Mendukung Calon Independent

1

Dalam satu kesempatan, saya pernah mengikuti “Workshop Hasil Riset Menemukan Ruang Baru Bagi Demokrasi Partisipatif”. Ada banyak hal yang kami diskusikan. Salah satunya tentang bagaimana membuka ruang, agar masyarakat bisa terlibat dalam suatu kegiatan politik. Sesuatu yang kemudian membuat saya tertarik untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik.

Maka ketika mengetahui Obon Tabroni berencana maju sebagai Bupati Bekasi melalui jalur independent, saya menaruh harapan besar kepadanya. Kata “independent” membuat saya jatuh cinta, dan kemudian tertarik untuk mendukungnya. Sungguh….

Ketika rakyat belum memiliki alat politiknya sendiri, memberikan dukungan kepada calon independent adalah pilihan yang tepat. Mengapa? Jawaban saya, sama persis dengan temuan penelitian mengenai Strategi Kandidat Pro-Demokrasi Dalam Pilkada yang dilakukan beberapa tahun lalu:

1) Secara ideal, fungsi partai politik dalam pilkada adalah mengusung kader partai sebagai kandidat kepala daerah. Tetapi yang terjadi, partai politik justru memberikan prioritas kepada kandidat dari luar partai, yang biasanya atas dasar adanya “deal-deal tertentu”.

2) Partai memanfaat institusi partai lebih sebagai “kendaraan politik”, “perahu politik”, bahkan “ajang transaksi” untuk memasukkan nominal finansial yang diklaim sebagai ongkos konsolidasi partai.

3) Partai tidak transparan dalam melakukan penjaringan atau seleksi terhadap kandidat. Hal ini ditopang dengan dominasi hierarki kepengurusan partai di tingkat pusat.

4) Dinamika kehidupan partai hanya signifikan terlihat ketika hajatan formal-prosedural akan dimulai. Sulit membayangkan entitas partai yang seharusnya hidup dari waktu ke waktu, tetapi seperti terlihat ada ketika menjelang pemilu.

5) Kandidat yang diusung partai kebanyakan dengan jelas memilih strategi menabur uang. (*)

Merajut Asa Bersama Pasangan Prabowo – Hatta

Ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan, dada saya bergetar.  Merinding. Getaran itu bahkan membuat air mata saya tumpah. Sore itu, di pelataran Tugu Proklamasi, saya menangis tersedu.

Ini terasa seperti mimpi. Empat hari yang lalu, saya masih berada di  Monumen Perjuangan, Bandung. Jarak antara Bandung – Jakarta sejauh ratusan kilometer itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Meski kulit telapak kaki terkelupas. Tertatih-tatih. Letih dan perih.

Ribuan orang berjejer di pinggir jalan. Bertepuk tangan. Mengelu-elukan kedatangan kami. Teriakan, “Hidup Prabowo – Hatta” dengan penuh penghayatan terdengar berulang-ulang. Mereka, ribuan buruh itu sengaja datang dari berbagai daerah untuk menyambut kedatangan kami di Tugu Proklamasi, Jakarta. Tujuan akhir long march Bandung – Jakarta untuk memenangkan Prabowo – Hatta, dimana saya menjadi salah satu peserta.

Saat seluruh peserta long march melakukan sujud syukur, lagi-lagi saya tak kuasa membendung air mata. Memang tak bersuara. Tetapi air mata ini mengalir deras sekali. Apalagi ketika Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon, memeluk kami satu persatu. Ach, hari itu, saya menjadi laki-laki paling cengeng sedunia. Langkah kaki Bandung – Jakarta terlintas dalam benak saya. Meski rasa lelah datang mendera. Meski harus beberapa hari meninggalkan keluarga. Baca lebih lanjut

Catatan Dari Tiga Tempat: Bumiayu – Purwokerto – Majenang

Kampanye yang diselenggarakan oleh Partai Koalisi Merah Putih di Kecamatan Majenang, | Fotografer: Kascey)
Kampanye yang diselenggarakan oleh Partai Koalisi Merah Putih di Kecamatan Majenang,Kabupaten Cilacap. Meski lapanagan becek karena habis diguyur hujan, tetapi mereka tetap bersemangat mendengarkan orasi politik yang disampaikan.  | Foto: Kascey

Di Hotel Salsa Dalila inilah kami menginap pada malam kedua road show ke Jawa Tengah. Seperti yang saya sampaikan dalam catatan beberapa hari yang lalu, road show ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan FSP BUMN dan KSPI untuk mensosialisasikan Sepultura dan meminta dukungan rakyat Jawa Tengah untuk memenangkan Prabowo – Hatta. (Baca: Melangkah Hingga Jawa Tengah)

Saat itu hari Jum`at. Tanggal 27 Juni 2014.

Pagi-pagi sekali, saya sudah bangun dan berjalan-jalan di sekitar hotel. Ini adalah kesukaan saya setiap kali berada di sebuah daerah yang baru dikunjungi. Melihat-lihat sekeliling. Sekedar menyapa penduduk sekitar. Mendengarkan apa yang mereka perbincangkan dan menulis beberapa catatan. Biasanya, pilihan saya adalah dengan duduk di warung kopi.

Bumiayu memang bukan basis industri. Mata pencaharian sebagian besar masyarakatnya adalah pedagang. Tentu ini berbeda dengan Serang – Banten, tempat saya tinggal.

Justru karena itu, ada banyak pemahaman baru yang saya dapatkan. Saya benar-benar belajar.

