Merajut Asa Bersama Pasangan Prabowo – Hatta

Ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan, dada saya bergetar.  Merinding. Getaran itu bahkan membuat air mata saya tumpah. Sore itu, di pelataran Tugu Proklamasi, saya menangis tersedu.

Ini terasa seperti mimpi. Empat hari yang lalu, saya masih berada di  Monumen Perjuangan, Bandung. Jarak antara Bandung – Jakarta sejauh ratusan kilometer itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Meski kulit telapak kaki terkelupas. Tertatih-tatih. Letih dan perih.

Ribuan orang berjejer di pinggir jalan. Bertepuk tangan. Mengelu-elukan kedatangan kami. Teriakan, “Hidup Prabowo – Hatta” dengan penuh penghayatan terdengar berulang-ulang. Mereka, ribuan buruh itu sengaja datang dari berbagai daerah untuk menyambut kedatangan kami di Tugu Proklamasi, Jakarta. Tujuan akhir long march Bandung – Jakarta untuk memenangkan Prabowo – Hatta, dimana saya menjadi salah satu peserta.

Saat seluruh peserta long march melakukan sujud syukur, lagi-lagi saya tak kuasa membendung air mata. Memang tak bersuara. Tetapi air mata ini mengalir deras sekali. Apalagi ketika Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon, memeluk kami satu persatu. Ach, hari itu, saya menjadi laki-laki paling cengeng sedunia. Langkah kaki Bandung – Jakarta terlintas dalam benak saya. Meski rasa lelah datang mendera. Meski harus beberapa hari meninggalkan keluarga.

Sambil terisak, di pelukan Fadli Zon, saya berbisik, “Pak, saya nitip aspirasi buruh kepada Prabowo – Hatta.”

Fadli Zon menatapkan saya. Ia memang tak menjawab. Tetapi saya tahu, dari binar matanya yang juga basah oleh air mata itu ia ingin mengatakan, tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan kami yang telah menempuh perjalanan kurang lebih 300 Kilometer untuk memberikan dukungan kepada Prabowo – Hatta.

Peserta long march Bandung - Jakarta saat melintasi jalanan di Karawang, Jawa Barat | Foto: Dokumentasi Pribadi
Peserta long march Bandung – Jakarta saat melintasi jalanan di Karawang, Jawa Barat | Foto: Dokumentasi Pribadi
Fadli Zon menyambut kedatangan peserta long march Bandung - Jakarta di Tugu Proklamasi | Foto: Dokumen Pribadi
Fadli Zon menyambut kedatangan peserta long march Bandung – Jakarta di Tugu Proklamasi | Foto: Dokumen Pribadi

Aspirasi Itu Bernama Sepultura

Awalnya adalah 10 tuntutan buruh dan rakyat. Yang kemudian disingkat, Sepultura.

Sebagi sebuah tuntutan yang berasal dari rakyat, itu artinya, Sepultura adalah sebuah cita-cita. Ia adalah aspirasi sekaligus harapan harapan. Dan dalam banyak kesempatan, kami berusaha dengan sungguh-sungguh agar kesepuluh tuntutan buruh dan rakyat itu bisa diwujudkan.

Seperti May Day pada tahun-tahun sebelumnya, kaum buruh memperingatinya dengan menyampaikan aspirasi. Kali ini, aspirasi itu kami rangkum dalam sepuluh tuntutan buruh dan rakyat. Sepultura. Hanya, memang, yang membedakan dengan tahun-tahun tahun sebelumnya, May Day Tahun 2014 ini bertepatan dengan tahun politik. Tahun dimana pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode Tahun 2014 – 2019 akan digelar. Sadar bahwa persoalan buruh tidak lepas dari kebijakan pemimpin negara, kaum buruh mengeluarkan seruan: “Siapa pun calon Presiden yang berani menjalankan Sepultura, maka buruh akan mendukungnya.

