Memoar Gerakan Buruh Tangerang

12321113_977856808927409_617775490518490149_nBuat saya, “Memoar Gerakan Buruh Tangerang” menjadi semacam energi yang menyemangati untuk terus melangkah. Saya menuliskannya tahun 2011, saat baru bertugas di Tangerang, setelah lebih dari 8 tahun bersama FSPMI SERANG BANTEN. Sesuatu yang kemudian membuat saya memahami lebih detail, orang-orang hebat yang bekerja sepenuh jiwa hingga FSPMI Tangerang bisa kita lihat seperti sekarang.

Ada sejarah panjang sehingga FSPMI bisa menjadi seperti ini. Ia tidak tercipta dengan merapal mantra: bim salabim.

Maka, dengan mengenal sejarahnya, tidak saja akan membuat kita semakin jatuh cinta, tetapi juga menghargai. Dan bagi saya, penghargaan adalah apresiasi paripurna atas apa yang didedikasikan oleh orang lain.

Saya menyaksikan, disini, ada yang datang dan pergi. Ada yang bertahan sekian lama di tengah badai. Ada pula yang sekelebatan muncul, kemudian menghilang. Justru hal-hal seperti itulah yang kemudian menjadikannya penuh warna.

Satu hal yang saya kagumi sejak dulu adalah cara mereka menyatakan cinta. Bisa jadi ia akan marah ketika apa yang diharapkannya bertepuk sebelah tangan. Tetapi begitu instruksi sudah diturunkan, semua akan tunduk dan patuh. Rasa seperti ini sulit dipahami, tetapi benar-benar terjadi.

Demikianlah kisah-kisah itu terjadi. Jika dicermati, apa yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Semua bermula dari hati yang bening. Keikhlasan untuk saling membantu dan kerelaan untuk berkorban. Jauh dari kesan hendak mencari keuntungan diri sendiri.

Beberapa kawan mengatakan, buku ini merupakan salah satu karya terbaik saya. Bisa jadi benar, karena ketika menuliskannya, separuh hati saya ada disana. Meskipun, saya sendiri tidak pernah membeda-bedakan setiap karya yang saya hasilkan, karena setiap karya adalah istimewa: lebih dan kurangnya.

Ketika membaca kembali buku ini, saya semakin percaya, mimpi kita akan terjadi. Semacam keyakinan, bahwa setiap harapan bisa diwujudkan. Kita pernah mengalami masa-masa sulit dan berhasil melewatinya. Inilah pelajaran sejarah yang saya dapatkan dari buku ini.

“Jas merah,” kata Soekarno. Sebandel apapun dirimu, jangan lupakan sejarah.

KAHAR S. CAHYONO
Penulis buku ‘Memoar Gerakan Buruh Tangerang’

========================
Note: Buku ini bisa dipesan dengam mengirimkan sms ke HP/WA: 0859-4573-1398

========================

 

Iklan

Peduli

Aksi di Kantor Gubernur Banten dihiasi hujan lebat. Daripada mengutuk alam, pilihannya adalah berkompromi dengan hujan. Basah-basahan sekalian.

Setelah tim loby menyampaikan aspirasi dan kembali lagi ke barisan massa aksi, saya melihat handphone. Ada 20 panggilan tak terjawab. Juga pesan dari beberapa kawan yang berada di PHI. Memang, di saat yang bersamaan, ada 2 persidangan yang tengah berlangsung: satu perkara dari kawan-kawan Serang, satu lagi dari Tangerang.

Sebelumnya, kami sudah berkoordinasi untuk berbagi tugas. Saya yang ditunjuk mewakili FSPMI sebagai tim loby ikut aksi, dan kawan-kawan tim advokasi FSPMI Tangerang berada di PHI, yang hari itu agendanya adalah pembuktian.

Kehabisan pulsa untuk menelpon balik, saya mengirimkan sms ke Bendahara PC, Bung Narya. Minta agar pulsa saya diisi. Meski saya tahu, di hujan lebat seperti ini, Sunarya yang juga ikut aksi akan menyimpan handphone-nya. Jadi pesan saya tak mungkin di baca.

Beberapa menit kemudian, di handphone saya ada panggilan masuk. Kawan-kawan di PHI, mengabarkan jika saya ditunggu. Teman yang saya minta untuk mewakili ditolak oleh majelis.

