Berani Jujur Hebat!

Kahar S. Cahyono

Berani Jujur Hebat!

Saya membaca kalimat ini dari ketinggian sebuah gedung di Jakarta, setahun yang lalu. Saya tak ingat lagi kapan persisnya. Tetapi kalimat itu, masih terasa hingga sekarang bekasnya.

Jujur, barangkali menjadi kata kunci. Dan jika dipraktekkan, sesungguhnya kejujuran akan menciptakan pribadi yang luar biasa.

Bisakah kita jujur dengan kekurangan diri? Mampukah jujur dengan kata hati? Beranikah membuka topeng dari segala maksud yang tersembunyi?

Adakah orang yang bisa bersikap seperti itu? Ada! Datanglah dalam diskusi yang diselenggarakan kawan-kawan buruh. Disana, kalian bisa menangkap kejujuran itu. Mereka dengan polos menyampaikan apa adanya. Terbuka menyuarakan kata hati. Resah dan gelisahnya. Jujur mengungkapkan berbagai pelanggaran ketentuan perundang-undangan di perusahaan tempatnya bekerja. Membahas harapan-harapan, cita dan juga asa.

Anehnya, seringkali kejujuran mereka tak disukai. Dianggap sebagai ancaman dan justru kemudian disingkirkan. Meskipun begitu, kita tak pernah kekurangan stock orang-orang yang pemberani itu. Orang-orang yang mampu dengan lantang mengatakan jika benar itu adalah benar, meski kepahitan yang mereka dapatkan.

Jika sudah demikian, rasanya harapan itu masih ada. Sering kita mengutuk tingkah polah satu dua orang yang memilih tetap berada di zona nyaman dan enggan bergerak melakukan perubahan. Padahal pada saat yang sama, ada ribuan orang yang siap menjadi agen perubahan. “Daripada mengutuk kegelapan, mari segera menyalakan lilin,” begitu nasehat lama yang sering disampaikan kepada kita.

Hanya pemberani yang bisa bersikap jujur. Karena untuk melakukan itu bukannya tanpa resiko.

Perbedaan Itu Mendewasakan

Kahar S. Cahyono

Salah seorang sahabat baik saya pernah menyampaikan keinginannya agar saya menjadi anggota dewan. Menanggapi keinginan itu, saya hanya tersenyum. Menganggap perkataannya tak lebih sebagai canda ria sahabat dekat. Meskipun ia bercanda, saya menikmatinya. Setidaknya ada juga yang menganggap saya layak berada diposisi itu, meskipun diungkapkan oleh teman sendiri.

Jika sahabat saya menginginkan agar saya mencalonkan diri sebagai anggota dewan, lain halnya dengan apa yang saya rasakan. Menjadi anggota dewan bukan semata-mata karena keinginan. Untuk menjadi anggota dewan, seseorang harus mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Inilah masalahnya.  Saya tidak memiliki dua-duanya.  Keinginan tidak ada. Kepercayaan? Apalagi!

Tidak memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan, jangan diartikan anti politik.

Bagi saya, orang yang memilih sama pentingnya dengan orang yang dipilih. Memilih berarti mempercayai. Dengan memilih, setidaknya kita sudahmenyatakan sikap terkait dengan warna politik kita. Dan itu adalah peristiwa sejarah yang penting. Pilihan kita bisa jadi akan merubah wajah dunia.

Sulit untuk membantah, bahwa mereka yang mendapat gelar ‘wakil rakyat’ itu adalah orang-orang yang terpilih. Terlepas dari cara yang mereka lakukan untuk memenangkan pemilihan, toh posisi mereka sama-sama menjadi anggota dewan. Disini, seorang bandit dan pejuang sejati sama-sama memiliki  sebuah kursi. Itulah sebabnya, saya tidak sependapat dengan orang yang bersikap apolitis karena beralasan gedung dewan diisi para bajingan. Jika permasalahannya memang demikian, mengapa kita tidak memasukkan sebanyak-banyaknya orang baik agar para ‘bandit’ itu tidak memiliki kesempatan?

Tetapi inilah yang terjadi sekarang. Definisi baik menurut setiap orang tidaklah sama. Rambut boleh sama hitam, namun isi kepala seringkali berbeda.

Saat ini, misalnya, menjelang Pemilu 2014. Ada banyak pilihan yang disodorkan kepada kita. Tentu tak akan ada yang bisa memaksa. Karena didalam bilik suara, kewenangan mutlak ada ditangan kita. Satu hal yang harus kita pahami, pemilu adalah kesempatan untuk memenangkan kepentingan kita.

Sebagai buruh, tentu saja, saya akan memenangkan kepentingan buruh dengan memilih caleg kader buruh. Saya tidak malu untuk mengajak kawan-kawan memenangkan caleg kader buruh. Jika kemudian kita menang, maka sesungguhnya kemenangan itu bukanlah orang yang kita pilih. Bukan pula kemenangan partai tempat ia bernaung. Yang menang adalah kepentingan kita. Kepentingan kaum pekerja.

Bisa jadi pilihan kita berbeda. Meskipun begitu, tidak seharusnya perbedaan menjadi alasan buat kita saling bermusuhan. Perbedaan itu mendewasakan.

Jika karena perbedaan itu kemudian kita saling bermusuhan, sesungguhnya kita sudah mengalami kekalahan sebelum pemilihan diselenggarakan. Tentu kita tidak ingin kalah, bukan? Karena itu, mari tetap bergandengan tangan.

Menyalakan Harapan

Kahar S. Cahyono

Tugas kita adalah menyalakan harapan. Menunjukkan jalan keluar dari setiap permasalahan. Menjadi penyambung aspirasi dan mengajak semua bergandeng tangan untuk berpartisipasi didalam gerakan ini.

Saya setuju dengan, Dee, “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.”

Atau dalam bagian lain, Dee juga pernah bilang, “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?”

Persatuan tidak harus merubah semuanya kedalam satu warna yang sama. Persatuan selalu memberi ruang bagi setiap perbedaan: sebab jika ruang itu tak tersedia, niscaya yang terjadi adalah perpecahan. 

Di FSPMI, misalnya, antara kita berasal dari unit yang berbeda: SPEE, SPAMK, SPL, SPD, SPPJM, dan SPAI. Ada unit kerja yang memiliki anggota belasan ribu, ada juga yang jumlah anggotanya tak lebih dari jumlah jari kaki yang kita miliki. Ada yang iuran anggota mencapai ratusan juta, ada yang sekedar untuk menutup biaya operasional di PUK-nya tak mencukupi. Tetapi diatas semua keragaman itu, kita adalah satu.

Kali ini kita mengusung ‘go politics’. Barangkali ada diantara kita yang tak setuju. Saya menghargai itu. Tetapi janganlah perbedaan itu membuat kita membangun tembok pemisah: kita dan mereka.

Biarkan ruang perbedaan itu tetap ada. Berikan kesempatan kepada kami, kepada organisasi ini, untuk menunaikan janji: bergerak dari pabrik ke publik. Memberikan sumbang sih yang lebih berarti bagi rakyat dan negeri ini.

“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat…,”

 

Jabat erat dan salam hangat: Kahar S. Cahyono