Memasuki Bumiayu | Foto: Kascey
Memasuki Kota Bumiayu | Foto: Kascey
Nonton bareng Piala Dunia di Posko Pemenangan Prabowo - Hatta | Foto: Kascey
Nonton bareng Piala Dunia di Posko Pemenangan Prabowo – Hatta | Foto: Kascey

Ketika saya bercerita tentang Sepultura, mereka serius mendengarkan. Ternyata, banyak pemuda dari daerah ini yang merantau untuk bekerja didaerah industri. Benang merah inilah yang membuat simpul kebersamaan kami semakin kuat. Kehadiran kami seperti utusaan yang datang menyampaikan berita tentang anak dan saudara mereka yang merantau di kota-kota industri.

Malam harinya, kami menyempatkan diri nonton bareng piala dunia di Posko Pemenangan Prabowo-Hatta yang letaknya persis di depan hotel tempat kami menginap. Sepak bola memang tak mengenal warna politik. Tetapi ketika masyarakat berkumpul, di tempat seperti ini, nuansa politik terasa kental selali. Apalagi jika dibumbui dengan diskusi tentang berbagai kebijakan negara: kenaikan harga menjelang Ramadhan, rasa aman, susahnya mencari pekerjaan.

Yang menarik, dalam pengamatan sepintas yang saya lakukan, cara mereka berpolitik tidak berisik dan membuat gaduh. Saling menjaga. Penuh tepo sliro. Barangkali karena masyarakat di desa tidak memiliki akses yang luas terhadap internet. Jarang melihat status yang bertebaran di facebook atau media online yang seringkali membombardir dengan kampanye hitam.

Inilah politik yang real. Bukan pencitraan. Sesuatu yang membuat saya semakin optimis, bahwa di desa-desa dukungan untuk Prabowo – Hatta besar adanya. Mereka mengklaim, masyoritas masyarakat Banyumas – Brebes akan memilih pasangan nomor satu dalam pemilu. Mereka menginginkan pemimpin yang tegas. Yang mampu memberikan rasa aman sehingga masyarakat bisa hidup tentram. Dan itu tercermin dari Prabowo – Hatta. 

Hotel Salsa Dalila, tempat kami menginap di Bumiayu | Foto: Kascey
Hotel Salsa Dalila, tempat kami menginap di Bumiayu | Foto: Kascey
Nongkrong di warung kopi  | Foto: Kascey
Nongkrong di warung kopi | Foto: Kascey

 

Pertemuan Singkat di Purwokerto

Dari Bumiayu, kami melanjutkan perjalanan ke alun-alun Purwokerto, Banyumas. Saya pernah mendengar nasehat: “Jika ingin melihat wajah sebuah kota, lihatlah alun-alunnya.”

Saya rasa, nasehat itu ada benarnya. Sebagai tempat terbuka, beragam aktivitas masyarakat bisa kita saksikan di alun-alun.  Tempat kita bisa bertemu dengan banyak orang. Tempat kita bisa menilai sejauh mana kepedulian pemerintah daerah terhadap kepentingan publik.

Di alun-alun Purwokerto, saya sempat berkenalan dengan Yanti, sebut saja begitu. Gadis asli Banyumas ini mengaku tempat tinggalnya tidak jauh dari Baturaden, tempat wisata yang terkenal itu. Yanti datang ke alun-alun karena ada janji ketemu dengan kawannya. Mengenakan celana jeans dan blouse hitam, ia terlihat menawan.

“Mau nyari kerjaan,” katanya. Ia adalah satu dari sekian banyak anak muda negeri ini yang bersaing untuk bisa memasuki lapangan kerja yang terasa sempit. Tentu juga menjadi sebuah harapan, agar pemerintahan yang akan datang bisa mengatasi masalah ini.

Ketika obrolan kami menyangkut pilpres, ia mangatakan, “Prabowo kan orang Banyumas.” Saya melihat kebanggaan di raut wajahnya. “Wong Banyumas pasti milih Prabowo,” ujarnya kemudian. Lebih jauh ia bercerita, orang tuanya adalah pengurus Gerinda, meski hanya di tingkat Kecamatan.

Dalam kesempatan itu, Yanti meminta beberapa spanduk. Katanya untuk dipasang di depan rumahnya.

Selain pertemuan dengan Yanti, di alun-alun, kami juga didatangi oleh seseorang yang mengaku simpatisan PDI Perjuangan yang kini mendukung Prabowo – Hatta. Saya tidak bisa memastikan kebenarannya. Tetapi menurut beberapa orang yang ikut nimbrung dengan kami, apa yang dikatakan laki-laki itu benar adanya. Ia punya pengaruh di kawasan itu.

“Wong waras pasti pilih Prabowo,” katanya. Lantas ia memberikan beberapa alasan mengapa dirinya lebih mendukung Prabowo – Hatta ketimbang mendukung Capres yang diusung oleh partai yang pernah dikaguminya. Beberapa kawan sempat merekam pernyataan laki-laki itu.

Alun-alun, sebagai tempat terbuka bagi masyarakat untuk berkumpul, memang memberikan banyak mengalaman. Pertemuan-pertemuan yang memberikan banyak kesan. Banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan dari sini. Setidaknya bagi saya, yang mendedikasikan diri dengan menulis.

DEN KSPI Ali Akbar dan Novita Wijayanti, caleg Gerinda yang terpilih sebagai anggota DPR 2014 - 2019 | Foto: Marmin
DEN KSPI Ali Akbar dan Novita Wijayanti, caleg Gerinda yang terpilih sebagai anggota DPR 2014 – 2019 | Foto: Marmin
Laki-laki ini mengaku kader PDI Perjuangan Purwokerto yang memberikan mendukung Prabowo - Hatta | Foto: Kascey
Laki-laki ini mengaku kader PDI Perjuangan Purwokerto yang memberikan mendukung Prabowo – Hatta | Foto: Kascey
Alun-alun Purwokerto | Foto: Kascey
Alun-alun Purwokerto | Foto: Kascey

Menghadiri Kampanye di Majenang

Di alun-alun ini juga, kami dijemput oleh Novita Wijayanti. Ia adalah Caleg dari Gerinda yang dalam pileg kemarin terpilih sebagai anggota DPR. Selanjutnya, bersama-sama dengan Novita kami meluncur ke Majenang. Majenang adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Cilacap, merupakan batas ujung barat Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di Majenang, kami menghadiri kampanye terbuka yang dilakukan oleh partai koalisi merah putih tingkat kecamatan.

