Pastikan Anda Menjadi Bagian dari Perubahan

Besok kita memasuki lembaran ke-28 di bulan Oktober. Hari bersejarah. Hari dimana ketika puluhan tahun yang silam, pemuda Indonesia mengucapkan sumpahnya yang paling fenomenal. Sumpah Pemuda.

Besok, di tanggal dan bulan yang sama ketika sumpah pemuda itu diikrarkan, bangsa ini akan kembali mencatatkan sejarahnya. Kali ini tentang jaminan sosial, atau bahkan, tidak sama sekali.

Besok adalah pembuktian, apakah para pemimpin negeri ini masih memiliki nurani dan rasa cinta kepada rakyatnya.

Apakah dinamakan cinta, jika kita membiarkan orang-orang yang (katanya) kita cintai saat sakit terkapar tanpa pengobatan yang memadai karena tidak memiliki jaminan kesehatan?

Apakah dinamakan cinta, jika kita membiarkan orang-orang yang (katanya) kita cintai hidup menderita di usia senja karena sudah tidak mampu lagi bekerja dan tak memiliki jaminan pensiun? Baca lebih lanjut

Iklan

Balada Buruh Pabrik (15): Heboh Jaminan Sosial….

Tiba-tiba saja, banyak orang yang memperbincangkan jaminan sosial. Lebih spesifik lagi, tentang jaminan kesehatan. Kelak ketika jaminan sosial ini dijalankan, tidak akan ada lagi rakyat Indonesia, yang ketika sakit tidak mampu berobat ke rumah sakit. Aku kira, ini adalah kalimat yang terdengar indah. Sebuah sensasi, yang mampu membuat siapapun juga menjadi bergairah. Jaminan kesehatan seumur hidup bagi seluruh rakyat Indonesia? Siapa yang akan menolaknya?

Tetapi, buatku, keraguan bahwa negara sanggup memberikan jaminan kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia masih saja terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin itu bisa dilaksanakan untuk mereka yang bekerja dan yang tidak lagi bekerja? Tak peduli apakah ia kaya atau miskin? Tua atau muda? Buktinya hari ini saja, meski masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan, bisa berobat ketika sakit menjadi sesuatu yang istimewa.

Ya, istimewa.

Dengan upah minimum, jangankan untuk berobat dan membayar rumah sakit. Untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, meski sudah menerapkan jurus penghematan tingkat tinggi, masih saja tidak tercukupi. Dan ketika ada yang mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan jaminan kesehatan, seumur hidup, tanpa limitasi dan diskriminasi, tetap saja rasa tidak percaya itu begitu mendominasi. Bermimpi pun tidak untuk mendapatkan keistimewaan itu. Baca lebih lanjut

Balada Buruh Pabrik (14): Ketika Sakit….

Tidak ada manusia di dunia ini yang kepingin sakit. Aku yakin sekali dengan kalimat itu. Sebab, kesehatan adalah kekayaan yang paling bermakna. Ketika sakit, makanan kesukaan pun akan terasa hambar. Banyaknya harta tidak lagi menjadi jaminan untuk bisa merasakan bahagia.

”Gunakan masa sehatmu sebelum datang sakitmu,” kalimat indah, yang sekaligus menegaskan bahwa sakit adalah sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi mereka yang mengalaminya.

Itulah sebabnya, saat sakit datang mendera, seorang buruh harus dibebaskan dari kewajiban bekerja. Dan pengusaha harus membayar penuh upah mereka. Jangankan satu hari. Jika pun sakit itu mereka alami selama satu tahun lamanya, kewajiban pengusaha untuk tetap membayar upah tidak menjadi hilang.

Tetapi, terkadang realita dan hukum bisa berbeda di negeri ini. Baca lebih lanjut

Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 5, Habis)

Sebagai orang yang sehari-hari berkecimpung dalam aktivitas organisasi serikat pekerja, dinamika kehidupan pekerja/buruh bukan lagi hal yang asing bagi kita. Kita hidup di dalamnya, berbaur menjadi satu, bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya.

Kesadaran bahwa kita sebagai buruh, memang harus ditumbuhkan. Sebab ketika kita menganggap semua ini sebagai sebuah rutinitas, maka aktivitas yang kita lakukan akan menjadi hambar. Hanya sekedar dimaknai sekedar penggugur kewajiban. Atau mengutip kalimat bung Jamsari, bahwa selama ini kita menjalankan organisasi secara alamiah dan dengan mengandalkan intuisi. Hal seperti itu tidak boleh lagi terjadi. Memang harus ada greget. Ada niat dan kesungguhan, dengan sebuah kesadaran untuk sampai pada tujuan.

Tentu saja, ini adalah kerja kolektif. Dan bukankah karena itu juga yang menjadi alasan kita untuk membangun organisasi?

Lantas, apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan organisasi serikat pekerja kuat? Ada banyak jawaban yang bisa kita berikan. Namun, dari sekian jawaban yang ada, saya tertarik untuk mengutip pendapat Arunasalam P, Regional Representative IMF Southeast Asia – Pacific Office. Menurut Aruna, serikat pekerja yang kuat ditandai dengan 5 hal berikut: Anggota yang banyak, pemimpin yang jujur, dana yang cukup, administrasi yang baik, dan ada aktivitas/gerakan. Baca lebih lanjut

Dalam setiap langkahnya, terukir sejarah kehidupan….

Saat ini saya tengah menyelesaikan penulisan buku berjudul: “Jejak Langkah Sang Aktivis; Sebuah Memorial Perjuangan Garda Metal Tangerang.” Sulit untuk dipungkiri, bahwa Garda Metal adalah sebuah fenomena dalam gerakan organisasi FSPMI pada khususnya, dan buruh Indonesia pada umunya. Didalamnya terangkai beragam kisah perjalanan anak manusia, yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Jika saya menyebut Garda Metal, bukan berarti hendak mengesampingkan kebesaran FSPMI. GM lahir dari rahim gerakan buruh. Menjadi salah satu pilar organisasi. Berada di garda depan, dalam setiap perlawanan yang kita gelorakan.

Kedepan, saya berharap buku ini akan menjadi semacam serial. Sebagaimana yang disampaikan oleh Panglima Koordinator Nasional Garda Metal, Baris Silitonga, melalui sebuah pesan di inbox Fb saya; penulisan sejarah Garda Metal tidak hanya berhenti di Tangerang. Tangerang adalah sebuah awal, dan berikutnya adalah kisah-kisah inspiratif dan heroik dari Garda Metal Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bandung, dll. Saat ini, rekam jejak Garda Metal Nasional juga tengah disiapkan. Pendek kata, Tangerang adalah awal, tetapi ia bukan akhir. Baca lebih lanjut

Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 4)

Jika pengorganisasian kita artikan sebagai rangkaian kegiatan yang dimaksudkan untuk semakin memperbesar jumlah keanggotaan serikat pekerja, menumbuhkan kesadaran berserikat, meningkatkan efektivitas kerja serikat pekerja dengan team work yang solid, maka dibutuhkan SDM dan media untuk mendukung kerja-kerja tersebut.

Kita sadar, semua ini adalah kerja yang berkelanjutan. Kita tidak bisa mengharap hasilnya secara instant. Kampanye ‘Ayo Berserikat’ yang berkelanjutan, misalnya, menjadi penting untuk dikembangkan. Usulan Nurhidayah, agar kampanye pentingnya berserikat perlu dilakukan disetiap kawasan/lokasi industri, saya kira juga menarik untuk dicoba. Baca lebih lanjut