Menang Lomba Menulis, Saya Diajak Mengikuti Kunjungan Buruh Migrant ke Hongkong

Saya bersyukur, tulisan saya ‘Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki’ terpilih sebagai pemenang lomba menulis blog dengan tema, apakah yang kamu pikirkan tahu dan lihat dari buruh Migran? Lomba menulis ini diselenggarakan oleh Melanie Subono dan blogdetik. Sedangkan penilaian, dilakukan secara cermat oleh Melanie Subono dan tim juri Migrant Care.

Untuk itu, pada tanggal 15-19 Mei 2015 saya diajak ke Hongkong. Mengikuti kunjungan buruh Migrant bersama Melanie Subono. Tiket PP Jakarta-Hongkong-Jakarta, Akomodasi, Konsumsi dan uang saku Rp 500 ribu per hari, disediakan oleh panitia.

Informasi bahwa tulisan saya terpilih sebagai pemenang, saya ketahui dari komentar pembaca yang masuk ke email. Ketika itu saya dalam perjalanan ke Jakarta, menghadiri rapat penyusunan materi pendidikan politik di KSPI. Dengan berdebar, saya membuka blogdetik. Ternyata benar, tulisan saya terpilih sebagai pemenang. Sesaat ketika saya sampai di KSPI, istri saya menelpon dan memberitahukan kabar yang sama.

Sejak mengetahui informasi lomba menulis tentang buruh migran, saya sudah memastikan untuk ikut. Dalam 13 tahun terakhir ini, saya aktif dalam gerakan buruh. Apalagi, sejak kecil, saya sering mendengar ada orang yang mengadu nasib ke luar negeri, sebagai TKW/TKI, hanya karena tidak ada lapangan pekerjaan yang tersedia di negeri ini. Belakangan saya tahu, teman-teman saya ketika kecil, banyak yang merantau ke Negeri orang. Bayangan itulah yang selalu berkelebat dalam benak saya, yang kemudian saya konstruksikan ulang dalam sebuah tulisan.

Tentu saja, nanti saya akan membuat tulisan dari perjalanan ini. Berharap suara-suara yang selama ini “terbungkam” akan terdengar kencang, menembus dinding kekuasaan.

Jujur saja, kemenangan ini memotivasi saya untuk terus menulis. Untuk menyuarakan suara hati kaum yang tertindas. (*)

Bertaruh Nyawa Demi Keluarga

Aksi solidaritas menolak hukuman mati. (Doc: Maxie)

Aksi solidaritas menolak hukuman mati: “Hentikan Eksekusi Beruntun Terhadap Buruh Migran Indonesia.” (Doc: Maxie)

Saya lahir di Blitar, Jawa Timur.

Blitar menjadi salah satu daerah yang paling banyak mengekspor tenaga kerja ke luar negeri. Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat tetangga saya yang terpaksa mengambil pilihan sulit itu. Bahkan teman saya di sekolah menengah pertama, Desi, tak kuasa menolak menjadi buruh migran. Padahal otaknya cemerlang, di sekolah selalu menjadi bintang.

Menjadi buruh migran bukan cita-cita Desi. Kepada saya, ia pernah berkata bahwa cita-citanya adalah ingin menjadi Arsitek. Saya juga tahu dengan persis, tetangga-tetangga saya itu, tidak ada satu pun yang awalnya bercita-cita menjadi buruh migran.

Siapa yang mau pergi ke luar negeri, sedangkan dia tidak tahu bahasa yang digunakan disana? Siapa mau berpisah dengan keluarga dalam waktu yang lama dan beberapa diantaranya pulang tinggal nama?

“Nggak apa-apa saya pergi. Do’akan saja. Ini semua demi keluarga,” inilah jawaban yang pernah saya dengar ketika salah seoarang tetangga saya akan berangkat ke Taiwan. Demi keluarga mereka rela bertaruh nyawa dengan mencari peruntungan di negeri orang. Banyaknya buruh migran yang tersangkut kasus hukum, beberapa diantaranya bahkan sudah menjalani vonis mati, tak membuat niatnya goyah. Lagi-lagi, demi keluarga.

