Menyampaikan Pesan Pemogokan

Suasana Konsolidasi Nasional Jelang Mogok Nasional di LBH Jakarta, 12 Nopember 2015 | Foto: Kascey

Ada banyak serikat buruh yang hadir, ketika Komite Aksi Upah- Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI) melakukan Konsolidasi Jelang Mogok Nasional di LBH Jakarta. Selama konsolidasi berlangsung,  saya melihat wajah-wajah penuh semangat. Bergairah. Apalagi, pada hari itu, KAU-GBI secara resmi berencana mengumumkan secara terbuka, tanggal mogok nasional.

Konsolidasi ini diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya. Semua peserta berdiri. Sebagian besar mengepalkan tangan kiri. Menyanyikan lagu kebangsaan dengan sepenuh hati.

Saya merasa, dengan lagu itu, buruh hendak menegaskan bahwa mereka berkumpul disini bukan untuk kepentingan pribadi. Dan meskipun sebagian besar yang hadir adalah buruh, tetapi perjuangan ini juga bukan untuk didedikasikan terhadap kelompok mereka: buruh.

Ini adalah perjuangan untuk seluruh rakyat! Apapun latar belakangnya.

Lahirnya PP Pengupahan, pada saat bersamaan juga mengebiri demokrasi karena menghilangkan peran serikat buruh dalam perundingan penetapan upah minimum. Dan ketika demokrasi dikebiri, itu artinya, pemerintah menerapkan laku otoriter. Pemerintahan yang seperti ini tidak hanya merugikan buruh. Tetapi semua pilar demokrasi terancam.

Setelah Indonesia Raya, peserta disuguhkan film pendek, saat KNGB melakukan konsolidasi jelang mogok nasional tahun 2013. Ketika itu, acara diselenggarakan di Gedoeng Djoeang.

Saat melihat kembali film ini, ingatan saya tertaut pada beberapa tahun yang lalu.

Apa yang kita sebut mogok nasional bukan hal yang pertamakali kita lakukan. Meski belum sempurna, kita pernah melakukannya. Berhasil. Itulah sebabnya, konsolidasi semacam ini merupakan cara bagi Gerakan Buruh Indonesia untuk memastikan pemogokan berlangsung dengan lebih dahsyat dari yang pernah dilakukan sebelumnya.

Setelah film usai, masing-masing perwakilan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangannya.

 Budi Wardoyo

12240211_498454443654616_4899224767173031607_oDalam pandangan Budi Wardoyo, pemerintahan Jokowi – JK tidak hanya mengeluarkan paket kebijakan ekonomi. Lebih dari itu, paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah Paket Ekonomi + Paket Represif.

“Salah satu indikatornya, polisi melakukan kekerasan ketika membubarkan aksi buruh tanggal 30 Oktober 2015 di depan Istana Negara,” kata pria berambut panjang ini. Kekerasan terhadap aparat juga kerap dilakukan terhadap petani dan elemen masyarakat yang lain.

Keluarnya PP Pengupahan, mencerminkan bahwa pemerintahan yang sekarang – juga pemerintahan yang sebelumnya — berwatak kapitalis. Pemerintahan yang hanya mengabdi pada kepentingan modal dengan menekan buruh. PP Pengupahan akan semakin memiskinkan kaum buruh secara struktural.

Atas hal itu, pilihan kita sangat sederhana: Terima atau tolak!

“Dan karena kita memiliki akal sehat, maka kita memilih untuk menolak. Ini adalah tentang keadilan sosial. Maka kita tidak akan pernah main-main dengan apa yang kita perjuangkan.”

Ini adalah perjuangan jangka panjang. Kuatkan persatuan. Pastikan perlawanan ini tidak berhenti di tengah jalan.

Yoyok, demikian dia biasa dipanggil, mengaku bangga dengan sikap yang ditunjukkan gerakan buruh Indonesia. Buruh tidak takut dengan kekerasan yang dilakukan aparat. Ini bisa dilihat dari aksi-aksi yang semakin marak di semua daerah.

“Saya banyak bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai daerah. Mereka menyatakan siap tempur,” katanya. Penuh kepercayaan.

Dia juga sadar. Perjuangan ini penuh dengan resiko.

“Tetapi kita akan ambil resiko itu,” tegasnya.

Kemudian ia melanjutkan, “Semakin kita kuat, resiko itu akan semakin kecil. Tetapi apabila kita tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan persiapan, maka resikonya akan besar.”

Untuk itu, Yoyok meminta agar setiap orang yang hadir dalam konsolidasi ini mengambil inisiatif dengan memperluas dan membesarkan gerakan.

“Waktu kita semakin sedikit. Segera lakukan konsolidasi di setiap pabrik dan kawasan. Masuklah dalam komite pemogokan di tiap-tiap daerah. Lakukan konsolidasi dan sebarkan melalui semua media yang kita punya,” tandasnya.

Rezim yang bengis harus kita hadapi dengan persiapan yang baik. Berkaca pada pengalaman mogok nasional tahun 2012 dan 2013, jika ada preman yang menyerang kita, kita harus serang balik mereka. Apa yang kita lakukan adalah untuk melindungi diri sendiri. Kalau kita mundur, justru kita akan semakin hancur.

