh di sebuah pabrik di Tangerang, Banten. (Foto: Dokumen Pribadi)

Dokumentasi ketika aku memberikan motivasi kepada buruh-buruh di sebuah pabrik di Tangerang, Banten. (Foto: Dokumen Pribadi)

Setiap kali hadir dalam acara diskusi atau konsolidasi yang diselenggarakan teman-teman buruh, kalimat pertama yang aku teriakkan adalah, “Hidup Buruh!”

Lalu, sambil mengangkat tangannya ke atas, dengan gempita mereka akan membalas, “Hidup.”

“Hidup Buruh!”

“Hidup.”

Selalu begitu. Teman-temanku bilang, itu kebiasaan. Tetapi, bagiku, teriakan ‘hidup buruh’ lebih dari dari sekedar kebiasaan. Bukan juga sekedar menjadi pembuka dari sebuah kata sambutan.

Teriakan ‘hidup buruh’ adalah deklarasi. Bahwa sejatinya perjuangan kaum buruh adalah perjuangan untuk kehidupan.

Teriakan ‘hidup buruh’ adalah mantra. Semacam penolak bala, agar buruh tetap menjadi manusia. Tidak berubah menjadi robot yang memiliki nyawa.

Dan pada akhirnya, teriakan ‘hidup buruh’ adalah pengingat bagi semua umat. Bahwa buruh adalah penentu peradaban. Nggak percaya? Sebutkan satu saja benda yang melekat di tubuhmu, niscaya tak ada satu pun yang terbebas dari sentuhan tangan seorang buruh. Bahkan celana dalam yang kau pakai, buruh lah yang membuatnya. Sampai pada hal yang sekecil itu. Maka terserah kau saja. Jika masih tidak memiliki empati kepada kaum buruh, apalagi ikut-ikutan memusuhi mereka, tanggalkan semua hasil karya buruh yang kau pakai. Niscaya kau tidak akan memakai apa-apa lagi.

Siapa itu buruh?

Satu ketika Surya Tjandra pernah mengatakan, buruh adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Dia hanya mempunyai tenaga, kemudian hidup dengan menjual tenaganya itu.

Kalau saja dia mempunyai banyak uang, dia tak akan sudi menjadi buruh. Atau meninggalkan Indonesia, negeri yang permai ini, untuk pergi ke negeri orang. Yang dia punya hanyalah tenaga. Itulah yang ia jual kepada majikan untuk mendapatkan uang.

Di negerinya sendiri, tidak semua orang membutuhkan tenaganya. Maka dengan terpaksa ia ‘menjual tenaganya’ ke negara lain. Menjadi buruh migrant.

Coba bayangkan ini. Ketika perusahaan sepatu memproduksi sepatu, yang mereka jual kepada konsumen adalah sepatu. Ketika perusahaan mobil memproduksi mobil, yang mereka jual kepada konsumen adalah mobil. Lantas bagaimana kita menjelaskan pengiriman ribuan orang ke luar negeri melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia? Dalam hal ini, yang mereka jual adalah manusia.

Kalau satu ketika si buruh migrant itu jatuh sakit, terkapar tak berdaya, dengan mudah majikan menendangnya. Menggantikan dengan buruh baru yang lebih kuat tenaganya. Sang majikan, orang yang telah ‘membeli’ si buruh migrant itu, merasa bebas memperlakukan buruhnya dengan sesuka hatinya: upah yang murah, kerja tanpa istirahat, bahkan memperkosa. Sudahlah memeras tenaganya, dia ambil pula tubuhnya.

Dan ketika si buruh migrant itu membela diri, dengan segera ia akan divonis hukuman mati. Ironisnya, pembelaan penguasa negeri ini terhadap warga negara yang akan meregang nyawa di tiang gantungan hanyalah basa-basi.

* * *

Hidup buruh…

Bahwa buruh berjuang untuk  kehidupan. Bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk anak dan anak dari anak-anaknya itu.

Kalau saja disini, di negeri bernama Indonesia ini, tersedia kehidupan yang lebih baik, buruh tak akan mencarinya hingga jauh ke negeri orang. Mereka menjadi seperti itu bukan karena kesalahannya. Bukan pula karena  kebodohannya. Mereka menjadi seperti itu, karena tak banyak pekerjaan tersedia untuknya.

