Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 3)

Dalam sebuah obrolan ringan, Nani Kusmaeni (DPP FSPMI) mengatakan ada perbedaan sikap yang sangat mendasar antara buruh di luar negeri dan di Indonesia. Di luar negeri, menurutnya, meskipun tingkat kesejahteraan mereka sudah relatif baik, mereka tetap antusias menjadi anggota serikat pekerja. Mereka sadar, tidak ada jaminan bahwa apa yang mereka dapatkan saat ini akan tetap mereka dapatkan di kemudian hari. Disinilah serikat pekerja hadir, untuk memastikan bahwa apa yang sudah didapat bisa tetap dipertahankan. Sebaliknya dengan buruh-buruh di Indonesia. Di negeri ini, ketika buruh sudah sedikit sejahtera, banyak yang tidak mau lagi menjadi anggota serikat pekerja.

Hal ini sebenarnya menunjukkan belum utuhnya pemahaman banyak orang terhadap serikat buruh. Sebagaimana disimpulkan oleh Heriyanto (PP SPAMK) bahwa, “Kesadaran anggota untuk masuk dalam serikat pekerja belum optimal karena minimnya tentang sejarah gerakan buruh.”

Kita bisa melihat, jumlah buruh yang terorganisir kedalam serikat masih sangat rendah. Justru, disaat yang bersamaan kita mengatakan bahwa kekuatan utama serikat buruh adalah anggota yang terorganisir. Serikat buruh adalah organisasi kepentingan berbasis massa (buruh). Ia bisa saja menjadi kelompok penekan, idiologis, dan oleh karenanya harus mewujud dalam sebuah gerakan. Pertanyaan kemudian, seberapa besar upaya yang telah kita lakukan untuk mengorganisir buruh-buruh yang belum terorganisir. Baca lebih lanjut

Iklan

Balada Buruh Pabrik (13): Mempertanyakan Peran Negara

Rasanya, tidak ada kehilangan yang paling menyakitkan selain kematian orang yang kita cintai. Hilang harta bisa dicari, tetapi hilang raga hanya penyesalan yang terjadi.

Emak sakit, dan aku masih saja berkutat dengan pekerjaanku. Saat emak dikabarkan telah meninggal dunia sekali pun, aku tidak bisa benar-benar lepas dari dunia kerja. Harus ada ijin ini itu untuk bisa meninggalkan perusahaan untuk bisa melihat jasad emak di kampung halaman. Benar, ini memang bukan pabrik mbah-ku. Tetapi rasanya, akan lebih elok jika aturan-aturan itu tidak diterapkan dengan kaku. Lebih memanusiakan manusia, begitulah kira-kira, yang aku harapkan.

Kalian tahu, peristiwa ini sangat memukul jiwaku. Butuh waktu berhari-hari, untuk bisa mengembalikan suasana hatiku seperti semula.

Emak sakit. Kita mulai cerita ini dari sini, oke.

Akhirnya sampai juga sebuah kabar kepada diriku, bahwa sebenarnya emak sempat dibawa ke rumah sakit. Tetapi tidak sampai benar-benar dirawat. Karena kemudian dibawa pulang kembali, karena tidak ada biaya untuk membayar kamar dan menebus obat. Baca lebih lanjut

Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 2)

Bagaimana cara efektif untuk memperbesar jumlah anggota?

Banyak cara yang bisa dilakukan, dan tidak ada satu pun dari banyak cara itu yang paling efektif. Sebab pada akhirnya, yang terpenting adalah seberapa besar kesungguhan kita dalam menjalankan semua hal yang sudah kita rumuskan.

Menarik untuk mencermati apa yang disampaikan oleh Michael J. Latuwael (PC SPL FSPMI Bekasi). Menurutnya, perubahan drastis yang dilakukan PC SPL Bekasi setahun terakhir dalam rangka melakukan pengorganisasian dan penambahan anggota, berhasil menambah 11 PUK baru. Ini artinya, khusus untuk sektor logam saja, rata-rata dalam sebulan ada penambahan 1 PUK baru. Perubahan drastis yang dimaksud adalah, saat ini pengurus melakukan pengorganisasian dengan langsung turun ke lapangan.

Sering kita melihat, pengurus hanya ada di belakang meja. Ia memposisikan diri sebagai konseptor dan perancang. Sikap ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi jika tidak ada yang melengkapinya dengan orang-orang yang mampu bekerja secara teknis dan turun ke lapangan, semua konsep dan rancangan program itu hanya indah di atas kertas. Baca lebih lanjut

Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 1)

Jum`at hingga Minggu, 16 – 18 September 2011 kemarin saya hadir dalam workshop bertajuk ‘Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan’ di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua. Entah bagaimana ceritanya, dalam kesempatan ini saya diminta hadir dalam kapasitas sebagai PP SPAI FSPMI. Sebagaimana kebiasaan saya, saya akan membuat catatan terkait dengan system mencicil. Ini saya lakukan sekaligus untuk mengikat makna, agar apa yang saya dapatkan tidak hilang begitu saja.

Sebagaimana kita pahami bersama, pengorganisasian tidak mengenal kata akhir. Sebab ketika pengorganisasian berhenti, bisa dipastikan organisasi akan mati. Persis pada titik inilah, saya hendak menegaskan, bahwa apapun rekomendasi yang dihasilkan dari workshop ini tidak lantas menjadi kata akhir. Apalagi, harus juga diakui, workshop ini pun belum sepenuhnya menjawab pertanyaan, bagaimana pengorganisasian berkelanjutan itu akan dilakukan.

