Melintasi Batas Negara 3: Pantun Penyemangat dari Amzakar Ahmad

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Amzakar Ahmad memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI mewakili Walikota Batam.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Amzakar Ahmad memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI mewakili Walikota Batam.

Spanduk didepan cukup menarik perhatian. Kalimatnya sederhana. Tapi mengena: ‘EE Gak Ada MatinyEE’. Kalimat inilah yang menjadi tema Rakernas III SPEE FSPMI.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tema Rakernas selalu menggambarkan semangat perjuangan. Semacam pesan, bahwa organisasi ini boleh saja diterjang badai. Tetapi disetiap permasalahan yang dihadapi justru akan menempa mereka menjadi semakin dewasa. Bertambah kuat. SPEE FSPMI tak akan pernah mati.

Rakernas III SPEE FSPMI juga dihadiri oleh Walikota Batam yang diwakili oleh Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kota Batam Amzakar Ahmad. Dinas Tenaga Kerja Kota Batam yang diwakili oleh Sriyanto. Anggota DPRD Batam Ricky Solihin dan perwakilan dari SPA FSPMI.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar dan Dialog Motivasi tentang Perspektif dan Tantangan Dunia Usaha yang disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rahmat Gobel.

Dalam sambutannya, mewakili Walikota Batam, Amzakar Ahmad mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Pusat SPEE FSPMI yang telah menunjuk Batam sebagai tempat penyelenggaraan Rakernas. Menurutnya, pilihan untuk menjadikan Batam sebagai tuan rumah Rakernas sangat tepat. Mengingat Batam adalah kota industri yang strategis. Khususnya untuk sektor industri elektronik elektrik.

“Saat ini di Batam terdapat 5.608 perusahaan. Sebagian besar bergerak disektor elektronik elektrik,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kota Batam itu.

Ia berharap, rapat kerja nasional ini akan melahirkan kebijakan organisasi yang berpihak kepada kepentingan pekerja pada satu sisi, dan dunia usaha pada sisi yang lainnya. Menurut Ahmad, sinergisitas antara pekerja dan pengusaha diperlukan oleh bangsa Indonesia untuk memasuki era ASEAN Community 2015.

“Kalau tidak ada harmonisasi antara pelaku dunia usaha, maka ASEAN Community hanya akan memberikan ruang bagi masuknya arus modal, jasa dan tenaga kerja,” katanya.

Terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 ini diharapkan dapat menjawab semua tantangan dan permasalahan yang terjadi pada Negara-Negara yang tergabung dalam keanggotaan ASEAN. ASEAN Community memiliki tiga pilar penting, yaitu ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. Komunitas ASEAN ini semula akan dilaksanakan pada tahun 2020. Tetapi dalam KTT ASEAN di Bali tahun 2013, negara peserta ASEAN sepakat menyelenggarakan “Bali Concord II” atau “Kesepakatan Bali II” lebih awal yaitu tahun 2015.

Dengan begitu tidak ada lagi sekat yang menghalangi arus perdagangan, arus budaya, arus ideologi, dan penegakan hukum di antara negara anggota. Ide ini diharapkan mampu mewujudkan keseimbangan baru di antara negara-negara ASEAN. Dan tentu saja, dikarenakan komunitas ini akan diimplementasikan pada dua tahun mendatang, ASEAN Community 2015 memunculkan persaingan ketat antara negara.

Apalagi, Komunitas Ekonomi ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan juga kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global. Sebagai konsep integrasi ekonomi ASEAN, ASEAN Economic Comunity akan menjadi babak baru dimulainya hubungan antar negara ASEAN sebagai single market dan single production base meliputi free trade area, penghilangan tarif perdagangan antar negara ASEAN, pasar tenaga kerja dan modal yang bebas, serta kemudahan arus keluar-masuk prosedur antarnegara ASEAN.

Jika Indonesia tidak mempersiapan secara matang, ASEAN Community hanya akan menyebabkan daya saing bangsa ketinggalan. Jika kita tidak siap menghadapi ini, tidak menutup kemungkinan nantinya yang mengisi rumah sakit kita adalah dokter-dokter dari Malaysia atau Singapura. Dunia industri kita  akan dipenuhi orang-orang mereka. Begitu juga dengan dosen-dosen kita. Oleh karena itu, menurut Ahmad, Rakernas III SPEE FSPMI ini perlu juga untuk mendiskusikan perihal peningkatan kompetensi dan kompetisi para pekerja.

Terkait dengan upah minimum, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kota Batam juga menjadi salah satu dinas yang iktu serta melakukan survey. Menurut Ahmad, sejauh ini pihaknya selalu melakukan intervensi terhadap harga. Hal ini dilakukan agar inflansi tetap terkendali. Tidak terlalu tinggi.

Bagi saya, ketika Amzakar Ahmad menyinggung tentang upah — meskipun hanya secara singkat — hal itu menjadi indikator bahwa isu perjuangan yang diusung FSPMI sudah menjadi perhatian. Upah sudah menjadi isu penting yang menjadi perhatian khusus bagi para penyelenggara kebijakan.

Amzakar Ahmad mengakhiri sambutannya dengan sebuah pantun: Memancaing ikan diwaktu pagi, dapat seekor ikan kerapu. Harapan saya melalui Rakernas III ini, Serikat Pekerja Metal Indonesia semakin maju.

Sesaat setelah Ahmad membacakan pantun itu, kami memberikan tepuk tangan meriah. Seperti mendapatkan kehormatan, ketika seorang kepala dinas sengaja membacakan sebuah pantun yang khusus ditujukan untuk acara ini.  (Kascey)

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s