Siman

fb_img_1465467682767

SIMAN. Panggil saja begitu. Usianya tidak lagi muda. Tahun ini, genap 60 tahun.

Seusia itu, dia tidak mau pensiun dari tempatnya bekerja.

“Saya masih kuat bekerja. Buat apa minta pensiun?” Ujar buruh dari sebuah pabrik yang berlokasi di Semarang ini, ketika saya menanyakan mengapa di usianya yang sudah senja dia tidak istirahat saja.

Siman juga anggota Garda Metal. Dia bahkan tecatat sebagai angkatan pertama dalam Latsar Jawa Tengah. Melihatnya mengenakan kaos berkerah yang dimasukkan kedalam celana jeans, dengan rambut panjang dan kalung perak khas Garda Metal, tidak sulit menyimpulkan bahwa dia memang berjiwa muda.

“Saya ingin memberi contoh kepada yang muda-muda.” Mendengar itu, saya menepuk pundaknya.

Tidak sekedar memberi contoh. Siman memang layak dicontoh. Orang tua yang memahami arti tanggung jawab. Dia tidak menjadi egois dengan mengatakan kini giliran anak muda, kemudian hanya duduk di belakang meja. Siman hadir untuk memberikan spirit, bahwa perjuangan tak kenal usia. (*)

Teman

IMG_20160315_142100-1024x576

Saya mengenal tim ini dengan baik. Akrab dan dekat. Sederhana saja indikator yang saya pakai untuk mengukur sebuah kedekatan. Ketika kita melakukan protes, kritik, bahkan bicara sedikit keras dan mereka tidak tersinggung, kita sudah berada di tingkat itu. Sudut yang dipakai nyaris sama: bercanda.

Meskipun saya tidak mendalami dunia foto dan video, tetapi jiwa saya ada disana. Ini semacam perasaan cinta. Jauh, tapi tetap terasa hangat.

Saya teringat kisah mereka ketika berada di Surabaya. Sejak bangun tidur,Kiki dan Slamet nyaris tak pernah akur. Sekedar mentransfer file video pun membuat mereka berselisih pendapat. Tetapi ketika tidur, konon mereka tak bisa memejamkan mata jika tidak berpelukan. Sudah sampai pada taraf itu rupanya.

Peran Kepala Suku Iwan Budi Santoso dan Herveen, saya rasa menjadi kunci penting yang membuat tim ini menjadi tetap stabil. Keduanya adalah anak muda yang memahami benar, hal apa yang harus mereka kerjakan. Saya merasa beruntung berada di tengah-tengah mereka. Seperti mendapat teman ngobrol di sebuah perjalanan yang membosankan.

Jika ada film berjudul “Kisah 3 Titik”, disini pun ada yang tak kalah seru: “Kisah 2 Agung”. Satu hal yang selalu menimbulkan pertanyaan lanjutan ketika nama ‘Agung’ disebut. Agung yang mana nih? Tangerang atau Jakarta? Begini rupanya derita memiliki nama pasaran, hehe…

Kemarin kami bertemu, setelah tujuh hari mereka digembleng ilmu kanuragan di Akmani, persis di belakang Sarinah yang beberapa waktu lalu dihebohkan serangan teroris itu. Sebagai anak muda yang baru turun gunung, biasalah, gayanya petakilan. Siapa saja mau dilawan. Beragam jurus ingin dipraktekkan.

“Biar tidak seperti pepatah. Daunnya lebat, tapi tidak berbuah,” kata mereka.

Saya memberikan senyum terbaik. Tidak lupa mengedipkan satu mata sebagai tanda cinta. Berharap akan ada banyak karya lahir dari tangan-tangan berbakat ini.

Dan atas semua itu, terima kasih kepada Tuan Putri Prihanani yang membantu semua ini bisa terjadi…

Sikap

Ketika melakukan perjalanan sejauh apapun, pada akhirnya kita akan kembali. Bahkan saat mengunjungi destinasi yang mengesankan, setelah itu akan dihadapkan pada realita yang sama. Tidak berlebihan jika kemudian Aristoteles mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang – ulang. Mengasahnya, hingga bukan lagi suatu tindakan, tapi kebiasaan.”

P1050103Barusan saya menemukan foto ini. Diambil ketika melakukan perjalanan ke Hongkong, sebagai hadiah karena saya memenangi lomba menulis.

Bicara dunia tulis-menulis, apa yang dikatakan Aristoteles menemukan relevansinya. Pada akhirnya saya merasa, ini hanyalah soal kebiasaan. Kita hanya perlu melakukannya berulang-ulang. Seperti halnya seorang penikmat kopi harus menyeruput minuman hitam pekat ini setiap bangun tidur di pagi hari.