Workshop serupa juga akan diadakan di Hotel Santika, Jakarta, pada tanggal 22 – 23 September 2011. Beberapa pengurus DPP dan para Ketua Umum SPA dijadwalkan hadir dalam workshop yang juga dihadiri kawan-kawan dari Lomenik dan SP LEM.

Lepas dari apa yang akan dibicarakan di Hotel Santika nanti, saya menangkap banyak ide dan pencerahan selama berada di Lembah Nyiur. Disini, ada beragam pendapat disampaikan. Gagasan-gagasan menarik yang bermunculan. Semua itu semakin meneguhkan semangat dan keyakinan saya, betapa banyak peluang dan tantangan yang kita hadapi untuk menjadikan serikat buruh sebagai lokomotif gerakan sosial di Indonesia. Memperbesar anggota, melakukan kerja-kerja publik tanpa harus kehilangan konsentrasi terhadap berbagai persoalan di pabrik. Baca lebih lanjut

Balada Buruh Pabrik (12): Kehilangan Jati Diri

Entahlah, mengapa aku menjadi begitu individualis. Menjadi begitu mementingkan diri sendiri, sehingga kehilangan kepekaan terhadap sesama. Padahal, dulu, sebelum masuk ke pabrik, aku sering dipuji banyak kawan sebagai sosok yang memiliki jiwa sosial cukup tinggi.

Kemana semua itu menghilang?

Kini, sebagian besar waktuku habis di dalam pabrik. Berangkat pagi dan pulang ketika matahari sudah tenggelam. Di perusahaanku bekerja memberlakukan jam panjang. Ini berarti, aku pulang 2 jam lebih lama, karena harus melakukan ’lembur wajib.’

Tak bisa dipungkiri, dengan sistem ini aku mendapatkan tambahan upah yang lumayan besar. Jangan tanya sebesar apa? Karena nyatanya jalan hidupku tetaplah biasa-biasa saja. Satu yang pasti, dibandingkan dengan UMK, dengan lemburan ini upahku menjadi lebih tinggi. Hanya, memang, aku harus membayar mahal untuk semua ini. Waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri semakin sedikit, akses untuk mengembangkan pengetahuan nyaris tertutup. Belum lagi, lelah fisik dan psikis seringkali datang mendera. Baca lebih lanjut

Balada Buruh Pabrik (11): Tumpulnya Kepedulian Pada Sesama

Untuk kedua kalinya, semenjak memutuskan merantau ke kota industri, aku merasakan kehilangan. Pertamakali adalah saat aku kehilangan jejak Subhan. Ya, memang ini bukan mutlak salahku. Akan tetapi, setidaknya, jika saja aku tidak pergi merantau, kami masih bisa terus bersama. Kedua, saat kehilangan emak. Dan ini, kurasa kehilangan terbesar dalam hidupku.

Jika saja aku diijinkan oleh perusahaan untuk menjenguk emak, ketika sakitnya tempo hari, mungkin aku bisa merasa sedikit tenang. Setidaknya, meskipun sebentar, aku masih bisa merasakan hangatnya pelukan emak di penghujung hayatnya. Saat ini, aku tak pernah lagi bisa melihatnya kembali. Emak sudah dimakamkan ketika aku sampai di rumah.

Teringat olehku, betapa selama ini aku mengabaikan emak. Jarang sekali aku menelpon wanita yang sudah melahirkanku itu. Sekedar menanyakan kabar pun jarang, apalagi mengiriminya uang setiap tanggal gajian. Kesibukan kerja menjadi alasannya. Kesibukan, yang terkadang aku sendiri tidak tahu kapan akan berakhir. Jam demi jam, yang terfikir hanyalah bagaimana target produksi bisa tercapai. Sampai-sampai aku merasa, itu lebih penting dibandingkan dengan diriku sendiri.

Kesibukan kerja, yang nyaris tak diimbangi dengan hak badan untuk beristirahat yang cukup. Tanpa diimbangi dengan makanan dan lingkungan tempat tinggal yang memadai. Lihat saja, meskipun kami bekerja seharian, tetapi tak jarang saat makan siang hanya menyantap mie. Jauh dari cukup untuk memenuhi energi yang kami butuhkan. Sama sekali tidak menyehatkan. Istirahat pun kurang. Baca lebih lanjut

Balada Buruh Pabrik (10): Ketidakberdayaan – Perpisahan – Penyesalan

Pagi itu, kuterima kabar jika emak sakit. Satu kabar, yang justru membuatku ikut-ikutan sakit. Sakit hati, maksudku.

Apa pasal?

Inilah saat-saat aku merasa menjadi anak yang tidak berguna. Nun jauh disana, emak terbaring tak berdaya, berjuang untuk memulihkan kesehatannya. Sementara aku disini tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaanku jelas tak bisa ditinggal. Meminta ijin pulang kampung untuk menemani emak, sudah pasti akan ditolak. Kalaupun diijinkan, ongkos pulang-pergi juga menjadi kendala tersendiri.

Aku hanya bisa menangis.

Menangisi ketidakberdayaanku.

Dalam banyak hal, sering aku menghibur diri sendiri dengan kata-kata populer yang satu ini: ”Jauh dimata, dekat di hati.” Tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu, saat emak sakit seperti sekarang, misalnya, jelas kehadiran fisik dan berada di sampingnya tidak akan pernah tergantikan. Baca lebih lanjut