Bagaimana Saya Menulis?

IMG_5385Foto ini diambil di Mojokerto. Disela-sela perjalanan saya ke Jawa Timur, pada September 2014 yang lalu. Adapun lokasi pengambilan gambar, tepatnya di markas bung Ardian.

Ketika itu pose kami sambil memamerkan buku yang saya tulis, Sepultura. Kisah tentang sekelompok pekerja/buruh yang memperjuangkan sepuluh tuntutan buruh dan rakyat, dalam konteks pemilihan presiden. Sesuatu yang kemudian semakin membulatkan tekad sebagian kawan, tentang pentingnya buruh memiliki alat politiknya sendiri.

Bagaimana saya menulis? Pertanyaan seperti ini sering dikirimkan melalui pesan dalam Fb saya. Apalagi ketika beberapa saat yang lalu, saya mengumumkan akan segera terbitnya buku terbaru saya, “Sebuah Panduan Dalam Menyelesaikan Perselisihan PHK”.

Sampai saat ini, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai terapi disaat senggang. Semacam cara untuk mengeluarkan beban pikiran. Sebab apabila yang ada dalam pikiran tidak segera dikeluarkan menjadi kata-kata, bisa jadi sudah lama saya sakit jiwa. Apalagi dengan banyaknya aktivitas, yang terkadang satu sama lain tidak berhubungan.

Maka anggapan bahwa untuk bisa menulis kita harus fokus 24 jam di depan komputer tidaklah benar. Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghadiri konsolidasi, terlibat dalam tim advokasi, ikut aksi, dan memberikan pelatihan. Toh sejauh ini sudah menulis lebih dari 15 judul buku.

Dan karena tidak benar-benar memfokuskan diri untuk menulis, ada beberapa buku “pesanan” yang masih belum selesai. Diantaranya adalah buku tentang sejarah perjuangan KAJS dalam melahirkan BPJS, dan kisah perlawanan GEBER BUMN dalam upaya melawan outsourcing di perusahaan-perusahaan plat merah. Milik negara.

Jika saya mengatakan ini, bukan berarti hendak menyombongkan apa yang telah saya capai. Sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa siapapun bisa melakukannya.

Apalagi saya lihat, banyak kawan yang rajin memosting aktivitas dan gagasannya di Fb. Jika dikumpulkan, dalam kurun waktu satu tahun saja sudah bisa menjadi bahan dasar dalam menerbitkan buku.

Aktivis harus menulis. Karena itulah yang akan membuat gagasanmu tetap hidup, meski nyawa sudah tidak lagi dikandung badan.

Iklan

Tak Hilang Ditelan Zaman

???????????

Setelah menyelenggarakan launching buku ‘Perempuan di Garis Depan’ pada tanggal 6 Desember 2014 di Bekasi, kini satu lagi karya Kahar S. Cahyono siap diluncurkan. Rencananya, buku ini paling lambat akan dilaunching pada akhir Januari, tahun depan.

‘Tak Hilang Ditelan Zaman’ berkisah tentang anak-anak muda yang bekerja di MTU. Tentang keteguhan sikap, dedikasi, dan tanggungjawab mereka sebagai pekerja — sekaligus sebagai manusia. Sebuah kisah inspiratif yang pernah ada di dunia nyata, bukan sekedar kisah yang hanya ada di negeri dongeng.

Mendengarkan bagaimana mereka tumbuh, sejatinya kita tidak sedang mendengarkan kisah hebat. Ini kisah sederhana. Tidak ditulis dan diterbitkan kedalam sebuah buku pun, sebenarnya tidak apa-apa.

Jika kita takut dipecat, mereka juga takut di pecat. Jika kita masih mendapatkan upah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka juga masih harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan. Jika kita lebih suka bersantai dengan keluarga di akhir pekan, mereka juga memiliki kerinduan untuk bermanja-manja dengan buah hati dan pendamping hidupnya.

Bedanya, mereka tidak menjadikan semua itu sebagai dalih untuk menitipkan nasib. Dan itulah yang membuat mereka menjadi luar biasa.