Herry Hermawan (FSPASI)

905697_10205380666499366_2760804561950566578_o“Pertemuan hari ini untuk merapatkan barisan, menjelang dilakukan mogok nasional,” demikian kata Presiden FSPASI Herry Hermawan, ketika mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan politiknya.

Dan mogok nasional, kata Herry, merupakan salah cara yang akan dilakukan buruh untuk melawan kebijakan yang bersifat eksploitatif terhadap dirinya.

Menurut pria yang mengenakan baju batik ini, investasi tidak bisa menjadi solusi atas permasalahan negeri ini. Apalagi jika untuk meningkatkan investasi, yang dilakukan pemerintah adalah dengan menekan upah.

“Ini tercermin dari adanya paket kebijakan ekonomi, yang seluruhnya dipersembahkan kepada pengusaha dengan menekan buruh.”

Tidak hanya tentang upah. Berbagai kebijakan terus dibuat untuk melemahkan gerakan. Sebagai contoh, Gubernur Ahok sempat membuat Pergub yang melarang demonstrasi selain di 3 tempat yang sudah ditentukan. Bahkan Kapolri ikut-ikutan membuat Surat Edaran untuk menanganihate speech. Baginya, semua ini adalah langkah awal yang dilakukan pemerintah untuk perlahan-lahan menjadi diktator.

Melihat fakta-fakta itu, sikap buruh sudah jelas: “Lawan kebijakan yang tidak berpihak terhadap rakyat!”

Roni (BEM Se-Indonesia)

12240448_10205380661339237_3023776370395609090_oTidak hanya buruh. Konsolidasi jelang Mogok Nasional juga dihadiri oleh Koordinator BEM se-Indonesia Regional Jabodetabek dan Banten, Roni.

“Kami, mahasiswa dan buruh, sama-sama berjuang untuk melawan pemerintahan yang cenderung otoriter,” katanya.

Menurut Roni, kebijakan pemerintah nyaris tidak ada yang pro terhadap rakyat. Bahkan, pihaknya pernah mengadakan survey, yang hasilnya, 60% mahasiswa tidak puas terhadap kinerja Jokowi – JK.

Di bidang hukum, misalnya, pemerintah justru melemahkan institusi KPK. Sumber daya alam Indonesia tidak lagi kita kuasasi, karena pemerintah justru memberikannya kepada asing untuk dikelola. Dan sudah barang tentu, sebagian besar keuntungannya untuk mereka.

“Pemerintah mengatakan, kerja, kerja, dan kerja. Tetapi itu hanya jargon. Tidak ada yang kerja mereka tidak terlihat hasilnya.” Melihat fakta-fakta itu, kata Roni, mahasiswa mendukung mogok nasional yang akan dilakukan kaum buruh.

Ilhamsyah (KP-KPBI)

1_26Menurut Boing, begitu panggilan akrab Ilhamsyah, kita harus terus menerus menggelorakan semangat juang. Terlebih dalam situasi yang sulit seperti saat ini. Perjuangan akan panjang. Karena itu, kita harus melakukan persiapan dengan penuh kesungguhan.

Jokowi – JK, dalam hal kebijakan hanya melanjutkan kebijakan yang lama. Ini adalah kebijakan yang berkelanjutan dan tidak pernah terputus sejak Orde Baru. Pemerintahan yang sekarang hanya bekerja untuk mengeksekusi kebijakan pemerintahan sebelumnya.

“Dia hanya rezim eksekutor untuk memuluskan kaum pemodal masuk kedalam negeri,” katanya.

Keberadaan Indonesia memiliki peran penting dalam perekonomian global yang sedang sulit. Semuanya tersedia di negeri ini. Sumber daya alam dan penduduk yang banyak, sangat potensial menjadi pasar.

Mengutip apa yang pernah dikatakan Revrisond Basir, dalam kegiatan yang diselenggarakan KNGB tahun lalu, juga di tempat ini: “Apabila kita meminta kesejahteraan kepada mereka, sama saja dengan meminta kepada perampok.”

Untuk itu, buruh tidak boleh lagi menitipkan nasib. Saatnya kaum buruh memberikan konsep alternatif sebagai solusi terhadap segenap permasalahan bangsa.

Kita tidak bisa lagi berharap pada mereka. Sebab, setiap kebijakan yang mereka buat hanyalah topeng untuk melanggengkan kekuasaan. Mereka pura-pura berbuat baik untuk rakyat. Tetapi pada saat yang bersamaan, mengambil keuntungan yang lebih besar.

Kerena itu, makna pemogokan yang akan kita lakukan adalah untuk menghentikan eksploitasi manusia atas manusia dan perampokan sumber daya alam yang mereka lakukan. Pemogokan ini akan kita lakukan di seluruh kawasan industri. Kemudian buruh akan bergerak ke pusat-pusat kekuasaan. Bertahan. Sampai menang!