Sebagian besar wilayah Majenang adalah pegunungan (hampir 60%) dan selebihnya dataran. Tanahnya subur. Disini saya banyak melihat sawah, ladang, bahkan hutan yang menghijau. Kata salah satu warga, curah hujan di Majenang sangat tinggi. Bahkan ketika kami menghadiri kampanye itu, hujan baru saja turun. Lapangan tempat kampanye sangat becek.

Jujur saja, ini adalah pengalaman pertama saya menghadiri kampanye partai politik yang mayoritas dihadiri oleh petani. Sebelumnya, saya lebih mengikuti kampanye yang diselenggarakan serikat buruh.

Yang menarik, dalam orasi politiknya, salah satu pengurus partai di Kecamatan Majenang itu menyampaikan komitment Prabowo-Hatta untuk menghapus outsourcing dan meningkatkan upah buruh. “Ini kabar baik buat masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

Saya bergetar mendengarnya. Di daerah yang jauh dari kawasan industri, ada orang  yang menyampaikan upah dan outsourcing. Barangkali tidak penting bagi peserta kampanye yang mayoritas petani itu. Tetapi, sebagaimana yang ia katakan, kebijakan itu akan sangat berarti bagi masa depan anak-anaknya. Dan, memang, hanya Prabowo – Hatta yang memiliki komitment untuk meningkatkan upah buruh secara signifikan dan menghapuskan outsourcing sebagaimana yang tertuang didalam Sepultura. (*)

 

Catatan Lengkap:

1. Melangkah Hingga Jawa Tengah (Bersambung)

2. Catatan Dari Tiga Tempat (Bersambung)

3. Kabar Dari Kebumen (Bersambung)

4. Kembali ke Jakarta (Selesai)

Di lapangan dekat persawahan inilah kampanye Partai Koalisi Merah Putih Kecamatan Majenang diselenggarakan | Foto: Kascey
Di lapangan dekat persawahan inilah kampanye Partai Koalisi Merah Putih Kecamatan Majenang diselenggarakan | Foto: Kascey

 

Catatan ini juga bisa dilihat disini: http://fspmi.or.id/catatan-dari-tiga-tempat-bumiayu-purwokerto-majenang.html

Melangkah Hingga Jawa Tengah

Saya dan kawan-kawan DKI Jakarta, di depan Kemeneg BUMN | Fotografer: Kascey
Saya dan kawan-kawan DKI Jakarta, di depan Kemeneg BUMN | Fotografer: Kascey

Setelah mengikuti long march Bandung – Jakarta pada tanggal 10 – 13 Juni 2014, pada tanggal 25 – 29 Juni 2014 saya kembali mendapat tugas dari organisasi untuk mengikut roadshow Jakarta – Jawa Tengah. Masih dalam agenda yang sama. Mensosialisasikan Sepultura dan meminta dukungan dari masyarakat untuk memenangkan pasangan Prabowo – Hatta dalam Pemilu yang berlangsung tanggal 9 Juli 2014 nanti.

Perjalanan ini kami mulai dari depan Kemeneng BUMN, di Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Ketika saya datang disana, kawan-kawan DKI Jakarta sudah terlebih dahulu berkumpul. Tak ketinggalan, mokom DKI Jakarta juga ikut dibawa. Mereka akan ikut melepas rombongan. Bahkan mengantar kami hingga ke Bekasi. Presiden KSPI Said Iqbal, nampak hadir dalam acara pelepasan itu.

Sambil menunggu keberangkatan, saya berbincang dengan kawan-kawan DKI Jakarta. Mereka bercerita banyak tentang sosialisasi Sepultura yang dilakukan didaerahnya. Dalam beberapa hari ini, mereka berkeliling untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang pentingnya memberikan dukungan kepada pasangan nomor satu. Semangat yang luar biasa.

Winarso, Ketua DPW FSPMI DKI Jakarta, turun langsung untuk memimpin sosialisasi. Inilah yang kemudian membuat kawan-kawan di Jakarta semakin bersemangat. Apalagi ketika melihat sambutan masyarakat yang begitu antusias. Kepercayaan diri yang mereka miliki semakin bertambah.

“Menurut pengamatan bung yang sudah keliling ke daerah-daerah, bagaimana peluang menang pasangan Prabowo – Hatta?” Tanya Winarso kepada saya.

Saya tersenyum, kemudian menjawab, “Jika dilihat antusias masyarakat, kita akan menang.”

Kemudian kami berdiskusi tentang pencitraan yang dilakukan oleh media. Bagaimana tokoh masyarakat, ulama, dan berbagai komponen yang lain menyatakan dukungannya kepada Prabowo – Hatta. Di kalangan buruh, Winarso mengaku semakin semangatnya ketika mengetahui Obon Tabroni (Ketua KC FSPMI Bekasi) juga melakukan langkah yang serius untuk mengkampanyekan Prabowo – Hatta.

“Bekasi menjadi tolak ukur kawan-kawan di daerah,” katanya.

Saya mengamini pendapat Winarso. Ketika berbicara tentang organisasi, sejatinya kita berbicara sebuah keluarga. Senang rasanya jika mengetahui seluruh anggota keluarga bahu-membahu untuk mewujudkan cita-cita itu. Sehingga, dengan demikian, apapun yang akan terjadi nanti, kita bisa menerima dengan lapang dada.

