Melintasi Batas Negara 2: Seperti Teman Lama yang Berjumpa Kembali

Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami dijemput kawan-kawan FSPMI Batam
Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami dijemput kawan-kawan FSPMI Batam

Setelah terkantuk-kantuk selama satu jam di boarding room Bandara Soekarno Hatta, akhinrya pengumuman itu terdengar. Penumpang Lion Air tujuan Batam dengan nomor pesawat JT 376 diminta naik ke pesawat. Kami segera bergegas.

Didalam pesawat, saya duduk di kursi nomor 28D. Disebelah saya ada Herfin. Sementara diujung sana, dekat jendela, seseorang warga Negara asing. Sama seperti saya, Herfin adalah salah satu anggota Tim Media FSPMI yang ikut meliput jalannya Rakernas III SPEE FSPMI. Selesai mengikuti rangkaian Rakernas dari Batam hingga Singapura, kami berencana kembali ke Batam untuk mengisi pelatihan menulis.

Tak lama duduk di kursi, Pramugari meminta kami bertiga untuk pindah tempat duduk, dekat pintu darurat. Rupanya dikursi dekat pintu darurat itu diduduki oleh ibu-ibu. Kami berpindah tempat duduk. Ternyata untuk duduk disamping pintu darurat pesawat tidak bisa sembarang orang. Penumpang yang duduk disamping pintu tersebut haruslah memenuhi persyaratan tertentu.

Kami diberi penjelasan oleh Pramugari tentang prosedur membuka emergency exit apabila ada hal darurat terjadi. Keuntungan duduk didekat pintu darurat ini adalah, ada ruang yang cukup lega di depan kursi untuk berselonjor kaki. Ada lagi. Di dekat Emergency Exit itu ada kursi yang harus diduduki oleh pramugari ketika pesawat sedang take off, landing atau memasuki turbulensi. Tempat duduk pramugari itu menghadap kearah penumpang. Kami berhadap-hadapan. Seperti mendapat hiburan tersendiri.

Pesawat ini serasa milik sendiri. Maklumlah, rombongan kami berjumlah puluhan orang dengan kursi yang saling berdekatan. Kami bercanda. Saling ledek sesama teman. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan naik pesawat sendiri. Sepi.

Selama penerbangan, saya menghabiskan waktu dengan membaca majalah yang disediakan secara cuma-cuma. Tertulis dimajalah itu berbagai destinasi yang menarik hati. Semacam promosi agar mereka yang membaca mengunjunginya. Jenuh membaca, pemandangan diluar sana menjadi sasaran berikutnya. Ketika berada didalam pesawat, saya suka berlama-lama memandang keluar. Melihat laut yang membentang, sungai yang mengular, pulau-pulau kecil di pinggiran Sumatera. Ajaib sekali rasanya bisa terbang seperti ini untuk melintasi ruang dan waktu.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami mengantri di tempat pengambilan bagasi untuk mengambil barang bawaan kami. Ke Batam, kami memang sengaja membawa sekardus buku ‘Cerita dari Bekasi.’ Berharap sekali spirit yang ada dalam buku itu akan menular ke berbagai daerah, sehingga suara buruh akan terdengar lebih nyaring.

Bandar Udara Hang Nadim merupakan bandar udara internasional yang terletak dikelurahan Batu Besar, kecamatan Nongsa, kota Batam. Bandar udara ini mendapatkan nama dari Laksamana Hang Nadim yang termahsyur dari Kesultanan Malaka.

Hang Nadim lahir dari pasangan Hang Jebat dan Dang Wangi atau Dang Inangsih Sayyid Thanaudin. Hang Jebat adalah seorang Panglima Sultan Mansor Syah yang merupakan Datuk Bentara Kanan. Setelah Hang Jebat dibunuh , Ibu Hang Nadim melarikan diri ketempat datuknya di Pulau Besar.

Penasaran darimana asal usul nama Hang Nadim yang terkenal itu, saya browsing di internet. Keingin tahuan saya akhirnya terjawab ketika saya menemukan sebuah situs, batamsafari.com. Disana saya menemukan sebuah judul, Laksamana Hang Nadim. Ia  terlahir sebagai anak yatim. Oleh ibunya, Hang Nadim diserahkan kepada Hang Tuah. Hang Nadim pun di didik dan diperlakukan oleh Hang Tuah sama halnya dengan ke dua anaknya yakni Tun Biajid dan Tun Guna. Ketiganya di didik dengan ilmu Agama dan ilmu bela diri.

Setelah dewasa Hang Nadim dinikahkan dengan Tun Mas Jiwa bin Hang Tuah yang merupakan anak dari Laksamana Hang Tuah. Saat itu Laksamana Hang Tuah menjabat sebagai Laksamana Melaka. Sepeninggal Laksamana Hang Tuah, jabatannya diserahkan kepada Laksamana Khoja Hasan yang sebelumnya menjabat sebagai Temenggung. Laksamana Khoja Hasan mempunyai nama asli Maulana Sayyid Fadillah.

Pada tahun 1510 Laksamana Khoja Hasan dipecat dan di usir dari Malaka, beliau di “fitnah” dan harus mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan di perbuat olehnya. Sebagai gantinya Hang Nadim dimandatkan sebagai Laksamana menggantikan Khoja Hasan.