Tahun 2002, saya pun menjadi buruh migrant. Bedanya, saya melakukan migrasi dari tempat kelahiran di Blitar dan menetap dalam waktu yang lama di Serang, Banten. Ini memang berbeda dengan tetangga saya yang bekerja ke luar negeri (internasional). Tetapi alasannya sama: tidak banyak pekerjaan yang bisa saya dapatkan di Blitar.

Di Serang, Banten, ternyata saya juga bertemu dengan masyarakat yang menjadi TKI/TKW ke luar negeri. Padahal daerah ini dikenal sebagai daerah industri. Tangerang, masih satu provinsi dengan Serang, bahkan dijuluki sebagai kota dengan seribu industri. Tetapi mengapa mereka harus pergi ke luar negeri hanya untuk menjadi buruh?

Sejak saat itu saya sadar, berbicara tentang buruh migran tidak hanya bicara tentang kedaerahan. Ini bukan tentang Blitar atau Serang. Berbicara tentang buruh migrant adalah berbicara tentang Indonesia. Tentang kita semua: saya dan anda.

Di Serang dan Tangerang, yang notabene daerah industri, masih banyak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan. Pabrik-pabrik baru terus dibangun, tetapi kemudian yang menjadi tenaga kerja disana bukanlah mereka yang kebanyakan berpendidikan rendah.

Sementara hidup harus tetap berlanjut. Jadi bukan karena tidak cinta dengan negeri sendiri, kalau akhirnya mereka memilih menjadi buruh migran ke luar negeri.

Diluar itu, ada satu hal yang seringkali luput dari perhatian. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Saya tidak tahu, mereka sengaja dikorbankan atas nama tanggungjawab keluarga. Ataukah karena pengaruh patriarkhi, bahwa perempuan adalah makhluk manis yang penurut. Buruh identik dengan orang yang gampang disuruh-suruh, dan perempuan dianggap sebagai orang yang tidak gampang mengeluh.

Itulah yang mendorong saya pada tahun 2010 yang lalu memprakarsasi penulisan buku ‘Bicaralah Perempuan’. Ketika itu, saya mengundang perempuan-perempuan Indonesia untuk menyuarakan berbagai kekerasan terhadap perempuan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Setidaknya 16 (enam belas) orang perempuan ikut andil dalam penulisan buku yang sekaligus dimaksudkan untuk “Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” bersama-sama dengan Komnas Perempuan dan Forum Solidaritas Buruh Serang.

Beberapa penulisnya adalah buruh migran yang bekerja di Hongkong dan Malaysia. Saya memang tidak pernah kesana, tetapi membaca tulisan mereka, saya menjadi tahu betapa hebatnya perjuangan mereka untuk tetap berdiri tegak sebagai seorang manusia.

Ketika mendengar ada buruh migran yang dituduh membunuh majikannya, saya tak yakin mereka memiliki niat untuk membunuh. Dalam hal ini, saya selalu teringat dengan kata-kata itu, “Demi keluarga…” Mereka pergi dengan sepenuh cinta untuk kelurganya. Untuk anak-anaknya. Sembari berjanji satu saat nanti akan kembali. Tak mungkin memiliki niat keji, jika terlebih dahulu tak disakiti.

Maka, sekali lagi, ini permasalahan kita sebagai bangsa. Itulah sebabnya, penolakan hukuman mati terhadap buruh migran Indonesia bukan hanya tanggungjawab sekelompok orang dengan aksi-aksi di jalanan. Semestinya negara turun tangan, berdiri di garda depan untuk melindungi warga negera dari eksekusi mati.

Dan itu bisa dimulai dengan menghapus hukuman mati di Indonesia…

.

 Kahar S. Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Hidup Buruh

Dokumentasi ketika aku memberikan motivasi kepada buruh-buruh di sebuah pabrik di Tangerang, Banten. (Foto: Dokumen Pribadi)

Dokumentasi ketika aku memberikan motivasi kepada buruh-buruh di sebuah pabrik di Tangerang, Banten. (Foto: Dokumen Pribadi)

Setiap kali hadir dalam acara diskusi atau konsolidasi yang diselenggarakan teman-teman buruh, kalimat pertama yang aku teriakkan adalah, “Hidup Buruh!”

Lalu, sambil mengangkat tangannya ke atas, dengan gempita mereka akan membalas, “Hidup.”

“Hidup Buruh!”

“Hidup.”