Mobil Komando FSPMI DKI Jakarta. Mengantar kami hingga Bekasi | Fotografer: Kascey
Mobil Komando FSPMI DKI Jakarta. Mengantar kami hingga Bekasi | Fotografer: Kascey
Melewati Bundaran HI. Mulai meninggalkan Jakarta | Fotografer: Kascey
Melewati Bundaran HI. Mulai meninggalkan Jakarta | Fotografer: Kascey

Bekasi, Destinasi Pertama Kami

Kami mulai meninggalkan Jakarta, sekitar pukul 15.00 WIB.

Destinasi kami yang pertama adalah Saung Buruh. Terletak di Kawasan Industri Jababeka, Bekasi. Rencananya, dari Bekasi kami akan singgah di Karawang dan kemudian melanjutkan perjalanan di Cirebon. Kami akan menginap di Kota Udang itu, sebelum mendatangi kota-kota lain di Jawa Tengah.

Untuk menghindari macet, dari Jakarta menuju Bekasi kami melalui jalan tol. Di tol, kami bertemu dengan banyak simpatisan Prabowo – Hatta. Beberapa mobil yang ditempel sticker pasangan nomor satu. Mereka membuka jendela. Mengacungkan satu jari. Bahkan ada yang memberikan topi. Selalu menyenangkan, ketika di jalan kita bertemu dengan teman-teman yang sehaluan. Kami tidak tahu siapa mereka. Tetapi kami tahu, mereka memiliki harapan yang sama. Sebuah rasa yang membuat kami menjadi begitu dekat.

Mokom Bekasi menjemput kami di pintu tol Cikarang Barat. Kami diantar hingga Jababeka. Menembus kemacetan kota industri di hari Rabu sore itu.

Di Saung Buruh, Obon Tabroni dan kawan-kawan Bekasi menyambut kehadiran kami. Bagi saya, Bekasi selalu istimewa. Antusias kawan-kawan disini dalam melakukan kerja-kerja organisasi selalu mengesankan. Apalagi saat ini Bekasi memiliki jumlah anggota yang terbesar.

Karena dari pagi belum sarapan, sesampainya di Saung Buruh, sasaran saya yang pertama adalah warung nasi. Baru setelah mendirikan shalat Maghrib, kami berkumpul. Sebuah diskusi kecil dilakukan. Dimulai dari sambutan Obon Tabroni, sebagai tuan rumah, dan dilanjutkan oleh Arif Puyono dari FSP BUMN.

Keduanya mengingatkan kembali tentang Sepultura. Memberikan beberapa catatan, mengapa sangat penting bagi kaum buruh untuk ikut serta memastikan kemenagan pasangan Prabowo – Hatta.

Menurut Obon Tabroni, ini bukan lagi tentang instruksi organisasi. Lebih dari itu, ini adalah pertarungan idiologis. Ini adalah perebutan kepentingan. Sebagaimana kita tahu, di seberang sana, barisan Apindo telah berdiri dengan rapi. Dua kekuatan (modal vs buruh), dengan kepentingan yang berbeda, sedang berhadap-hadapan. Karena itu, menurut Obon, tidak ada pilihan lain selain all out untuk memenangkan Prabowo – Hatta yang telah berkomitment untuk menjalankan Sepultura.

Arif, dalam kesempatan ini menyampaikan salam Prabowo Subianto kepada kaum buruh. Menurut Arif, Prabowo sangat bangga dengan buruh. Bahkan, secara spesifik, Prabowo juga mengatakan salut dengan Garda Metal yang selalu militan dalam berjuang. Menurutnya, dalam rapat partai, tak segan Prabowo Subianto mencontohkan buruh. Mereka tidak dibayar. Tetapi sanggup melakukan kerja-kerja politik dengan militan.

Saung Buruh, Jababeka - Bekasi | Fotografer: Kascey
Saung Buruh, Jababeka – Bekasi | Fotografer: Kascey
Diskusi di Saung Buruh, Jababeka - Bekasi. | Fotografer: Kascey
Diskusi di Saung Buruh, Jababeka – Bekasi. | Fotografer: Kascey

 

Singgah di Cirebon

Setelah menyelesaikan diskusi singkat di Bekasi, kami melanjutkan perjalanan. Mengingat sudah beranjak malam, rencana untuk singgah di Karawang kami batalkan. Tujuan berikutnya adalah Cirebon. Apalagi kami mendapat kabar jika kawan-kawan di Cirebon sudah menunggu.

Semula, kami dijadwalkan tiba di Cirebon pukul 21.00 WIB. Rencananya, kami akan melewati malam dengan nonton bareng. Memutar film di alun-alun Cirebon. Tetapi kami salah perhitungan. Sore itu, jalanan macet. Jika dipaksakan, bisa jadi, kami memasuki Cirebon setelah lewat malam.

Di daerah Indramayu, saya baru menyadari jika didalam rombongan ini ada seseorang yang pernah saya kenal. Tetapi saya masih tidak yakin. Hingga akhirnya saya membuka suara. “Bang, rasanya kita pernah ketemu ya?”

“Mungkin,” ujarnya. Ia menatapku. Seperti tidak yakin dengan ingatannya sendiri.

“Pernah ke PHI Serang, Banten?” Aku mengejar dengan pertanyaan berikutnya. Barulah kami menyadari, jika kami memang pernah bertemu di PHI Serang. Ia adalah aktivis PRD. Dalam diskusi selanjutnya, ia banyak bercerita tentang beberapa nama aktivis yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Ternyata dunia tidak seluas yang kita kira.

Akhirnya, menjelang tengah malam, kami memutuskan untuk menginap di Indramayu.

Ketika keesokan paginya melanjutkan perjalanan ke Cirebon, kawan-kawan menyambut kedatangan kami di dekat Terminal Harjamukti. Meskipun sebagian dari mereka tidak saya kenal, namun kami merasa dekat. Berbincang santai sambil ngopi.

