Benci

“Aku benci dengan dirimu. Muak melihat mukamu!”

Sekeranjang sumpah serapah berhamburan ke udara. Kemarahan yang tak terbendung. Kebencian yang tak bisa lagi dihalangi, dan rasanya akan kekal terbawa mati. Bila boleh meminta, dalam situasi seperti ini, ingin sekali melihatnya mampus kejatuhan buah salak (yang segede gunung).

Begitulah jika kebencian sudah merasuk kedalam dada: tak ada lagi logika. Semua hal dinilai dengan rasa, yang seringkali hanya berupa fatamorgana. Salah benar tidak lagi menjadi ukuran. Sebab yang terpenting adalah bagaimana agar kebencian itu tersalurkan, yang biasanya dilampiaskan dengan cara menyakiti. Tak peduli, meski diantara keduanya pernah saling mencintai. Baca lebih lanjut

Iklan

Menjadi Bintang

Dia masih berdiri di situ. Lebih dari 30 menit yang lalu. Melihatmu duduk berdua di teras depan rumah dengan lelaki yang kau cinta. Melihatmu berbincang santai dengannya, tertawa penuh makna, apalagi ketika sesekali engkau menyandarkan kepalamu di pundaknya.

Jika saja engkau tahu, apa yang dirasakannya saat itu. Sakit yang sulit dimengerti. Luka yang entah karena apa.

Aku tahu, engkau pun masih belum sepenuhnya lupa, dialah yang dulu sering berada disampingmu. Melewati malam di pinggir pantai yang berhiaskan kembang api, ketika dia menggendongmu menyusuri rel kereta api, makan malam di pinggir jalan, atau ketika berada di dermaga Pulau Untung Jawa, melihat orang-orang yang malam itu asyik memancing ikan di laut. Barangkali memang beginilah dua sisi mata uang dari apa yang disebut sebagai cinta: sumber dari bahagia, sekaligus duka lara. Baca lebih lanjut

Sebuah Taman yang Kita Perbincangkan Tadi Malam

Lampu sudah engkau matikan, ketika malam ini kita berbincang didalam kamar depan. Tempat ini memang menjadi tempat paling favorit bagi kita untuk berdua. Tempat paling nyaman buatku untuk menulis berbagai judul buku, juga tempat buatmu setiap pagi menaruh secangkir kopi di atas meja yang berserakan buku. Kita sudah sama-sama mengerti, saat-saat seperti ini adalah menit-menit yang sangat berarti dalam kebersamaan kita. Saat-saat yang tidak mungkin menjadi mungkin: ketika tak ada lagi jarak dan jarum jam seperti berhenti berdetak.

Engkau merebahkan badanmu di atas ranjang tempat tidur kita. “Aku ingin membuat taman di depan rumah kita. Ada bunga-bunga, ada batu-batu kecil di pinggirnya, ada kolam tempat Fadlan memelihara ikan. Ada ayunan di sana, tempat kita berdua menikmati rembulan di saat malam sambil mendengarkan simfoni lagi cinta.” Baca lebih lanjut

Menggugah Kesadaran Politik

Sabtu, tepatnya tanggal 02 Juni 2012 saya menghadiri Diskusi Perjuangan yang diselenggarakan oleh kawan-kawan FSPMI Bekasi, Omah Tani Batang dan TURC. Diskusi itu sendiri dilaksanakan di Rumah Buruh, Bekasi. Diskusi yang berlangsung hingga larut malam ini sangat hidup. Penuh semangat. Setidaknya itulah yang saya lihat dari sorot mata para peserta yang hadir. Wajah-wajah penuh optimis, yang percaya akan selalu ada harapan untuk esok hari.

Apalagi ketika tokoh-tokoh gerakan, seperti Obon Tabroni (FSPMI), Surya Tjandra (TURC), dan Handoko Wibowo (Omah Tani) menyampaikan orasinya. Energi itu serasa memenuhi atmosfir di jembatan bunting, dan pada detik selanjutnya membakar jiwa-jiwa yang sadar untuk segera bangkit dan melakukan tindakan nyata. Memberikan konstribusi pada capaian-capaian berikutnya.

Peforma itu semakin sempurna, ketika perwakilan dari PC SPA FSPMI Bekasi memberikan pandangannya. Apalagi ketika mendengarkan mbah Marjukan menyampaikan orasi dengan kata-kata yang tetap lantang, meski usianya sudah menginjak 83 tahun. Baca lebih lanjut

Diary Anggota FSPMI

Hingga hari ini, FSPMI tidak pernah berhenti bergerak. Banyak hal sudah dilakukan. Beragam keberhasilan ditorehkan. Setidaknya, di tengah maraknya penggunaan buruh kontrak dan outsourcing seperti sekarang ini, FSPMI hadir memberikan harapan baru akan perubahan.

Satu hal yang harus disadari, FSPMI tetaplah FSPMI, yang tidak mampu menyulap angsa berinduk kuda. FSPMI tetaplah FSPMI, yang tidak mampu menyulap batu menjadi permata. FSPMI bisa menjadi seperti sekarang, karena tumbuhkan kesadaran dan kerelaan para anggotanya untuk ikut berpartisipasi dalam perjuangan. Dibalik semua itu, ada banyak individu yang menggerakkannya. Buruh-buruh sadar yang percaya, bahwa perubahan bisa didapatkan karena adanya partisipasi untuk melakukan perubahan. Tidak serta merta. Baca lebih lanjut