Hari Ke-2: Kisah Yang Ditulis Enam Orang Buruh Jaba

Dari semalam, instruksi untuk kembali merapat ke Jaba kembali dikeluarkan. Bank MNC dan SBI berencana mengeluarkan asset yang sudah terjual, setelah hari Jum`at yang lalu gagal.

Di tengah-tengan situasi yang tidak menentu inilah penulisan kisah tentang Jaba dilakukan. Ada debar. Juga getar. Apalagi ketika semakin jauh meresapi pengalaman mereka.

Saya mengawali pekerjaan ini dengan memeriksa tulisan tangan dari 6 orang buruh Jaba yang diserahkan kepada Tim Media FSPMI Tangerang.

Dalam kenangan buruh-buruhnya, di awal bekerja, Jaba menjadi kebanggaan. Bisa jadi, ini masa-masa paling indah dalam hidup mereka. Bukan saja tentang banyaknya lemburan yang mereka dapatkan. Tetapi, juga, ribuan karyawan yang sebagian besar perempuan itu sedang ranum-ranumnya. Dengan berseragam biru muda dan rok sebatas lutut, konon mereka menjadi primadona. Masa muda yang berapi-api. Yang kata Sheila, “Kau raja aku pun raja….”

Dulu, karena tidak diperbolehkan menggunakan jilbab, begitu sampai di perusahaan, ada yang ketika berangkat dari rumah mengenakan jilbab. Kemudian ketika sampai, dengan terpaksa melepaskan jilbabnya di kantin perusahaan. Setelah pulang, di pojok kantin itu, dengan hati yang teriris ia menggunakan jilbabnya kembali.

Menariknya, mereka memiliki tradisi melawan. Dan perlawanan itu semakin menjadi, ketika mereka bergabung dengan FSPMI. Yang kemudian membuat mereka mampu bertahan lebih dari 6 bulan di tenda perjuangan, meski sudah tidak lagi digaji.

Diijak, dipukuli, diseret, bahkan dihujani gas air mata pernah mereka alami. Bukan sekali dua kali, di tengah malam ketika mereka berada di dalam tenda, hujan disertai angin dan petir. Dalam kondisi seperti itu, tak banyak pilihan sebagai tempat untuk berteduh. Tak ada kasur dan selimut untuk berlindung dari hawa dingin.

Saya kira, itulah benang merah dari apa yang ditulis oleh 6 orang yang saya sampaikan tadi. Setelah saya tuliskan kembali, menjadi tulisan sepanjang 1.464 kata. Dalam bayangan saya, Setelah dikembangkan dan ditambahkan dengan hasil wawancara untuk memperkaya informasi, jumlah itu akan menjadi 3-5 kali lipatnya.

Awal yang baik….

Iklan

Hari Ke-1: Menulis Jaba

foto (8)Kemarin, Rapat Akbar FSPMI se-Provinsi Banten diselenggarakan di Jaba Garmindo. Presiden FSPMI Said Iqbal hadir dalam rapat sore itu. Melalui orasinya yang selalu berapi-api, dia memberikan penjelasan tentang isu perjuangan FSPMI tahun 2015-2016: JAMPETUM + K3. Sebuah pertemuan yang dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan seluruh kekuatan organisasi, jelang aksi nasional 1 September 2015.

Saya tak akan menulis tentang apa makna JAMPETUM + K3. Kali ini, saya lebih tertarik untuk menulis tentang Jaba. Sebuah kata yang akhir-akhir ini sering kita sebut ketika hendak mencari tempat untuk melakukan konsolidasi.

Saya memaknai Jaba sebagai tempat yang didalamnya tersimpan beribu kenangan. Kenangan selama lebih kurang 30 tahun buruh-buruh disini mengabdikan dirinya. Dan meskipun waktu 30 tahun bukanlah durasi yang lama dibandingkan dengan sejarah peradapan umat manusia, tetapi dalam rentang waktu itu penuh dengan cerita. Tawa dan air mata.

Dan pada pada saat yang bersamaan, dari tempat ini memancarkan sejuta harapan. Harapan tentang terkabulnya semua do`a yang dipanjatkan dari tenda-tenda perjuangan. Harapan tentang terpenuhinya sebuah janji: “Bahwa kita akan memenangkan pertarungan ini.”

Berbicara tentang Jaba, saya kembali teringat dengan tulisan beberapa kawan yang melukiskan kisahnya selama bekerja disini. Tim Media, beberapa waktu lalu meminta agar kawan-kawan Jaba menceritakan pengalamannya selama berada di tenda perjuangan. Selain untuk mengisi waktu, ini dimaksudkan agar uneg-uneg mereka keluar.