Saya ingin buku ini dibaca oleh banyak orang. Memberikan inspirasi kepada banyak kawan, dan pada akhirnya kisah kawan-kawan MTU tak akan hilang ditelan zaman. Sesederhana itu.

Sekilas Tentang Isi Buku

Boleh jadi kita menganggap hidup ini terlalu senyap dan membosankan.Tetapi, sekali waktu, cobalah untuk membuka kembali lembaran hari-hari yang telah kita lalui. Akan selalu ada sisi terang yang membuat kita bersenandung riang. Tentang kebahagiaan, kenangan, atau bahkan kemenangan yang sayangnya tak pernah kita rayakan. Bahkan dengan cara yang paling sederhana sekali pun.

Terkadang kita begitu mudah melewatkan hal-hal yang sepintas terlihat sederhana. Seperti membalas pesan, menanyakan kabar, menjabat erat tangan sahabat, memberikan senyum termanis yang kita miliki, membuat perayaan sederhana, memberikan kecupan mesra untuk istri atau suami, serta hal-hal lain yang terkesan biasa saja. Tetapi jika kita lakukan, sesungguhnya itu membuat kita nyaman menjadi manusia. Menghargai dan dihargai. Mencintai dan dicintai.

Seperti halnya kawan-kawan MTU yang harus menerima realita pabriknya tutup, seperti itulah kita pada akhirnya. Kebersamaan yang pernah terjalin begitu singkat, sedangkan hari-hari kedepan sedemikian panjang. Apakah hanya karena itu kita akan berhenti di tengah jalan? Tidak, kan.

Oleh karena itu mari kita rayakan kebersamaan ini….

Buku-buku Yang Sedang Saya Tulis 

Secara simultan, saat ini saya juga sedang menyelesaikan 3 buku. Buku pertama berjudul ‘Gagasan Besar Serikat Pekerja’, kumpulan artikel dan pidato politik Presiden FSPMI/KSPI Said Iqbal. Buku kedua adalah biografi tokoh buruh Bekasi Obon Tabroni. Terakhir jejak juang KAJS dan seputar lahirnya UU BPJS.

‘Gagasan Besar Serikat Pekerja’ sudah dalam tahap finalisasi. Saat ini sedang dimintakan kata pengantar (ulasan) dari tokoh nasional. Sementara libur natal dan tahun baru akan saya gunakan untuk menyelesaikan dua buku yang lain: Biografi Obon Tabroni dan Jejak Juang KAJS.

Jika boleh menyampaikan resolusi akhir tahun, salah satu keinginan terbesar saya adalah mendokumentasikan gerakan buruh Indonesia, termasuk profil dan pemikiran tokoh-tokohnya. 100 tahun yang akan datang, saya ingin generasi yang hidup pada massa itu tahu apa yang kawan-kawan kerjakan pada hari ini.

Mohon dukungan dan do`a kawan-kawan untuk mewujudkannya… (*)

Berdua Satu Tujuan

Berdua, setelah memberikan hak suara | Foto: Kascey
Berdua, setelah memberikan hak suara | Foto: Kascey

Tadi pagi, saya dan istri datang ke TPS. Kami memberikan suara untuk pasangan Prabowo – Hatta.

Tentu saja, saya senang bisa melakukannya. Apalagi saya sudah memastikan akan memilih pasangan ini, sejak pertamakali mereka mendeklarasikan diri. Sebabnya adalah FSPMI-KSPI, organisasi dimana saya menjadi anggota sudah jauh-jauh hari memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto. Sebuah dukungan yang didasarkan bukan pada elektabilitas, ketegasan dan kegagahan fisiknya. KSPI memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto, karena ia telah berkomitment untuk menjalankan Sepuluh Tuntutan Buruh dan Rakyat (Sepultura).

Saya masih mengingatnya. Saat itu, secara terbuka KSPI memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto pada tanggal 1 Mei 2014, dalam perayaan May Day 2014 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kurang lebih 80 ribu buruh anggota KSPI hadir dalam peringatan hari buruh. Mereka begitu gegap gempita menyambut kehadirannya.

