Luka Buruh Purwakarta

Oleh: Kahar S. Cahyono

Siang itu, didampingi beberapa pengurus FSPMI dan KSPI, ia mendatangi Komnas HAM. Wajahnya layu. Ia terlihat sangat lelah. Bukan saja kurang tidur. Tetapi juga tidak bisa memahami, mengapa aparat kepolisian itu tega melakukan kekerasan terhadap orang kecil seperti dirinya. Buruh pabrik yang sudah empat bulan tidak mendapatkan gaji, hanya karena meminta agar Pengusaha ditempatnya bekerja bersedia merundingkan upah dengan serikat pekerja.

Hari itu, 2 Juli 2014, tidak akan pernah akan ia lupakan. Satu hari yang akan ia kenang sepanjang hayat. Barangkali sampai nanti, ketika ia mati.

Hari itu, ia dan sejumlah temannya berniat untuk masuk kerja seperti biasa. Berangkat pagi. Lengkap dengan seragam kerja yang sudah belasan tahun ia pakai. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu pintu gerbang perusahaan terbuka. Pintu gerbang memang sulit untuk tertutup setelah roda pintu keluar dari relnya.

Diminta meninggalkan Musholla perusahaan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Diminta meninggalkan Musholla perusahaan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Karena diminta meninggalkan Musholla, ia dan kawan-kawannya ke tenda perjuangan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Karena diminta meninggalkan Musholla, ia dan kawan-kawannya ke tenda perjuangan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Meski bisa masuk ke lingkungan perusahaan, tetapi mereka tidak bisa masuk kedalam lingkungan produksi. Tidak ingin memaksakan kehendak, ia dan teman-temannya memilih ke musholla perusahaan. Disana ia shalat Dhuha. Sebagian yang lain duduk dan tidur-tiduran. Mereka sedang menjalankan ibadah puasa.

Tak lama kemudian, security meminta agar mereka meninggalkan Musholla. Tetapi permintaan ini ditolak.

Ambang batas kesabarannya sudah terkikis habis. Sejak melakukan mogok kerja pada bulan Maret 2014 yang lalu, perusahaan menganggap mereka sudah mengundurkan diri. Empat bulan tidak mendapatkan gaji, jaminan kesehatan diputus, ditambah lebaran yang akan datang sebentar lagi, kesabarannya mulai goyah. Belum lagi ini musim kenaikan kelas. Banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhkan.

Tuntutan mereka sangat sederhana. Meminta agar pihak pengusaha bersedia merundingkan kenaikan upah dengan serikat pekerja. Dan lagi pula, perundingan upah itu sesuai dengan amanat Pasal 19 Permenakertrans nomor 7 tahun 2013 yang menyatakan, “Besaran kenaikan upah di perusahaan yang upah minimumnya telah mencapai KHL atau lebih, ditetapkan secara bipartit di perusahaan masing-masing.” Mereka hanya meminta agar aturan dijalankan.

Meskipun menolak pindah dari Musholla, namun ia tidak lantas berbuat anarkis. Ia tahu, perbuatan anarkis hanya akan merugikan dirinya sendiri. Bahkan bisa jadi akan menggagalkan cita-cita perjuangan yang selama ini mereka impikan.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, pagi itu banyak sekali anggota Kepolisian yang datang ke perusahaan. Ia menghitung, jumlahnya mencapai tiga truck. Mungkin lebih. Kedatangan aparat kepolisian itu lengkap dengan helm, tameng dan tongkat. Tak ketinggalan, water canon juga dihadirkan.

Mengetahui gelagat kurang baik, akhirnya ia dan teman-temannya bersedia meninggalkan Musholla dan pindah ke tenda perjuangan yang terletak di dekat pos satpam. Tidak jauh dari pintu gerbang.

Aparat mengangkat paksa buruh untuk keluar dari pintu gerbang | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Aparat mengangkat paksa buruh untuk keluar dari pintu gerbang | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Dikeluarkan paksa. Buruh tidak melawan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Dikeluarkan paksa. Buruh tidak melawan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Tidak cukup hanya meninggalkan Musholla, aparat meminta mereka untuk keluar dari pintu gerbang. Bahkan meminta agar tenda perjuangan yang sudah beberapa hari didirikan itu dibongkar.

Tentu saja, ia menolak permintaan itu. Ini adalah mogok kerja, pikirnya. Dan mogok kerja adalah hak buruh yang dijamin oleh Undang-undang Ketenagakerjaan. Pihak Kepolisian tidak boleh mencampuri urusan hubugan industrial. Apalagi melakukan pengusiran terhadap buruh yang sedang melakukan mogok kerja.

“Tapi polisi tetap memaksa kita keluar,” katanya.

Ia menatap kedepan. Peristiwa kelam di Rabu kelabu itu kembali terbayang.

Tak menyerah, ia dan teman-temannya yang berjumlah kurang lebih 50 Orang tetap duduk sambil bergandengan tangan satu sama lain. Akan tetapi pihak Kepolisian yang jumlahnya jauh lebih banyak itu mengangkat mereka satu persatu. Menyeret keluar dari pintu gerbang.

