Melintasi Batas Negara (13): Norak

Marina Bay Sands, terlihat dari kawasan Patung Melion, Singapura. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Marina Bay Sands, terlihat dari kawasan Patung Melion, Singapura. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Ketika berada ditempat yang baru dikunjungi, mengambil foto adalah momen penting yang tak boleh terlewatkan. Itu juga terjadi pada kami. Ketika Aisyah memberi tahu sebuah sebuah gedung yang diatasnya ada bangunan seperti perahu. Marina Bay Sands.

“Disana ada hotel, kasino, tempat pameran, hingga pusat perbelanjaan,” Aisyah menjelaskan.

Dari dalam bus, kami berebut mengambil gambar. Melihat tingkah norak kami, Aisyah tersenyum. Beberapa saat kemudian ia melarang.

“Jangan ambil foto sekarang. Nanti saja kalau kita sudah sampai di patung Singa, semuanya akan terlihat dengan jelas,” katanya.

Kami tertawa. Hehe…, kenapa nggak bilang dari tadi?

Penduduk Singapura

Saat itu jam istirahat. Banyak orang sedang makan siang. Menurut Aisyah, penduduk Singapura  jumlahnya kurang lebih 5 juta orang. Mayoritas merupakan etnis Tionghoa, mencapai 77,3%. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli besarnya 14,1%, dan etnis India 7,3%, serta etnis lainnya sebesar 1,3% . Mayoritas rakyat Singapura menganut agama Buddha (31,9%) dan Tao (21,9%). Sementara itu, 14,9% menganut agama Islam, 12,9% menganut agama Kristen, 3,3% Hindu, dan lainnya 0,6%. Sedangkan sisanya, (14,5%) tidak beragama.

Singapura mempunyai empat bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Bahasa Melayu adalah bahasa nasional Singapura. Hanya, memang, lebih bersifat simbolis. Ia digunakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan (Majulah Singapura) dan perbarisan pasukan tentera dan polisi. Pemerintah PAP lebih cenderung dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (lingua franca). Penggunaan bahasa Melayu hanya terbatas kepada kaum Melayu saja. Mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa Melayu juga memudahkan berkomunikasi dengan negara tetangga yang paling dekat. Indonesia dan Malaysia. Aisyah sendiri adalah keturunan asli Melayu. Suaminya juga orang Melayu.

“Jadi harus tahu bahasa Melayu. Seperti, Bapak, Ibu, atas Mas. Kalau disini dipanggilnya Makcik, Pakcik, Kakak, atau Abang. Kalau lebih muda, bolehlah kita sebut nama saja,” jelas Aisyah.

“Tetapi jangan panggil saya Makcik. Nanti saya sedih, karena kelihatan tua,” lanjutnya. Panggilan Makcik adalah ‘mak kecil’, atau bibi.

Esplanade

“Yang itu namanya Esplanade. Gedung ini juga dijuluki gedung durian. Orang Singapura memanggil duren. Misal kalau ada janji, kita ketemu dimana? Di duren saja. Maksudnya adalah gedung ini,” kata Aisyah.

Menurut saya, arsitektur gedung ini sangat unik. Banyak orang membicarakan gedung yang dari kejauhan terlihat seperti durian ini. Bentuknya yang lancip-lancip ada yang mengatakan mirip buah durian. Untuk mempertahakan keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, gedung ini dinamakan Esplanade – Thetres on The Bay.

Esplanade menjadi pusat seni pertunjukkan bagi semua kalangan dan programnya menjangkau ke ragam audiens secara luas. Susunan programnya mencakup semua genre termasuk, musik, tari, teater dan seni visual dengan fokusnya pada budaya khas Asia. Esplanade sendiri juga telah menjadi ikon kebanggan Singapura, selain patung Merlion.

Menurut Aisyah, penyanyi dari Indonesia, seperti Rosa dan Ruht Sahanaya pernah manggung di gedung ini.

Cara Singapura Atasi Macet

Santai di pinggir jalan. | Foto: Herveen.
Santai di pinggir jalan. | Foto: Herveen.

Inilah salah satu yang membedakan Indonesia dengan Singapura. Selama berada di Singapura, bahkan berjalan hingga ke pusat kota, tidak kami temui kemacetan. Aisyah menjelaskan kepada kami, bagaimana cara negara ini menerapkan peraturan yang sangat ketat bagi warganya yang ingin memiliki kendaraan.

Semua mobil di Singapura harus terdaftar di LTA (Land Transport Authority) yang merupakan departemen Transportasi darat Singapura. Biaya pendaftaran tersebut sebesar Sin$ 140. Mereka juga menerapkan Preferential Additional Registration Fee. Ini adalah aturan untuk menyudahi pemakaian atau membuang kendaraan dengan masa waktu maksimal 10 tahun pemakaian. Pajak pendaftaran mobil ini memiliki tarif berjenjang dari 100 persen hingga 180 persen dari harga mobil bergantung pada harga mobil. Untuk harga mobil sampai Sin$ 20 ribu hanya dikenakan pajak pendaftaran 100 persen dari nilai pasar mobil. Namun, untuk harga mobil lebih mahal dari itu, akan dikenakan tarif lebih tinggi