Sehari setelah itu, saya menulis catatan singkat dengan judul, ‘Mengambil Tanggung Jawab‘. Saya memutuskan untuk tunduk kepada keputusan organisasi: mendukung Prabowo Subianto. Bagi saya, itu adalah bentuk tanggungjawab terhadap organisasi ini. Mengingat keputusan itu sudah dibahas jauh-jauh hari. Bahkan sudah diputuskan didalam Rapat Pimpinan (Rapim) maupun Rapat Kerja Nasional (Rakernas).

Saya tahu, tidak semua anggota KSPI mendukung keputusan ini. Hal yang sangat wajar, tentu saja.  Perbedaan dalam pandangan politik memang seringkali menimbulkan polemik. Jangankan dalam sebuah organisasi yang beranggota ratusan ribu orang. Dalam sebuah keluarga pun, perbedaan politik seperti ini tak jarang bisa terjadi.

Dan ketika kemudian organisasi memberikan penjelasan, akhirnya mayoritas bisa memahami. Bahkan ikut memberikan dukungan. Beberapa orang yang tadinya menolak, kini merapat dalam barisan. Mereka mendapatkan harapan. Berkeyakinan bahwa perubahan harus dilandaskan pada sebuah cita-cita perjuangan yang telah disepakati bersama. Bukan mementingkan ego pribadi. Bagi saya, itu seperti tanda cinta. Sebuah kerelaan untuk mengutamakan kepentingan organisasi diatas kepentingan golongan atau pribadi.

Hanya, memang, harus diakui ada juga yang tidak bersedia tunduk kepada keputusan organisasi karena lebih memilih Jokowi – JK. Saya tidak mengatakan mereka penghianat. Tidak juga menghujat. Apa sebab? Karena saya jauh lebih banyak menemukan kawan-kawan yang memiliki kerelaan untuk melakukan kerja-kerja politik ini dengan penuh keikhlasan. Inilah yang membuat saya merasa bangga bisa ikut berpartisipasi didalam setiap kegiatan yang diselenggarakan organisasi. Bertemu dengan kawan-kawan baru. Yang tidak berpura-pura atas apa yang menjadi suara hatinya.

Beberapa jam setelah pemilihan, masing-masing kubu mengklaim sebagai pemenang. Hasil quick count pun masih terbelah. Ada yang memenangkan Prabowo – Hatta. Ada pula yang memenangkan Jokowi – JK. Karena itu, saya masih akan menunggu hasil real count yang akan diumumkan oleh KPU, tanggal 22 Juli nanti.

Tentu saja, saya masih akan berpartisipasi untuk ikut memastikan tidak ada kecurangan dalam proses perhitungan suara. Baik di Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi.

Setelah ada pengumuman resmi, barulah saya akan melepaskan dukungan. Bahkan ketika Prabowo – Hatta yang menang. Saya akan kembali ke basis, bersama-sama dengan ‘akar rumput’ untuk memperkuat organisasi ini.

Sejak awal, kami memandang pemilu hanyalah sebuah alat. Kemenangan Prabowo – Hatta tidak juga menjadi tujuan. Tujuan saya adalah Sepultura. Yang akan tetap kami perjuangkan. Bahkan ketika pemilu telah usai? (*)

Sesaat sebelum berangkat ke TPS | Foto: Kascey
Sesaat sebelum berangkat ke TPS | Foto: Kascey
Melihat daftar pemilih tetap | Foto: Kascey
Melihat daftar pemilih tetap | Foto: Kascey
Memasukkan surat suara ke kota suara | Foto: Kascey
Memasukkan surat suara ke kota suara | Foto: Kascey
Di depan rumah | Foto: Kascey
Di depan rumah | Foto: Kascey
Berdua satu tujuan | Foto: Kascet
Berdua satu tujuan | Foto: Kascey

Senja Ceria di Bundaran Hotel Indonesia

Didalam bukunya yang berjudul, ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’ Tere Liye pernah menulis rangkaian kalimat yang indah. Begini bunyinya. Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juga sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, berharap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Saya percaya, cinta adalah kekuatan perubahan yang dahsyat. Tidak berlebihan jika kemudian Erich Fromm menjelaskan kekuatan cinta dalam proses perubahan:

“Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi akan lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan ‘efek samping’ sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik.” (Cinta, Seksualitas, Monarki, Gender; 291;2002).

