Melintasi Batas Negara 9: Meneladani Umar

Ketua Umum Pimpinan Pusat SPEE FSPMI Judy Winarno
Ketua Umum Pimpinan Pusat SPEE FSPMI Judy Winarno

Setelah mendengar sambutan dari beberapa tamu undangan, akhirnya Rapat Kerja Nasional III SPEE FSPMI dibuka oleh Ketua Umum SPEE FSPMI, Judy Winarno. Ini adalah rapat kerja yang istimewa. Selain diselenggarakan dalam suasana pemilu, peserta Rakernas juga akan melakukan kunjungan ke Singapura. Bertamu ke National Trades Union Congress (NTUC) untuk melajar tentang gerakan buruh di negara singa yang dikelola secara professional itu.

Tentu saja, semua kegiatan ini membutuhkan sumberdaya yang luar biasa. Tidak sembarang serikat pekerja bisa melakukan ini. Dan SPEE FSPMI adalah salah satu serikat yang bisa melakukannya. Dari sini saja kita bisa mengukur, betapa kuatnya organisasi yang berbasiskan para pekerja di industri elektronik elektrik ini.

Dalam sambutan pembukaan,  mewakili Pimpinan Pusat SPEE FSPMI, Judy Winarno mengucapkan terima kasih atas dana dan waktu yang diberikan oleh peserta Rakernas sehingga acara ini bisa terselenggara. Bukan hanya peserta. Panitia pun sangat berjasa. Mereka bahkan harus lembur untuk menyiapkan ini semua. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada tuan rumah. Mereka adalah kawan-kawan FSPMI Batam yang telah bertindak selaku relawan.

Judy juga mengucapkan terima kasih kepada Amzakar Ahmad, Sriyanto dan Ricky Solihin, yang telah memberikan masukan berharga kepada peserta Rakernas. Organisasi ini senantiasa membangun gerakan yang berorientasi pada kemajuan. Terbuka atas berbagai masukan. Masukan dari semua pihak akan sangat berarti untuk kemajuan kedepan.

Apalagi, saat ini perkembangan industri sudah berubah. Apalagi dengan adanya pengaruh yang kuat dari kebijakan industri dunia. Globalisasi membuat sekat-sekat negara menjadi tipis.  Diilhami dari masyarakat ekonomi Eropa yang sudah maju dan berhasil, hal serupa juga ingin ditiru oleh yang lainnya. Eropa, bahkan mampu mengalahkan Amerika.

“Indikator kemajuan itu, Euro yang menjadi mata uang Eropa nilainya lebih tinggi jika dibandingkan dengan dollar-nya Amerika,” kata Judy. Meskipun dengan sebuah catatan, Eropa pun dilandas krisis

Kini keberhasilan itu akan ditiru oleh pemimpin negara-negara Asean, dengan membentuk ASEAN Community 2015. Harapannya, perekomian di negara-negara Asean bisa maju dan mandiri. Kita tidak bisa menghindar dari semua ini. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri, agar liberalisasi dibidang ekonomi itu tidak berdampak buruk bagi kepentingan bangsa.

Judy mengingatkan, bahwa Indonesia adalah negara yang lemah.

“Belum merdeka secara ekonomi,” katanya.

Dengan dibukanya pasar bebas, orang dari negara lain bisa berbisnis dengan mudah di negara ini, selayaknya berbisnis di negaranya sendiri. Termasuk di sektor tenaga kerja. Bisa jadi, dalam beberapa tahun kedepan, banyak pekerja dari luar masuk ke Indonesia. Jika kita tidak siap, tenaga kerja Indonesia akan tersingkir dari negerinya.

Sekali lagi, zaman sudah berubah. Sejauh mana mempersiapkan diri menghadapi perubahan itu? Sejarahmencatat, siapa pun yang tidak bisa mengikuti perubahan zaman, ia akan tergilas.

Pimpinan Pusat SPEE FSPMI sudah mengagendakan sebuah diksusi untuk mengantisipasi perubahan ekonomi global. Diskusi ini untuk menjawab tantangan dan sekaligus membuat strategi untuk bisa bertahan dalam situasi yang penuh dengan persaingan.

Kualitas dari pribadi dan organisai harus terus ditingkatkan.

Rakernas III SPEE FSPMI ini juga akan menindaklanjuti keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam Rakernas KSPI dan Rapim FSPMI. Dalam keputusan-keputusan itu ada beberapa resolusi, baik yang bersifat internal maupaun eksternal. Kita percaya, jika keputusan-keputusan tersebut bisa dijalankan dengan baik, niscaya buruh Indonesia akan semakin bermartabattidak akan menjadi tamu rumahnya sendiri.

Kita juga mendebgar, buruh-buruh Filipina bakal menyerbu Indonesia. Mereka akan bermigrasi ke negara kita untuk mencari kerja. Apalagi, memang, hingga saat ini Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi dunia. Indonesia adalah surga. Banyak yang ingin datang kepadanya.