Kebetulan, ketika menghadiri Rakernas SPAI FSPMI di Surabaya beberapa bulan lalu, saya pernah berkenalan dengan salah satu utusan dari Cirebon. Pernah bersama-sama dengannya melewati malam dengan jalan-jalan ke Taman Bungkul. Kami seperti dipertemukan kembali. Tidak membutuhkan waktu lama untuk akrab. Bercerita tentang perkembangan serikat pekerja di Cirebon. Tentang sejauh mana Sepultura disosialisasikan.

Dari Cirebon, perjalanan kami berlanjut ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Saya akan menceritakannya di bagian terpisah. (*)

 

Catatan Lengkap:

1. Melangkah Hingga Jawa Tengah (Bersambung)

2. Catatan Dari Tiga Tempat (Bersambung)

3. Kabar Dari Kebumen (Bersambung)

4. Kembali ke Jakarta (Selesai)

Bersama kawan-kawan Cirebon | Fotografer: Kascey
Bersama kawan-kawan Cirebon | Fotografer: Kascey

“Jawa Timur Harus Makmur”

Anggota FSPMI-KSPI membawa gambar Prabowo-Hatta saat mengikuti Rapat Akbar di Surabaya | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Anggota FSPMI-KSPI membawa gambar Prabowo-Hatta saat mengikuti Rapat Akbar di Surabaya | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Setiap kali berkunjung ke Surabaya, saya selalu memiliki cerita yang istimewa. Bukan karena saya merasa sedang pulang kampung. Ini tentang buruh-buruh di Jawa Timur, yang selalu bergairah ketika berbicara tentang perjuangan. Yang selalu dikenal dengan sikapnya yang militan.

Inilah yang saya alami, ketika pada hari Sabtu (21/6) yang lalu saya memiliki kesempatan untuk datang kembali ke kota ini. Tepatnya ketika FSPMI-KSPI menyelenggarakan rapat akbar di JX International Convention-Exhibition, Surabaya. Sebuah kegiatan yang dihadiri ribuan orang untuk mensosialisasikan Sepultura dan memenangkan  Capres-Cawapres Prabowo-Hatta.

Kepastian untuk ikut hadir di Surabaya saya terima pada Jum`at (20/6) sore, ketika sedang menghadiri rapat Tim Media di DPP FSPMI. Saat itu, 2 (dua) orang wakil Tim Media diminta untuk ikut hadir ke Surabaya. Akhirnya disepakati, yang berangkat ke Surabaya adalah saya dan Iwan Budi Santoso. Pesawat berangkat jam 5 pagi dari bandara Soekarno – Hatta.

Untuk efektivitas waktu, saya menginap di DPP KSPI. Karena untuk kembali ke rumah, di Serang – Banten, sementara kegiatan di Jakarta selesai hingga malam, sangat tidak memungkinkan. Waktu akan habis di jalan.

Pagi-pagi sekali, pukul 02.43 Wib, Iwan menjemput saya. Kami bersama-sama ke bandara. Disana bertemu dengan rombongan dari DPP FSPMI. Presiden FSPMI Said Iqbal, Sekretaris Jenderal Suparno B dan Wakil Sekretaris Jenderal Syawal Harahap. Tidak hanya dari FSPMI, beberapa orang dari KSPI juga ikut dalam rombongan ini. Totalnya berjumlah 11 Orang. Nurdin Muhidin, aktivis FSPMI yang dalam pemilihan legislatif terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bekasi juga ikut hadir ke Surabaya. Namun ia berangkat lebih dulu, bersama Iswan Abdullah.

Tiba di bandara Juanda sekitar pukul 06.30 wib. Kami segera melanjutkan perjalanan ke tempat acara berlangsung.

Mengadikan kenangan di depan FX Internasional Convention-Exhibition, Surabaya, Jawa Timur | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Mengadikan kenangan di depan FX Internasional Convention-Exhibition, Surabaya, Jawa Timur | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Saya sangat paham, tidak mudah untuk bisa menyelenggarakan kegiatan seperti ini. Untuk bisa melibatkan ribuan orang agar mereka bersedia hadir di satu tempat, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, mereka harus mendanai sendiri kegiatan ini. Bahkan, sekedar untuk makan dan biaya transportasi pun seringkali harus merogoh kocek dari kantong sendiri. Diperlukan persiapan yang matang. Konsolidasi yang mumpuni.

Sebelum mengikuti Rapat Akbar, sebagian peserta melakukan long march dari Tugu Pahlawan menuju FX Internasional Convention-Exhibition. Di sepanjang jalan yang dilalui, mereka menyebarkan leaflet tentang Sepultura yang sudah ditandatangani oleh Prabowo Subianto selaku Calon Presiden RI dan Said Iqbal mewakili organisai pekerja/buruh, organisasi guru, pedagang kaki lima dan organisasi gerakan sosial lainnya.

Bagi saya, Sepultura bukan janji. Sepultura adalah cita-cita perjuangan. Sebuah komitment bersama untuk memastikan pemerintahan yang akan datang berorientasi terhadap kesejahteraan.

Tim Paduan Suara FSPMI-KSPI | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Tim Paduan Suara FSPMI-KSPI | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Menjelang pukul dua, barulah acara dimulai. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars KSPI.

Saat lagu kebangsaan dinyanyikan, semua yang hadir berdiri. Indonesia Raya berkumandang didalam ruangan. Ribuan orang menyanyikan secara bersamaan. Sungguh, satu momentum yang sulit untuk saya lupakan. Sebuah lagu yang mampu membakar jiwa nasionalisme. Sebuah lagu yang membuat saya yakin, bahwa semua ini kami lakukan untuk menjadikan Indonesia Hebat.

Sebuah rasa yang sulit untuk dipahami. Ada semangat dalam lagu itu. Ada sebuah kerinduan untuk melihat negeri ini sebagaimana yang sering saya baca dalam berbagai cerita. Sepenggal tanah surga. Zamrud di khatulistiwa. Neger yang gemah ripah loh jinawi.

Dalam sambutannya mewakili panitia, Mashuri mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja secara luar biasa sehingga acara ini bisa diselenggarakan.

Mashuri optimis. Di Jawa Timur, Prabowo – Hatta akan menang. Tanda-tanda kemenangan itu, menurut Mashuri, sudah terlihat. Salah satunya adalah terlihat dari antusiasme kaum buruh dalam mengikuti kegiatan ini. Ia mengajak kepada semua yang hadir untuk menularkan semangat ini kepada masyarakat luas.

Mobil Komando Sidoarjo, ikut mengawal pelaksanaan long march di Jawa Timur | Fotografe: Iwab Budi Santoso
Mobil Komando Sidoarjo, ikut mengawal pelaksanaan long march di Jawa Timur | Fotografe: Iwab Budi Santoso

Sambutan berikutnya adalah perwakilan dari SP BUMN Bersatu, Arief Puyono.

Menurut Arief, dukungan kepada Prabowo-Hatta adalah dukungan yang idiologis. Sebuah dukungan yang dilandaskan pada sebuah cita-cita. Sebuah dukungan yang diberikan, karena faktanya hanya Prabowo – Hatta, satu-satunya pasangan yang bersedia menjalankan sepuluh tuntutan buruh dan rakyat.

“Dukungan itu kita berikan atas dasar komitment dan ketegasannya untuk berpihak kepada kaum buruh. Dengan memenangkan Prabowo-Hatta, sejatinya kita sedang memperjuangkan nasib kita sendiri,” ujar Arief.

Setelah Arief memberikan sambutan, acara selanjutnya kembali diisi dengan paduan suara. Kali ini menyanyikan Mars FSPMI dan lagu Hidup Buruh. Mayoritas yang hadir sudah tidak asing dengan dua lagu ini. Gerak dan lagu menyatu. Hari itu, buruh Jawa Timur larut dalam sebuah kebersamaan. Tidak ada perbedaan. Mereka adalah satu: buruh. Dan siap memenangkan pasangan nomor satu.

Musisi Indonesia, Ahmad Dhani | Fotografer: Iwam Budi Santoso
Musisi Indonesia, Ahmad Dhani | Fotografer: Iwam Budi Santoso

Musisi Indonesia, Ahmad Dhani, juga memberikan sambutan. Ia menyampaikan pandangan, mengapa lebih memilih pasangan Prabowo – Hatta.

Ahmad Dhani percaya, buruh, juga memiliki pandangan yang sama dengan dirinya. Menginginkan pemimpin yang cerdas dan tegas. Pemimpin yang mampu memberikan inspirasi dan spirit kepada rakyatnya untuk maju.

Dan itu, menurut Dhani, hanya ada dalam diri Prabowo Subianto.

Presiden KSPI, Said Iqbal | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Presiden KSPI, Said Iqbal | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Berikutnya giliran Presiden FSPMI yang juga menjadi Presiden KSPI, Said Iqbal, memberikan sambutan.

Inilah orasi politik yang ditunggu-tunggu oleh segenap anggota KSPI. Said Iqbal memang terkenal dengan orasinya yang berapi-api. Sebuah orasi yang mampu membakar semangat dan menggetarkan jiwa. Orasi yang memberikan inspirasi kepada kaum buruh untuk selalu ikhlas didalam setiap langkah dan militan disetiap medan juang.

Iqbal menyampaikan latar belakang dari Sepultura. Ia mengatakan, Sepultura adalah cermin dari negara sejahtera. Sepuluh tuntutan buruh dan rakyat itu bukan kali ini saja diperjuangkan. Sejak lama, bahkan jauh haris sebelum Pilpres, kaum buruh sudah berjuang agar point-point didalam Sepultura itu bisa dijalankan.

Ketika kemudian buruh memanfaatkan Pipres untuk mengangkat isu-isu perjuangan, itu tidak bisa dibaca sebagai langkah yang pragmatis. Justru itu adalah pilihan yang tepat. Semua itu hanya bisa terwujud, jika negara berpihak kepada rakyat kecil. Dan itu membutuhkan komitment pemimpin. Membutuhkan ketegasan. Bahwa Presiden bukanlah boneka yang digerakkan orang lain. Presiden adalah harus seseorang yang memiliki pribadi penuh ketegasan dan kepercayaan untuk berpihak kepada rakyat yang banyak.

Ketegasan dan keberpihakan itu ada pada diri Presiden Rakyat, Prabowo Subianto.

Hanya Prabowo Subianto, yang secara  tegas berkomitment untuk menjalankan Sepultura. Pernyataan yang tidak saja tertulis. Tetapi disampaikan secara terbuka dihadapan puluhan ribu kaum buruh yang memenuhi stadion utama Gelora Bung Karno, pada saat peringatan May Day. Tanggal 1 Mei 2014 yang lalu.

Massa FSPMI-KSPI sangat  antusias mengikuti kegiatan ini | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Massa FSPMI-KSPI sangat antusias mengikuti kegiatan ini | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Tidak berlebihan jika kemudian KSPI mengambil sikap, mendukung Prabowo – Hatta. Sebuah dukungan yang tidak hanya berupa pernyataan. Tetapi juga sebuah instruksi untuk bergerak. Instruksi untuk bersama-sama dengan masyarakat agar ikut serta memastikan pada 9 Juli 2014 nomor satu adalah pilihan kita.

Terkait dengan instruksi ini, saya pernah mendengar komentar beberapa kawan yang menyatakan bahwa demokrasi itu bukan instruksi. Saya sepakat dengan itu. Demokrasi memang bukan instruksi. Akan tetapi, tanggungjawab organisasi adalah memberikan instruksi.

Menurut kamus, instruksi itu artinya adalah (1) perintah atau arahan, untuk melakukan suatu pekerjaan atau melaksanakan suatu tugas; dan (2) pelajaran; pertunjuk.

Jika organisasi tidak memberikan arahan atau petunjuk kepada anggotanya, maka bisa dipastikan anggota akan kebingungan. Ia tidak lagi memiliki pegangan. Bahkan bisa jadi akan mengatakan jika organisasi tidak jelas. Itulah sebabnya, bagi organisasi, instruksi adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan keputusan-keputusan organisasi harus dibuat secara demokratis. Keputusan itu tidak boleh lahir atas dasar ambisi pribadi seseorang.

Keputusan KSPI untuk aktif dalam memberikan dukungan kepada Capres-Cawapres sudah diputuskan dalam Rakernas. Rapat resmi organisasi juga dengan tegas telah memutuskan untuk memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo – Hatta. Bagi kita, sudah tidak ada keraguan lagi, bahwa seluruh element dan anggota organisasi KSPI harus bahu-membahu untuk memenangkan pasangan ini.

Presiden FSPMI-KSPI Said Iqbal satu panggung dengan Fadli Zon dan Ahmad Dhani | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Presiden FSPMI-KSPI Said Iqbal satu panggung dengan Fadli Zon dan Ahmad Dhani | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Fadli Zon, dalam sambutannya mengatakan jika buruh pabrik, buruh tani, dan pedagang kecil memerlukan kartu debit dan kartu tabungan.

“Buruh harus punya tabungan, buruh tani harus punya tabungan, pedagang kecil harus punya tabungan, bukan kartu-kartuan. Setuju?” katanya. Semua yang hadir bertepuk tangan. Ia mengingatkan, bahwa negara ini sudah memiliki BPJS Kesehatan. Oeh karena itu, yang dibutuhkan adalah menyempurnakan BPJS. Bukan dengan membuat kartu sehat yang lain.

Yang terpenting, ujar Fadli, adalah ketika ada orang yang kurang mampu sakit, rumah sakit harus wajib menerimanya dengan gratis.

Outsourcing akan dihapus. Sebuah keberanian, yang tidak dimiliki oleh calon Presiden yang lain.

“Itu adalah tugas negara, dan itu komitmen kita,” katanya yang langsung disambut sorak-sorai massa yang hadir.

Kemeriahan Rapat Akbar FSPMI – KSPI untuk memenangkan Prabowo – Hatta di Surabaya, Jawa Timur | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Kemeriahan Rapat Akbar FSPMI – KSPI untuk memenangkan Prabowo – Hatta di Surabaya, Jawa Timur | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Selain itu, Fadli juga berjanji, jika Prabowo-Hatta menang, dipastikan wajib belajar 12 tahun dan biaya masuk perguruan tinggi murah. Sehingga anak-anak kaum buruh dapat mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi.

Saya bersyukur Fadli menyampaikan ini. Karena apa yang disampaikan oleh Fadli adalah bagian dari ini Sepultura. Satu hal yang membuat saya semakin yakin, bahwa perjuangan ini tidak akan sia-sia. Orang seperti Fadli Zon pun tidak gagap ketika berbicara tentang isu-isu buruh.

Dalam kesempatan ini, Fadli Zon juga mengatakan bahwa elektabilitas Prabowo-Hatta semakin hari semakin tinggi.  “Hampir semua survei sekarang ini mengatakan kita sudah menyalip pasangan lawan kita,” ujarnya.

Menurut Fadli, Prabowo saat ini telah mulai mendapatkan kemenangan di mana-mana. “Tapi kita jangan sampai lengah. Kita harus waspada,” ujarnya.  Fadli kemudian mengajak para buruh untuk selalu waspada terhadap kampanye-kampanye hitam yang menyerang Prabowo-Hatta. Selain itu, Fadli juga menekankan para buruh untuk ikut membantu memenangkan Prabowo-Hatta pada pemilihan presiden 9 Juli nanti.

Siap memenangkan Prabowo - Hatta | Fotografer: Iwan Budi Santoso
Siap memenangkan Prabowo – Hatta | Fotografer: Iwan Budi Santoso

Seusai acara, saya berdiskusi dengan beberapa orang. Mereka mengaku bangga bisa menghadiri acara seperti ini. Berumpul dengan ribuan buruh dari berbagai perusahaan dalam satu tempat. Itu membuat semangat mereka tumbuh berkali lipat. Membuat mereka semakin yakin, bahwa organisasinya adalah organisasi besar.

“Sing penting Jawa Timur makmur,” kata salah satu diantara mereka, ketika saya tanya apa harapannya ketika nanti Prabowo-Hatta menjadi Presiden.

Saya bangga bisa menjadi kalian. Selamat berjuang. Sampai ketemu dilain waktu. (Kascey)

 

Sumber: http://fspmi.or.id/jawa-timur-harus-makmur.html

Menebar Inspirasi Dengan Berjalan Kaki

Peserta long mach Bandung – Jakarta sedang melintas di depan Kantor Pos, Jakarta. | Foto: Dokumen Pribadi
Peserta long mach Bandung – Jakarta sedang melintas di depan Kantor Pos, Jakarta. | Foto: Dokumen Pribadi

Apa yang tersisa dari long march Bandung – Jakarta? Jika itu ditanyakan kepada saya, saya akan menjawab, inspirasi. Perjalanan ratusan kilometer itu mampu membuka mata hati banyak orang. Betapa buruh Indonesia memiliki semangat dan keteguhan yang luar biasa dalam berjuang.

Itu bisa dilihat secara jelas, misalnya, saat ribuan orang datang ke Tugu Proklamasi untuk menyambut kedatangan peserta. Ketika Indonesia Raya diperdengarkan, hampir semua yang hadir menitikkan air mata. Rintik hujan yang turun di senja itu membuat suasana semakin syahdu. Dada saya bergetar hebat menahan haru.

Mereka yang telah merelakan waktunya berhari-hari jalan kaki Bandung – Jakarta adalah buruh. Sama seperti kalian, yang sebagian waktunya berada didalam perusahaan. Tidak terlatih untuk melakukan perjalanan sejauh itu. Beberapa diantaranya, bahkan, baru pulang kerja malam (sift tiga) ketika mengikuti perjalanan. Meskipun dengan kulit kaki terkelupas dan langkah kaki yang tertatih-tatih,  tetapi toh mereka berhasil menyelesaikan tugasnya. Baca lebih lanjut

Mengenal Sepultura

Acara pelepasan long march Bandung-Jakarta untuk mensosialisasikan Sepultura. Bandung, 10 Juni 2014. Foto: Kahar
Acara pelepasan long march Bandung-Jakarta untuk mensosialisasikan Sepultura dan sekaligus memberikan dukungan kepada pasangan Capres-Cawapres Prabowo – Hatta. Foto ini diambil saat acara pelepasan peserta long march Bandung – Jakarta (10 Juni 2014) di Monumen Perjuangan, Bandung | Foto: Dokumen Pribadi

Awalnya adalah 10 tuntutan buruh dan rakyat. Yang kemudian disingkat, Sepultura.

Sebagi sebuah tuntutan yang berasal dari rakyat, itu artinya, Sepultura adalah cita-cita. Cita-cita perjuangan. Sepultara adalah harapan. Dalam banyak kesempatan, KSPI berusaha dengan sungguh-sungguh agar kesepuluh tuntutan buruh dan rakyat itu bisa diwujudkan.

May Day tahun 2014 ini menjadi tonggak penting bagi Sepultura. Sepeti may day pada tahun-tahu berikutnya, serikat buruh selalu membawa isu perjuangan.

Dan kali ini, isu yang diangkat oleh buruh adalah Sepultura.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, 2014 adalah tahun politik. Tahun dimana pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode Tahun 2014 – 2019 akan digelar. Tidak berlebihan jika kemudian KSPI mengeluarkan seruan: Siapapun Calon Presiden yang berani menjalankan Sepultura, pasti didukung oleh buruh.

Akhirnya fakta membuktikan. Hanya Capres Prabowo Subianto lah yang berani secara tegas menyatakan bersedia menjalankan Seputura. Menurutnya, Sepultura adalah hak rakyat. Ada didalam Undang-undang Dasar. Karena itu, ia menyatakan jika terpilih sebagai Presiden, tidak ada alasan Sepultura untuk tidak dijalankan.

Saat itu, Prabowo Subianto menyampaikan pernyataannya itu dihadapan 80-an ribu buruh yang memenuhi Gelora Bung Karno.

Inilah sebabnya, saya mengatakan bahwa Sepultura adalah cita-cita perjuangan. Sepultura bukanlah sekedar janji. Karena, memang, Sepultura tidak pernah dijanjikan. Lebih dari itu, Sepultura adalah harapan buruh dan rakyat Indonesia. Harapan kita semua. Siapapun presidennya, Sepultura haruslah terus diperjuangkan.

Prabowo Subianto, dalam kapasitasnya sebagai Calon Presiden Indonesia periode 2014 – 2019 pun telah menanda tangani kontrak politik dengan Said Iqbal, mewakili KSPI, Organisasi Serikat Pekerja, Organisasi Guru, Pedagang Kaki Lima, dan Organisasi Gerakan Lainnya.

Sepultura ditandatangani jauh hari sebelum koalisasi dengan partai-partai politik terbentuk.

Hal ini juga bermakna, KSPI tidak latah dalam hal memberikan dukungan kepada Capres. Dukungan itu lebih didasarkan kepada adanya kesamaan pandangan dalam cita-cita perjuangan.

Berikut adalah isi Sepultura itu:

Pertama, meningkatkan daya beli upah minimum pekerja/buruh dan masyarakat dengan cara mengubah jumlah jenis barang dan jasa yang menjadi Komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL), dari 60 jenis menjadi 84 jenis barang dan jasa serta meningkatkan produktivitas pekerja/buruh.

Kedua, menhapus kebijakan penangguhan upah minimum.

Ketiga, menjalankan jaminan pensiun wajib bagi buruh/pekerja per 1 Juli 2015 sesuai dengan UU SJSN dan BPJS.

Keempat, meningkatkan pelaksanaan jaminan kesehatan seluruh rakyat Indonesia, secara gratis kepada pekerja/buruh  dan rakyat kurang mampu.

Kelima, menghapuskan sistem outsourcing tenaga kerja, termasuk outsourcing tenaga kerja di BUMN dan mengangkatnya menjadi pekerja tetap.

Keenam, Mengesahkan RUU PRT (Pekerja Rumah Tangga) dan merevisi UU TKI No 39/2004 harus berorientasi kepada perlindungan TKI serta syahkan RUU perawat.

Ketujuh, mencabut UU Ormas ganti dengan RUU Perkumpulan.

Kedelapan, mengangkat guru honorer dan tenaga kerja honor menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta subsidi Rp 1 juta per bulan dari APBN untuk guru honorer dan tenaga kerja honorer.

Kesembilan, Melaksanakan wajib belajar 12 tahun.

Kesepuluh, mengalokasikan APBN untuk beasiswa anak pekerja/buruh hingga perguruan tinggi secara gratis bagi yang berbakat dan berprestasi, menyediakan transportasi publik murah dan perumahan murah.