“Kami diangkat kayak anjing,” katanya. Pelan.

Ia melihat teman-temannya diseret dan diijak-injak. Mereka tidak melawan. Hanya bisa meneriakkan nama Tuhan. Mengucapkan takbir ketika melihat temannya diangkat paksa dari tempat duduknya.

Saat peristiwa itu terjadi, massa solidaritas dari perusahaan-perusahaan lain yang menjadi anggota FSPMI berdatangan. Dari mobil komando, orator menyampaikan agar polisi tidak bertindak anarkis. Apalagi ini adalah aksi damai. Bulan Ramadhan. Yang seharusnya sama-sama dihormati agar bentrokan bisa dihindari.

“Sebenarnya tugas petugas adalah untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Tetapi yang terjadi disini sangat miris. Inilah Indonesia, kawan. Sedih sekali negara ini mempunyai aparat yang seperti itu. Sebenarnya mereka tahu tugas mereka. Apakah buruh bukan masyarakat? Apakah hanya pengusaha yang memiliki banyak uang itu yang dianggap masyarakat, sedangkan kami tidak,” suara dari atas mobil komando terdengar berkali-kali.

Setelah diangkat paksa satu persatu, di dalam gerbang tersisa kurang lebih 20 orang. Tiba-tiba pihak Kepolisian bermaksud menutup pintu gerbang. Melihat itu, spontan massa solidaritas yang berada diluar gerbang menghalang-halangi. Hal ini mereka lakukan karena jika pintu gerbang itu ditutup, khawatir terjadi apa-apa terhadap kawan-kawannya yang masih berada didalam.

Buruh yang masih bertahan dipukuli | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Buruh yang masih bertahan dipukuli | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Ia bahkan tak tahu apa salahnya | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Ia bahkan tak tahu apa salahnya | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Disitulah terjadi tarik-menarik. Entah darimana awalnya, tiba-tiba terjadi perang batu antara aparat dan buruh. Dua kubu saling melempar. Naas bagi 20-an orang yang berada didalam. Mereka dijadikan bulan-bulanan aparat Kepolisian. Ia menjadi salah satu buruh yang masih tertahan didalam gerbang

“Kami digebukin,” katanya. Posisi yang sangat sulit, karena terjebak antara kerumunan aparat dan pintu gerbang.

“Itu kawan saya kepalanya bocor akibat dipukul dengan tameng,” ujarnya sambil menunjukkan seorang kawan yang kepala bagian belakang (dekat telinga) diperban. “Dan itu, teman yang satunya mencoba nyelamatin dia. Malah ikut digebukin,” ia melanjutkan.

Dibawah hujan batu dan “hajaran” aparat, mereka kocar-kacir. Tak banyak pilihan, ia mengambil bambu bekas yang digunakan untuk mendirikan tenda. Sambil memegang bambu itu, ia berdiri dengan gagah berani. Berhadap-hadapan dengan aparat.

“Seharusnya kamu melindungi saya,” katanya kepada aparat itu.

Aparat itu memintanya keluar gerbang. Tak pikir panjang, ia segera keluar. Baru saja melangkah keluar pintu gerbang, ia ditempak dengan gas air mata. Selongsongnya tepat mengenai pinggul yang menyebabkan luka memar. Akibat tembakan itu, pinggulnya bengkak dan luka memar.

“Kemarin nggak bisa jalan.” Ia tertawa getir.

Tidak hanya dirinya yang mengalami hal itu. Beberapa orang yang lain juga mengalami. Nampaknya aparat sengaja membidikkan tembakan gas air mata itu ke bagian tubuh. Ada yang terkena tangan, dada, bahkan salah satu temannya terkena gas air mata di bagian mata. Temannya itu harus dirawat rumah sakit. Kata dokter, ada kemungkinan ia mengalami kebutaan.

Dibawah hujan gas air mata | Foto: Tim Media FSPMI Bekasi
Dibawah hujan gas air mata | Foto: Tim Media FSPMI Bekasi
Puluhan motor dirusak : Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Puluhan motor dirusak : Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Sebenarnya kericuhan itu sempat terhenti, ketika Bupati Purwarta datang ke perusahaan. Seperti janjinya, ia bermaksud menengahi agar permasalahan ini bisa cepat diselesaikan. Ia dan teman-temannya menahan diri. Memberikan kesempatan kepada orang nomor satu di Purwakarta itu menjalankan misinya.

Tetapi upaya sang Bupati sia-sia. Menurut Bupati, pihak Pengusaha tetap bersikukuh dengan sikapnya. Bupati sudah mengupayakan agar terjadi dialog diantara kedua belah pihak. Namun Bisa duduk bersama sehingga permasalahan ini saya kasih tahu, mereka tidak mau.

“Saya harap kalian bisa menahan diri. Jangan terpancing. Sebab kalau terpancing nanti ada alasan bagi mereka untuk mengusir kita dari sini,” ujar Bupati.

Ia dan kawan-kawannya mendesak Bupati agar bersikap tegas.

“Ini kan awalnya berasal dari SK  Bupati yang meminta agar upah dirundingkan secara bipartit. Tolong kasus ini ditelusuri dari awal,” ia bersikeras.