“Tidak ingin menulis tema lain, selain tema tentang buruh?” Sebuah pertanyaan masuk ke inbox saya, pagi ini.

“Untuk saat ini, biarlah tema itu dikerjakan orang lain,” jawab saya.

Kemudian saya balik bertanya. “Lah, kamu sendiri mengapa tidak mau menulis tema tentang buruh? Setidaknya tentang perlawanan orang-orang tertindas?” Saya tahu, dia beberapa kali sudah menulis buku.

“Nggak ada duitnya.”

Mendengar jawaban itu, saya tidak begitu kaget. Mungkin itu juga ketidaknyamanan dia, mau-maunya ngurusi buruh. Tahu alasannya mengapa saya melakukan ini? Karena saya sudah tersihir dengan mantra filsuf Pytagoras, yang mengatakan, “Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.”

Meski melelahkan, tetapi saya gembira dengan ini semua.

Memoar Gerakan Buruh Tangerang

12321113_977856808927409_617775490518490149_nBuat saya, “Memoar Gerakan Buruh Tangerang” menjadi semacam energi yang menyemangati untuk terus melangkah. Saya menuliskannya tahun 2011, saat baru bertugas di Tangerang, setelah lebih dari 8 tahun bersama FSPMI SERANG BANTEN. Sesuatu yang kemudian membuat saya memahami lebih detail, orang-orang hebat yang bekerja sepenuh jiwa hingga FSPMI Tangerang bisa kita lihat seperti sekarang.

Ada sejarah panjang sehingga FSPMI bisa menjadi seperti ini. Ia tidak tercipta dengan merapal mantra: bim salabim.

Maka, dengan mengenal sejarahnya, tidak saja akan membuat kita semakin jatuh cinta, tetapi juga menghargai. Dan bagi saya, penghargaan adalah apresiasi paripurna atas apa yang didedikasikan oleh orang lain.

Saya menyaksikan, disini, ada yang datang dan pergi. Ada yang bertahan sekian lama di tengah badai. Ada pula yang sekelebatan muncul, kemudian menghilang. Justru hal-hal seperti itulah yang kemudian menjadikannya penuh warna.

Satu hal yang saya kagumi sejak dulu adalah cara mereka menyatakan cinta. Bisa jadi ia akan marah ketika apa yang diharapkannya bertepuk sebelah tangan. Tetapi begitu instruksi sudah diturunkan, semua akan tunduk dan patuh. Rasa seperti ini sulit dipahami, tetapi benar-benar terjadi.

Demikianlah kisah-kisah itu terjadi. Jika dicermati, apa yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Semua bermula dari hati yang bening. Keikhlasan untuk saling membantu dan kerelaan untuk berkorban. Jauh dari kesan hendak mencari keuntungan diri sendiri.

Beberapa kawan mengatakan, buku ini merupakan salah satu karya terbaik saya. Bisa jadi benar, karena ketika menuliskannya, separuh hati saya ada disana. Meskipun, saya sendiri tidak pernah membeda-bedakan setiap karya yang saya hasilkan, karena setiap karya adalah istimewa: lebih dan kurangnya.

Ketika membaca kembali buku ini, saya semakin percaya, mimpi kita akan terjadi. Semacam keyakinan, bahwa setiap harapan bisa diwujudkan. Kita pernah mengalami masa-masa sulit dan berhasil melewatinya. Inilah pelajaran sejarah yang saya dapatkan dari buku ini.

“Jas merah,” kata Soekarno. Sebandel apapun dirimu, jangan lupakan sejarah.

KAHAR S. CAHYONO
Penulis buku ‘Memoar Gerakan Buruh Tangerang’

========================
Note: Buku ini bisa dipesan dengam mengirimkan sms ke HP/WA: 0859-4573-1398

========================

 

Peduli

Aksi di Kantor Gubernur Banten dihiasi hujan lebat. Daripada mengutuk alam, pilihannya adalah berkompromi dengan hujan. Basah-basahan sekalian.

Setelah tim loby menyampaikan aspirasi dan kembali lagi ke barisan massa aksi, saya melihat handphone. Ada 20 panggilan tak terjawab. Juga pesan dari beberapa kawan yang berada di PHI. Memang, di saat yang bersamaan, ada 2 persidangan yang tengah berlangsung: satu perkara dari kawan-kawan Serang, satu lagi dari Tangerang.