Sebagian dari kita beruntung mendapatkan pekerjaan didalam negeri. Tetapi ada jutaan yang lain tidak memiliki keberuntungan itu. Padahal, mereka bukan orang lain. Mereka saudara kita. Mereka adalah kita: buruh.

Bedanya, mereka bekerja di luar negeri, sedangkan kita bekerja di dalam negeri. Apakah hanya karena dipisahkan oleh batas negara kemudian ada jarak dengan mereka? Tidak! Seperti halnya rasa kemanusiaan yang tak mengenal batas negara, begitulah solidaritas antar buruh. Itulah sebabnya, meskipun saat ini aktif mendampingi buruh-buruh didalam negeri, aku tertarik dan ingin terlibat dalam perjuangan buruh migrant (di luar negeri).

.

Kahar S. Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki

Entahlah, apa yang membuatku selalu gelisah setiap kali melihatmu tidak masuk sekolah. Saat-saat seperti ini, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Dan celakanya, aku tak pernah tahu apa gerangan yang telah hilang itu.

Kamu?

Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Tetapi bagaimana mungkin? Sedangkan aku tak pernah memilikimu. Jadi untuk apa harus merasa kehilangan? Untuk apa harus ada gelisah ketika kau tak datang ke sekolah? Sekali lagi, aku tak tahu. Saat ini pun, setelah hampir dua puluh tahun peristiwa itu berlalu, aku tak pernah berhasil menemukan jawabannya.

Sejak hari pertama kau tidak datang ke sekolah, semua menjadi tidak lagi sama. Dalam kelas terasa sangat membosankan. Papan tulis terlihat muram. Aku bahkan kehilangan semangat untuk mengikuti pelajaran. Padahal, biasanya, aku dan kamu akan saling berlomba menjawab setiap pertanyaan guru. Seperti kehilangan pesaing, aku justru menjadi lesu.

Sepintas, kita seperti saling berkompetisi menjadi yang terbaik. Kau selalu menempati ranking satu, sedangkan aku cukup puas mengekor di belakangmu. Tetapi diluar itu, kita adalah dua sahabat yang sangat dekat.  Saling melengkapi. Aku akan menanyakan tetang rumus matematika dan fisika kepadamu. Sesekali aku meminjam buku catatanmu untuk aku bawa pulang ke rumah, sekedar untuk mengagumi tulisan tangamu yang mungil dan rapi. Dan kau akan bertanya kepadaku tentang pelajaran bahasa Indonesia. Terutama ketika Bu Ratna, guru bahasa Indonesia yang sekaligus menjadi wali kelas kita, memberikan pekerjaan rumah untuk menulis cerpen dan puisi.

Teman-teman mengira kita pacaran. Aku hampir saja membenarkan, jika saja kamu tidak mengatakan, “Halah…, kita kan masih kecil. Konsentrasi belajar dulu.”

Ketika itu kita duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Beberapa bulan menjelang Ebtanas, yang sekarang diubah menjadi UAS.

* * *

Ini hari ketiga, kamu tidak juga datang ke sekolah. Bu Ratna meminta salah satu siswa datang ke rumahmu untuk mencari kabar tentang dirimu. Lazimnya anak sekolah jika tidak masuk menyampaikan pemberitahuan. Tetapi kamu sama sekali tidak memberikan kabar kepada pihak sekolah. Wajar jika kami mengkhawatirkanmu.

Aku mengacungkan tangan. Siap menjadi relawan.

“Cie…, cie…. Modus,” kelas menjadi gaduh. Kawan-kawan masih saja menyangka kita  memiliki hubungan spesial.

“Mau nyari tahu keberadaan Desi atau melepas rindu,” yang lain menimpali.

Di bully teman-teman, aku memasang muka tak suka. Padahal dalam hati berbunga-bunga. Begitulah ceritanya. Akhirnya siang itu aku dan Yuda, ketua kelas kita, pergi ke rumahmu.

Dan ini awalnya. Sejak saat itu, akhirnya aku mengetahui kehidupan keluargamu. Kau tidak masuk sekolah karena harus merawat bapak yang sedang sakit. Kau dua bersaudara. Adikmu masih kecil, lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Sedangkan emak, begitu kau biasa memanggil ibumu, menjadi buruh migrant di Arab Saudi. Bapak hanyalah buruh tani yang menjual tenaganya untuk “menggarap” sawah orang. Tidak setiap hari ada orang yang menggunakan jasanya.