Kami menyampaikan aspirasi itu kepada hampir semua tokoh yang berpeluang menjadi Presiden. Sebut saja, Prabowo Subianto, Mahfud MD, Rizal Ramli, Anies Matta, Aburizal Bakrie, bahkan kepada Joko Widodo. Saat itu KPU belum membuka pendaftaran Capres – Cawapres. Semua partai politik masih berkonsentrasi hasil akhir penghitungan suara KPU terkait dengan pemilihan anggota legislatif. Bahkan koalisi partai politik untuk mengusung Capres – Cawapres belum terbentuk.

Dalam peringatan hari buruh Internasional (May Day) yang jatuh pada tanggal 1 Mei 2014 itu, Sepultura mendapatkan momentumnya. Sejarah mencatat, hanya Capres Prabowo Subianto yang berani secara tegas menyatakan bersedia menjalankan Seputura. Menurut Prabowo, Sepultura adalah hak rakyat. Ada didalam konstituasi negara ini. Karena itu, dengan tegas ia menyatakan jika terpilih sebagai Presiden akan berkomitment untuk menjalankan Sepultura.

Pernyataannya itu disampaikan oleh Prabowo Subianto dihadapan 80-an ribu buruh yang memenuhi Gelora Bung Karno. Kita tahu, di Republik ini, tidak pernah terjadinya sebelumnya seorang pemimpin negara menyampaikan sikapnya dihadapan puluhan ribu buruh pada saat peringatan peringatan hari buruh. Ia memperlihatkan keberpihakannya kepada kaum buruh. Menegaskan komitmennya untuk menghapuskan outsourcing dan menaikkan upah. Tentu saja, dengan diiringi peningkatan produktivitas agar dunia usaha bisa tetap tumbuh.

Ketegasan itu membuat kami jatuh hati. Memiliki harapan besar kepada pasangan Prabowo – Hatta, bahwa ia mampu menyelamatkan Indonesia.

Alasan itulah yang membuat saya dengan sukarela mendaftarkan diri sebagai Tim Long March Bandung – Jakarta untuk memenangkan Prabowo – Hatta pada tanggal 9 – 13 Juni 2014 yang lalu. Dan jika kemudian rakyat Indonesia memberikan dukungan kepada Prabowo – Hatta, itu bukan karena pasangan nomor satu ini melakukan pencitraan. Melampaui itu semua, rakyat memberikan dukungan karena memang ia pantas memimpin negeri ini. Karena kepeduliannya kepada rakyat kecil, yang salah satunya tercermin dari isi Sepultura berikut:

Leaflet berisi sepuluh tuntutan buruh dan rakyat yang ditandatangani Calon Presiden Prabowo Subianto | Foto: Dokumentasi Pribadi
Leaflet berisi sepuluh tuntutan buruh dan rakyat yang ditandatangani Calon Presiden Prabowo Subianto | Foto: Dokumentasi Pribadi

Pertama: Meningkatkan daya beli upah minimum pekerja/buruh dan masyarakat dengan cara mengubah jumlah jenis barang dan jasa yang menjadi Komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL), dari 60 jenis menjadi 84 jenis barang dan jasa serta meningkatkan produktivitas pekerja/buruh.

Kedua: Menghapus kebijakan penangguhan upah minimum.

Ketiga: menjalankan jaminan pensiun wajib bagi buruh/pekerja per 1 Juli 2015 sesuai dengan UU SJSN dan BPJS.

Keempat: Meningkatkan pelaksanaan jaminan kesehatan seluruh rakyat Indonesia, secara gratis kepada pekerja/buruh  dan rakyat kurang mampu.

Kelima: Menghapuskan sistem outsourcing tenaga kerja, termasuk outsourcing tenaga kerja di BUMN dan mengangkatnya menjadi pekerja tetap.

Keenam: Mengesahkan RUU PRT (Pekerja Rumah Tangga) dan merevisi UU TKI No 39/2004 harus berorientasi kepada perlindungan TKI serta syahkan RUU perawat.