Sebelumnya, kami sudah berkoordinasi untuk berbagi tugas. Saya yang ditunjuk mewakili FSPMI sebagai tim loby ikut aksi, dan kawan-kawan tim advokasi FSPMI Tangerang berada di PHI, yang hari itu agendanya adalah pembuktian.

Kehabisan pulsa untuk menelpon balik, saya mengirimkan sms ke Bendahara PC, Bung Narya. Minta agar pulsa saya diisi. Meski saya tahu, di hujan lebat seperti ini, Sunarya yang juga ikut aksi akan menyimpan handphone-nya. Jadi pesan saya tak mungkin di baca.

Beberapa menit kemudian, di handphone saya ada panggilan masuk. Kawan-kawan di PHI, mengabarkan jika saya ditunggu. Teman yang saya minta untuk mewakili ditolak oleh majelis.

Dengan pakaian basah kuyup, saya datang ke PHI. Memakan waktu 5 menit (jika ngebut) dari tempat aksi. Hujan masih deras.

Sesampainya di PHI, saya disambut Kristian Lelono, Tungga Sofi Sadewa, dan Must Akhmad Isroil. Ada juga kawan Ramadhani F. Chuky dari GM Free Graph dan beberapa kawan dari FSPMI Serang. Tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita melihat saya basah kuyup, Bung Kris meminjamkan baju bersih. Juga jas kebesarannya. Akhirnya, saya bisa masuk ke ruang sidang dengan hati yang lapang.

Sejujurnya, hal-hal kecil seperti ini kerap kali menyentuh hati saya. Kerelaan untuk saling membantu. Kepedulian dan kesediaan untuk berbagi peran. Diatas semua itu, apa yang kita kerjakan sesungguhnya saling terkait dan menguatkan. Memijam kalimat beberapa kawan, kita ini bersaudara walau tak sedarah.

Kawan-kawan yang hari itu bertugas ke PHI, saya yakin dalam hati kecilnya lebih memilih ikut aksi. Berada di tengah-tengah gegap gempita 12 mokom yang berjejer di KP3B dan dilihat oleh banyak anggota. Bandingkan ketika mereka berada di ruang “sunyi” benama PHI. Tetapi ia menyingkirkan egoisme dan kegembiraannya, demi membela kawan-kawannya yang di PHK. Jika disuruh memilih, mungkin Chuky si wartawan KP itu akan lebih banyak mendapatkan berita bagus ketika meliput aksi, ketimbang meliput jalannya persidangan. Bahkan, sosok seperti bung Ade Taufiq yang selalu standby di Sastra Plaza adalah orang sosok yang berjasa untuk memastikan kelancaran administrasi organisasi.

Ada istilah total football. Tidak selayaknya penyerang yang baik berada di barisan belakang menunggu gawang. Pun begitu sebaliknya. Apapun peran kita, sepanjang itu untuk kepentingan kaum buruh adalah mulia.

Di sela-sela kepala berat karena efek masuk angin, entah mengapa, pagi ini saya merasa perlu mengutip kalimat Puthut Ea, seperti di bawah ini:

“Kita mungkin sering hanya karena memikirkan eksistensi, egoisme, kepentingan diri, lupa bahwa kadang semua itu punya implikasi kepada orang lain. Seakan, hanya demi kehebatan kita, tak perlu peduli pada beban yang mesti ditanggung oleh orang lain. Tak peduli pada beban orang-orang terdekat kita, bahkan yang punya niat dan perbuatan baik kepada kita.

Egoisme sering melukai orang-orang yang kita cintai, menciderai orang-orang yang punya kebaikan hati. Diam-diam kita telah begitu kejam kepada mereka. Seakan boleh melakukan apa saja, boleh tidak bertanggungjawab, boleh tak acuh.

Diam-diam kita lupa menjadi manusia…”

Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

12370684_10204826706261632_4495342253744850780_o

Tadi pagi, istri saya mengingatkan. Hari ini genap 12 tahun kami mengarungi bahtera bersama. Ach, untuk urusan tanggal, saya memang pelupa. Sementara perempuan yang saya cintai ini memorinya kuat sekali.

Ketika menyadari hari ini adalah hari bersejarah bagi kebersamaan kami, saya memeluk dan mengecup keningnya dengan sepenuh cinta.

Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat itu. Saat ketika dengan gagah berani membuat keputusan terpenting dalam hidup: menikah.

Dua tahun setelah menikah, Fadllan lahir. Dia kini berusia sepuluh tahun, kelas lima SD. Tiga tahun setelah itu, Haya lahir dan ikut meramaikan rumah mungil kami. Saat saya menulis catatan ini, bidadari kecil kelas dua SD itu duduk di pangkuan saya sambil memberitahu jika ada kata yang salah ketik.

