Tragedi Gelas Pecah (1)

Berawal dari cerita seorang teman di Tangerang yang akan dilaporkan ke Polisi, karena ada hasil produksi yang rusak. Apa yang disebut beberapa kawan sebagai bentuk kriminalisasi itu bukan yang pertamakali terjadi. Saya mencoba mengingat-ingat, tetapi benar-benar lupa. Kapan dan dimana peristiwa yang persis sama pernah ada.

Lelah mengingat sesuatu yang sudah terhapus dalam memori, tiba-tiba saya seperti mendapat bisikan gaib: ‘tragedi gelas pecah’.

Pasca mendengar bisikan itu, saya gemetar. Kata-kata itu terus berkelebat dalam benak saya. Seperti sedang memanggil-manggil dengan suara yang ganjil.

Gelas – Pecah – Polisi – Tersangka – Lintec – Cilengsi – Bogor.

Saya membulatkan tekad untuk kesana. Masalahnya adalah, Cilengsi – Bogor adalah daerah yang asing bagi saya. Maka saya kontak Iwan, Ketua Tim Media FSPMI untuk menanyakan apakah di Bogor ada tim yang bisa dihubungi. Bagaimanapun, saya membutuhkan seseorang yang bisa menjadi penunjuk jalan.

Iwan merekomendasikan Selamet. Tetapi setelah coba saya hubungi beberapa kali, saya tidak berhasil tersambung dengannya.

Lalu saya ingat Willa. Seorang tokoh, yang untuk sementara ini bolehlah disebut sebagai penguasa Bogor. Kepadanya saya minta nomor kontak orang lapangan yang bisa dihubungi.

Dari Willa, saya mendapatkan nomor Supri. Setelah saya simpan, dari foto profil di WA, saya tahu beberapa kali pernah bertemu dengan Supri. Hanya, memang, tidak pernah berbincang mesra dengannya.

Dari sini komunikasi antara kami terjalin.

Melalui surat elektronik, Supri memberikan data yang cukup banyak kepada saya. Lebih dari cukup untuk bisa memahami bagaimana tragedi itu bisa terjadi. Bagi sebagian orang, bisa jadi data-data itu hanya berupa lembaran kertas. Tetapi bagi saya, tidak. Disana tersimpan kisah yang luar biasa indah. Tentang keberanian, keteguhan, dan sikap pantang menyerah.

Baru kemarin, saya terhubung dengan Saipul Anwar. Saipul inilah, bersama rekannya, Prasetya Sulaiman Ali dituduh melakukan pengrusakan. Kini ia menjadi tersangka. Sejak 30 Juli 2015, keduanya dikenakan tahanan kota.

Dari ujung telpon, Saipul Anwar terdengar bersahaja. Ach, saya selalu berasa bahagia mengetahui seorang kawan di seberang sana sedang baik-baik saja. Padahal, disini saya sedang mengkhawatirkannya. Nampaknya ia sudah tahu jika saya akan menghubungi dirinya.

“Bung Supri yang memberitahu,” katanya.

Dan saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk melakuan perjalanan ke Bogor. Mungkin tidak hari ini, tetapi dalam waktu yang tidak lama lagi. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s