Bagaimana Saya Menulis?

IMG_5385Foto ini diambil di Mojokerto. Disela-sela perjalanan saya ke Jawa Timur, pada September 2014 yang lalu. Adapun lokasi pengambilan gambar, tepatnya di markas bung Ardian.

Ketika itu pose kami sambil memamerkan buku yang saya tulis, Sepultura. Kisah tentang sekelompok pekerja/buruh yang memperjuangkan sepuluh tuntutan buruh dan rakyat, dalam konteks pemilihan presiden. Sesuatu yang kemudian semakin membulatkan tekad sebagian kawan, tentang pentingnya buruh memiliki alat politiknya sendiri.

Bagaimana saya menulis? Pertanyaan seperti ini sering dikirimkan melalui pesan dalam Fb saya. Apalagi ketika beberapa saat yang lalu, saya mengumumkan akan segera terbitnya buku terbaru saya, “Sebuah Panduan Dalam Menyelesaikan Perselisihan PHK”.

Sampai saat ini, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai terapi disaat senggang. Semacam cara untuk mengeluarkan beban pikiran. Sebab apabila yang ada dalam pikiran tidak segera dikeluarkan menjadi kata-kata, bisa jadi sudah lama saya sakit jiwa. Apalagi dengan banyaknya aktivitas, yang terkadang satu sama lain tidak berhubungan.

Maka anggapan bahwa untuk bisa menulis kita harus fokus 24 jam di depan komputer tidaklah benar. Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghadiri konsolidasi, terlibat dalam tim advokasi, ikut aksi, dan memberikan pelatihan. Toh sejauh ini sudah menulis lebih dari 15 judul buku.

Dan karena tidak benar-benar memfokuskan diri untuk menulis, ada beberapa buku “pesanan” yang masih belum selesai. Diantaranya adalah buku tentang sejarah perjuangan KAJS dalam melahirkan BPJS, dan kisah perlawanan GEBER BUMN dalam upaya melawan outsourcing di perusahaan-perusahaan plat merah. Milik negara.

Jika saya mengatakan ini, bukan berarti hendak menyombongkan apa yang telah saya capai. Sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa siapapun bisa melakukannya.

Apalagi saya lihat, banyak kawan yang rajin memosting aktivitas dan gagasannya di Fb. Jika dikumpulkan, dalam kurun waktu satu tahun saja sudah bisa menjadi bahan dasar dalam menerbitkan buku.

Aktivis harus menulis. Karena itulah yang akan membuat gagasanmu tetap hidup, meski nyawa sudah tidak lagi dikandung badan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s