Dengan pakaian basah kuyup, saya datang ke PHI. Memakan waktu 5 menit (jika ngebut) dari tempat aksi. Hujan masih deras.

Sesampainya di PHI, saya disambut Kristian Lelono, Tungga Sofi Sadewa, dan Must Akhmad Isroil. Ada juga kawan Ramadhani F. Chuky dari GM Free Graph dan beberapa kawan dari FSPMI Serang. Tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita melihat saya basah kuyup, Bung Kris meminjamkan baju bersih. Juga jas kebesarannya. Akhirnya, saya bisa masuk ke ruang sidang dengan hati yang lapang.

Sejujurnya, hal-hal kecil seperti ini kerap kali menyentuh hati saya. Kerelaan untuk saling membantu. Kepedulian dan kesediaan untuk berbagi peran. Diatas semua itu, apa yang kita kerjakan sesungguhnya saling terkait dan menguatkan. Memijam kalimat beberapa kawan, kita ini bersaudara walau tak sedarah.

Kawan-kawan yang hari itu bertugas ke PHI, saya yakin dalam hati kecilnya lebih memilih ikut aksi. Berada di tengah-tengah gegap gempita 12 mokom yang berjejer di KP3B dan dilihat oleh banyak anggota. Bandingkan ketika mereka berada di ruang “sunyi” benama PHI. Tetapi ia menyingkirkan egoisme dan kegembiraannya, demi membela kawan-kawannya yang di PHK. Jika disuruh memilih, mungkin Chuky si wartawan KP itu akan lebih banyak mendapatkan berita bagus ketika meliput aksi, ketimbang meliput jalannya persidangan. Bahkan, sosok seperti bung Ade Taufiq yang selalu standby di Sastra Plaza adalah orang sosok yang berjasa untuk memastikan kelancaran administrasi organisasi.

Ada istilah total football. Tidak selayaknya penyerang yang baik berada di barisan belakang menunggu gawang. Pun begitu sebaliknya. Apapun peran kita, sepanjang itu untuk kepentingan kaum buruh adalah mulia.

Di sela-sela kepala berat karena efek masuk angin, entah mengapa, pagi ini saya merasa perlu mengutip kalimat Puthut Ea, seperti di bawah ini:

“Kita mungkin sering hanya karena memikirkan eksistensi, egoisme, kepentingan diri, lupa bahwa kadang semua itu punya implikasi kepada orang lain. Seakan, hanya demi kehebatan kita, tak perlu peduli pada beban yang mesti ditanggung oleh orang lain. Tak peduli pada beban orang-orang terdekat kita, bahkan yang punya niat dan perbuatan baik kepada kita.

Egoisme sering melukai orang-orang yang kita cintai, menciderai orang-orang yang punya kebaikan hati. Diam-diam kita telah begitu kejam kepada mereka. Seakan boleh melakukan apa saja, boleh tidak bertanggungjawab, boleh tak acuh.

Diam-diam kita lupa menjadi manusia…”

Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

12370684_10204826706261632_4495342253744850780_o

Tadi pagi, istri saya mengingatkan. Hari ini genap 12 tahun kami mengarungi bahtera bersama. Ach, untuk urusan tanggal, saya memang pelupa. Sementara perempuan yang saya cintai ini memorinya kuat sekali.

Ketika menyadari hari ini adalah hari bersejarah bagi kebersamaan kami, saya memeluk dan mengecup keningnya dengan sepenuh cinta.

Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat itu. Saat ketika dengan gagah berani membuat keputusan terpenting dalam hidup: menikah.

Dua tahun setelah menikah, Fadllan lahir. Dia kini berusia sepuluh tahun, kelas lima SD. Tiga tahun setelah itu, Haya lahir dan ikut meramaikan rumah mungil kami. Saat saya menulis catatan ini, bidadari kecil kelas dua SD itu duduk di pangkuan saya sambil memberitahu jika ada kata yang salah ketik.

May, istri saya, perempuan yang hebat. Aktivitas saya yang padat, nyaris tidak sempat untuk membantunya membereskan pekerjaan rumah. Hampir semua hal ia tangani sendiri. Padahal, sebagai pendidik, aktivitasnya tak kalah padat dengan saya. Dia terkadang mewakili sekolahnya mengikuti kegiatan di luar kota. Malam pun masih mengajari anak-anak kompleks mengaji.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa mandiri. Bapak (ayah mertua saya) meninggal ketika ia masih kecil. Sejak SD, ia sudah berjualan keliling kampung untuk meringankan beban orang tua membayar biaya sekolahnya. Saya sadar, perempuan itu tangguh, militan, dan cukup bisa diandalkan.

Tadi pagi, saya mengantar ke sekolah, tempatnya mengajar. Saya sampaikan, jika agenda saya hari ini adalah menghadiri rapat di Jakarta. Tidak bisa menemaninya di hari yang bersejarah ini.

“Mau kado pernikahan apa?” Tanya saya.

“Dirimu pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat, itu sudah cukup buat saya,” katanya. Sungguh, saya terharu… (*)

:: 14 Desember 2003 – 14 Desember 2015: Sebuah Catatan Pada 12 Tahun Pernikahan

Aksi Lagi

12322462_10204796593508832_1232379574384670632_oSabtu sore, kemarin, di sela-sela rapat konsolidasi, saya berdiskusi dengan beberapa kawan. Kami melakukan sedikit refleksi terhadap dinamika yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. Ada evaluasi, kemudian lebih banyak membahas tentang langkah-langkah yang sebaiknya diambil, kedepan.

Konsolidasi seperti ini sering dilakukan. Terbuka. Siapa saja boleh datang. Tak peduli, meskipun kamu adalah anggota. Hampir pasti, setiap yang hadir diberi kesempatan untuk berbicara. Setiap orang akan di dengar pendapatnya.

Setelah tidak ada lagi yang memberikan pandangan, barulah kemudian keputusan ditetapkan. Berdasarkan catatan saya, mereka yang merasa memiliki gagasan hebat justru diam ketika kesempatan untuk itu diberikan. Malah, sebagian besar tidak hadir dalam forum-forum pengambilan keputusan seperti ini.

Berkhotbah tentang kebenaran dan sikap militan sambil ongkang-ongkang kaki sungguh nikmat sekali. Apalagi jika suara-suara itu hanya muncul di ruang sunyi tetapi tak bernyali ketika harus berhadap-hadapan. Sikap seperti ini, menurut seorang kawan dalam diskusi kemarin: “Cermin dari seorang pengecut yang sempurna!”

“Ora urus,” kata seorang teman, menanggapi.

Hal yang menarik, ketika kemudian forum memutuskan aksi ke DPR RI, besok, menggunakan sepeda motor. Bagi yang punya ninja bisa dibawa. Termasuk, yang memiliki mobil pribadi bisa ikut serta. Dampak buruk PP 78 bukan sekedar pengaturan tentang upah. Tetapi juga tentang demokrasi yang dikebiri, hak asasi, dan rezim yang semakin represif. Jika sudah bicara demokrasi dan hak asasi, siapa saja harus marah. Biar kelas menengah atas yang ngehek itu tahu, buruh yang katanya sudah bergaji tinggi masih berani. Lah, mereka punya apa? Melakukan apa?

Ini ide yang menarik. Meski beresiko tinggi. Biasanya, aksi naik bus. Tinggal duduk, tidur, dan sampai.

“Kami sudah nggak punya biaya untuk sewa bus,” keluh beberapa kawan. Apalagi mereka juga harus mempersiapkan anggaran untuk Kongres di Surabaya, yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Dalam hal ini, menggunakan motor untuk datang ke Jakarta menjadi solusi. Sekaligus untuk meningkatkan partisipasi peserta aksi.

Hal lain yang menggembirakan adalah adanya kesepakatan dari seluruh serikat pekerja se-Provinsi Banten untuk melakukan Aksi Bersama ke Kantor Gubernur Banten. Jika pemimpinnya sudah bersatu, atau setidaknya-tidaknya memiliki komitment yang sama terhadap perjuangan ini, rasanya langkah kita menjadi lebih indah.

Aksi bersama pasca mogok nasional ini sekaligus memberikan sinyal kuat, bahwa mogok nasional kemarin bukan klimaks. Ia hanyalah satu rangkaian, dan masih ada rangkaian panjang berikutnya. (*)