Di Blitar, tempat aku besar, sebagian mata pencaharian penduduknya memang petani. Tetapi sesungguhnya banyak yang dinamakan petani itu tidak memiliki sawah. Tidak berlebihan jika kemudian menjadi buruh migrant ke luar negeri menjadi pilihan. Hidup tidak memberikan banyak pilihan bagi orang miskin.

Seperti kali ini, ketika bapak sakit, kau yang mengalah tidak pergi ke sekolah agar bisa merawat bapak di rumah. Sejak emak berangkat ke Arab, mencuci, memasak, hingga membersihkan rumah, kau semua yang mengerjakan. Dengan pekerjaan yang banyak itu, aku tak tahu bagaimana kamu meluangkan waktu untuk belajar agar menjadi bintang kelas. Aku saja, yang semua kebutuhan disetiapkan orang tua, harus jungkir balik sekedar untuk menempati posisi nomor dua.

“Har, aku anak paling besar. Pilihanku hanya satu, rajin belajar agar bisa mengakhiri kemiskinan yang dialami keluargaku,” katamu, saat kita ngobrol di ruang tamu.

“Kamu hebat, Des.” Hanya itu yang terucap dari bibirku. Di mataku, kau menjelma sebagai sosok yang jauh lebih dewasa. Padahal, usiaku lebih tua beberapa minggu dari usiamu.

“Setelah ini aku akan melanjutkan ke SMA I, dan setelah lulus nanti aku akan mencari beasiswa untuk masuk perguruan tinggi,” katamu. Setelah beberapa saat terdiam, engkau  melanjutkan, “Aku mau jadi Arsitek. Membangun gedung-gedung tinggi seperti yang ada di luar negeri.”

Aku tahu, itu adalah SMA favorit. Hanya mereka yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata yang bisa diterima menjadi siswa disana. Dengan prestasimu selama ini, aku yakin kau bisa mewujudkan mimpi itu.

Desi, mungkin saja kau telah lupa dengan percakapan ini. Tetapi aku masih mengingatnya dengan sempurna, hingga kini. Entah ini tanda-tanda apa. Satu hal yang pasti, semua hal tentangmu, aku cepat sekali mengingatnya.

* * *

Hingga akhirnya, kita dinyatakan lulus sekolah menengah pertama. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, kau berhasil masuk ke SMA I. Aku ikut gembira.

Tetapi menjelang kenaikan kelas tiga, di SMA itu, aku mendengar kabar kau telah berhenti sekolah. Emak tak lagi mengirim uang dari Arab Saudi. Sementara biaya pendidikan di sekolah ini tergolong tinggi.

Ach, begitu cepatnya hidup ini berubah. Aku merasa marah. Tapi tak tahu kepada siapa — untuk apa.

Aku tahu, ini adalah saat tersulit dalam hidupmu. Seketika itu bangunan cita-citamu runtuh. Kau bisa saja menyelesaikan rumus-rumus sulit dalam matematika dan fisika. Tetapi begitu menyangkut tentang ekonomi, ketiadaan biaya sekedar untuk ongkos pergi ke sekolah, akhirnya kau menyerah.

Aku masih percaya, jika saja kau menghadapi seorang diri, kau pasti akan mampu. Tetapi masalahnya, dibelakangmu ada bapak yang mulai sakit-sakitan, juga adikmu yang mulai beranjak besar.

“Aku akan ngumpulin uang dulu untuk jadi Arsitek, Har…” itu kalimat terakhir yang aku dengar, sebelum kamu memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai TKW. Mengikuti jejak ibumu sebagai buruh migrant.

“Kenapa nggak cari kerja disini aja sih,” kataku. Sewot.

“Kamu pikir gampang apa nyari kerja untuk orang yang nggak lulus SMA? Nggak jual diri juga udah untung,” katamu. Judes sekali. Mungkin karena menjadi buruh migrant pun bukan pilihan yang kau kehendaki. (*)

.

