Berlian Santosa: Review Buku Bicaralah Perempuan!!!

:: Oleh Berlian Santosa (Ketua FLP Wilayah Jambi)

Membaca buku ini bikin merinding,marah,sedih, kecewa dg nasib yang menimpa buruh migrant (TKW) & buruh dalam negeri, kesal juga dg kebijakan lemah perusahaan & pemerintah. Perempuan yang masuk dalam ranah yang lemah tak berdaya rentan sekali mengalami banyak hal dalam kekerasan dan pelecehan.

Ternyata baru saya ketahui dengan detail ,diluar sana, betapa banyak kasus yang menimpa para perempuan pekerja kita dari tingkat high class serupa sekretaris sampe bahkan buruh yang dianggap nista tapi berjasa besar, pembantu rumah tangga.

Perkosaan, pelecehan seksual,kekerasan, diskriminasi gender, gaji tidak dibayar, penindasan dll menimpa kaum perempuan kita. Mrk spt ga ada harga! Baca lebih lanjut

Sinopsis buku Bicaralah Perempuan (Buku pertama Dwilogi Bicaralah Perempuan)

Bicaralah Perempuan adalah buku yang menyuarakan tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Buku ini, meski banyak berbicara tentang luka, penghiatanan, dan air mata; namun tidak hendak mengajak anda berlarut-larut dalam duka. Sebaliknya, berharap ini akan menjadi halilintar yang membangunkan banyak orang dari mimpi panjang. Kekerasan terhadap perempuan begitu nyata, sangat dekat, dan menuntut partisipasi kita semua tanpa harus berfikir lambat.

Hebatnya, setiap bagian dalam buku ini membawa pesan tersendiri. Kendati kebanyakan dari mereka adalah penyangga keluarga dan tidak punya cadangan hidup, tetapi bagi mereka perjuangan martabat manusia sebagai perempuan harus lebih penting. Mereka tidak takut lapar, tidak takut dipecat, tidak takut miskin.

Perjuangan bukan saja untuk mereka, tetapi mereka ingin yang lain tidak mengalami hal serupa. Proses pembuktian yang tidak rasional dan tidak ramah korban, posisi yang dilemahkan dan akses jaringan vertikal yang tak berbanding dengan pelaku, stigmatisasi dan penyalahan korban; semua dilampaui sebagai perjuangan. Inilah bentuk nyata korban yang jadi pembela. Baca lebih lanjut

Sinopsis buku Senyum Bulan Desember (Buku kedua Dwilogi Bicaralah Perempuan)

Seyum Bulan Desember adalah mutiara kata tentang berbagai romantika kehidupan. Selalu, senyum memberi semangat baru. Ada optimisme disitu. Ada energi yang meletup, demi sebuah eksistensi dan membela untuk harga diri. Lantas kita akan bertanya, ada apa dengan senyum di bulan Desember? Karena pada bulan di penghujung tahun inilah, harapan baru disemaikan untuk tahun yang baru. Lebih dari itu, Desember adalah saat-saat diperingatinya Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan, Hari HAM Internasional, dan juga, Hari Ibu yang fenomenal itu.

Itulah sebabnya, dalam album puisi ini terkandung semangat itu. Ditulis dengan sebuah kesadaran, juga ketegasan, untuk tidak mengingkari suara hati. “Sudah lama sekali aku tidak memiliki otonomi atas tubuhku!” Pekik Ana Westy, menjadi penanda bahwa buku ini memang sungguh-sungguh menentang tirani dan ketidakadilan.

Adalah Ana Westy, Chaerudin Saleh, dan Assyafa Jelata, penulis buku kumpulan puisi yang bertema tentang perempuan dan pekerja ini. Membaca karya mereka, kita seperti diajak berlayar ke lautan ilmu. Banyak pelajaran yang kita dapatkan. Kata-kata mereka tajam, kalimat-kalimatnya menggetarkan. Menggugah. Memberikan pencerahan. Ia menjadi lentera, bagi siapapun yang berminat untuk merenungi setiap makna dalam kalimatnya. Baca lebih lanjut

Ketika Aku Jatuh Cinta (Mengenang 7 Tahun Usia Pernikahan Kita)

Hati saya tergetar ketika pulang kerja, di senja itu. Istri saya memperlihatkan foto-foto dirinya bersama Fadlan dan Haya, dua buah hati kami. Inilah kehebatan sebuah gambar. Hidup. Berbicara dalam diamnya.

Keceriaan terpancar jelas dari wajah-wajah penuh pesona tiga orang yang beberapa tahun ini selalu berada di samping saya. Kegembiraan yang lepas. Sebuah tawa yang tanpa rekayasa, membuat lelahku sehari itu sirna. Aku sangat mencintai keluarga kecilku ini, meski tidak melafadzkannya setiap hari.

Kepada Fadlan dan Haya, aku memang tidak sedekat umi-nya. Wanita bersahaja inilah – dengan kasih sayang seluas samudera – yang setia mendampingi tumbuh kembang keduanya. Tergambar jelas di pelupuk mata, bagaimana istriku ini mengajar di Raudhatul Athfat (RA) dengan menggendong anak kami, meski masih bayi. Mulanya hanya Fadlan, dan tiga tahun kemudian, menyusul Haya. Baca lebih lanjut

Dengan Bangga Memperkenalkan Penulis “Bicaralah Perempuan!!!”

Bicaralah Perempuan adalah buku yang menyuarakan tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Buku ini, meski banyak berbicara tentang luka, penghiatanan, dan air mata; namun tidak hendak mengajak anda berlarut-larut dalam duka. Sebaliknya, berharap ini akan menjadi halilintar yang membangunkan banyak orang dari mimpi panjang. Kekerasan terhadap perempuan begitu nyata, sangat dekat, dan menuntut partisipasi kita semua tanpa harus berfikir lambat.

Hebatnya, setiap bagian dalam buku ini membawa pesan tersendiri. Kendati kebanyakan dari mereka adalah penyangga keluarga dan tidak punya cadangan hidup, tetapi bagi mereka perjuangan martabat manusia sebagai perempuan harus lebih penting. Mereka tidak takut lapar, tidak takut dipecat, tidak takut miskin.

Perjuangan bukan saja untuk mereka, tetapi mereka ingin yang lain tidak mengalami hal serupa. Proses pembuktian yang tidak rasional dan tidak ramah korban, posisi yang dilemahkan dan akses jaringan vertikal yang tak berbanding dengan pelaku, stigmatisasi dan penyalahan korban; semua dilampaui sebagai perjuangan. Inilah bentuk nyata korban yang jadi pembela. Baca lebih lanjut