100 Persen Perempuan

Saat saya mulai menulis catatan ini, penunjuk waktu di pojok kanan bawah notebook saya menunjukkan angka 21:50. Malam sudah larut, tetapi mata saya sulit terpejam. Konsolidasi hari ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri saya.

Ya, malam ini (28/12/11) saya baru saja pulang dari menghadiri undangan konsolidasi sebuah unit kerja yang baru bergabung dengan FSPMI. Unit kerja yang istimewa. Selain menjadi PUK termuda di Tangerang, di sektor SPAI Tangerang, untuk sementara PUK ini memiliki jumlah anggota terbesar.

Dan ini yang menarik, seluruhnya adalah perempuan.

”Kawan-kawan sangat antusias ingin bergabung dengan FSPMI…,” satu kalimat yang terdengar indah di telinga saya. Seorang pengurus menginformasikan perkembangan jumlah anggota.

Sebelum memutuskan untuk bergabung dengan FSPMI, mereka sesungguhnya sudah menjadi anggota serikat pekerja yang lain. Di tengah upaya sangat keras dari serikat lama untuk mempertahankan dominasinya itulah, kawan-kawan ini dengan ’heroik’ menyeberang ke organisasi FSPMI. Semua membawa harapan, dan juga mimpi untuk mendapatkan perubahan. Baca lebih lanjut

Mencintai dengan Apa Adanya

Saya baru dua kali bertemu dengannya. Kedua pertemuan itu pun terjadi saat kami menghadiri sidang di Pengadilan Hubungan Industrial Serang. Kemarin, adalah pertemuan yang kedua kami.

Perempuan yang ramah. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan, dalam dua pertemuan itu. Supel, dan sekilas memiliki kepribadian yang cukup menarik. Setidaknya inilah kesan pertama yang saya dapatkan.

Eits…, jangan dulu berprasangka macam-macam. Tidak ada maksud apapun, jika kemudian saya menjadikannya sebagai tokoh utama dalam catatan ini. Bukan juga karena terpesona oleh pandangan pertama. Itu saya lakukan, hanya semata-mata karena saya mendapatkan pelajaran baru yang berharga, dalam kaitan relasi antar manusia. Dalam satu komunitas bernama rumah tangga, suami – istri.

Ya, perempuan yang saya maksudkan ini adalah istri dari seseorang yang mempercayakan kepada saya untuk memberikan pendampingan terkait dengan kasus yang sedang menimpanya.

Saya paham, manusia seringkali terkesan pada sesuatu yang baru. Pada kawan baru. Pertemuan baru. Juga senyum hangat dan tatapan mata teduh di pertemuan pertama. Dan itulah kesan yang terbentuk setelah dua pertemuan itu. Baca lebih lanjut

Sebuah Cerita dari Meja Makan

Jarum jam bergerak pasti mendekati angka sembilan, tadi malam. Hujan dari sore masih menyisakan gerimis. Tapi kita tetap saja memutuskan untuk membeli makanan. Bukan makanan istimewa di restoran ternama. Hanya Pecel Ampela di warung kaki lima, tak jauh dari rumah kita. Satu bungkus untuk berdua.

”Dari tadi pagi belum kemasukan nasi,” katamu.

Aku memandangmu, tepat di dua bola mata yang selalu kukagumi keindahannya itu. Engkau selalu berbicara apa adanya. Aku tahu engkau tidak sedang berdusta. Sebab situasi seperti ini – saat di rumah tidak ada lagi yang bisa dimakan – bukan sekali dua kali terjadi. Baca lebih lanjut