Selalu begitu. Teman-temanku bilang, itu kebiasaan. Tetapi, bagiku, teriakan ‘hidup buruh’ lebih dari dari sekedar kebiasaan. Bukan juga sekedar menjadi pembuka dari sebuah kata sambutan.

Teriakan ‘hidup buruh’ adalah deklarasi. Bahwa sejatinya perjuangan kaum buruh adalah perjuangan untuk kehidupan.

Teriakan ‘hidup buruh’ adalah mantra. Semacam penolak bala, agar buruh tetap menjadi manusia. Tidak berubah menjadi robot yang memiliki nyawa.

Dan pada akhirnya, teriakan ‘hidup buruh’ adalah pengingat bagi semua umat. Bahwa buruh adalah penentu peradaban. Nggak percaya? Sebutkan satu saja benda yang melekat di tubuhmu, niscaya tak ada satu pun yang terbebas dari sentuhan tangan seorang buruh. Bahkan celana dalam yang kau pakai, buruh lah yang membuatnya. Sampai pada hal yang sekecil itu. Maka terserah kau saja. Jika masih tidak memiliki empati kepada kaum buruh, apalagi ikut-ikutan memusuhi mereka, tanggalkan semua hasil karya buruh yang kau pakai. Niscaya kau tidak akan memakai apa-apa lagi.

Siapa itu buruh?

Satu ketika Surya Tjandra pernah mengatakan, buruh adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Dia hanya mempunyai tenaga, kemudian hidup dengan menjual tenaganya itu.

Kalau saja dia mempunyai banyak uang, dia tak akan sudi menjadi buruh. Atau meninggalkan Indonesia, negeri yang permai ini, untuk pergi ke negeri orang. Yang dia punya hanyalah tenaga. Itulah yang ia jual kepada majikan untuk mendapatkan uang.

Di negerinya sendiri, tidak semua orang membutuhkan tenaganya. Maka dengan terpaksa ia ‘menjual tenaganya’ ke negara lain. Menjadi buruh migrant.

Coba bayangkan ini. Ketika perusahaan sepatu memproduksi sepatu, yang mereka jual kepada konsumen adalah sepatu. Ketika perusahaan mobil memproduksi mobil, yang mereka jual kepada konsumen adalah mobil. Lantas bagaimana kita menjelaskan pengiriman ribuan orang ke luar negeri melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia? Dalam hal ini, yang mereka jual adalah manusia.

Kalau satu ketika si buruh migrant itu jatuh sakit, terkapar tak berdaya, dengan mudah majikan menendangnya. Menggantikan dengan buruh baru yang lebih kuat tenaganya. Sang majikan, orang yang telah ‘membeli’ si buruh migrant itu, merasa bebas memperlakukan buruhnya dengan sesuka hatinya: upah yang murah, kerja tanpa istirahat, bahkan memperkosa. Sudahlah memeras tenaganya, dia ambil pula tubuhnya.

Dan ketika si buruh migrant itu membela diri, dengan segera ia akan divonis hukuman mati. Ironisnya, pembelaan penguasa negeri ini terhadap warga negara yang akan meregang nyawa di tiang gantungan hanyalah basa-basi.

* * *

Hidup buruh…

Bahwa buruh berjuang untuk  kehidupan. Bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk anak dan anak dari anak-anaknya itu.

Kalau saja disini, di negeri bernama Indonesia ini, tersedia kehidupan yang lebih baik, buruh tak akan mencarinya hingga jauh ke negeri orang. Mereka menjadi seperti itu bukan karena kesalahannya. Bukan pula karena  kebodohannya. Mereka menjadi seperti itu, karena tak banyak pekerjaan tersedia untuknya.

Sebagian dari kita beruntung mendapatkan pekerjaan didalam negeri. Tetapi ada jutaan yang lain tidak memiliki keberuntungan itu. Padahal, mereka bukan orang lain. Mereka saudara kita. Mereka adalah kita: buruh.

Bedanya, mereka bekerja di luar negeri, sedangkan kita bekerja di dalam negeri. Apakah hanya karena dipisahkan oleh batas negara kemudian ada jarak dengan mereka? Tidak! Seperti halnya rasa kemanusiaan yang tak mengenal batas negara, begitulah solidaritas antar buruh. Itulah sebabnya, meskipun saat ini aktif mendampingi buruh-buruh didalam negeri, aku tertarik dan ingin terlibat dalam perjuangan buruh migrant (di luar negeri).