Kahar S Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Menulis, Bekerja Untuk Keabadian

Foto bersama dengan perserta pelatihan menulis di Purwakarta (Jum`at, 23 Januari 2015)

Foto bersama dengan perserta pelatihan menulis di Purwakarta (Jum`at, 23 Januari 2015)

Kamis hingga Sabtu, 22 – 24 Januari 2015, saya berada di Purwakarta. Salah satu agenda paling berkesan adalah saat “mengompori” kawan-kawan FSPMI untuk menulis buku.

Mengapa buku? Saya kira, buku menjadi media yang tepat untuk mendokumentasikan gerakan. Bisa lebih detail mengumpulkan setiap kepingan peristiwa. Dan lebih lama menyimpan rasa. Lintas generasi.

Meskipun dikemas dalam pelatihan menulis, tetap saja dalam durasi yang singkat itu tidak mampu mengupas hingga habis. Tetapi percayalah. Pelajaran terpenting dari menulis adalah menulis. Karena itu saya selalu berpesan agar mulai berkarya, nikmati prosesnya, dan rasakan keajaibannya.

Saat ini, saya mulai menuliskan tentang gerakan buruh Purwakarta. Pesanan KC FSPMI Purwakarta. Penulisannya saya kerjakan beselang-seling dengan penulisan biografi seorang tokoh buruh di Bekasi.

Meskipun begitu, jangan menyangka 24 jam dalam satu hari saya berada di depan komputer. Sehari, saya benar-benar serius menulis paling banter hanya 2 jam. Biasanya pagi-pagi sekali. Saat pikiran masih jernih. Selebihnya saya masih bisa mengisi pelatihan, menghadiri rapat-rapat organisasi, ikut aksi, pendampingan kasus, dan ‘tetek bengek’ kegiatan lain. Percayalah, menulis tidak akan mengganggu rutinitasmu.

Minggu depan, 1 Februari 2015, saya diundang kawan-kawan Forum Komunikasi Buruh Citeurep (FKBC), Bogor, untuk mengisi pelatihan menulis di sana. Kepada saya mereka menyampaikan ingin mengembangkan media alternatif untuk buruh. Menjadikan kata sebagai senjata.

Dalam hal ini, saya penganut ajaran Pram: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian…”

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

“Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai. Berdamailah dengan kenyataan. Hadapilah semuanya dengan senyuman, karena dibalik itu ada kemudahan.”  Ini adalah kalimat pertama dalam tulisan berjudul The Power of Single Parent dalam buku Perempuan di Garis Depan. Penulisnya, Nurhidayah.

Ajakan untuk berdamai dengan kenyataan, bagi saya sesuatu sekali. Dalam bahasa lain, Nur ingin mengatakan agar kita selalu mensyukuri apa yang ada.

Hal itu jangan dibaca sebagai sikap nrimo. Sama sekali bukan. Ini lebih mirip dengan sikap legowo. Sebuah sikap yang membuat kita senantiasa memiliki kekuatan untuk berusaha membuat capain-capaian baru: terlepas apapun kenyataan yang akan kita hadapi nanti. Tidak mudah patah hati.

Bicara tentang kenyataan, adalah sesuatu yang tak bisa dipungkiri bila saat ini kita sudah berada di akhir tahun 2014. Sebentar lagi, tahun 2015 segera tiba. Capaian kita di tahun 2014 tentu sebanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. “Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai,” demikian Nur mengatakan.

Bagaimana dengan 2015? Saya sendiri sedang menimbang-nimbang beberapa resolusi (halah, sok serius). Usia saya sudah lebih dari 30 tahun, dengan seorang istri dan dua anak yang terus bertumbuh besar. Setidaknya saya harus mulai mengurangi kenakalan-kenakalan saya dan fokus pada apa yang menjadi tujuan hidup.

Saya tidak tahu apakah itu akan berhasil. Tetapi saya tahu, sebagaimana Nurhidayah juga memberitahu, dibalik kesulitan ada kemudahan. Saya sih percaya itu. Kamu? (*)

Puri Teratai, 29 Desember 2014

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Menjadi Ayah Terbaik

10881726_10202924720713182_8033852618707097401_n

Ada saatnya kita tidak usah menjadi apa-apa, kecuali sekedar menjadi ayah untuk anak-anak kita. Menyerah pada apa yang mereka inginkan, lalu membiarkan mereka merayakan kemenangan atas apa yang telah mereka lakukan.

