Tentang Kekerasan Terhadap Buruh di Bekasi: Menyusun Outline (Kerangka Tulisan)

Akhirnya sampai juga sebuah berita kepada kita: Pihak Kepolisian sudah menangkap 10 orang tersangka kasus perusakan, pengeroyokan dan penganiayaan buruh Bekasi.

Tetapi kita tak ingin hanya berhenti sampai dititik ini. Apalagi, sampai sekarang, orang-orang yang kita duga sebagai aktor intelektual masih bebas melenggang. Tuntutan agar Kapolres dan Kabag Ops. Polres Bekasi dicopot, karena diduga melakukan pembiaran saat para preman melakukan tindak kekerasan, juga masih menjadi angin lalu.

Saya memiliki catatan, tuntutan pencopotan terhadap orang nomor satu di jajaran Polres Metro Kabupaten Bekasi, bukan kali ini saja disuarakan. Sebelumnya, FSPMI juga pernah mengajukan tuntutan serupa, saat polisi melakukan pembubaran paksa dalam aksi mogok kerja di PT. Kalbe Farma, Tbk.

Ada banyak hal baru yang sebelumnya sulit kita tangkap jika hanya mengikuti kasus ini hanya dengan sepintas lalu. Apalagi kasus ini belumlah selesai. Masih banyak hal tak terduga yang akan mengiringi dalam perjalannya nanti.

Seperti yang saya sampaikan dalam postingan sebelumnya, saya memiliki keinginan kuat untuk menuliskan kasus ini dala sebuah buku. Tentu saja, semua data-data yang ada, semakin membuat saya bersemangat untuk menuliskannya.

Dalam buku ini, saya akan memfokuskan bagaimana kekerasan itu terjadi. Mengidentifikasi para aktor yang terlibat, serta membingkai hubungan sebab akibat yang berujung pada jatuhnya belasan korban. Dan juga, tentang buruh Bekasi yang tak menjadi ciut nyali hanya gara-gara kejadian ini.

Lantas bagaimana buku ini akan ditulis? Berikut ini saya sampaikan outline buku (kerangka tulisan) yang masih dalam proses penulisan dan penyempurnaan. Silahkan memberikan saran jika Anda memiliki ide lain.

1. KNGB pelopori mogok nasional

2. Beberapa kejadian penting sebelum mogok nasional berlangsung

3. Kekerasan terhadap buruh (Kamis, 31 Oktober 2013)

4. Tuntutan dan hal-hal yang dilakukan pasca terjadinya kekerasan

5. Kekerasan terhadap buruh Bekasi bukan yang pertamakali

“Kita Tak Akan Pernah Melupakannya…”

Beberapa hari ini saya mulai menulis kisah tentang pengeroyokan, pembacokan, dan dugaan percobaan pembunuhan terhadap buruh Bekasi pada saat mogok nasional berlangsung. Kejadian di hari Kamis, 31 Oktober 2013 itu, tak boleh sedikitpun hilang dari ingatan kita. Lagipula kejadian itu bukan hanya persoalan Bekasi saja. Ini adalah ancaman bagi demokrasi. Ancaman bagi kemanusiaan. Dan tentu saja, menjadi persoalan bagi kita semua.

Buruh yang dikeroyok dan dibacok itu bukanlah pelaku tindak kriminal. Mereka sedang melakukan aksi mogok nasional. Sebuah aksi serentak di lebih dari 100 Kabupaten/Kota dan 15 Provinsi. Sebuah aksi yang dilakukan secara sah, sesuai dengan Undang-undang.

Bahkan, kepada Mabes Polri, aksi ini pun sudah diberitahukan jauh-jauh hari.

Hari itu, belasan orang buruh terluka dan bersimbah darah. Mereka dibacok dengan pedang, golok, dan samurai. Ada yang diinjak-injak dan diseret motor. Ada juga yang dipukul dengan pipa besi. Sulit untuk dibayangkan, jika kekejian seperti ini dilakukan oleh manusia.

“Tentu kaum buruh tak akan pernah melupakannya,” itu janji kita semua.

Generasi yang akan lahir, nanti, harus tahu cerita ini. Sebuah kisah, yang disebut oleh Tempo: “Mogok Dalam Kepungan Balok.”

Anak-anak harus tahu, bahwa orang tuanya adalah orang tua yang pemberani. Bahkan anak-anak dari anak kita itu juga harus mengerti, jika kesejahteraan yang mereka dapatkan adalah hasil perjuangan. Bukan didapat dari belas kasihan.

Berawal dari pemikiran itu, saya mulai mengumpulkan data. Merangkai kepingan-kepingan kisah, menjadi sebuah cerita yang utuh. Saya berharap, buku ini bisa diterbitkan bertepatan dengan peringatan 100 hari kekerasan buruh di Bekasi.

Tak muda, memang. Apalagi selain menulis, saya juga memiliki banyak pekerjaan lain. Tetapi tak ada yang tak mungkin ketika kita melakukannya dengan hati. Dengan sepenuh cinta.

* * *

Oh ya, hari ini juga bertepatan dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan kaum buruh ke Mabes Polri, Istana Negara, dan Kantor Gubernur DKI Jakarta. Selain tentang UMK, buruh juga menuntut agar aktor intelektual penyerangan segera ditangkap.

Hampir satu bulan beristiwa ini berlalu. Akan tetapi dalang dibalik semua kejadian ini tak juga tersentuh.

Hari ini, seperti juga hari-hari kemarin dan nanti, kita meminta pihak kepolisian bekerja lebih cepat lagi.

Salam Solidaritas: Kahar S. Cahyono