.

Kahar S. Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki

Entahlah, apa yang membuatku selalu gelisah setiap kali melihatmu tidak masuk sekolah. Saat-saat seperti ini, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Dan celakanya, aku tak pernah tahu apa gerangan yang telah hilang itu.

Kamu?

Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Tetapi bagaimana mungkin? Sedangkan aku tak pernah memilikimu. Jadi untuk apa harus merasa kehilangan? Untuk apa harus ada gelisah ketika kau tak datang ke sekolah? Sekali lagi, aku tak tahu. Saat ini pun, setelah hampir dua puluh tahun peristiwa itu berlalu, aku tak pernah berhasil menemukan jawabannya.

Sejak hari pertama kau tidak datang ke sekolah, semua menjadi tidak lagi sama. Dalam kelas terasa sangat membosankan. Papan tulis terlihat muram. Aku bahkan kehilangan semangat untuk mengikuti pelajaran. Padahal, biasanya, aku dan kamu akan saling berlomba menjawab setiap pertanyaan guru. Seperti kehilangan pesaing, aku justru menjadi lesu.

Sepintas, kita seperti saling berkompetisi menjadi yang terbaik. Kau selalu menempati ranking satu, sedangkan aku cukup puas mengekor di belakangmu. Tetapi diluar itu, kita adalah dua sahabat yang sangat dekat.  Saling melengkapi. Aku akan menanyakan tetang rumus matematika dan fisika kepadamu. Sesekali aku meminjam buku catatanmu untuk aku bawa pulang ke rumah, sekedar untuk mengagumi tulisan tangamu yang mungil dan rapi. Dan kau akan bertanya kepadaku tentang pelajaran bahasa Indonesia. Terutama ketika Bu Ratna, guru bahasa Indonesia yang sekaligus menjadi wali kelas kita, memberikan pekerjaan rumah untuk menulis cerpen dan puisi.

Teman-teman mengira kita pacaran. Aku hampir saja membenarkan, jika saja kamu tidak mengatakan, “Halah…, kita kan masih kecil. Konsentrasi belajar dulu.”

Ketika itu kita duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Beberapa bulan menjelang Ebtanas, yang sekarang diubah menjadi UAS.

* * *

Ini hari ketiga, kamu tidak juga datang ke sekolah. Bu Ratna meminta salah satu siswa datang ke rumahmu untuk mencari kabar tentang dirimu. Lazimnya anak sekolah jika tidak masuk menyampaikan pemberitahuan. Tetapi kamu sama sekali tidak memberikan kabar kepada pihak sekolah. Wajar jika kami mengkhawatirkanmu.

Aku mengacungkan tangan. Siap menjadi relawan.

“Cie…, cie…. Modus,” kelas menjadi gaduh. Kawan-kawan masih saja menyangka kita  memiliki hubungan spesial.

“Mau nyari tahu keberadaan Desi atau melepas rindu,” yang lain menimpali.

Di bully teman-teman, aku memasang muka tak suka. Padahal dalam hati berbunga-bunga. Begitulah ceritanya. Akhirnya siang itu aku dan Yuda, ketua kelas kita, pergi ke rumahmu.

Dan ini awalnya. Sejak saat itu, akhirnya aku mengetahui kehidupan keluargamu. Kau tidak masuk sekolah karena harus merawat bapak yang sedang sakit. Kau dua bersaudara. Adikmu masih kecil, lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Sedangkan emak, begitu kau biasa memanggil ibumu, menjadi buruh migrant di Arab Saudi. Bapak hanyalah buruh tani yang menjual tenaganya untuk “menggarap” sawah orang. Tidak setiap hari ada orang yang menggunakan jasanya.

Di Blitar, tempat aku besar, sebagian mata pencaharian penduduknya memang petani. Tetapi sesungguhnya banyak yang dinamakan petani itu tidak memiliki sawah. Tidak berlebihan jika kemudian menjadi buruh migrant ke luar negeri menjadi pilihan. Hidup tidak memberikan banyak pilihan bagi orang miskin.

