Melintasi Batas Negara (11): Kota Laut

Dari atas ferry, berlatar belakang gedung-gedung di Singapura | Foto: Kascey
Dari atas ferry, berlatar belakang gedung-gedung di Singapura | Foto: Kascey

Dari laut, Singapura terlihat seperti kota terapung. Gedung-gedungnya tinggi menjulang ke angkasa. Berdiri angkuh seperti hendak mempertontonkan kemegahannya. Semakin mendekat ke daratan, semakin kami dikepung oleh gedung-gedung. Kontras sekali dengan Batam Center, tempat kami berangkat tadi.

Itulah yang saya rasakan ketika ferry yang saya tumpangi beberap saat lagi merapat di Pelabuhan Harbourfront, Singapura. Saya dan beberapa kawan yang saat itu berada di bagian atas ferry, memanfaatkan momentum ini dengan mengambil banyak foto. Kesan pertama memang selalu menggoda.

Perjalanan ke Singapura, dari Batam Center, memakan waktu sekitar satu jam. Hanya saja, waktu Singapura lebih cepat 1 jam dari waktu Batam. Ketika kami berangkat dari Batam jam 10, kami sampai di Singapura jam 12 siang. Tentu saja, waktu Singapura.

Setelah melewati imigrasi, masih satu gedung dengan pelabuhan, ada pusat perbelanjaan yang besar. Namanya Harbourfront Center.

Rapi. Hanya ini yang bisa saya katakan. Tidak berbelanja, memang. Karena tujuan saya ke Singapura adalah dalam rangka untuk melakukan liputan kawan-kawan SPEE FSPMI yang sedang mengadakan kunjungan ke NTUC. (Halah…., padahal yang bener karena tidak punya uang).

Saya bersyukur bisa menginjakkan kaki di negara ini. Meskipun demikian, sebenarnya, dalam hati kecil saya lebih tertarik mengeksplorasi tempat-tempat yang ada di Indonesia. Sejak tiba di Batam, selain di hotel tempat penyelenggaraan Rakernas, saya belum kemana-mana. Dan ini adalah keinginan saya yang belum terwujud. Karena itu, sepulang dari Singapura, saya berencana kembali ke Batam dan mengunjungi beberapa tempat disana.

Sejak awal, ada satu pertanyaan yang akan saya cari jawab disini. Mengapa negara yang baru merdeka pada tahun 1965 ini selalu didengung-dengungkan lebih maju? Dan lagi pula upahnya lebih tinggi dibandingkan dengan upah buruh di Indonesia?

Selayang Pandang Tentang Singapura

Dan hari ini, penjelajahan di Singapura kami mulai. Bus yang kami tumpangi dipandu oleh seorang wanita asli Singapura. Aisyah, namanya.

“Singapura adalah sebuah negara yang kecil. Jika kita membawa mobil, dari Barat ke Timur hanya 1 jam. Sedangkan dari Utara ke Selatan berjarak 45 menit,” Aisyah menerangkan.

Luas negara Singapura sekitar 700 meter persegi. “Di peta dunia, Singapura hanya satu titik saja,” kami tertawa mendengar penjelasannya. Sama seperti Batam.

Panjang lebar Aisyah menceritakan sejarah Singapura.

Singapura pertama kali disebut dalam catatan bangsa China di abad ke 3, yang menyebut Singapura sebagai “Pu-luo-chung” (“pulau di ujung semenanjung”). Kemudian pada abad ke 14, Singapura menjadi bagian dari kerajaan besar Sriwijaya, dan dikenal sebagai Temasek (“Kota Laut”). Terletak di titik pertemuan jalur perjalanan laut di ujung Semenanjung Malaya, Singapura telah lama dikunjungi berbagai kapal, mulai dari junk China, kapal dagang India, dhow Arab, kapal-kapal perang Portugis sampai kapal layar Bugis.

Selama abad ke 14, pulau kecil namun berlokasi strategis ini mendapat nama baru – “Singa Pura” (“Kota Singa”). Menurut legenda, seorang pangeran Sriwijaya yang datang melihat seekor hewan yang ia kira singa, dan lahirlah nama modern Singapura ini (“Singapore” dalam bahasa Inggris).

Inggris mengisi bagian penting berikutnya dalam kisah Singapura ini. Selama abad ke 18, mereka melihat perlunya sebuah “rumah singgah” strategis untuk memperbaiki, mengisi bahan makanan, dan melindungi armada kerajaan mereka yang semakin besar, serta untuk menahan kemajuan bangsa Belanda di wilayah ini. Dengan latar belakang politik seperti inilah Sir Stamford Raffles mendirikan Singapura atau Singapore, sebagai tempat perdagangan. Kebijakan perdagangan bebas berhasil menarik para pedagang dari seluruh penjuru Asia, bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Di tahun 1824 , hanya lima tahun setelah pendirian Singapura modern, populasi bertumbuh pesat dari hanya 150 menjadi 10.000. Di tahun 1832 , Singapura menjadi pusat pemerintahan Straits Settlements (Wilayah Pemukiman Teluk) untuk daerah Penang, Malaka dan Singapura. Pembukaan Terusan Suez di tahun 1869 dan penemuan telegraf dan kapal uap memperbesar peran penting Singapura sebagai pusat perdagangan yang semakin meningkat antara Timur dan Barat.

Singapura juga menjadi lokasi militer di abad ke 14, ketika terlibat dalam perebutan Semenanjung Malaya antara kerajaan Siam (kini Thailand) dan Majapahit dari Jawa. Lima abad kemudian, kembali Singapura menjadi lokasi peperangan besar selama Perang Dunia II. Singapura sempat dianggap sebagai benteng yang tak tertembus, tapi Jepang berhasil menguasai pulau ini di tahun 1942 .

Setelah perang, Singapura menjadi Crown Colony (koloni Tahta Inggris). Tumbuhnya nasionalisme menjadikan terbentuknya pemerintahan mandiri di tahun 1959 dan akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1965 Singapura menjadi republik merdeka. (*)

Bersama Sobar Gunandar, dari Bekasi | Foto: Kascey
Bersama Sobar Gunandar, dari Bekasi | Foto: Kascey
Berkumpul di anjungan kapal ferry. | Foto: Kascey
Berkumpul di anjungan kapal ferry. | Foto: Kascey
Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey
Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey
Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey
Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey

P1000473

Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey
Kota laut, Singapura dari kejauhan. | Foto: Kascey
Dari atas ferry. | Foto: Kascey
Dari atas ferry. | Foto: Kascey

3 thoughts on “Melintasi Batas Negara (11): Kota Laut

  1. Wah… indahnya… Mungkin singapur lebih maju dari indonesia karena bentuk negaranya lebih kecil, sehingga pimpnan negaranya bisa lebih fokus dalam memimpin, mengawasi dan melaksanakan pemerintaha,,hahaha *sok tau…😀

    1. Negara ini luasnya kurang lebih sama dengan Batam. Seharusnya bukan tandingan Indonesia, cukup dengan Batam saja. Tetapi sayangnya upaya untuk membuat Batam menjadi Singapuranya Indonesia juga belum maksimal. Diluar itu, orang Singapura memang gila kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s