May, istri saya, perempuan yang hebat. Aktivitas saya yang padat, nyaris tidak sempat untuk membantunya membereskan pekerjaan rumah. Hampir semua hal ia tangani sendiri. Padahal, sebagai pendidik, aktivitasnya tak kalah padat dengan saya. Dia terkadang mewakili sekolahnya mengikuti kegiatan di luar kota. Malam pun masih mengajari anak-anak kompleks mengaji.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa mandiri. Bapak (ayah mertua saya) meninggal ketika ia masih kecil. Sejak SD, ia sudah berjualan keliling kampung untuk meringankan beban orang tua membayar biaya sekolahnya. Saya sadar, perempuan itu tangguh, militan, dan cukup bisa diandalkan.

Tadi pagi, saya mengantar ke sekolah, tempatnya mengajar. Saya sampaikan, jika agenda saya hari ini adalah menghadiri rapat di Jakarta. Tidak bisa menemaninya di hari yang bersejarah ini.

“Mau kado pernikahan apa?” Tanya saya.

“Dirimu pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat, itu sudah cukup buat saya,” katanya. Sungguh, saya terharu… (*)

:: 14 Desember 2003 – 14 Desember 2015: Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

Aksi Lagi

12322462_10204796593508832_1232379574384670632_oSabtu sore, kemarin, di sela-sela rapat konsolidasi, saya berdiskusi dengan beberapa kawan. Kami melakukan sedikit refleksi terhadap dinamika yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. Ada evaluasi, kemudian lebih banyak membahas tentang langkah-langkah yang sebaiknya diambil, kedepan.

Konsolidasi seperti ini sering dilakukan. Terbuka. Siapa saja boleh datang. Tak peduli, meskipun kamu adalah anggota. Hampir pasti, setiap yang hadir diberi kesempatan untuk berbicara. Setiap orang akan di dengar pendapatnya.

Setelah tidak ada lagi yang memberikan pandangan, barulah kemudian keputusan ditetapkan. Berdasarkan catatan saya, mereka yang merasa memiliki gagasan hebat justru diam ketika kesempatan untuk itu diberikan. Malah, sebagian besar tidak hadir dalam forum-forum pengambilan keputusan seperti ini.

Berkhotbah tentang kebenaran dan sikap militan sambil ongkang-ongkang kaki sungguh nikmat sekali. Apalagi jika suara-suara itu hanya muncul di ruang sunyi tetapi tak bernyali ketika harus berhadap-hadapan. Sikap seperti ini, menurut seorang kawan dalam diskusi kemarin: “Cermin dari seorang pengecut yang sempurna!”

“Ora urus,” kata seorang teman, menanggapi.

Hal yang menarik, ketika kemudian forum memutuskan aksi ke DPR RI, besok, menggunakan sepeda motor. Bagi yang punya ninja bisa dibawa. Termasuk, yang memiliki mobil pribadi bisa ikut serta. Dampak buruk PP 78 bukan sekedar pengaturan tentang upah. Tetapi juga tentang demokrasi yang dikebiri, hak asasi, dan rezim yang semakin represif. Jika sudah bicara demokrasi dan hak asasi, siapa saja harus marah. Biar kelas menengah atas yang ngehek itu tahu, buruh yang katanya sudah bergaji tinggi masih berani. Lah, mereka punya apa? Melakukan apa?

Ini ide yang menarik. Meski beresiko tinggi. Biasanya, aksi naik bus. Tinggal duduk, tidur, dan sampai.

“Kami sudah nggak punya biaya untuk sewa bus,” keluh beberapa kawan. Apalagi mereka juga harus mempersiapkan anggaran untuk Kongres di Surabaya, yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Dalam hal ini, menggunakan motor untuk datang ke Jakarta menjadi solusi. Sekaligus untuk meningkatkan partisipasi peserta aksi.

Hal lain yang menggembirakan adalah adanya kesepakatan dari seluruh serikat pekerja se-Provinsi Banten untuk melakukan Aksi Bersama ke Kantor Gubernur Banten. Jika pemimpinnya sudah bersatu, atau setidaknya-tidaknya memiliki komitment yang sama terhadap perjuangan ini, rasanya langkah kita menjadi lebih indah.

Aksi bersama pasca mogok nasional ini sekaligus memberikan sinyal kuat, bahwa mogok nasional kemarin bukan klimaks. Ia hanyalah satu rangkaian, dan masih ada rangkaian panjang berikutnya. (*)