Seperti kali ini, ketika bapak sakit, kau yang mengalah tidak pergi ke sekolah agar bisa merawat bapak di rumah. Sejak emak berangkat ke Arab, mencuci, memasak, hingga membersihkan rumah, kau semua yang mengerjakan. Dengan pekerjaan yang banyak itu, aku tak tahu bagaimana kamu meluangkan waktu untuk belajar agar menjadi bintang kelas. Aku saja, yang semua kebutuhan disetiapkan orang tua, harus jungkir balik sekedar untuk menempati posisi nomor dua.

“Har, aku anak paling besar. Pilihanku hanya satu, rajin belajar agar bisa mengakhiri kemiskinan yang dialami keluargaku,” katamu, saat kita ngobrol di ruang tamu.

“Kamu hebat, Des.” Hanya itu yang terucap dari bibirku. Di mataku, kau menjelma sebagai sosok yang jauh lebih dewasa. Padahal, usiaku lebih tua beberapa minggu dari usiamu.

“Setelah ini aku akan melanjutkan ke SMA I, dan setelah lulus nanti aku akan mencari beasiswa untuk masuk perguruan tinggi,” katamu. Setelah beberapa saat terdiam, engkau  melanjutkan, “Aku mau jadi Arsitek. Membangun gedung-gedung tinggi seperti yang ada di luar negeri.”

Aku tahu, itu adalah SMA favorit. Hanya mereka yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata yang bisa diterima menjadi siswa disana. Dengan prestasimu selama ini, aku yakin kau bisa mewujudkan mimpi itu.

Desi, mungkin saja kau telah lupa dengan percakapan ini. Tetapi aku masih mengingatnya dengan sempurna, hingga kini. Entah ini tanda-tanda apa. Satu hal yang pasti, semua hal tentangmu, aku cepat sekali mengingatnya.

* * *

Hingga akhirnya, kita dinyatakan lulus sekolah menengah pertama. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, kau berhasil masuk ke SMA I. Aku ikut gembira.

Tetapi menjelang kenaikan kelas tiga, di SMA itu, aku mendengar kabar kau telah berhenti sekolah. Emak tak lagi mengirim uang dari Arab Saudi. Sementara biaya pendidikan di sekolah ini tergolong tinggi.

Ach, begitu cepatnya hidup ini berubah. Aku merasa marah. Tapi tak tahu kepada siapa — untuk apa.

Aku tahu, ini adalah saat tersulit dalam hidupmu. Seketika itu bangunan cita-citamu runtuh. Kau bisa saja menyelesaikan rumus-rumus sulit dalam matematika dan fisika. Tetapi begitu menyangkut tentang ekonomi, ketiadaan biaya sekedar untuk ongkos pergi ke sekolah, akhirnya kau menyerah.

Aku masih percaya, jika saja kau menghadapi seorang diri, kau pasti akan mampu. Tetapi masalahnya, dibelakangmu ada bapak yang mulai sakit-sakitan, juga adikmu yang mulai beranjak besar.

“Aku akan ngumpulin uang dulu untuk jadi Arsitek, Har…” itu kalimat terakhir yang aku dengar, sebelum kamu memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai TKW. Mengikuti jejak ibumu sebagai buruh migrant.

“Kenapa nggak cari kerja disini aja sih,” kataku. Sewot.

“Kamu pikir gampang apa nyari kerja untuk orang yang nggak lulus SMA? Nggak jual diri juga udah untung,” katamu. Judes sekali. Mungkin karena menjadi buruh migrant pun bukan pilihan yang kau kehendaki. (*)

.

Kahar S Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Menulis, Bekerja Untuk Keabadian

Foto bersama dengan perserta pelatihan menulis di Purwakarta (Jum`at, 23 Januari 2015)

Foto bersama dengan perserta pelatihan menulis di Purwakarta (Jum`at, 23 Januari 2015)

Kamis hingga Sabtu, 22 – 24 Januari 2015, saya berada di Purwakarta. Salah satu agenda paling berkesan adalah saat “mengompori” kawan-kawan FSPMI untuk menulis buku.

Mengapa buku? Saya kira, buku menjadi media yang tepat untuk mendokumentasikan gerakan. Bisa lebih detail mengumpulkan setiap kepingan peristiwa. Dan lebih lama menyimpan rasa. Lintas generasi.

