Belajar dari Mimbar Rakyat di Serang – Banten

Sabtu sore kemarin, 30 Juli 2011, saya menghadiri mimbar rakyat untuk mendesak dijalankannya sistem jaminan sosial nasional yang diselenggarakan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS). Selain dihadiri kawan-kawan serikat pekerja/serikat buruh, seperti FSPMI, FSPKEP, KSPSI, agenda ini juga dihadiri teman-teman dari Laskar Merah Putih dan masyarakat setempat. Teman-teman Forum Buruh DKI Jakarta juga hadir, tak ketinggalan pula Presidium KAJS, Surya Tjandra.

Namanya juga mimbar rakyat, acara ini diselanggarakan dengan sangat merakyat. Dari pinggir Perumahan Bumi Cikande Indah, teriakan agar RUU BPJS segera disahkan menggema. Biarlah kelak sejarah akan mencatat, masyarakat Kabupaten Serang, adalah bagian dari mereka yang memperjuangkan jaminan sosial di negeri ini.

Dalam perspektif saya, agenda ini menjadi sangat istimewa. Istimewa, karena banyaknya pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Belum lagi, ketika kemudian dipertajam dengan diskusi santai di Sekretariat FSBS bersama Surya Tjandra dan kawan-kawan Forum Buruh DKI Jakarta. Baca lebih lanjut

Iklan

Setelah Aksi Besar 22 Juli: Benih Revolusi Semakin Subur?

Aksi KAJS pada 22 Juli 2011 memang sudah usai. Gegap gempita ribuan orang, yang menggedor dan menggetarkan dinding DPR RI dan Kantor Jamsostek untuk mendukung RUU BPJS memang sudah tidak lagi terdengar. Saya menyakini, sebagaimana yang dijanjikan peserta aksi, ini bukanlah aksi yang terakhir. Kendati juga, bukan aksi yang pertama.

Diberitakan di banyak media, Jalan Gatot Subroto, tepatnya yang menuju ke arah slipi lumpuh total. Mudah-mudahan, ini bukan bentuk provokasi media, bahwa demonstrasi hanyalah biang keladi kemacetan. Tetapi untuk menunjukkan kepada publik, betapa besarnya aksi ini.

Ya, ini memang layak disebut aksi besar, dari banyaknya element yang bergabung, juga kesetiaan para demonstran untuk tidak bubar hingga aksi berakhir lewat pukul 17.00 di depan Kantor Jamsostek. Hari-hari ini kita semakin sulit melihat kawan-kawan KSPI, KSPSI, KSBSI, berbagai SP/SB lain serta mahasiswa secara bersama-sama turun ke jalan untuk mengusung isu yang sama. Baca lebih lanjut

Mereka Menolak BPJS Tanpa Alasan (Yang Jelas)

Catatan ini sudah tersimpan beberapa hari dalam folder di komputer. Ingin mempublikasikan dari kemarin-kemarin, sebenarnya. Akibat berbagai kegiatan yang tak terputus, akhirnya saya baru berkesempatan mempublikasikannya hari ini.

Ini tentang seseorang yang secara tidak sengaja bertemu saya saat melakukan aksi unjuk rasa di Kantor PT. Jamsostek Tangerang 1. Saat itu saya memesan segelas kopi kepada pedagang kaki lima, yang letaknya persis bersebelahan dengan penjual somay. Tempat dimana ada dua orang, perempuan muda, sedang menikmati somay di siang yang terik itu. Salah satunya bernama, Susi. Sebut saja begitu. Sesuai dengan nama yang diperkenalkannya kepada saya, meski kemudian saya sendiri meragukan nama yang diperkenalkan kepada saya itu adalah nama yang sebenarnya. Baca lebih lanjut

Surat Untuk Fadlan (2): Sebait Tembang Do`a

Pada akhirnya, engkau diberi nama Abdulah Fadllan Harist. Tentu ini bukanlah nama yang tanpa makna. Sebuah nama yang ditetapkan dengan sepenuh hati, juga pengharapan besar agar ia menjadi do`a.

Beberapa hari ketika dirimu lahir, nenekmu – baik dari pihak Abi dan Umi – datang ke Jempling. Jempling adalah nama sebuah kampung, tempat dimana Abi dan Umi mengontrak sebuah rumah petak. Terletak di antara dua kawasan industri: Kawasan Industri Modern, dan Kawasan Industri Pancatama. Ini sekaligus menjadi pertemuan yang bermakna. Mengingat, sejak Abi dan Umi menikah, ini adalah untuk pertamakalinya kedua nenekmu itu bertemu.

Baru sehari, ketika mbah putri (panggilan kepada nenekmu yang dari Blitar) tiba di Jempling, kabar duka datang. Buyutmu, yang juga nenek Abi dikabarkan meninggal. Kami semua mengikhlaskannya. Namun ketika mengingat kelahiranmu, dengan sendirinya kenangan terhadap buyutmu itu dengan sendirinya ikut menjelma. Sosok yang belum sempat melihat wajahmu. Tetapi mendengar kabar kelahiranmu, adalah kebahagiaan yang sulit terangkai dengan kata.

Kelahiran dan kematian, memang dua kata yang tak terpisahkan. Sebab sejatinya, kelahiran berjalan menuju pada kepastian. Dan kepastian itu adalah kematian. Itulah sebabnya, hidup yang sesungguhnya adalah menyiapkan perbekalan ketika saatnya nanti kita mati. Baca lebih lanjut

Surat Untuk Fadlan (1): Kebahagiaan Itu…

Saat mentari pagi menebar cinta,
di hari Kamis yang damai….

Hari ini, 6 tahun yang lalu, adalah saat-saat yang mengharu biru bagi abimu. Ketika untuk pertamakalinya tangismu pecah menjelang subuh, tepat di akhir bulan Juni 2005. Saat yang sama, ketika air mata menganak sungai di pipi abimu ini. Tangis bahagia? Atau luapan cinta dan lautan syukur yang tak bertepi?

Masih hangat dalam ingatan Abi, saat-saat engkau dilahirkan di dunia ini. Di tengah rasa sakit tak terperi yang mendera Umimu, juga lantunan do`a yang tak terputus dari orang-orang yang mencintai dan menginginkan kehadiranmu.

Entahlah, semua rasa menjadi satu ketika itu. Takut, khawatir, gelisah, pasrah, juga bahagia. Dirimu adalah anak pertama, buah cinta Kahar dan Maimunah, yang kelak engkau panggil Abi dan Umi. Harta paling berharga, tambatan hati dan penerus cinta dan asa orang tuamu ini. Baca lebih lanjut