Balon ini akan menerbangkan cita-cita kita setinggi-tingginya. | Foto: Kascey
Balon ini akan menerbangkan cita-cita kita setinggi-tingginya. | Foto: Kascey

Cinta. Inilah yang saya rasakan ketika di hari Sabtu kemarin (5/7) anggota FSPMI-KSPI mengisi hari terakhir kampanye dengan menggelar buka bersama di Bundaran Hotel Indonesia. Sambil menunggu waktu berbuka, mereka membentangkan spanduk dengan mengelilingi kolam air mancur dan membagikan leaflet Sepultura kepada pengguna jalan. Kegiatan ini semakin berwarna dengan kehadiran element lain yang ikut bergabung. Membagikan bunga, pin, dan menerbangkan ratusan balon.

Mereka datang dari DKI Jakarta, Bekasi, Karawang, Tangerang, Purwakarta, Bogor, dan berbagai daerah lain di sekitaran Ibu Kota. Satu hal yang perlu dicatat, kegiatan seperti ini bukan kali pertama mereka lakukan. Hampir setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi, mereka berbondong-bondong untuk ikut berpartisipasi.

Dalam tafsir saya, apa yang mereka lakukan adalah perwujudan dari rasa cinta kepada organisasinya. Wujud kesetiaannya terhadap cita-cita perjuangan.

Rasa itu ia nyatakan dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Bahkan dengan penuh kesadaran ikut mengambil tanggungjawab terhadap apa yang telah organisasi putuskan. Tidak mudah, memang. Tetapi sebagaimana Erich Fromm pernah mengatakan, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan.

Sementara itu, dari mobil komando, orasi dukungan terhadap Prabowo – Hatta terus terdengar. Begitu juga dengan lagu-lagu berirama gembira yang ditujukan kepada pasangan nomor urut satu. Menjadikan Bundaran Indonesia sore itu sangat meriah. Wajah-wajah ceria terlihat dari ratusan orang yang hadir di HI sore itu.

“Sangat istimewa,” kata Fian singkat. Ketika saya menanyakan kesan yang ia dapatkan dari kegiatan ini.

“Ngapain sih ikutan dukung Prabowo – Hatta?”

“Ya karena aku percaya Prabowo akan berkomitment menjalankan Sepultura,” ujarnya. Rambutnya yang panjang tergerai tertiup angin yang sore itu berhembus lumayan kencang.

Tiba-tiba saya menemukan kata kunci: percaya.

Percaya bahwa apa yang kami lakukan tidak akan sia-sia. Percaya bahwa Sepultura memang harus diperjuangkan. Percaya jika nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum itu sendiri tidak merubahnya. Saya pun sependapat dengan Fian. Ini memang hari yang istimewa. Saya bisa merasakan kegembiraan itu.

Kegiatan ini mampu memberikan semangat baru. Dan rasanya, semangat ini akan terus bertahan ketika Pemilu telah usai. Kegiatan buka bersama di Bundaran Hotel Indonesia semakin meneguhkan kebersamaan kami. Semakin menguatkan ikatan solidaritas dan tali kekeluargaan. (Kascey)

Melingkari kolam air mancur Bundaran HI | Foto: Kascey
Melingkari kolam air mancur Bundaran HI | Foto: Kascey
Siang Menangkan Prabowo - Hatta Foto: Kascey
Siang Menangkan Prabowo – Hatta Foto: Kascey
Kampanye simpatik untuk memenangkan Prabowo - Hatta  | Foto: Kascey
Kampanye simpatik untuk memenangkan Prabowo – Hatta | Foto: Kascey
Membagikan bunga dan leaflet kepada pengendara | Foto: Kascey
Membagikan bunga dan leaflet kepada pengendara | Foto: Kascey
Selamatkan Indonesia | Foto: Kascey
Selamatkan Indonesia | Foto: Kascey
Saya menyempatkan berfoto dengan berlatar belakang mobil komando Bekasi |Foto: Kascey
Saya menyempatkan berfoto dengan berlatar belakang mobil komando Bekasi |Foto: Kascey
Tidak melupakan kewajiban sebagai umat beragama | Foto: Kascey
Tidak melupakan kewajiban sebagai umat beragama | Foto: Kascey
Suasana BUndaran Hotel Indonesia saat malam tiba | Foto: Kascey
Suasana Bundaran Hotel Indonesia saat malam tiba | Foto: Kascey