Perusahaan-perusahaan elektronik juga sudah berubah. Dulu Jepang yang mendominasi. Tetapi sekarang, Korea Selatan dan Cina semakin banyak yang bermunculan.  Sanyo Elektrik di Cikarang dan Sanyo di Cimanggis pun sudah dijual. Situasi industri elektronik menurun. Kita harus melakukan antisipasi sejak dini. Karena itu, kata Judy, dalam Rakernas ini kita juga akan mendengar pemaparan Rahmat Gobel. Ia adalag Presiden Direktur salah satu investor elektronik terbesar di Indonesia. Kita ingin tahu fenomena apa saja yang terjadi saat ini. Bagaimana prospek dan perkembangannya. Setelah itu, kita akan membuat jawabannya dalam sidang-sidang di Rakernas ini.

Inilah juga yang mendasari SPEE FSPMI dalam Rakernasnya membuat tema: ‘EE Gak Ada MatinyEE’.

Tak dipungkiri, itu berawal dari kegalauan. Tetapi apapun kondisi yang kita hadapi, tidak boleh memperburuk situasi. Tema ini, saya kira, memberikan semangat kepada kita semua.

Disaat kita sedang galau, memang harus ada penyemangat agar langkah tidak menjadi goyah.

Menurut Judi, yang mengusulkan tema ini adalah Baris Silitonga. Selain Pangkornas Garda Metal, Baris adalah salah satu pengurus Pimpinan Pusat SPEE FSPMI. Ide itu disetujui, untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi. Bahwa EE tidak boleh mati. Apalagi, SPEE adalah salah satu sektor yang membesarkan FSPMI, yang membesarkan KSPI dan membesarkan gerakan buruh di Indonesia.

Tentang upah, FSPMI sudah mencanangkan kenaikan upah tahun 2015 adalah sebesar 30%. Kenaikan upah sebesar ini adalah untuk menjawab apa yang dirisaukan oleh pemerintah. Selalu disampaikan dimana-mana, bahwa kita tidak akan bisa bersaing jika tidak ada hubungan yang kondusif antara buruh dan pengusaha.

Judy mengkritik pernyataan itu. Menurutnya, hubungan kondusif tidak semata-mata dipengaruhi soal upah. Upah yang tinggi justru akan menjadi solusi agar buruh Indonesia bisa berkompetisi dengan pekerja yang berasal dari luar negeri. Kalau kita ingin meningkatkan kualiats kerja dan produktivitas, seperti di Singapura, misalnya, maka daya beli kita harus sama dengan mereka. Upahnya, minimal harus sama.

Tidak mungkin berharap produktivitas yang sama, sementara upah yang diberikan hanyalah setengahnya. Ibarat kita akan membuat donat, jika bahan dasarnya berbeda, hasilnya juga akan berbeda. Donut yang dijual di Dunkin Donuts dengan yang dijual di emperan kaki lima jelas berbeda. Cita rasanya pun tidak akan pernah sama. Mengapa? Karena materialnya tidak sama! Oleh karena itu, agar kualitas tenaga kerja Indonesia sama dengan kualitas tenaga kerja Singapura, upahnya juga harus sama. Daya beli kita harus sama.

Sekali lagi, kenaikan sebesar 30% justru untuk menjawab soal produktivitas. Ukuran kita adalah daya beli. Jika upah naik kemudian harga-harga naik, itu pun bermasalah. Kalau pun kenaikan upah kecil, tetapi harga-harga turun setengahnya, itu akan menyenangkan semua orang.

Diakhir sambutannya, Judy meminta kepada aparat pemerintah untuk meneladani Khalifah Umar bin Khatab.

Satu ketika, kata Judy, Umar jalan-jalan ke pasar. Ia melihat ada penjual yang menjual barang dengan kelewat mahal. Maka pedagang itu dimarahin dan diancam akan dikeluarkan dari pasar jika harganya tidak diturunkan. Kemudian ia menyuruh orang untuk mengawasi pasar. Ketika ada pedagang yang mencampur susu dengan air, pengawas itu menegur. Susu yang bercampur air itu disuruh meminumnya sendiri, jangan dijual. Tidak ada lagi pedagang yang hanya mencari untung besar. Pembeli pun diuntungkan, karena yang diperjual-belikan di pasar hanyalah barang-barang berkualitas.

“Saya membayangkan ada pegawai pengawas yang mengawasi sepeti itu,” ujar Judy, yang disambut dengan aplaus meriah dari semua peserta. Kemudian Judy melanjutkan, “Sehari-hari pengawas jangan hanya berada di kantor. Turun ke pabrik-pabrik untuk mengawasi agar aturan bisa berjalan.” Sekali lagi, kami bertepuk tangan.

Dan tentu, ini bisa dimulai dari ketegasan dari pemimpinnya. Paling tidak, dimulai dari Kepala Dinasnya.

Contoh yang lain adalah cerita yang sudah terkenal ini. Dimana setiap malam Umar berkeliling untuk membagikan beras kepada orang miskin. Tidak ada yang tahu, siapa yang membagikan beras itu. Orang baru tahu, ketika Umar sudah meninggal dan dimandikan mereka melihat pundaknya hitam. Oh, ternyata yang setiap malam memikul beras dan membagikannya kepada orang-orang miskin itu adalah Umar.

Pemimpin membutuhkan keteladanan. Ketegasan. Bukan hanya duduk manis dibelakang meja.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s