Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki

Entahlah, apa yang membuatku selalu gelisah setiap kali melihatmu tidak masuk sekolah. Saat-saat seperti ini, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Dan celakanya, aku tak pernah tahu apa gerangan yang telah hilang itu.

Kamu?

Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Tetapi bagaimana mungkin? Sedangkan aku tak pernah memilikimu. Jadi untuk apa harus merasa kehilangan? Untuk apa harus ada gelisah ketika kau tak datang ke sekolah? Sekali lagi, aku tak tahu. Saat ini pun, setelah hampir dua puluh tahun peristiwa itu berlalu, aku tak pernah berhasil menemukan jawabannya.

Sejak hari pertama kau tidak datang ke sekolah, semua menjadi tidak lagi sama. Dalam kelas terasa sangat membosankan. Papan tulis terlihat muram. Aku bahkan kehilangan semangat untuk mengikuti pelajaran. Padahal, biasanya, aku dan kamu akan saling berlomba menjawab setiap pertanyaan guru. Seperti kehilangan pesaing, aku justru menjadi lesu.

Sepintas, kita seperti saling berkompetisi menjadi yang terbaik. Kau selalu menempati ranking satu, sedangkan aku cukup puas mengekor di belakangmu. Tetapi diluar itu, kita adalah dua sahabat yang sangat dekat.  Saling melengkapi. Aku akan menanyakan tetang rumus matematika dan fisika kepadamu. Sesekali aku meminjam buku catatanmu untuk aku bawa pulang ke rumah, sekedar untuk mengagumi tulisan tangamu yang mungil dan rapi. Dan kau akan bertanya kepadaku tentang pelajaran bahasa Indonesia. Terutama ketika Bu Ratna, guru bahasa Indonesia yang sekaligus menjadi wali kelas kita, memberikan pekerjaan rumah untuk menulis cerpen dan puisi.

Teman-teman mengira kita pacaran. Aku hampir saja membenarkan, jika saja kamu tidak mengatakan, “Halah…, kita kan masih kecil. Konsentrasi belajar dulu.”

Ketika itu kita duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Beberapa bulan menjelang Ebtanas, yang sekarang diubah menjadi UAS.

* * *

Ini hari ketiga, kamu tidak juga datang ke sekolah. Bu Ratna meminta salah satu siswa datang ke rumahmu untuk mencari kabar tentang dirimu. Lazimnya anak sekolah jika tidak masuk menyampaikan pemberitahuan. Tetapi kamu sama sekali tidak memberikan kabar kepada pihak sekolah. Wajar jika kami mengkhawatirkanmu.

Aku mengacungkan tangan. Siap menjadi relawan.

“Cie…, cie…. Modus,” kelas menjadi gaduh. Kawan-kawan masih saja menyangka kita  memiliki hubungan spesial.

“Mau nyari tahu keberadaan Desi atau melepas rindu,” yang lain menimpali.

Di bully teman-teman, aku memasang muka tak suka. Padahal dalam hati berbunga-bunga. Begitulah ceritanya. Akhirnya siang itu aku dan Yuda, ketua kelas kita, pergi ke rumahmu.

Dan ini awalnya. Sejak saat itu, akhirnya aku mengetahui kehidupan keluargamu. Kau tidak masuk sekolah karena harus merawat bapak yang sedang sakit. Kau dua bersaudara. Adikmu masih kecil, lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Sedangkan emak, begitu kau biasa memanggil ibumu, menjadi buruh migrant di Arab Saudi. Bapak hanyalah buruh tani yang menjual tenaganya untuk “menggarap” sawah orang. Tidak setiap hari ada orang yang menggunakan jasanya.

Di Blitar, tempat aku besar, sebagian mata pencaharian penduduknya memang petani. Tetapi sesungguhnya banyak yang dinamakan petani itu tidak memiliki sawah. Tidak berlebihan jika kemudian menjadi buruh migrant ke luar negeri menjadi pilihan. Hidup tidak memberikan banyak pilihan bagi orang miskin.

Seperti kali ini, ketika bapak sakit, kau yang mengalah tidak pergi ke sekolah agar bisa merawat bapak di rumah. Sejak emak berangkat ke Arab, mencuci, memasak, hingga membersihkan rumah, kau semua yang mengerjakan. Dengan pekerjaan yang banyak itu, aku tak tahu bagaimana kamu meluangkan waktu untuk belajar agar menjadi bintang kelas. Aku saja, yang semua kebutuhan disetiapkan orang tua, harus jungkir balik sekedar untuk menempati posisi nomor dua.