 

Tulisan ini pernah diterbikan disini: http://fspmi.or.id/senja-ceria-di-bundaran-hotel-indonesia.html

Belajar Setia Kawan dari Buruh GSI

Sedang berada di tenda juang kawan-kawan GSI (Good Service Indonesia)
Melakukan kunjungan ke tenda juang kawan-kawan Good Service Indonesia (GSI). Rabu, 22 Januari 2014.

Untuk kawan-kawan Good Service Indonesia.

Saya tahu, sebagai buruh, saat-saat seperti ini adalah saat-saat sulit dalam kehidupan kalian. Kalian harus tetap berjuang meski tak lagi mendapatkan gaji. Harus tetap datang ke pabrik yang sudah tutup itu, meski harus berhutang untuk sekedar biaya transportasi. Semua itu kalian lakukan karena sebuah keyakinan, bahwa perjuangan harus tetap dilanjutkan.

Berhenti disini, berarti kehilangan eksistensi.

Ketika saya berkunjung ke tenda juang kalian, di pagi yang gerimis itu, banyak kisah yang kalian ceritakan kepada saya. Bermula ketika pada bulan Desember, diakhir tahun 2013, management mengumumkan penutupan perusahaan. Informasi itu sangat mendadak. Mengejutkan. Dan karena hak kalian sebagai buruh belum diberikan hingga sekarang, sejak saat itu kalian menduduki perusahaan. Sebuah tenda perjuangan kalian dirikan disamping gerbang perusahaan: antara got dan tembok pabrik.

Disinilah kalian menguatkan simpul kebersamaan. Dua puluh empat jam secara bergantian.

“Di Undang-undang kan sudah diatur jika buruh yang di PHK harus mendapatkan pesangon. Seharusnya perusahaan sudah sejak dulu menyisihkan keuntungannya untuk cadangan dana pesangon. Bukan seenaknya saja main menutup pabrik dan begitu gampangnya bilang rugi tanpa bersedia membayar pesangon karyawan,” ujar seorang pria berusia 56 tahun yang siang itu ikut ngobrol bersama saya di tenda juang GSI. “Biar tua gini, sedikit banyak saya tahu tentang undang-undang,” ucapnya kemudian.

Saya senang mendengar penuturan pak tua ini. Meski tak sempat menanyakan nama, tetapi saya melihat ada semangat menyala didalam binar matanya.

Buruh Good Service Indonesia (GSI) bergabung dengan Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPL FSPMI) sekitar bulan April 2013. Sebelum bergabung dengan FSPMI, sebenarnya di GSI sudah berdiri serikat pekerja yang lain. Akan tetapi sejak dua tahun yang lalu, serikat pekerja yang pertama ditinggalkan anggota. Pasalnya serikat pekerja ini dianggap gagal memperjuangkan hak-hak buruh.

“Saat itu perusahaan melakukan pemutihan. Buruh ditawari satu kali ketentuan dan dipekerjakan kembali sebagai buruh outsourcing. Sejak saat itulah hak-hak kami mulai dikurangi,” kenang mereka.

Pak tua tadi, salah satu orang yang menerima pemutihan. Pertimbangannya, seperti yang ia ceritakan kepada saya, saat itu usianya sudah 54 tahun.

Ketika ada yayasan dan sebagian besar karyawannya adalah outsourcing, perusahaan outsourcing itu memiliki peran yang besar. Sejak saat itulah, perusahaan yang sebelumnya tidak pernah membayar upah buruh lebih rendah dari UMK, kini mulai berani membayar upah buruh dibawah ketentuan yang ditetapkan Undang-undang. Banyak hak-hak lain yang tak diberikan. Pemecatan menjadi sangat mudah dilakukan. Maklum, mereka hanya berstatus sebagai buruh outsourcing.