Dalam suasana seperti itu, kita tidak perlu jaim agar terlihat hebat. Tak perlu berpakaian rapi supaya disegani. Yang kita perlukan adalah larut dalam dunia kanak-kanak mereka.

Itulah yang saya rasakan, saat beberapa hari lalu mengantarkan Fadlan dan Haya berlibur ke rumah neneknya, di Blitar.

Barangkali saya bukanlah ayah terbaik di dunia, tetapi dengan itu, setidaknya saya telah menjadi ayah terbaik bagi mereka berdua. (*)

Tak Hilang Ditelan Zaman

???????????

Setelah menyelenggarakan launching buku ‘Perempuan di Garis Depan’ pada tanggal 6 Desember 2014 di Bekasi, kini satu lagi karya Kahar S. Cahyono siap diluncurkan. Rencananya, buku ini paling lambat akan dilaunching pada akhir Januari, tahun depan.

‘Tak Hilang Ditelan Zaman’ berkisah tentang anak-anak muda yang bekerja di MTU. Tentang keteguhan sikap, dedikasi, dan tanggungjawab mereka sebagai pekerja — sekaligus sebagai manusia. Sebuah kisah inspiratif yang pernah ada di dunia nyata, bukan sekedar kisah yang hanya ada di negeri dongeng.

Mendengarkan bagaimana mereka tumbuh, sejatinya kita tidak sedang mendengarkan kisah hebat. Ini kisah sederhana. Tidak ditulis dan diterbitkan kedalam sebuah buku pun, sebenarnya tidak apa-apa.

Jika kita takut dipecat, mereka juga takut di pecat. Jika kita masih mendapatkan upah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka juga masih harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan. Jika kita lebih suka bersantai dengan keluarga di akhir pekan, mereka juga memiliki kerinduan untuk bermanja-manja dengan buah hati dan pendamping hidupnya.

Bedanya, mereka tidak menjadikan semua itu sebagai dalih untuk menitipkan nasib. Dan itulah yang membuat mereka menjadi luar biasa.

Saya ingin buku ini dibaca oleh banyak orang. Memberikan inspirasi kepada banyak kawan, dan pada akhirnya kisah kawan-kawan MTU tak akan hilang ditelan zaman. Sesederhana itu.

Sekilas Tentang Isi Buku

Boleh jadi kita menganggap hidup ini terlalu senyap dan membosankan.Tetapi, sekali waktu, cobalah untuk membuka kembali lembaran hari-hari yang telah kita lalui. Akan selalu ada sisi terang yang membuat kita bersenandung riang. Tentang kebahagiaan, kenangan, atau bahkan kemenangan yang sayangnya tak pernah kita rayakan. Bahkan dengan cara yang paling sederhana sekali pun.

Terkadang kita begitu mudah melewatkan hal-hal yang sepintas terlihat sederhana. Seperti membalas pesan, menanyakan kabar, menjabat erat tangan sahabat, memberikan senyum termanis yang kita miliki, membuat perayaan sederhana, memberikan kecupan mesra untuk istri atau suami, serta hal-hal lain yang terkesan biasa saja. Tetapi jika kita lakukan, sesungguhnya itu membuat kita nyaman menjadi manusia. Menghargai dan dihargai. Mencintai dan dicintai.

Seperti halnya kawan-kawan MTU yang harus menerima realita pabriknya tutup, seperti itulah kita pada akhirnya. Kebersamaan yang pernah terjalin begitu singkat, sedangkan hari-hari kedepan sedemikian panjang. Apakah hanya karena itu kita akan berhenti di tengah jalan? Tidak, kan.

Oleh karena itu mari kita rayakan kebersamaan ini….

Buku-buku Yang Sedang Saya Tulis 

Secara simultan, saat ini saya juga sedang menyelesaikan 3 buku. Buku pertama berjudul ‘Gagasan Besar Serikat Pekerja’, kumpulan artikel dan pidato politik Presiden FSPMI/KSPI Said Iqbal. Buku kedua adalah biografi tokoh buruh Bekasi Obon Tabroni. Terakhir jejak juang KAJS dan seputar lahirnya UU BPJS.

‘Gagasan Besar Serikat Pekerja’ sudah dalam tahap finalisasi. Saat ini sedang dimintakan kata pengantar (ulasan) dari tokoh nasional. Sementara libur natal dan tahun baru akan saya gunakan untuk menyelesaikan dua buku yang lain: Biografi Obon Tabroni dan Jejak Juang KAJS.