Boing mengingatkan, pelaksana dalam mogok nasional ini adalah buruh. Kita. Maka kita lah yang akan menentukan, kapan mogok nasional akan kita lakukan. Dia menilai, banyak orang yang berusaha menggembosi pemogokan ini. Meskipun demikian, semakin diragukan, persiapan di daerah-daerah justru semakin matang.

“Hari ini kita nyatakan, kita siap melakukan mogok nasional. Bahkan kita telah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun!”

Sulaiman Ibrahim (DPW FSPMI Lampung)

1_27Sulaiman Ibrahim adalah tokoh paling senior yang jauh-jauh dari Lampung, hadir dalam konsolidasi ini.

“Saya sudah berusia 66 tahun. Tetapi ketika hari ini mendengar semangat saudara-saudara dalam perjuangan, saya merasa kembali menjadi muda,” ungkapnya.

Dulu, kenang Sulaiman, apabila kita ngomong keras untuk mengkritik pemerintah, pasti ditangkap. Buruh demo, ditangkap. Tetapi dalam situasi seperti itu, ada orang-orang pemberani yang berjuang untuk melawan tirani. Mereka terus mengkritisi pemerintah. Tetapi menggelar demonstrasi, meskipun resikonya ditangkapi.

Atas perjuangan mereka itulah, hari ini kita bisa berkumpul disini. Kalau saja saat itu tidak ada orang-orang pemberani, Indonesia tidak akan menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Maka, kaum muda, bergeraklah. Sejarah sedang memanggilmu untuk melakukan perubahan.

Thomas (SBSI 92)

SBSI 92 menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam mogok nasional.

Menurut Thomas, buruh harus bersatu. Jika perlu, kelak satu ketika, Indonesia memiliki presiden dari kalangan buruh. Sebab dari zaman ke zaman, buruh selalu ditindas. Maka buruh harus memiliki kekuatan secara politik.

Thomas meminta agar kita semua serius dengan gerakan ini.

“Istana tidak lagi ramah terhadap kita. Setiap kita datang kesana, selalu dijaga dengan tentara dan polisi bersenjata. Untuk itu, kita tidak lagi berharap pada istana. Kita akan menentukan nasib kita sendiri, di jalanan ini!”

IMG_0007

Herman (SP JICT)

Herman, mewakili serikat buruh pelabuhan, menegaskan akan bergabung dalam mogok nasional. Jika itu terjadi, bisa dipastikan, Tanjung Priuk akan lumpuh.

Hal ini terpaksa ia lakukan, karena pemerintah sudah tidak lagi pro terhadap rakyat.

“Dia hanya pro kepada modal asing,” katanya.  Buktinya, SP JICT sudah melakukan aksi selama 3 bulan, tetapi tuntutan mereka diabaikan..

Ocul KP-FMK

“Aku Ocul, dari Komite Persiapan – Federasi Mahasiswa Kerakyatan,” katanya, mengawali pandangan politinya.

Ocul menjelaskan, bahwa mahasiswa sudah melakukan persiapan untuk mendukung mogok nasional. Mahasiswa percaya dengan pemogokan. Saat ini, posko solidaritas mogok nasional didirikan di Palu, Yogjakarta, Samarinda, dan berbagai daerah yang lain.

“Kami akan berusaha menyatukan diri. Membantu untuk meluaskan dukungan agar mogok nasional ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Tanggal 17 November 2015, hari pelajar dan mahasiswa seluruh dunia, KP-FMK juga akan turun ke jalan. Selain memprotes mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, mereka juga menggalang dukungan dari mahasiswa Indonesia terhadap rencana pemogokan nasional buruh Indonesia. Menurutnya, Jokowi – JK telah dengan sengaja memiskinkan rakyat Indonesia dengan mengeluarkan paket ekonomi jilid I-VI.

Dia mengatakan, KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan juga memprotes tindakan represif yang dilakukan aparat terhadap gerakan-gerakan rakyat yang berlawan. Misalnya, dalam demonstrasi buruh pada tanggal 30 Oktober 2015 yang menuntut dicabutnya PP No. 78 dibubarkan paksa oleh aparat. Dia juga memberitahu, jika pihaknya sudah membangun posko perlawanan untuk mendukung rencana Mogok Nasional.

1_26

Perwakilan KSPSI AGN

Dalam kesempatan ini, perwakilan dari KSPSI pimpinan Andi Gani, juga menyampaikan pandangannya. Menurutnya, organisasinya secara tegas menolak PP Pengupahan yang menyengsarakan kaum buruh.

“Apabila kita diam, itu artinya kita sedang mendzalimi diri sendiri,” katanya. Oleh karena itu, kalau kita tidak terzalimi, maka pilihannya adalah bersatu. Merapatkan barisan untuk kemudian bersamap-sama melakukan perlawanan.

Dia mengatakan, Jokowi dipilih oleh rakyat. Sudah seharusnya Jokowi mendengarkan aspirasi rakyat. Jika tidak, jangan salahkan jika kemudian rakyat akan menuntut itu.

“KSPSI pernah menjadi sahabat Jokowi,” katanya. Sebagai sahabat, seharusnya Jokowi mendukung kita. Tetapi, kenyataannya, dia justru membuat kita kecewa. (*)

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s