Melintasi Batas Negara (12): Yang Bertambah, Yang Berkurang

Salah satu traffic light di jalanan Singapura. | Foto: Kascey
Salah satu traffic light di jalanan Singapura. | Foto: Kascey

Bus yang kami tumpangi terus melaju. Sementara itu pemandu kami, Aisyah, tak henti-hentinya menjelaskan apa saja yang terlihat di sekeliling kami. Sementara saya yang memang baru pertamakali menginjakkan kaki di negeri ini, hanya mendegarkan saja. Sesekali membuat catatan jika itu saya anggap penting.

“Kita akan memasuki jalan tol dibawah laut. Ini adalah jalan tol yang terbaru. Dibuka pada bulan Desember 2013,” kata Aisyah.

Jalan tol dibawah laut?

Di Jakarta, boro-boro kami bisa menemukan jalan tol dibawah laut. Yang ada, kami malah mendepati jalan tol yang berubah menjadi laut ketika musim hujan tiba.

Nama jalan tol di bawah laut ini adalah Marina Coastal Expressway (MCE). Panjangnya mencapai 5 Km. Melalui jalan tol ini, pengendara bisa langsung ke jantung kota di Marina Selatan melalui koneksi baru dengan Central Boulevard, Marina Boulevard dan Maxwell Road.

“Singapura ini kecil.” Aisah melanjutkan. Karena itu, gedung-gedung dibuat tinggi. Mereka juga membuat jalan kereta dibawah tanah yang mengelilingi Singapura. Ada jalan tol dibawah tanah. Mall di bawah tanah. Bahkan ada hotel yang kamarnya terletak di bawah tanah.

“Kita mungkin tidak bersedia tinggal disitu, karena seperti di kuburan,” ujarnya. Kami tertawa.

Tetapi bagi orang Barat yang ingin mencari pengalaman lain, mereka banyak yang suka.

Pernah satu ketika, Aisyah membawa rombongan anak sekolah dari Jogjakarta. Ketika ada salah satu dari mereka yang sakit, ia mengantarkannya ke rumah sakit. Dan lagi-lagi, kamar untuk pasien berada dibawah tanah. Tetapi tetap bersih dan rapi.

Yang Bertambah

“Yang kita lewati sekarang, 40 tahun yang lalu tidak pernah ada,” katanya.

Daerah ini awalnya adalah pantai, yang sudah direklamasi. Selanjutnya Aisyah menjelaskan bagaimana cara Singapura memperluas daratannya. Mula-mula ditanamakan besi, lalu diurug dengan pasir yang didatangkan dari Indonesia. Setelah diurug, agar stabil didiamkan selama kurang lebih 15 tahun. Setelah itu baru dibuat jalan, ditanami pohon, kemudian dikembangkan untuk hotel, mall, gedung perkantoran, dan sebagainya.

Sebuah penjelasan, yang sejujurnya membuat saya merasa sakit hati.

Cerita Aisyah mengingatkan saya pada kenyataan, bahwa Indonesia merupakan ”penyumbang” terbesar pasir urukan untuk Singapura. Pasir yang diimpor berasal dari perairan Riau, baik secara legal maupun illegal. Reklamasi pantai Singapura ini diperkirakan akan terjadi hingga tahun 2030. Membutuhkan pasir urukan tidak kurang dari 8 miliyar meter kubik.

Pasir-pasir diangkut ke Singapura sebagai bahan penguruk pantai Singapura dan bahan bangunan. Pasir-pasir ini terutama didapatkan dari daerah Riau. Perusahaan-perusahaan Singapura melakukan impor pasir untuk reklamasi tersebut dari Indonesia karena alasan ekonomis, yaitu efisiensi dan  efektifitas biaya yang dikeluarkan (Tempo, 26  Februari – 4 Maret 2007).

Pengusaha dan pemerintah daerah bermain dalam penyelundupan tersebut. Keuntungan dari ekspor tersebut hanya dinikmati oleh mereka. Sementara rakyat yang turut mempunyai bagian dari kepemilikan tanah Riau dan Batam, tidak mendapat keuntungan.

Hasilnya, jika sebelum tahun 1960 luas wilayah Singapura hanya sekitar 581,5 km persegi, maka menurut catatan terbaru (2011), luas wilayah Singapura adalah 710,2 km persegi.

Yang Berkurang

Pengerukan pasir laut ini menjadi permasalahan tersendiri bagi Indonesia. Sedikitnya empat pulau di Kecamatan Karimun di Riau, ”menghilang” karena dikeruk terus pasirnya.

Pulau Nipah, misalnya, adalah salah satu pulau yang dikhawatirkan tenggelam dan lenyap dari peta Indonesia. Sebuah pulau yang nyaris tenggelam, disebabkan penambangan pasir laut yang berlebihan. Apabila Pulau Nipah tenggelam, dikhawatirkan batas antara Indonesia dengan Singapura akan mengalami perubahan, yang tentu saja hal ini merugikan Indonesia. Saya mendapatkan informasi, jarak antara batas terluar Pulau Nipah ke Singapura hanya 5 mil laut; sedangkan jarak Pulau Nipah ke Batam sekitar 8 mil laut.

Ketika sedang air laut pasang, pulau ini terlihat kecil. Hanya sekitar 1 hektar. Padahal, jika air laut sedang surut, luas pulau itu sekitar 62,83 hektar. Sangat mengerikan akibat pengerukan pasir yang berlebihan itu. (Kascey)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s