Pada 10 Agustus 1511 Admiral Portugis Alfonso de Albuquerque melakukan ekspansi kekuasaan dengan melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka. Laksamana Hang Nadim bersama Tun Biajid berjuang melawan Portugis untuk mempertahankan Malaka dari kehancuran. Akan tetapi, Malaka yang pada saat itu dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah jatuh “ke tangan” Portugis pada 24 Agustus 1511. Sultan Mahmud Syah bersama dengan Laksamana Hang Nadim kemudian melarikan diri ke Bintan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan baru.

Laksamana Hang Nadim terus melakukan perlawanan dengan menyerang kedudukan Portugis di Malaka Sejak tahun 1518 sampai 1524. Dibawah komando Laksamana Hang Nadim Armada Malaka menyerang Benteng A Famosa di Malaka sebanyak dua kali, untuk merebut kembali Malaka dan mengembalikan Tahta Sultan Mahmud Syah ke Ibukota Malaka. Namun Portugis berhasil mematahkan kepungan Laskar Malaka yang harus mundur kembali ke Bintan.

Portugis dibawah pimpinan de Albuquerque membalas menyerang Bintan untuk meredam perlawanan Sultan Mahmud Syah pada bulan Oktober 1521, serangan ini dapat dipatahkan oleh Laksamana Hang Nadim. Laksamana Hang Nadim juga berkali-kali berhasil mematahkan Invasi militer Portugis yang ingin melenyapkan Melayu dibawah Kesultanan Malaka dari Muka Bumi.

Serangan terhadap Bintan untuk yang kedua kalinya dilakukan oleh Portugis pada 23 Oktober 1526 dan berhasil. Sultan Mahmud Syah kemudian melarikan diri ke Kampar, dan dinobatkan menjadi Sultan di sana. Beliau memerintah di Kampar hanya 2 tahun, sampai wafatnya pada tahun 1528 dan dimakamkan di Kampar.

Sultan Mahmud Syah kemudian digantikan oleh putranya Sultan Alauddin Syah yang kemudian tinggal di Pahang beberapa saat sebelum menetap diJohor. Kemudian pada masa berikutnya para pewaris Sultan Malaka setelah Sultan Mahmud Syah lebih dikenal disebut dengan Sultan Johor.

Hang Nadim wafat di Pulau Bintan dan di makamkan di Desa Busung, Kecamatan Bintan Utara, Pulau Bintan, yang saat ini secara administratif masuk ke dalam Propinsi Kepulauan Riau. Meskipun Ia tidak berhasil merebut kembali Malaka dan mengusir Portugis, peran Hang Nadim amat signifikan dalam mempertahankan kesinambungan kekuasaan Raja-nya dan keturunannya. Ia telah menjaga Tuah Sumpah Hang Tuah akan keabadian eksistensi Melayu: ‘Takkan Melayu Hilang di Dunia’.

* * *

Diluar bandara, kawan-kawan FSPMI Batam sudah menunggu. Mereka sengaja menjemput kami untuk selanjutnya menuju tempat penyelenggaraan Rakernas dengan menggunakan travel. Senang sekali diperlakukan istimewa layaknya keluarga sendiri. Nama-nama seperti Yoni Mulyo Widodo, Frezi Anwar, Herlina, Juli Efiani, Diana Sari, Wita Sumarni, dan kawan-kawan lain dari Batam menyambut kami dengan hangat. Kami diperlakukan seperti teman lama yang datang kembali untuk bertamu. Meski sebenarnya, banyak diantara mereka baru sekali ini bertemu. Saya menjadi salah satu.

Disinilah saya sekarang. Batam. Menghirup udaranya. Menginjakkan kaki di tanahnya.

Ini adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau, yang terletak diantara Selat Malaka dan Singapura. Puluhan tahun yang lalu, sebelum  mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, Batam merupakan sebuah pulau kosong berupa hutan belantara yang nyaris tanpa denyut kehidupan. Meskipun demikian, di pulau ini terdapat beberapa kelompok penduduk yang lebih dahulu mendiami. Mereka berprofesi sebagai penangkap ikan dan bercocok tanam. Mereka sama sekali tidak banyak terlibat dalam mengubah bentuk fisik pulau ini yang merupakan hamparan hutan belantara.

Menurut situs Badan Pengusahaan Batam, pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Beberapa tahun belakangan ini telah digulirkan penerapan Free Trade Zone Batam (FTZ Batam), Bintan, dan Karimun yang mengacu pada UU No 36 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan kemudian dirubah beberapa kali melalui PERPU, sehingga di undangkan menjadi UU no 44 tahun 2007. Ada juga Undang-Undang 36 tahun 2000 Tentang ” Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2000 Tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang Undang serta masih banyak Undang-Undang lainnya yang berkaitan dengan FTZ Batam. Kemudian di saat masa akhir jabatan anggota DPR Pusat tahun 2009, bersama dengan pemerintah pusat dibahas mengenai UU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang akan memayungi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di daerah Batam dan daerah lainnya di Indonesia.

Berbagai kemajuan telah banyak dicapai selama ini, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Begitu juga dengan jumlah penerimaan daerah maupun pusat dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal ini tidak lain karena semakin maraknya kegiatan industri, perdagangan, alih kapal, dan pariwisata. Batam tumbuh sebagai daerah yang berkembang pesat.

Tidaklah berlebihan jika kemudian SPEE FSPMI menjadikan Batam sebagai tempat untuk menggelar Rakernas mereka. (Kascey)

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014

Antri di pengambilan barang bagasi.
Antri di pengambilan barang bagasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s