“Bapak harus berpihak kepada rakyat. Masak kami diperlakukan seperti anjing. Diangkat. Diseret satu-satu. Bapak memiliki kewenangan. Kami sudah 4 bulan tidak dibayar. Masa Bupati tidak bisa bersikap tegas,” sambung yang lain.

Tetapi jawaban sang Bupati normatif. Bahwa ia tidak bisa mengambil tindakan ke perusahaan tanpa melalui prosedur.

“Kalau Perusahaan ditutup yang rugi karyawan.”

Pernyataan itu membuat ia dan kawan-kawannya bereaksi keras. Seolah-olah jika pelanggaran itu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki uang, maka hal itu bisa dibenarkan. Tetapi ketika pelanggaran dilakukan orang kecil, bisa dilakukan layaknya binatang.

Ia kecewa. Bahkan tidak lagi percaya jika negara benar-benar ada.

Setelah Bupati pergi, bentrokan antara aparat dan buruh kembali terjadi. Ia menyebut, hal itu terjadi karena ada oknum aparat yang selalu memprovokasi.

Aparat membakar bendera FSPMI. Merobohkan dan membakar tenda perjuangan. Bahkan Tivi, speaker dan barang-barang yang ia taruh ditenda pun tak luput dari sasaran. Semuanya dihancurkan. Termasuk motor-motor milik buruh yang diparkir jauh dari lokasi.

Motor yang dibeli secara kredit selama bertahun-tahun itu dihancurkan. Beberapa tangkinya pecah. Body-nya remuk. Aki-nya hilang. Ada yang rodanya dilepas lalu dibakar. Beberapa diantaranya dibuang ke selokan. Ia mengatakan, jumlah motor yang rusak parah mencapai 30-an.

Ia melihat beberapa kawannya babak belur. Bajunya berlumuran darah.

Dengan pistol di tangan, Polisi mengejar kawan-kawannya. Bahkan hingga ke dalam pabrik. Sore itu polisi menangkap 6 orang buruh. Satu orang adalah kawan satu perusahaan dengannya. Lima orang lagi berasal kawan-kawannya dari perusahaan lain yang datang untuk bersolidaritas. Hingga saat ini, ia gagal memahami. Mengapa tragedi kemanusiaan ini bisa terjadi. (*)

Tulisan ini pernah diterbitkan disini: http://fspmi.or.id/luka-buruh-purwakarta.html

3 thoughts on “Luka Buruh Purwakarta

  1. itulah pengayom masyarakat .. semua dikalahkan dengan amplop, bila KEPOLISIAN tidak mau mawas dirinya secara menyeluruh hanya tawaan yang tiada henti .. tidak lagi dihormati masyarakat. UU hanya untuk orang-orang gedean yang mampu membelinya.

  2. Bruh banyak tingkah udh dpt kerja aja udh untung bro..loe liat banyak sarjana yg blm pada kerja..bersukur aja yg penting bs makan anak bs sekolah..so so an minta naik Upah situ bs apa soal keuangan perusahaan..ingat tdk semua mampu bs naikin upah setiap Tahun..menurut sy ini bom wkt lama lama investor di indonesia bs angkat kaki..banyak lagi pengangguran nanti nya..dengan dalil hidup sejahtera padahal hidup nya konsumtif dandanin motor dandanin mobil..pengen banyak uang banyak gaya sekolah yg tinggi jadi org pinter ate jadi pengusaha sekalian..nanya modal dari mana? Ya nabung makanya jngn konsumtif..sekolah tamatan stm pngn gaji ky sarjana..pikirrrrr

    1. Terima kasih komentarnya. Berikut tanggapan saya atas komentar Anda:

      Pertama, saya prihatin dengan pernyataan Anda, “banyak sarjana yang belum pada kerja”. Bahkan banyak juga sarjana yang gajinya hanya UMK, bahkan lebih rendah dari itu. Karena itulah kami terus menuntut, agar upah di Indonesia semakin layak.

      Kedua, saya rasa sangat wajar jika buruh dandanin motor dan mobil. Jika perlu, buruh memiliki mobil. Punya rumah yang mewah. Karena mereka bekerja. Buat apa bekerja kalau tetap miskin? Karena itulah, buruh menuntut. Agar jangan sekedar dieksploitasi tenaganya tetapi diabaikan kesejahteraannya.

      Ketiga, buruh sekarang sudah banyak yang pinter. Tidak seperti dulu, yang hanya bisa tunduk dan mengangguk. Upah buruh Indonesia masih lebih rendah dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan sebagainya. Kami berjuang agar upah buruh di Indonesia lebih baik. Dan, semoga Anda atau anak-anak Anda juga dapat merasakannya.

      Keempat, Indonesia adalah surga bagi investor. Zaman orde baru, investor yang masuk jumlahnya membludak. Tetapi nasib buruh tidak ada perbaikan. Upahnya murah. Jadi tidak ada kaitannya jumlah investor dengan upah buruh. Dan lagi pula, buat apa ada investor jika rakyat tidak sejahtera. Mau kita serahkan kekayaan alam Indonesia yang berlimpah ini kepada mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s