Ketujuh: Mencabut UU Ormas ganti dengan RUU Perkumpulan.

Kedelapan: Mengangkat guru honorer dan tenaga kerja honor menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta subsidi Rp 1 juta per bulan dari APBN untuk guru honorer dan tenaga kerja honorer.

Kesembilan: Melaksanakan wajib belajar 12 tahun.

Kesepuluh: Mengalokasikan APBN untuk beasiswa anak pekerja/buruh hingga perguruan tinggi secara gratis bagi yang berbakat dan berprestasi, menyediakan transportasi publik murah dan perumahan murah.

Berdirinya Rumah Indonesia

Saya tahu, nasib bukan untuk dititipkan. Sebagaimana yang diajarkan oleh ulama, nasib suatu kaum akan berubah jika kaum itu sendiri bersedia merubahnya. Karena itu, saya bertanggungjawab terhadap aspirasi saya. Bentuk pertanggungjawaban itu adalah bekerja dengan sekuat tenaga untuk memenangkan Prabowo – Hatta, yang telah berkomitment untuk memenuhi aspirasi tadi.

Untuk mewujudkan itu, kami mendirikan Rumah Indonesia. Ini adalah rumah aspirasi yang dideklarasikan pada tanggal 9 Mei 2014 oleh Organisasi Serikat Pekerja, Organisasi Guru, Pedagang Kaki Lima, dan Organisasi Gerakan lainnya. Tugasnya adalah mensosialisasikan Sepultura kepada masyarakat luas. Juga meminta dukungan kepada masyarakat untuk memilih pasangan nomor satu untuk memastikan Sepultura bisa dijalankan. Saya ikut hadir ketika Rumah Indonesia dideklarasikan.

Aspirasi kaum buruh yang disampaikan saat peringatan May Day 2014 | Foto: Dokumentasi Pribadi
Aspirasi kaum buruh yang disampaikan saat peringatan May Day 2014 | Foto: Dokumentasi Pribadi
Calon Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmentnya untuk memenuhi apirasi kaum buruh | Foto: Fb PS
Calon Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmentnya untuk memenuhi apirasi kaum buruh | Foto: Fb PS

Ya, Prabowo – Hatta memberikan harapan. Pasangan ini memiliki kemampuan menyelamatkan Indonesia. Pasangan yang memiliki komitment untuk memastikan Indonesia tetap satu. Dan semua itu bukan janji. Itu adalah komitment politik beliau. Tugas kita adalah membantu beliau agar komitment itu bisa dijalankan.

Dengan sukarela kami terus mensosialisasikan pasangan Prabowo – Hatta dengan penuh kesungguhan. Kami mengadakan rapat akbar, ketuk pintu rumah-rumah buruh, berkeliling dari satu pabrik ke pabrik lain untuk mengajak buruh memilih Prabowo-Hatta, long march berjalan kaki Bandung – Jakarta 300 km, road show Jakarta-Semarang pulang-pergi, seminar dan lokakarya, serta aksi lainnya.

Meski pun bagi saya hal ini adalah pengalaman baru, namun saya bangga bisa melakukannya. Bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk menjelaskan isu-isu kerakyatan, lalu menyampaikan benang merah hubungan antara pemilihan Presiden dan kesejahteraan bagi rakyat.

Prabowo Presiden Pilihan Rakyat. Saya percaya, pasangan Prabowo – Hatta tidak akan mengabaikan aspirasi rakyat Indonesia. Sebagaimana yang telah beliau tunjukkan ketika menandatangani Sepultura. (*)

#PrabowoHatta #SelamatkanIndonesia #IndonesiaSatu

5 thoughts on “Merajut Asa Bersama Pasangan Prabowo – Hatta

  1. Hidup Prabowo, Hidup Nomor Satu. Insya Allah di tanggal 22 Juli nanti bisa terpilih menjadi Presiden, aminnnn… Btw, selamat ya udah jadi juara ketiga. Semoga tetap semangat dan selalu berkarya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s