Kawan saya, Kiki, sudah beberapa kali menyampaikan jika ia sudah mengumpulkan foto tentang perjuangan kawan-kawan Jaba. Kami sepakat pada satu hal, “Suka duka selama 6 bulan lebih berada di tenda perjuangan harus terdokumentasikan.” Namun karena kami memiliki kesibukan masing-masing, selalu bingung darimana hendak memulai proyek ini.

Maka pagi ini saya putuskan, terhitung hari ini saya akan mulai menuliskan kisah tentang Jaba. Targetnya, buku ini akan selesai dalam 60 hari kedepan. Saya tak tahu, apakah hingga 24 Oktober 2015 nanti akan ada cukup waktu untuk menyelesaikannya. Tetapi saya tahu, jika tak memulai, maka tak akan pernah sampai.

Meniru apa yang pernah dilakukan Dee ketika menulis Perahu Kertas, saya akan melaporkan hari demi hari perkembangan proyek penulisan ini.

Dan akhirnya, saya hanya bisa berharap pada diri sendiri, semoga konsistensi saya terjaga…

Bercerita Tentang Bekasi

Saya,Presiden FSPMI Said Iqbal dan seorang kawan dari Batam sedang memamerkan buku 'Cerita Dari Bekasi'.
Saya,Presiden FSPMI Said Iqbal dan seorang kawan dari Batam sedang memamerkan buku ‘Cerita Dari Bekasi’.

Di Batam, Kepulauan Riau, April 2014.

Saya membawa ‘Cerita dari Bekasi’ kesana. Buku ini mengisahkan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang, saat buruh Indonesia melakukan mogok nasional di tahun 2013. Buku ini berhasil mengajak lebih banyak orang untuk mengetahui tragedi kemanusiaan, yang nyaris tak terliput oleh media massa.

Begitulah cara saya mengabadikan sebuah peristiwa. Mengajak orang lain, di belahan bumi yang lain, untuk terlibat dan memberikan perhatian pada sebuah kejadian yang tak bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan.

Membaca kembali buku ini, peristiwa yang sekian lama berlalu itu masih saja terasa baru. Semacam dendam yang menerbitkan tekad, hal semacam ini tidak boleh lagi terulang. Kepada siapapun. Di manapun.

Bagaimana Saya Menulis?

IMG_5385Foto ini diambil di Mojokerto. Disela-sela perjalanan saya ke Jawa Timur, pada September 2014 yang lalu. Adapun lokasi pengambilan gambar, tepatnya di markas bung Ardian.

Ketika itu pose kami sambil memamerkan buku yang saya tulis, Sepultura. Kisah tentang sekelompok pekerja/buruh yang memperjuangkan sepuluh tuntutan buruh dan rakyat, dalam konteks pemilihan presiden. Sesuatu yang kemudian semakin membulatkan tekad sebagian kawan, tentang pentingnya buruh memiliki alat politiknya sendiri.

Bagaimana saya menulis? Pertanyaan seperti ini sering dikirimkan melalui pesan dalam Fb saya. Apalagi ketika beberapa saat yang lalu, saya mengumumkan akan segera terbitnya buku terbaru saya, “Sebuah Panduan Dalam Menyelesaikan Perselisihan PHK”.

Sampai saat ini, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai terapi disaat senggang. Semacam cara untuk mengeluarkan beban pikiran. Sebab apabila yang ada dalam pikiran tidak segera dikeluarkan menjadi kata-kata, bisa jadi sudah lama saya sakit jiwa. Apalagi dengan banyaknya aktivitas, yang terkadang satu sama lain tidak berhubungan.

Maka anggapan bahwa untuk bisa menulis kita harus fokus 24 jam di depan komputer tidaklah benar. Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghadiri konsolidasi, terlibat dalam tim advokasi, ikut aksi, dan memberikan pelatihan. Toh sejauh ini sudah menulis lebih dari 15 judul buku.

Dan karena tidak benar-benar memfokuskan diri untuk menulis, ada beberapa buku “pesanan” yang masih belum selesai. Diantaranya adalah buku tentang sejarah perjuangan KAJS dalam melahirkan BPJS, dan kisah perlawanan GEBER BUMN dalam upaya melawan outsourcing di perusahaan-perusahaan plat merah. Milik negara.

Jika saya mengatakan ini, bukan berarti hendak menyombongkan apa yang telah saya capai. Sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa siapapun bisa melakukannya.

Apalagi saya lihat, banyak kawan yang rajin memosting aktivitas dan gagasannya di Fb. Jika dikumpulkan, dalam kurun waktu satu tahun saja sudah bisa menjadi bahan dasar dalam menerbitkan buku.

Aktivis harus menulis. Karena itulah yang akan membuat gagasanmu tetap hidup, meski nyawa sudah tidak lagi dikandung badan.