Melintasi Batas Negara 8: Ladang Amal Buat Kita

Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Yoni Mulyo Widodo
Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Yoni Mulyo Widodo

“Selamat datang di Batam,” inilah kalimat pertama yang disampaikan Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Yoni Mulyo Widodo kepada peserta Rakernas III SPEE FSPMI. Inilah Batam. Sebuah pulau yang kini disulap menjadi daerah industri. Yang sebagian besar orang datang kesini meniatkan untuk kerja.

Orang bilang, Batam itu singkatan dari ‘Bila Anda Tabah Anda Menang’. Tentu singkatan itu bukanlah yang sebenarnya. Yang jelas, Batam merupakan salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Ini merupakan pulau terbesar dari 329 pulau yang ada di wilayah Kota Batam. Tidak ada literatur yang dapat menjadi rujukan darimana nama Batam itu diambil. Satu-satunya sumber yang dengan jelas menyebutkan nama Batam dan masih dapat dijumpai sampai saat ini adalah Traktat London (1824).

Saat ini, pekerja formal di Batam mencapai kurang lebih 400 ribu orang dengan lebih dari 5 ribu perusahaan. Sebagian besar dari perusahaan itu adalah modal asing. Yang disayangkan, menurut Yoni, modal-modal itu sudah berada ditangan kedua atau ketiga. Limpahan dari Singapura.

“Kami banyak merepotkan pak Sriyanto,” kata Yoni.

Bahkan Pak Kadis bernah bercanda, “Kayaknya kami ini jadi pegawainya FSPMI.”

Itu tak lain karena begitu aktifnya FSPMI dalam memberikan tekanan kepada pemerintah agar tegas dalam melakukan penegakan hukum. Yoni menuturkan, buruh sebenarnya tidak ingin melakukan mogok. Tetapi kalau kemudian pemogokan itu dilakukan, hal itu mereka karena sebuah keterpaksaan. Tidak ada pilihan lain.

Di Batam, ada beberapa kali kejadian, pengusaha menelantarkan pekerjanya. Kasus PT. SCI sebagi contoh. Pengusaha kabur sehingga banyak pihak patungan untuk meringanakan beban buruh yang ditinggalkan. Apalagi ketika itu, peristiwanya terjadi pada saat lebaran.

BP Kawasan sudah membuka SMS center untuk laporan. Yoni sudah beberapa kali menyampaikan keluhan, akan tetapi hingga sekarang belum ada tanggapan.

Terkait dengan upah minimum, sebenarnya sudah dibentuk tim untuk menyetabilkan harga. Tetapi sayang, kerja tim terputus karena disibukkan urusan pencalegan. Yoni berharap, setelah pemilu selesai, tim ini bisa kembali efektif bekerja.

Memang banyak masalah yang dihadapi. Tetapi jangan mengeluh atas permasalahan itu.

“Mari kita jadikan masalah yang ada sebagai ladang untuk berbuat kebaikan. Jadikan masalah sebagai ladang ibadah,” kata Yoni.

Menyinggung masalah politik Yoni menyampaikan, bahwa didepan Kawasan  Muka Kuning ada pemilik outsourcing yang menang. Ironis, memang. Apalagi Batam terkenal sebagai kawasan industri. Mayoritas penduduknya adalah buruh. Diatas kertas, kader serikat buruh di Batam seharusnya mampu memenangi pemilihan legislatif. Nyatanya itu sulit sekali.

Meskipun demikian, kata Yoni, janganlah kita berkecil hati. Perjuangan harus tetap dilanjutkan. Api semangat untuk melakukan perubahan harus dikobarkan (*)

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s