Merasa kondisi kerja mereka dari tahun ke tahun semakin memburuk, muncullah gagasan untuk kembali menghidupkan serikat pekerja. Ide untuk menghidupkan kembali serikat pekerja yang pernah ada bukannya tanpa kendala. Banyak buruh GSI sudah trauma dengan serikat pekerja. Apalagi jika harus bergabung kembali dengan serikat yang lama.

Setelah melalui serangkaian diskusi, akhirnya disepakati bergabung dengan FSPMI. Proses bergabungnya relatif lama. Berminggu-minggu, bahkan. Tak mudah mengembalikan kepercayaan kepada buruh-buruh yang sudah terlanjur kecewa untuk kembali berserikat. Apalagi mayoritas dari mereka berstatus sebagai karyawan outsourcing.

Kekhawatiran di PHK jauh lebih besar ketimbang harapan akan lahirnya sebuah perubahan.

Benar saja. Setelah bergabung dengan FSPMI dan memberitahukan ke perusahaan, beberapa orang di PHK. Pembelaan segera dilakukan. Meskipun pengusaha bersikeras itu bukan karyawan mereka, tetapi ada penyimpangan dalam penggunaan tenaga kerja dari perusahaan jasa tenaga kerja.

Belum selesai pembelaan terhadap buruh yang di PHK, kabar mengejutkan itu datang, di akhir tahun 2013. Pengusaha menyatakan perusahaan tutup, karena sudah dijual ke orang lain. Mereka hanya bersedia membayar pesangon untuk karyawan tetap, itu pun dibawah ketentuan. Sedangkan untuk buruh kontrak dan outsourcing, hanya diberikan konpensasi ala kadarnya.

Tentu saja, buruh tak terima. Dalam situasi seperti ini, mereka bersatu padu. Bahkan buruh yang sebelumnya menolak diajak bergabung dengan serikat pun kini bersedia ikut serta. Barangkali mereka sadar, bahwa hak harus didapatkan. Tak mungkin perjuangan untuk mendapatkan hak yang tak diberikan itu hanyak dilakukan sendirian.

Dari 70-an karyawan, yang menyadang gelar sebagai karyawan tetap dan memiliki hubungan kerja secara langsung dengan GSI hanya 6 orang.

Beberapa hari yang lalu, sebenarnya sudah ada perundingan antara serikat dengan pihak management. Pengusaha sebenarnya bersedia membayar pesangon yang 6 orang. Akan tetapi, 6 orang ini menolak. “Kami meminta seluruh hak karyawan dibereskan. Bukan hanya yang 6 orang, tetapi untuk seluruh karyawan,” kata ketua PUK.

Saya bergetar mendengarnya: 6 orang untuk 60-an orang. Mereka tak egois. Mereka mengajarkan kepada kita arti setia kawan.

Hingga sekarang, buruh GSI masih tetap melawan. (Kascey)

Catatan: Tulisan ini pernah diterbitkan di website FSPMI

Menggugah Kesadaran Politik

Sabtu, tepatnya tanggal 02 Juni 2012 saya menghadiri Diskusi Perjuangan yang diselenggarakan oleh kawan-kawan FSPMI Bekasi, Omah Tani Batang dan TURC. Diskusi itu sendiri dilaksanakan di Rumah Buruh, Bekasi. Diskusi yang berlangsung hingga larut malam ini sangat hidup. Penuh semangat. Setidaknya itulah yang saya lihat dari sorot mata para peserta yang hadir. Wajah-wajah penuh optimis, yang percaya akan selalu ada harapan untuk esok hari.

Apalagi ketika tokoh-tokoh gerakan, seperti Obon Tabroni (FSPMI), Surya Tjandra (TURC), dan Handoko Wibowo (Omah Tani) menyampaikan orasinya. Energi itu serasa memenuhi atmosfir di jembatan bunting, dan pada detik selanjutnya membakar jiwa-jiwa yang sadar untuk segera bangkit dan melakukan tindakan nyata. Memberikan konstribusi pada capaian-capaian berikutnya.

Peforma itu semakin sempurna, ketika perwakilan dari PC SPA FSPMI Bekasi memberikan pandangannya. Apalagi ketika mendengarkan mbah Marjukan menyampaikan orasi dengan kata-kata yang tetap lantang, meski usianya sudah menginjak 83 tahun. Baca lebih lanjut