“Har, aku anak paling besar. Pilihanku hanya satu, rajin belajar agar bisa mengakhiri kemiskinan yang dialami keluargaku,” katamu, saat kita ngobrol di ruang tamu.

“Kamu hebat, Des.” Hanya itu yang terucap dari bibirku. Di mataku, kau menjelma sebagai sosok yang jauh lebih dewasa. Padahal, usiaku lebih tua beberapa minggu dari usiamu.

“Setelah ini aku akan melanjutkan ke SMA I, dan setelah lulus nanti aku akan mencari beasiswa untuk masuk perguruan tinggi,” katamu. Setelah beberapa saat terdiam, engkau  melanjutkan, “Aku mau jadi Arsitek. Membangun gedung-gedung tinggi seperti yang ada di luar negeri.”

Aku tahu, itu adalah SMA favorit. Hanya mereka yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata yang bisa diterima menjadi siswa disana. Dengan prestasimu selama ini, aku yakin kau bisa mewujudkan mimpi itu.

Desi, mungkin saja kau telah lupa dengan percakapan ini. Tetapi aku masih mengingatnya dengan sempurna, hingga kini. Entah ini tanda-tanda apa. Satu hal yang pasti, semua hal tentangmu, aku cepat sekali mengingatnya.

* * *

Hingga akhirnya, kita dinyatakan lulus sekolah menengah pertama. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, kau berhasil masuk ke SMA I. Aku ikut gembira.

Tetapi menjelang kenaikan kelas tiga, di SMA itu, aku mendengar kabar kau telah berhenti sekolah. Emak tak lagi mengirim uang dari Arab Saudi. Sementara biaya pendidikan di sekolah ini tergolong tinggi.

Ach, begitu cepatnya hidup ini berubah. Aku merasa marah. Tapi tak tahu kepada siapa — untuk apa.

Aku tahu, ini adalah saat tersulit dalam hidupmu. Seketika itu bangunan cita-citamu runtuh. Kau bisa saja menyelesaikan rumus-rumus sulit dalam matematika dan fisika. Tetapi begitu menyangkut tentang ekonomi, ketiadaan biaya sekedar untuk ongkos pergi ke sekolah, akhirnya kau menyerah.

Aku masih percaya, jika saja kau menghadapi seorang diri, kau pasti akan mampu. Tetapi masalahnya, dibelakangmu ada bapak yang mulai sakit-sakitan, juga adikmu yang mulai beranjak besar.

“Aku akan ngumpulin uang dulu untuk jadi Arsitek, Har…” itu kalimat terakhir yang aku dengar, sebelum kamu memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai TKW. Mengikuti jejak ibumu sebagai buruh migrant.

“Kenapa nggak cari kerja disini aja sih,” kataku. Sewot.

“Kamu pikir gampang apa nyari kerja untuk orang yang nggak lulus SMA? Nggak jual diri juga udah untung,” katamu. Judes sekali. Mungkin karena menjadi buruh migrant pun bukan pilihan yang kau kehendaki. (*)

.

Kahar S Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

21 thoughts on “Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki

  1. wuih mantap tenan ceritanya.. selamat udah jadi pemenang… ceritain lagi ya dalam bentuk seperti ini perjalanannya…

  2. Wow ,,,ceritanya apalah-apalah ,,,luar biasa bung,aku jadi teringat kisah saudara dari ibu,beliau meninggal di penampungan karena terpleset di kamar mandi saat dirinya akan menjadi buruh migrant di Saudi Arabia untuk Yang ke sekian kalinya,Dan beliau meninggalkan 2 anak laki-laki,Yang sekarang di asuh oleh neneknya.

  3. Selamat ya Bung Kahar, ceritanya bagus. Mudah-mudahan di Hongkong nanti bisa mendapatkan inspirasi untuk cerita-cerita selanjutnya.

  4. Selamat (lagi) ah. Sambil nunggu oleh2 dari Hongkong. Siapa tau dapet batu giok 100 kg. Dibagi2 team media lumayan tuh. Secara jaman udah berubah kembali ke jaman batu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s