Jika boleh menyampaikan resolusi akhir tahun, salah satu keinginan terbesar saya adalah mendokumentasikan gerakan buruh Indonesia, termasuk profil dan pemikiran tokoh-tokohnya. 100 tahun yang akan datang, saya ingin generasi yang hidup pada massa itu tahu apa yang kawan-kawan kerjakan pada hari ini.

Mohon dukungan dan do`a kawan-kawan untuk mewujudkannya… (*)

Tergoda

“Setan mana yang menggoda hatimu, tega-teganya kau berbuat begitu…,” begitu bunyi lirik lagu berjudul Terlalu, yang dipopulerkan Majoret Band. Saya mendengarkannya secara tak sengaja dari penjual kaset di pinggir jalan, dekat Pasar Cikupa, semalam.

Entah mengapa, hingga pagi ini lirik itu masih saja terngiang-ngiang di telinga saya. Sesuatu yang kemudian mengingatkan saya pada sebuah kisah dari masa lalu. Eits, jangan salah paham. Ini bukan tentang asmara.

Ceritanya, saat masih SMK, saya pernah mendapatkan nilai 4 dalam raport. Itu mata pelajaran Matematika. Sesuatu yang kemudian tertulis abadi dalam transkrip nilai saya. Pasalnya, saya nyaris tidak pernah masuk ketika mata pelajaran paling sulit sedunia itu berlangsung. Hati saya selalu tergoda untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ketimbang duduk manis di dalam kelas.

Mengetahui nilai yang jeblok itu, saya tetap merasa baik-baik saja. Yang saya lakukan justru menulis artikel yang kemudian dimuat di majalah sekolah. Dalam tulisan itu saya menyampaikan kritik terhadap guru yang “kurang bersahabat” dengan siswa yang lebih memilih aktif di luar. Seharusnya siswa bisa merayakan kebebasan untuk fokus pada bidang yang paling ia minati. Kebetulan, saat itu saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi majalah sekolah, jadi tidak terlalu sulit untuk meloloskan tulisan yang semacam itu.

Diluar itu, nilai akademis saya tidaklah begitu mengesankan.

Tetapi, tentu saja, saya tidak membenci guru. Buktinya ketika kuliah saya masuk ke Fakultas Tarbiyah pada sebuah institusi perguruan tingggi di Serang, hingga wisuda. Hanya, memang, saya tidak pernah benar-benar menjadi guru. (Generasi macam apa yang akan dihasilkan kalau guru-nya macam saya, he he…)

“Setan mana yang menggoda hatimu….”

Godaan itu terus berlanjut. Setelah bekerja, bukannya karir di perusahaan yang saya kejar. Saya justru bergabung dengan orang-orang yang dianggap ‘pemberontak’ dengan mendirikan serikat pekerja. Unjuk rasa, terlibat dalam pemogokan, membuat propaganda, advokasi kasus, adalah keseharian saya selanjutnya.

Satu ketika, Direktur Utama tempat saya bekerja pernah memergoki saya sedang bermain facebook saat jam kerja. Tentu saja, apa yang saya lakukan ini tidak baik untuk ditiru. Saya lebih banyak menggunakan komputer kantor untuk berselancar di dunia maya. Menulis artikel dan lain sebagainya. Tulisan saya yang mendapatkan penghargaan dari Walikota Bekasi dan hadiah sebesar 10 juta saya tulis saat jam kerja.

Konon, sang Direktur menyampaikan tindakan tidak terpuji saya itu kedalam rapat pimpinan perusahaan. Bak artis terkenal, semua orang membicarakan saya. Secara gitu lo, Direktur Utama yang membahasnya dalam sebuah rapat resmi perusahaan. Sejak saat itu internet ke komputer saya di putus. Sesuatu yang kemudian memotivasi saya untuk memiliki komputer dengan jaringan internet sendiri.

Kata Rene Suhadono, “Your job is not your carrer.”

Fokuslah pada apa yang menjadi passion-mu. Pada cita-cita dan keinginanmu. Pada semua apa yang selalu menggoda hatimu, yang membuatmu bersemangat bangun lebih pagi untuk memulai hari-harimu.

Dan percayalah, semuanya akan baik-baik saja…

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono