Tergoda

“Setan mana yang menggoda hatimu, tega-teganya kau berbuat begitu…,” begitu bunyi lirik lagu berjudul Terlalu, yang dipopulerkan Majoret Band. Saya mendengarkannya secara tak sengaja dari penjual kaset di pinggir jalan, dekat Pasar Cikupa, semalam.

Entah mengapa, hingga pagi ini lirik itu masih saja terngiang-ngiang di telinga saya. Sesuatu yang kemudian mengingatkan saya pada sebuah kisah dari masa lalu. Eits, jangan salah paham. Ini bukan tentang asmara.

Ceritanya, saat masih SMK, saya pernah mendapatkan nilai 4 dalam raport. Itu mata pelajaran Matematika. Sesuatu yang kemudian tertulis abadi dalam transkrip nilai saya. Pasalnya, saya nyaris tidak pernah masuk ketika mata pelajaran paling sulit sedunia itu berlangsung. Hati saya selalu tergoda untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ketimbang duduk manis di dalam kelas.

Mengetahui nilai yang jeblok itu, saya tetap merasa baik-baik saja. Yang saya lakukan justru menulis artikel yang kemudian dimuat di majalah sekolah. Dalam tulisan itu saya menyampaikan kritik terhadap guru yang “kurang bersahabat” dengan siswa yang lebih memilih aktif di luar. Seharusnya siswa bisa merayakan kebebasan untuk fokus pada bidang yang paling ia minati. Kebetulan, saat itu saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi majalah sekolah, jadi tidak terlalu sulit untuk meloloskan tulisan yang semacam itu.

Diluar itu, nilai akademis saya tidaklah begitu mengesankan.

Tetapi, tentu saja, saya tidak membenci guru. Buktinya ketika kuliah saya masuk ke Fakultas Tarbiyah pada sebuah institusi perguruan tingggi di Serang, hingga wisuda. Hanya, memang, saya tidak pernah benar-benar menjadi guru. (Generasi macam apa yang akan dihasilkan kalau guru-nya macam saya, he he…)

“Setan mana yang menggoda hatimu….”

Godaan itu terus berlanjut. Setelah bekerja, bukannya karir di perusahaan yang saya kejar. Saya justru bergabung dengan orang-orang yang dianggap ‘pemberontak’ dengan mendirikan serikat pekerja. Unjuk rasa, terlibat dalam pemogokan, membuat propaganda, advokasi kasus, adalah keseharian saya selanjutnya.

Satu ketika, Direktur Utama tempat saya bekerja pernah memergoki saya sedang bermain facebook saat jam kerja. Tentu saja, apa yang saya lakukan ini tidak baik untuk ditiru. Saya lebih banyak menggunakan komputer kantor untuk berselancar di dunia maya. Menulis artikel dan lain sebagainya. Tulisan saya yang mendapatkan penghargaan dari Walikota Bekasi dan hadiah sebesar 10 juta saya tulis saat jam kerja.

Konon, sang Direktur menyampaikan tindakan tidak terpuji saya itu kedalam rapat pimpinan perusahaan. Bak artis terkenal, semua orang membicarakan saya. Secara gitu lo, Direktur Utama yang membahasnya dalam sebuah rapat resmi perusahaan. Sejak saat itu internet ke komputer saya di putus. Sesuatu yang kemudian memotivasi saya untuk memiliki komputer dengan jaringan internet sendiri.

Kata Rene Suhadono, “Your job is not your carrer.”

Fokuslah pada apa yang menjadi passion-mu. Pada cita-cita dan keinginanmu. Pada semua apa yang selalu menggoda hatimu, yang membuatmu bersemangat bangun lebih pagi untuk memulai hari-harimu.

Dan percayalah, semuanya akan baik-baik saja…

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s