Meskipun dikemas dalam pelatihan menulis, tetap saja dalam durasi yang singkat itu tidak mampu mengupas hingga habis. Tetapi percayalah. Pelajaran terpenting dari menulis adalah menulis. Karena itu saya selalu berpesan agar mulai berkarya, nikmati prosesnya, dan rasakan keajaibannya.

Saat ini, saya mulai menuliskan tentang gerakan buruh Purwakarta. Pesanan KC FSPMI Purwakarta. Penulisannya saya kerjakan beselang-seling dengan penulisan biografi seorang tokoh buruh di Bekasi.

Meskipun begitu, jangan menyangka 24 jam dalam satu hari saya berada di depan komputer. Sehari, saya benar-benar serius menulis paling banter hanya 2 jam. Biasanya pagi-pagi sekali. Saat pikiran masih jernih. Selebihnya saya masih bisa mengisi pelatihan, menghadiri rapat-rapat organisasi, ikut aksi, pendampingan kasus, dan ‘tetek bengek’ kegiatan lain. Percayalah, menulis tidak akan mengganggu rutinitasmu.

Minggu depan, 1 Februari 2015, saya diundang kawan-kawan Forum Komunikasi Buruh Citeurep (FKBC), Bogor, untuk mengisi pelatihan menulis di sana. Kepada saya mereka menyampaikan ingin mengembangkan media alternatif untuk buruh. Menjadikan kata sebagai senjata.

Dalam hal ini, saya penganut ajaran Pram: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian…”

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Dan Perahuku Pun Terus Melaju | Foto ini diambil saat kami mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

“Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai. Berdamailah dengan kenyataan. Hadapilah semuanya dengan senyuman, karena dibalik itu ada kemudahan.”  Ini adalah kalimat pertama dalam tulisan berjudul The Power of Single Parent dalam buku Perempuan di Garis Depan. Penulisnya, Nurhidayah.

Ajakan untuk berdamai dengan kenyataan, bagi saya sesuatu sekali. Dalam bahasa lain, Nur ingin mengatakan agar kita selalu mensyukuri apa yang ada.

Hal itu jangan dibaca sebagai sikap nrimo. Sama sekali bukan. Ini lebih mirip dengan sikap legowo. Sebuah sikap yang membuat kita senantiasa memiliki kekuatan untuk berusaha membuat capain-capaian baru: terlepas apapun kenyataan yang akan kita hadapi nanti. Tidak mudah patah hati.

Bicara tentang kenyataan, adalah sesuatu yang tak bisa dipungkiri bila saat ini kita sudah berada di akhir tahun 2014. Sebentar lagi, tahun 2015 segera tiba. Capaian kita di tahun 2014 tentu sebanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. “Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai,” demikian Nur mengatakan.

Bagaimana dengan 2015? Saya sendiri sedang menimbang-nimbang beberapa resolusi (halah, sok serius). Usia saya sudah lebih dari 30 tahun, dengan seorang istri dan dua anak yang terus bertumbuh besar. Setidaknya saya harus mulai mengurangi kenakalan-kenakalan saya dan fokus pada apa yang menjadi tujuan hidup.

Saya tidak tahu apakah itu akan berhasil. Tetapi saya tahu, sebagaimana Nurhidayah juga memberitahu, dibalik kesulitan ada kemudahan. Saya sih percaya itu. Kamu? (*)

Puri Teratai, 29 Desember 2014

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Menjadi Ayah Terbaik

10881726_10202924720713182_8033852618707097401_n

Ada saatnya kita tidak usah menjadi apa-apa, kecuali sekedar menjadi ayah untuk anak-anak kita. Menyerah pada apa yang mereka inginkan, lalu membiarkan mereka merayakan kemenangan atas apa yang telah mereka lakukan.

Dalam suasana seperti itu, kita tidak perlu jaim agar terlihat hebat. Tak perlu berpakaian rapi supaya disegani. Yang kita perlukan adalah larut dalam dunia kanak-kanak mereka.

Itulah yang saya rasakan, saat beberapa hari lalu mengantarkan Fadlan dan Haya berlibur ke rumah neneknya, di Blitar.

Barangkali saya bukanlah ayah terbaik di dunia, tetapi dengan itu, setidaknya saya telah menjadi ayah terbaik bagi mereka berdua. (*)