Melintasi Batas Negara (10): Singapura, Negara Dengan Sejuta Denda

Sebelum berangkat, pemandu kami melakukan pengarahan tentang bagaimana kita harus berperilaku di Singapura | Foto: Herveen
Sebelum berangkat, pemandu kami melakukan pengarahan tentang bagaimana kita harus berperilaku di Singapura | Foto: Herveen

Rakernas III SPEE FSPMI tidak selesai hanya di Batam. Setelah ditutup pada tanggal 20 April 2014 malam, keesokan harinya peserta bertolak menuju Singapura. Tujuan utama yang akan dikunjungi adalah kantor National Trade Union Cangress (NTUC). Disana, kami akan belajar tentang bagaimana NTUC berhasil mengembangkan social enterprise (usaha sosial).

Sebagaimana diketahui, selain dari iuran anggota, NTUC berhasil menggali sumber keuangan organisasi melalui berbagai usaha sosial yang mereka lakukan. Usaha ini bukan sekedar memperkuat keuangan organisasi. Tetapi juga sebuah upaya untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada anggotanya.

Harapannya, apa yang dilakukan oleh NTUC bisa dikembangkan di Indonesia. Seperti kita tahu, FSPMI memiliki Induk Koperasi Buruh Metal Indonesia (Inkopbumi). Idenya mirip dengan Social Enterprises yang dikembangkan oleh NTUC.

Saya kira, kunjungan ini sebagai bagian dari study banding. Belajar dari kelebihan yang mereka miliki.

Dari sisi aksi, serikat buruh di Indonesia bisa dibilang lebih maju. Sementara saat ini mereka sudah jarang sekali turun jalan melakukan aksi unjuk rasa yang melibatkan puluhan ribu orang. Akan tetapi tentang cara mereka menggali sumber dana melalui usaha yang dilakukan oleh organisasi, bisa dibilang mereka lebih unggul.

Hal yang lain, kami berharap akan mendapatkan gambaran tentang bagaimana serikat dan pemerintah di Singapura bisa bersinergi sehingga buruhnya bisa lebih sejahtera. Sebagimana kita tahu, upah buruh Singapura lebih tinggi jika dibandingkan dengan upah di Indonesia.

“Jadi kita datang ke Singapura tidak sekedar jalan-jalan,” ujar Ketua Umum SPEE FSPMI, Judy Winarno. Ia berharap, akan ada manfaat yang bisa diambil dari hasil kunjung ke NTUC.

Saya sepakat dengan Judy. Sebagai sebuah negara yang secara teknologi lebih maju dari Indonesia, tentu apa yang telah mereka capai bisa mempengaruhi cara kita dalam berfikir. Setidaknya akan memberikan inspirasi.

Meskipun begitu, saya tahu, tidak semua apa yang ada di Singapura akan cocok jika diterapkan di Indonesia.

Saya dan Jazuli (FSPMI Pasuruan), di Pelabuhan Batam Center | Foto: Kascey
Saya dan Jazuli (FSPMI Pasuruan), di Pelabuhan Batam Center | Foto: Kascey
Ferry Quen Star 1 yang akan mengantar kami ke Pelabuhan Harbourfront, Singapura. | Foto: Kascey
Ferry Queen Star 1 yang akan mengantar kami ke Pelabuhan Harbourfront, Singapura. | Foto: Kascey

Pagi hari, di tanggal 21 April 2014, kami sudah berkumpul di loby Hotel Golden View. Tempat Rakernas diselenggarakan. Setelah melakukan pendataan siapa saja peserta yang akan ikut ke Singapura, pemandu kami memberikan gambaran singkat tentang Singapura. Apa saja yang tidak boleh dilakukan ketika berada disana. Kami akan memasuki Singapura melalui Pelabuhan Batam Center. Dari sini kami naik ferry Queen Star 1 menuju Pelabuhan Harbourfront, Singapura.

Beberapa Larangan Ketika Berada di Singapura

Negeri dengan sejuta denda. Inilah kesan pertama ketika pemandu kami menyampaikan berbagai hal yang tidak boleh dilakukan di Singapura. Dimana pada setiap larangan itu, ujung-ujungnya adalah sanksi berupa denda.

Hal pertama yang disampaikan kepada kami adalah larangan untuk membawa rokok ke Singapura. Karena jika tertangkap, maka kita harus membayar denda. Kalaupun kita mau tetap membawa rokok ke Singapura, isi rokok harus dikurangi dalam jumlah tertentu. Harga rokok di Singapura berkisar SGD 10 – SGD 12 (Rp.70.000 – Rp. 90.000) untuk 1 bungkus rokok, tapi justru dengan cara seperti inilah Pemerintah melarang warganya untuk merokok di negaranya sendiri. Bahkan jika kita kedapatan merokok sembarangan di Singapura maka kita harus membayar denda sebesar SGD 1.000.

Larangan yang lain adalah menjual permen karet bagi seluruh toko di Singapura. Termasuk larangan membuang permen karet bekas konsumsinya ke tempat selain tong sampah. Dendanya lumayan besar, antara 500 – 1000 dollar. Jika belum jera juga dengan denda yang pertama tadi, maka pada pelanggaran kedua orang tersebut harus membayar denda sebesar 2.000 dollar. Dan jika kita tertangkap membawa permen karet di Singapura, maka kita akan di denda sebesar 1.500 dollar.

Tidak hanya permen karet. Bahkan ketika kita membuang sampah sembarangan, bisa terkena denda sebesar 300 dollar. Jika mengulangi hal yang sama, dendanya akan dinaikkan lagi menjadi 500 dollar.  Kalau kita terbiasa melihat orang Indonesia yang melakukan aktivitas makan dan minum di sembarang tempat, jangan harap Anda akan menemui hal yang sama di Singapura. Tanda larangan makan dan minum yang umum dijumpai adalah di MRT (kereta bawah). Di setiap pintu masuk stasiun MRT terpampang tanda “no eating & drinking” dengan ancaman denda 500 dollar.

“No flammable goods,” juga terdapat disini. Ancaman denda bagi mereka yang melanggar mencapai 5,000 dollar.

Ada banyak larangan lain. Dan ujungnya selalu sama. Ancaman denda bagi mereka yang melanggarnya. (Kascey)

Meninggalkan Hotel Golden View, Batam. Tempat Rakernas III SPEE FSPMI diselenggarakan. | Foto: Kascey
Meninggalkan Hotel Golden View, Batam. Tempat Rakernas III SPEE FSPMI diselenggarakan. | Foto: Kascey
Didalam bus yang membawa kami ke Pelabuhan Batem Center. | Foto: Kascey
Didalam bus yang membawa kami ke Pelabuhan Batam Center. | Foto: Kascey
Turun dari bus, sesaat setelah sampai di Pelabuhan Batam Center. | Foto: Kascey
Turun dari bus, sesaat setelah sampai di Pelabuhan Batam Center. | Foto: Kascey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s