Sejak tahun 1990, mereka menerapkan Vehicle Quota System. Kebijakan ini mengatur jumlah kendaraan baru yang akan meminta izin registrasi berdasarkan pada jumlah kendaraan yang sudah ‘kadaluwarsa’ dan data pertumbuhan kendaraan. Ada juga yang disebut Certificate of Entitlement. Berupa  surat keterangan yang didasarkan pada kuota pertumbuhan jumlah kendaraan baru yang diperbolehkan di Singapura hanya selama 10 tahun. 10 tahun berikutnya. Karena jumlah sertifikat dibatasi hanya 30 ribu unit per tahun, maka proses untuk mendapatkan sertifikat tersebut dilelang dan berlaku hanya untuk 10 tahun. Rata-rata, biaya untuk mendapatkan COE sebesar Sin$ 87 ribu atau hampir Rp 800 juta

Tarif pajak jalan didasarkan pada kapasitas mesin dan usia mobil. Semakin besar kapasitas mesin, maka tarif pajak jalan akan semakin mahal. Misalnya, untuk mobil berkapasitas 1.600 cc dikenakan pajak jalan sekitar Sin$ 744 untuk jangka waktu setahun. Semakin tua usia mobil akan dikenakan pajak jalan lebih tinggi. Misalnya, untuk mobil berusia 11 tahun, tambahan pajak jalan sebesar 10 persen dan mobil berusia 14 tahun tambahan sebesar 50 persen

Plat Warna Merah (Weekend Car) digunakan jam 19.00 sampai 07.00 pada hari Senin sampai Jumat.Pada hari Sabtu dan Minggu Bebas 24 Jam. Pajak Plat Merah lebih murah dibanding plat hitam. Plat Hitam adalah bebas jam terbangnya dan bebas harinya namun pajak kendaraan tersebut sangatlah tinggi.

Mereka juga menerapkan kebijakan Electronic Road Pricing (ERP). Mewajibkan pemilik mobil membayar saat melewati jalan-jalan utama dan kawasan pusat bisnis di Singapura. Di sana, tarif berubah-ubah tergantung pada tingkat kepadatan lalu lintas. Misalnya, di Victoria Street dikenakan tarif sebesar Sin$ 2,5 pada pukul 8.30-9.00, namun diturunkan menjadi Sin$ 0,5 pada pukul 9.55-10.00.

Belum lagi ketika parkir. Pengendara mobil juga harus siap membayar mahal saat memarkir mobilnya. Misalnya untuk parkir di Shaw Tower, satu kawasan bisnis di Singapura, tarif parkir satu jam pertama sebesar Sin$ 1, untuk setiap jam berikutnya sebesar Sin$ 2,15. Jadi, bila ingin parkir sekitar 10 jam, maka akan membayar Sin$ 20,35 atau sekitar Rp 186 ribu. Selain biaya parkir yang tinggi, jumlah lahan parkir di Singapura sangat terbatas.

Saat mengisi bensin, pemilik mobil juga harus siap-siap untuk menguras kantong. Harga bensin disini sekitar 20 ribu untuk satu liter BBM. Sekali isi tanki mobil sebanyak 20 liter BBM, harus menyiapkan setidaknya 400 ribu.

Selain mempersulit kepemilikan mobil, pemerintah Singapura juga mempersulit warganya ketika sudah memiliki mobil. Hal ini dilakukan untuk mengarahkan warganya memilih angkutan umum yang murah, cepat, dan terjangkau kemana dan dimanapun. Kita tahu, transportasi publik di Singapura adalah salah satu yang terbaik. (Kascey)

Masjid Sultan

Berwudlu sambil duduk. Sesuatu yang tak biasa bagi saya. Foto: Dokumentasi Pribadi
Berwudlu sambil duduk. Sesuatu yang tak biasa bagi saya. Foto: Dokumentasi Pribadi
Bagian dalam Masjid Sultan. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Bagian dalam Masjid Sultan. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Kami mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Sayang sekali, saya lupa nama restoran yang menyediakan makanan khas melayu itu.

Selesai makan siang, kami sholat dhuhur di Masjid Sultan. Ini sebuah masjid yang indah. Dibangun pertama kali pad atahun 1824 oleh Sultan Hussain Shah, sultan pertama Singapura dengan dana hibah dari East India Company. Terletak di jalan Muscat, Kampung Glam.

Yang menarik, di tempat wudhu tersedia tempat duduk. Kami mengambil air wudlu dengan duduk. Tentu saja, ini berbeda dengan kebiasaan, yang berwudlu dengan berdiri.

Semula bangunan masjid dibangun berbentuk masjid tradisional nusantara dengan atap limasan bersusun tiga. Bentuk tersebut hampir mirip dengan Masjid Agung Demak yang masih bisa kita jumpai hingga sekarang. Maklum, struktur awal masjid memang digarap oleh masyarakat Jawa, Melayu dan Bugis yang menetap di Singapura untuk berdagang. Kawasan Kampong Glam ini semula memang kawasan permukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia.

Dalam perkembangannya, Masjid Sultan kemudian direnovasi pada tahun 1924, bertepatan dengan 100 tahun berdirinya masjid tersebut. Selain dilakukan perluasan area untuk menambah daya tampung, bentuk dan arsitektur masjid juga mengalami perubahan. Setelah empat tahun pembangunan, berdirilah masjid seperti yang ada sekarang. Bergaya Gothik Mughal lengkap dengan menaranya dan mampu menampung 5.000 jemaah.

Saya sempat membaca susunan pengurus Masjid Sultan yang ditempel di papan pengumuman. Berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia yang hampir semua pengurusnya laki-laki, di Masjid Sultan ada beberapa pengurus perempuan. (Kascey)

Sultan Mosque Staff | Foto: Dokumentasi Pribadi
Sultan Mosque Staff | Foto: Dokumentasi Pribadi
Terlihat dari samping | Foto: Dokumentasi Pribadi
Terlihat dari samping | Foto: Dokumentasi Pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s