Melintasi Batas Negara 1: Menghadiri Rakernas III SPEE FSPMI

Check-in di Bandar Udara Soekarno Hatta
Check-in di Bandar Udara Soekarno Hatta

Menunggu.

Bagi saya, tidak ada yang lebih menjenuhkan selain daripada itu. Sabtu, 19 April 2014, pesawat yang akan menerbangkan saya dari Jakarta ke Batam mengalami delay selama kurang lebih 60 menit. Bagi sebagian orang, keterlambatan penerbangan bukanlah sebuah masalah. Tetapi bagi saya, itu menjadi pengalaman yang tidak terlampau menyenangkan. Waktu yang hilang percuma. Kejenuhan yang menyiksa.

Saya harus bangun jam empat pagi dan berangkat tepat setelah adzan subuh berkumandang untuk memastikan tidak terlambat hingga di Bandar Udara Soekarno Hatta. Tetapi dengan seenaknya petugas memberitahukan jika pesawat belum siap. Dengan terpaksa penerbangan harus tertunda. Hanya dengan kata, maaf.

Dalam hal terjadi keterlambatan penerbangan (flight delayed), maskapai penerbangan seharusnya bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpangnya.  Ganti rugi yang wajib diberikan oleh maskapai penerbangan kepada penumpang diatur dalam Pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara. Dimana keterlambatan lebih dari 30 (tiga puluh) menit sampai dengan 90 (sembilan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan.

Jika keterlambatan lebih dari 90 menit sampai dengan 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, apabila diminta oleh penumpang. Sedangkan untuk keterlambatan lebih dari 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan slang atau malam dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.

Kami tidak mendapatkan ganti rugi itu. Lagi pula, tidak ada satu pun diantara kami yang memintanya. Ini sekaligus mengigatkan saya kepada watak kapitalis, tidak memberikan apa yang seharusnya menjadi hak orang lain jika orang itu tidak meminta. Dalam situasi seperti ini, bisa jadi diam adalah pilihan yang tepat. Mengeluh dan mengumpat tidak akan mempercepat kedatangan pesawat.

Maka beginilah akhirnya. Kami menghabiskan waktu dengan berdiskusi, memainkan game dan media sosial melalui handphone, hingga tidur-tiduran disandaran kursi bandara. Saya sendiri bolak-balik dari satu sudut ke sudut yang lain untuk menghilangkan kejenuhan.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 376 tujuan Batam yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan.
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 376 tujuan Batam yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan.

Kepergian kami ke Batam dalam rangka mengikuti Rapat Kerja Nasional III SPEE FSPMI yang diselenggarakan di Hotel Golden View yang terletak di Bengkong, Batam. Rakernas akan berlangsung dari tanggal 19 ~ 21 April 2014 dan dilanjutkan kunjungan kerja ke National Trades Union Congress (NTUC) di Singapura, hingga 22 April 2014.

Rakernas selalu menarik perhatian saya. Ini adalah kekuasaan tertinggi organisasi ditingkat Pimpinan Pusat SPEE FSPMI yang dilaksanakan diantara dua Munas. Rakernas diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun dan merupakan forum konsultasi, koordinasi, konsolidasi dan evaluasi ditingkat pimpinan pusat dalam rangka keterpaduan dan koordinasi program dan pegembangan organisasi, yang berwenang untuk mengevaluasi program kerja Pimpinan Pusat SPEE FSPMI, merekomendasikan program kerja tahunan, menetapkan keputusan penting lainnya, menentukan pengertian “Kondisi Luar Biasa” dan menindaklanjuti hasil laporan Tim Internal Auditor (jika ada).

Oleh karena itu, Rakernas bukanlah rapat kerja biasa. Ia menjadi istimewa. Dihadiri oleh Pengurus Pimpinan Pusat SPEE FSPMI, Pengurus Pimpinan Cabang SPEE FSPMI yang diberi mandate, Utusan Dewan Pimpinan Pusat yang diberi mandate, Utusan Pimpinan Unit Kerja yang diberi mandate dan utusan Dewan Pimpinan Wilayah FSPMI yang diberi mandate, dimana Rakernas dilaksanakan.

Diantara orang-orang hebat itulah sekarang saya berada. Ini adalah pengalaman pertama saya menghadiri Rakernas SPEE FSPMI, mengingat saya selama ini aktif di sektor SPAI FSPMI. Pengalaman pertama ke Batam. Pengalaman pertama ke Singapura. Dan sebagaimana lazimnya pengalaman pertama, ia selalu menjadi catatan yang tak mudah untuk dilupakan.

Catatan:

Serial ini pernah diterbitkan di fspmi.or.id. Sebuah catatan perjalanan selama mengikuti Rakernas III SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, pada tanggal 19 ~ 22 April 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s