Kembali ke Jakarta

Petunjuk hotel tempat kami menginap. Foto| Kascey
Petunjuk hotel tempat kami menginap. Foto| Kascey

Setelah beberapa kali mencari penginapan yang cocok, akhirnya kami menemukan Hotel Budi. Terbilang murah. Harganya 100 ribu per malam, terletak di Jl. Setasiun I. Tidak jauh dari Stasiun Purwokerto.

Sejak awal, kami  menetapkan dua kriteria untuk penginapan. Pertama, ada televisi untuk menonton Piala Dunia. Kedua, harganya tidak terlampau mahal. Hotel pertama yang kami datangi seharga 350 ribu. Terpaksa kami membatalkannya. Hotel kedua dan ketiga sudah penuh. Barulah kemudian kami menemukan hotel dua lantai ini. Kamarnya tidak terlampau luas, dengan fasilitas yang seadanya. Akan tetapi cukup nyaman untuk tidur dua orang.

Setelah seharian didalam mobil dari Kebumen ke Purbalingga, kemudian saat ini di Purwokerto, menemukan tempat seperti ini sudah merupakan keistimewaan tersendiri. Bisa berselonjor kaki. Melepaskan semua kepenatan yang mendera badan.

Bentang alam yang indah. | Foto: Kascey
Bentang alam yang indah. | Foto: Kascey

Dalam suasana tenang seperti ini, saya mengingat kembali apa saja yang terjadi seharian ini. Dari Kebumen, tadi pagi, kami melanjutkan perjalanan ke Purbalingga. Melewati kaki Gunung Slamet. Gunung teringgi di Jawa Tengah yang  berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang. Sebuah perjalanan yang menyenangkan. Kami disuguhi bentang alam yang menakjubkan.

Perbedaan Yang Menjauhkan

Di tengah perjalanan, masih di daerah Kebumen, kami sengaja mampir ke warung kopi. Ada banyak spanduk Jokowi – JK terpasang di warung ini. Karena mengantuk, Feri dan Marmin memilih untuk tidur di mobil. Sedangkan saya dan Ali turun untuk memesan kopi. Sejak kami datang, memesan segelas kopi lalu meminumnya sampai habis, penjual kopi itu sama sekali tidak memperlihatkan wajah ramah. Sangat jutek. Bahkan terkesan ogah melayani.

Merasakan sambutan yang kurang bersahabat itu, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama. Setelah kembali ke mobil, barulah saya menemukan jawabannya. Ternyata mobil yang kami pakai untuk Road Show Jakarta – Jawa Tengah ini penuh dengan tempelan sticker Prabowo – Hatta.

Pilihan politik kami berbeda dengan si penjual kopi.

“Haa haa haaa…,” kami tertawa ngakak ketika menyadari hal ini. Perbedaan dalam memilih calon presiden seringkali membuat kawan menjadi lawan. Persahabatan yang tulus koyak hanya karena soal angka: satu atau dua. Apalagi terhadap orang yang sama sekali tidak pernah kita kenal sebelumnya, antara kami dan si penjual kopi.

Indahnya Rumah Ibadah

Masjid Agung Darussalam, Purbalingga. | Foto: Kascey
Masjid Agung Darussalam, Purbalingga. | Foto: Kascey
Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto. | Foto: Kascey
Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto. | Foto: Kascey

Sesampainya di Purbalingga, kami banyak menghabiskan waktu di alun-alun.

Menurut saya, alun-alun di Purbalingga sangat nyaman. Ada pohon beringin yang  rindang. Apalagi ditambah dengan kemegahan Masjid Agung Darussalam, membuat kesan itu sangat sulit untuk dilupakan.  Masjid Agung Darussalam juga dijuluki  “Masjid Nabawi”, karena gaya arsitekturnya yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai masjid Nabawi di Madinah. Ide untuk mengadopsi gaya arsitektur masjid Nabawi sendiri digagas oleh mantan Bupati Purbalingga, Triyono Budi Sasongko, seusai menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

Saya sempat mampir ke Masjid Agung Darusssalam. Sekedar untuk numpang buang air kecil di toiletnya.

Di deket alun-alun Purwokerto, juga terdapat Masjid. Namanya Masjid Agung Baitussalam. Saya sempat beberapa kali mendirikan sholat di masjid ini. Ada perasaan tenang jika dalam perjalanan mampir ke rumah ibadah. Sebuah tempat yang menurut saya aman dan nyaman.

Ramadhan Pertama di Purwokerto

Malam ini bertepatan dengan satu Ramadhan. Mulai besok umat Muslim wajib menjalankan ibadah puasa. Ini artinya, saya akan melewati sahur pertama di Purwokerto. Sebuah tempat di Jawa Tengah yang jauh dari keluarga.

Sekitar jam 3 pagi kami keluar dari hotel dan mencari warung makan di sekitaran stasiun. Seperti saya duga, di bulan Ramdhan seperti ini banyak warung makan yang buka hingga dini hari. Bahkan menjelang waktu Shubuh. Justru disaat-saat seperti ini pengunjung akan semakin ramai. Setidaknya kami tidak akan kesulitan ketika hendak makan sahur.

Saya melihat kalender. Ini hari Minggu. Tanggal 29 Juni 2014. Bertepatan dengan 1 Ramadhan 1435 Hijriyah.

Rencananya hari ini kami akan kembali ke Jakarta. Saya bersyukur melewati beberapa hari dalam road show ke Jawa Tengah tanpa kendala, sejak tanggal 25 Juni 2014 yang lalu. Mengunjungi beberapa destinasi. Berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Demi Sepultura… (Kascey)

 

Catatan Lengkap:

1. Melangkah Hingga Jawa Tengah (Bersambung)

2. Catatan Dari Tiga Tempat (Bersambung)

3. Kabar Dari Kebumen (Bersambung)

4. Kembali ke Jakarta (Selesai)

Di alun-alun Purbalingga. | Foto: Kascey
Di alun-alun Purbalingga. | Foto: Kascey
Alun-alun Purbalingga. | Foto: Kascey
Alun-alun Purbalingga. | Foto: Kascey
Alun-alung Purwokerto, saat malam mulai tiba. | Foto: Kascey
Alun-alung Purwokerto, saat malam mulai tiba. | Foto: Kascey

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s